
August memanggil dokter. Reynhard segera diperiksa. Dokter kemudian melakukan pertolongan pertama.
Reynhard mengalami serangan jantung yang kedua. Dokter mencoba memacu jantung Reynhard dengan melakukan pacu jantung. Memompa dada Reynhard agar kembali berdetak.
Tapi segala upaya telah dilakukan. Reynhard tidak dapat bertahan. Reynhard meninggal dunia setelah mengucapkan kata maaf kepada seluruh keluarganya.
Kini Reynhard telah pergi meninggalkan tangis kehilangan pada keluarganya. Sena menangis memeluk suaminya.
Omar memeluk Kevin yang sedang menangis terisak.
"Kamu harus kuat Vin. Saat ini Mama dan adik kamu membutuhkan kamu" Omar memberikan semangat.
"Terimakasih Mar" jawab Kevin sambil menyeka airmatanya.
"Mari kita urus pemakaman Om Rey. Kita antarkan beliau keperistirahatannya terakhir" ajak Omar.
Mereka mengurus semua proses Rumah Sakit. Reynhard segera dibawa kerumah duka.
Karena waktu sudah menjelang malam diputuskan besok pagi Reynhard akan dimakamkan tepat disamping makam Papa Omar Richard Utama Barrakh.
"Mas.. makan dulu" ucap Sheila pada suaminya Kevin.
"Nanti aja Sheil" jawab Kevin sambil menatap jenazah Papanya yang terbaring di ruang keluarga.
Rumah Reynhard ramai dikunjungi para keluarga dan rekan untuk melayat.
"Kamu harus makan Mas. Nanti kamu sakit. Ingat kamu harus kuat menggantikan tanggung jawab Papa" bujuk Sheila.
Kevin memandang wajah lembut wanita yang baru dia nikahi dalam hitungan jam. Kevin berdiri dan berjalan menuju dapur dan makan ditemani Sheila.
Sheila mengambil dan menghidangkan makanan yang akan dimakan Kevin.
"Nih Mas makanannya" ucap Sheila sambil menyerahkan piring dihadapan Kevin.
"Sheil.. sekarang kamu tau rahasia besar keluarga kami. Kamu tau kesalahan besar yang telah dilakukan Papa. Apa kamu menyesal menikah denganku Sheil?" tanya Kevin dengan perasaan sedih.
"Maaaas... jangan berkata begitu" balas Sheila.
"Aku tidak memiliki kelebihan apa-apa Sheil. Tidak ada yang bisa dibanggakan atas diriku. Kamu masih bisa mundur. Kita baru akad nikah. Surat-surat masih belum ada. Kamu masih punya kesempatan untuk mundur" tegas Kevin.
"Maaas.. kan aku sudah bilang sebelum kita menikah. Semua masalah yang terjadi didepan sana akan kita hadapi bersama. Aku akan selalu ada disisi kamu. Karena kamu adalah suamiku" jawab Sheila.
__ADS_1
Hati Kevin terasa menghangat, disaat sedih dan dalam situasi terburuknya ada seseorang yang mendampingin dan menguatkannya.
Tidak pernah Sheila melihat wajah Kevin sesedih ini. Kehilangan Papanya sangat membuatnya terpukul apalagi seperti yang Sheila dengan saat di Rumah Sakit ternyata Papa Kevin yang membunuh Papa Omar, abang kandungnya sendiri.
Pasti hati Kevin sangat hancur saat ini. Tanpa sadar Sheila menatap wajah suaminya rasanya ingin sekali dia menyentuh suaminya itu, memeluk dan memberikan semangat. Agar Kevin tabah menerimanya. Tapi Sheila malu karena dirumah ini sedang ramai.
Hanya dengan kata-kata Sheila berharap bisa membuat Kevin lebih semangat. Sheila menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"Mas harus kuat ya. Kevin yang aku kenal tidak pernah mengenal kata menyerah" puji Sheila.
"Terimakasih sayang. Aku mencintai kamu, sudah lama aku menyimpan rasa ini tapi aku tau hati kamu belum siap menerimanya jadi aku tetap menyimpan rasa ini dihatiku. Kini kamu sudah menjadi istriku. Aku berjanji akan membuat kamu mencintaiku" Kevin mencium tangan istrinya mesra.
Sheila hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Dia tidak berani memberikan janji pada Kevin untuk bisa segera mencintai Kevin. Biarlah waktu yang menjawab semua.
*****
Esok harinya.
Tepat pukul 10.00 Wib Reynhard dimakamkan di pemakaman umum. Dia dimakamkan tepat disebelah makam Kakaknya.
Omar menatap kedua nisan yang tertuliskan nama dua lelaki yang menjadi orangtuanya selama ini.
Richard Utama Barrakh Papanya dan Reynhard Dwi Barrakh Omnya. Dua orang pria yang mengaku telah mencintai Mamanya.
Dihadapan dua makam suami mereka. Sena meminta maaf kepada Zahra.
"Mbak Fath maafkan semua kesalahan Mas Rey. Hanya itu yang bisa aku ucapkan Mbak, maaf..." ucap Sena.
"Aku sudah memaafkannya sejak dulu Sena. Kedatanganku kembali kesini bukan ingin membalas dendam tapi aku ingin berkumpul dengan anak-anakku. Terimakasih Sena kamu sudah merawat dan membesarkan anak-anakku dengan kasih sayang kamu" balas Zahra. Mereka menangis dan saling berpelukan.
"Di depan dua pusara ini semua kisah masa lalu keluarga kita usai. Ikhlaskan semua yang telah terjadi tak usah kita permasalahkan lagi. Yang penting sekarang bagaimana kita menghadapi masa depan. Aku harap tidak ada dendam diantara kita dan marilah kita bersatu selayaknya keluarga. Agar orangtua kita tenang disana" ucap Omar bijaksana.
"Terimakasih Mar. Semoga dosa Papa diampunkan dan diberi tempat terbaik disisiNYA" Doa Kevin.
"Aamiin..." semua mengaminkan doa Kevin.
Mereka kembali kerumah Kevin karena ada sesuatu yang akan disampaikan Sena kepada keluarga Omar.
"Omar ini surat-surat dan kunci rumah kalian. Sesuai amanah Om, Tante mengembalikannya pada kalian. Rumah itu masih terawat dengan rapi karena Om rajin menugaskan beberapa pelayan untuk membersihkan rumah kalian" ucap Sena sambil memberikan kunci rumah dan surat rumah orangtua Omar.
"Terimakasih Tante. Bolehkan saya meminta sesuatu kepada Tante?" pinta Omar.
__ADS_1
"Silahkan nak, pintalah apa maumu. Kalau Tante bisa mengabulkannya akan Tante berikan" jawab Sena.
"Saya ingin membawa Bi Iyem kembali kerumah kami membantu dan menemani Mama dirumah. Aku harap Tante bisa mengabulkannya" ucap Omar.
"Silahkan Omar Tante tidak keberatan" jawab Sena.
"Bi Iyem" panggil Sena.
"Ya Nyah" Bi Iyem datang dari arah dapur dengan sedikit tergesa-gesa.
"Mulai hari ini Bibi kembali kerumah Mbak Fath ya. Maaf kalau ada perkataan dan perbuatan saya yang menyakiti hati Bibi dan terimakasih selama ini sudah setia menemani dan membantu saya disini" ujar Sena.
"Sama-sama Nyah, Bibi juga memohon maaf kalau ada perbuatan Bini yang tidak berkenan dihati Nyonga, Mas Kevin dan Mbak Renata. Bibi pamit ya, mulai hari ini Bibi akan kembali kerumah orangtuanya Mas Omar" Pamit Bi Iyem kepada keluarga Kevin.
Omar, Jasmine, Zahra, Oryza dan Bibi Iyam pergi meninggalkan rumah Reynhard. Dengan penuh suka cita mereka kembali kerumah mereka dulu.
Benar sana rumah ini sangat terawat. Semuanya masih lengkap dan rapi. Tidak ada perabot yang berpindah tempat atau berganti.
Omar membawa Jasmine berkeliling rumah mereka.
"Sayang inilah rumah keluargaku" ucap Omar pada Jasmine.
"Besar sekali ya Mas" puji Jasmine.
"Kamu suka dan nyaman disini?" tanya Omar.
"Suka Mas dan sepertinya aku akan betah tinggal disini. Aku tau banyak kenangan masa kecil kamu yang tertinggal disini" balas Jasmine.
"Apa kamu bersedia bersamaku disini sampai kita menua. Menyaksikan anak-anak kita lahir, tumbuh dan besar disini?" ucap Omar
"Aku bersedia Mas. Aku bahagia melihat kamu bahagia" jawab Jasmine.
"Terimakasih sayang. Aku mencintai kamu" ucap Omar
Omar mengecup lembut bibir istrinya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Happy weekend.... Semoga novelku bisa menemani waktu libur kalian 😍😍