
Omar dan keluarganya sudah sampai di apartemen.
"Za kamu istirahat ya.. Jangan terlalu difikirkan tentang kejadian saat itu. Nanti kamu sakit lagi. Besok kita kedokter ya memeriksa kepala kamu. Kakak takut ada apa-apa dikepala kamu" perintah Omar.
"Iya apalagi tadi kamu pingsannya lama banget. Mbak sulit menyadarkan kamu. Mending kita periksa semuanya besok kerumah sakit" sambung Jasmine.
"Iya Kak, Mbak. Terimakasih" jawab Oryza lemah.
"Mama juga tidur ya. Mulai malam ini kita tinggal bersama. Dalam waktu dekat aku akan mencari rumah untuk kita tinggal. Apartemen terlalu sempit" ucap Omar.
"Iya sayang... jangan terburu-buru. Masih bangak waktu" Zahra mengingatkan anaknya.
Omar dan Jasmine masuk kedalam kamar mereka sedangkan Zahra dan Oryza masuk ke kamar tamu.
Setelah selesai bebersih diri dan berganti pakaian Omat dan Jasmine melaksanakan shalat Isya bersama.
Omar berdoa semoga Om Rey segera sembuh dan masalah ini cepat berlalu. Setelah itu mereka istirahat menenangkan fikiran dan meregangkan otot tubuh.
Jasmine dan Omar belum bisa tertidur. Mungkin karena mereka masih sibuk memikirkan kejadian tadi siang.
"Kamu belum tidur My Mine?" tanya Omar sambil memeluk tubuh istrinya.
"Belum Mas?" jawab Jasmine singkat terlihat sedang berfikir.
"Hei... kamu baik-baik saja sayang?" tanya Omar lagi sambil mengelus perut Jasmine.
"Aku baik-baik saja" jawab Jasmine.
Omar mengangkat kepalanya dan meletakkannya diatas perut Jasmine.
"Hari ini anak Papa jadi jagoan ya. Dia udah kasih semangat sama Mama untuk melakukan hal-hal yang berani. Yang kuat ya sayang didalam sana. Papa menyayangi kalian" Omar mengecup perut Jasmine.
"Iya Papa... kami juga menyayangi Papa" jawab Jasmine sambil berbicara dengan suara anak kecil.
__ADS_1
"Kamu capek sayang?" tanya Omar dengan penuh kelembutan. Dia membelai lembut rambut istrinya.
"Sedikit Mas, wajarlah aku kan lagi hamil. Tapi aku dan anak kita kuat kok. Mas tak perlu khawatir" balas Jasmine mencoba menenangkan suaminya.
Jasmine tau beban fikiran Omar saat ini sangat besar. Sudah pasti Omar sedang memikirkan Om Rey, istri dan anak-anknya juga keluarga kecil mereka.
"Sayang berjanjilah padaku kamu tidak membenci Om Rey" ucap Jasmine.
"Aku tidak membencinya Mine. Aku menyanginya seperti Papaku sendiri. Selama lima belas tahun ini dia banyak membantuku melewati masa-masa sulit. Walaupun mungkin dia melakukannya karena rasa bersalah tapi aku yakin pasti dia tulus melakukannya. Saat itu dia pasti sangat ketakutan dan tidak berani mengakui perbuatannya" balas Omar.
"Begitulah kalau setan sudah menguasai Mas. Dia menutupi satu kebohongan dengan beribu kebohongan yang lain. Mungkin maksudnya untuk membela diri tapi dia tidak tahu kalau perbuatannya itu telah mengorbankan dan menyakiti orang lain" sambung Jasmine sambil memeluk dada bidang Omar.
"Ya kamu benar" aku Omar.
"Bagaimana dengan Kevin?" tanya Jasmine.
"Aku yakin dia sangat terluka, begitu juga Renata dan Tante Sena. Mereka tidak menyangka bahwa Om Rey yang telah melakukannya. Pasti mereka kecewa. Pria yang telah menyayangi dan melindungi mereka merahasiakan kejahatan yang besar ini selama lima belas tahun" jawab Omar.
"Kamu tidak dendam pada mereka kan sayang?" tanya Jasmine pelan.
"Syukurlah. Terimakasih ya Allah, KAU memberikanku suami yang mempunyai hati seperti ini. Walau wajahnya datar dan dingin tapi hatinya lembut dan hangat" goda Jasmine.
"Hei kau baru saja mengejekku My Mine" balas Omar sambil menatas wajah istrinya.
Omar mengecup lembut bibir istrinya.
"Terimakasih sayang, kamu selalu ada disisiku, menemani dan menguatkanku dalam menghadapi semua ini. Aku tidak tahu apa yang akan aku alami jika dulu aku tidak bertemu dengan kamu. Mungkin aku akan kembali kemasa-masa tersulit dalam hidupku" ungkap Omar sambil memeluk istrinya.
"Kamu pria yang kuat Mas. Aku yakin kamu bisa melaluinya" jawab Jasmine
"Sekarang kita tidur ya.. Biarlah besok kita lanjutkan lagi memikirkan dan menghadapi apa yang terjadi. Saat ini kita harus istirahat" Omar mulai mengambil posisi nyaman untuk dia dan Jasmine kemudian mereka pun tertidur.
*****
Dirumah Reynhard Dwi Barrakh.
__ADS_1
Kevin sedang duduk di sofa kamarnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat kacau dan kecewa.
Papa.. mengapa Papa melakukannya. Papa yang selama ini aku hormati dan sayangi tega melakukan semua itu. Apa yang harus aku katakan pada Omar dan Oryza? Papaku lah yang menghancurkan keluarga mereka. Membunuh Om Rich, memfitnah Tante Fath sehingga di dipenjara dan berpisah dari anak-anaknya.
Kejam sekali kamu Pa.... Kevin mulai terisak putus asa.
Akh.... Maafkan Papaku Maaaaar... Teriak Kevin.
Hatinya sangat sakit. Dia tau bagaimana dulu Omar terlukanya saat kematian Papanya. Bagaimana dulu Omar sangat membenci Mamanya. Ternyata Papalah penyebabnya.
Maafkan Papaku Mar... Ucap Kevin melemah.
Apa yang harus aku lakukan Tuhaaaaan... Aku tidak boleh lemah. Bagaimanapun aku laki-laki dirumah ini. aku anak paling besar, harus bisa menjadi pengganti Papa melindungi keluargaku. Aku harus kuat.
Untuk pertama kalianya setelah sekian lamanya Kevin tidak ingat kapan dia melakukannya terakhir kali. Kevin segera beranjak menuju kamar mandi membersihkan diri berganti pakaian dan membentang sajadah.
Dia ingin mengadukannya hanya kepada Allah. Walau ada rasa malunya. Malu karena saat dia tak berdaya baru dia mengingat Tuhan tapi dia yakin Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Allah akan memaafkan semua dosa dan salahnya, juga akan membimbingnya dan membantunya dalam menghadapi semua masalah ini.
Malam ini Kevin bermohon kepada Sang Pencipta. Bersimpuh memohon ampun dan petunjuk untuk melalui permasalahan ini.
Ini jauh lebih baik dari pada dia harus lari ke club dan minum-minuman keras yang akan menambah masalah.
Malam ini dia harus istirahat agar kuat menghadapi dan menjalani hari esok. Besok kalau kondisi Papa sudah stabil dia akan mendengarkan semua penjelasan dari Papanya.
kevin berjanji tidak akan membenci Papanya. Sekuat mungkin Kevin akan melindungi keluarganya bahkan kalau perlu Kevin akan berlutut dihadapan Omar, Mama dan adiknya.
Untuk meminta maaf atas kesalahan besar yang telah dilakukan Papanya. Malam ini dia harus tidur mengumpulkan kekuatan untuk esok hari.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1