
Sesuai dengan prediksi Jasmine ketika dia sampai di toko kuenya jam satu siang, Omar dan Asisten pribadinya sudah menunggu diruang kerjanya. Kali ini Jasmine tidak melihat keberadaan Kevin di tokonya.
"Lagi-lagi kalian seenaknya saja datang ke toko kueku tanpa memberi kabar" ucapnya dingin.
"Ngapain kami harus memberi kabar, kamu pasti tau kalau hari ini kami akan datang" jawab Omar tak kalah datarnya.
"Gus mana daftar pesanan kita untuk acara minggu depan?" pinta Omar pada August.
August menyerahkan daftar cake yang mereka pesan beserta jumlah pesanannya.
Jasmine menerima daftar pesanan yang diserahkan asisten pribadi CEO Barrakh Corp yang bernama August Permana.
Jasmine membuka dan membaca daftar pesanan Perusahaan Barrakh Corp dalam acara ulang tahun CEO nya yang dingin ini.
"Baik akan saya siapkan dan penuhi semua pesanan ini. Ada lagi?" jawab Jasmine.
"Kamu jangan pura-pura lupa. Limit waktu yang aku berikan mengenai lamaran aku minggu lalu" desak Omar.
"Kalau aku menolak bagaimana?" tantang Jasmine.
"Cih kamu akan menyesal Nona. Sudah untung aku mau bertanggung jawab karena telah merenggut kesucian kamu walau tanpa paksaan" ucap Omar mengejek.
"Bagaimana kalau aku tidak butuh tanggung jawab kamu?" Jasmine mencoba untuk tidak menyerah dengan mudahnya di depan pria dingin ini.
"Silahkan, tapi nanti jika dikemudian hari foto kita tersebar ke media jangan cari aku lagi. Pada saat itu aku tidak akan mau bertanggung jawab" ancam Omar.
"Apa keuntunganku menikah denganmu?" tanya Jasmine.
"Hei Nona kau bertanya apa keuntunganmu menikah denganku? apa aku tidak salah dengar? Hahaha" Tawa Omar menggema, dia merasa lucu wanita ini menanyakan itu padanya.
Tidakkah dia tau banyak wanita yang dengan relanya menyerahkan tubuhnya secara suka rela padaku apa lagi kalau mereka tau aku sedang mencari istri. Aku pastikan mereka akan antri untuk mendaftarkan diri. Batin Omar.
"Kau menanyakan keuntungan menikah denganku. Aku ini seorang CEO, pengusaha muda yang sukses, kaya dan tampan jangan kau tanya kan lagi apa keuntunganmu. Harusnya aku yang bertanya apa keuntunganku menikah denganku?" tanya Omar.
Selain aku sedang membutuhkan istri untuk menjadi ibu yang melahirkan penerus keturunanku nanti. hanya itu keuntunganku menikah denganmu. Karena aku baru tau hanya denganmu aku merasa alergiku berdekatan dengan wanita tidak kumat. Bisiknya dalam hati.
"Aku tidak memipikan semua itu. Kau fikir aku cewek matre? Aku tidak butuh hartamu. Kalau hanya mencari materi semata untuk apa bersusah susah membangun usahaku dari nol sampai seperti sekarang ini?" tantang Jasmine.
"Apa yang kau inginkan jika aku menikahimu?" Omar balik bertanya dan merasa ditantang.
__ADS_1
"Aku tidak mau hidupku diatur, tidak ada yang berubah dengan kehidupan kita" ucap Jasmine.
"Baik, aku akan membebaskan hidupmu. Kau boleh berbuat semaumu asalkan kau bisa menjaga nama baikku sebagai suamimu. Aku tidak mau namaku tercoreng gara-gara tingkahmu" jawab Omar.
"Selama ini aku hidup dengan baik Tuan. Jangan lupakan itu. Kalau saudaramu itu tidak menjebakku, aku tidak akan mengalami hal sulit ini" umpat Jasmine kesal karena mengingat kembali kejadian seminggu yang lalu.
"Kalau begitu aku anggap kita sudah mendapatkan kata mufakat. Persiapkan dirimu, minggu depan saat acara ulangtahunku, aku akan mengumumkan pertunangan kita" tegas Omar.
"Hei apa kau gila? Tidak bisa secepat itu. Aku mempunyai orangtua yang harus ku jaga nama baiknya. Kau fikir bisa seenak hatimu saja bertunangan tanpa restu orang tua?" Jasmine semakin kesal dengan tingkah Omar.
"Orangtuaku sudah meninggal jadi aku tidak perlu meminta restu mereka lagi" jawab Omar.
"Tapi aku masih punya orangtua" potong Jasmine.
"Itu urusanmu" Jawab Omar singkat.
"Kau memang pria brengsek. Aku membatalkan keputusanku menikah denganmu" ancam Jasmine.
"Jadi apalagi maumu Nona?" tanya Omar kesal.
"Kau harus mendapatkan restu dari kedua orangtuaku. Baru aku bisa memastikan kalau aku akan hadir di pesta ulangtahunmu sebagai tunanganmu. Deal?" tantang Jasmine sambil mengulurkan tangannya.
Jasmine terkejut melihat tindakan Omar yang mau berjabat tangan dengannya, biasanya pria ini selalu mengelak atau menolak setiap kali Jasmine mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Sementara Omar masih tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia menggenggam erat tangan Jasmine saat berjabat tangan.
August tersenyum samar saat melihat interaksi Bos dengan calon istrinya.
Lihat Bos alergimu tidak bereaksi dengan wanita ini. ucapnya dalam hati.
"Seminggu ini aku pastikan, aku akan mendapatkan restu dari orangtuamu" Omar memberi penekanan dalam kata-katanya.
"Aku akan melihatnya dengan mataku" ledek Jasmine.
"Kalau begitu tidak ada lagi urusan penting yang harus dibahas lagi. Sampai jumpa di kesempatan yang berbeda" ucap Omar.
Omar melangkah keluar dari ruangan Jasmine disusul August dibelakangnya.
Jasmine segera menghempaskan tubuhnya diatas sofa yang ada diruangannya itu.
__ADS_1
Keputusan sudah diambil tinggal bagaimana menjalankannya dengan baik. Dia harus kuat, karena ini bukan akhir tapi awal dari peperangan panjang. Dia tidak akan menyerah dengan mudahnya pada pria dingin itu. Lihat saja ancamnya dalam hati.
.
.
Omar masuk kedalam mobilnya. Dia menghempaskan nafasnya secara kasar.
"Wanita aneh, baru kali ini aku melihat ada wanita yang tidak tergila-gila pada harta. Cih dia menanyakan apa keuntungannya menikah denganku" ucap Omar kesal.
"Seharusnya Bos bersyukur Nona itu berbeda tidak seperti wanita lainnya yang mengejar Bos karena ingin mendapatkan harta. Dia wanita berpendidikan dan punya harga diri tinggi Bos. Bukan wanita biasa" puji August.
"Kau memujinya?" tanya Omar tak percaya mendengar kata-kata August.
"Wanita spesial untuk Bos yang spesial" August memuji Omar agar dia tidak marah.
Dan benar saja Omar langsung terdiam mendengar kata-kata August barusan.
"Bos, apa Bos merasa tidak ada yang aneh dengan tubuh Bos?" tanya August.
"Tidak. Aku merasa biasa saja, tidak ada yang aneh pada tubuhku" jawab Omar bingung.
"Kamu tadi menjabat tangannya erat Bos dan kamu baik-baik saja. Alergimu tidak kumat" August mencoba mengingatkan Omar.
Omar langsung terperanjat karena terkejut. Dia tersadar ketika mendengar kata-kata August.
"Iya Gus, kamu benar. Mengapa aku tidak merasa mual atau muntah ya bersentuhan dengannya. Kemarin juga waktu aku berada di dekatnya saat kita menjebaknya aku tidak merasa mual Gus. Aku juga heran mengapa itu bisa terjadi" jawab Omar jujur pada August.
"Sepertinya benar kata Kevin, kalian memang berjodoh" ujar August.
"Cih kamu sekarang sudah mirip Kevin, aku jijik bila berdekatan dengan kalian" umpat Omar.
"Bos... Bos... ngakunya bilang jijik tapi sehari aja gak ketemu kami kamu pasti kangen" canda August.
"Diam kamu" balas Omar kesal.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG