
Sesuai permintaan gadis pujaan hatinya,kini Bastian sedang mengemudi motor antik miliknya menuju toko kue milik keluarga Bening.Ia sudah berjanji dengan gadis itu untuk datang sendiri meminta izin kepada ibunya dalam rangka mengajak Bening pergi.Suasana pagi yang indah memberinya semangat.
Meskipun ini bukanlah pertama kalinya ia pergi meminta izin kepada orang tua Bening jika mengajaknya putri mereka pergi, tetap saja ia merasa gugup.Tetapi ia sudah bertekad dalam hatinya bahwa ia memang harus melakukannya dan begitulah caranya yang baik dan benar.
Sebagai orang tua,Bu Livia merasa perlu untuk mengetahui dan mengenal bahkan ngobrol dengan teman teman anaknya.Apalagi jikalau itu lawan jenis yang mau mengajak anak gadisnya pergi.
Ia menyadari bahwa anaknya berada pada masa pubertas sehingga rasa suka atau tertarik dengan lawan jenis sudah mulai bisa dirasakan.Jika hal itu terjadi bahwa anaknya sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis,hal tersebut sangatlah normal dan hampir pasti terjadi pada tahap perkembangan remaja.
Hanya tetap saja sebagai orang tua ia harus tetap siaga dan memantaunya sendiri, bukan bermaksud untuk mengekang atau melarang tetapi lebih kepada membimbing agar anak gadisnya bisa mengambil pilihan atau keputusan yang tepat.
"Gimana,nak..?Teman kamu sudah datang?Maksud mama si Bastian."tanya bu Livia yang sibuk mengatur menu barunya.
"Mungkin lagi on the way ke sini ma..."jawab Bening dengan tak mengalihkan pandangannya dari handphonenya.
"Berasa lagi ngomong sama hp,mama..." protes ibunya yang melihat anaknya lebih fokus kepada handphone yang dipegangnya.
"O..o.. maaf ma.Maaf..." ungkap Bening langsung memeluk ibunya.
"Tadi aku lagi chattingan sama papa dan kak Daniel ma...."jawab Bening meminta maaf karena mengabaikan ibunya saat berbicara.
"Pasti lebih konsen merangkai kata buat Daniel dari pada papa..." goda bu Livia.
"Ih,ma... mulai lagi deh..."Bening tampak sewot.Ibunya terkekeh melihat raut wajahnya yang malu malu kucing.
"By the way, where do you want to go?Kamu mau diajak ke mana sama Bastian?" tanya Bu Livia.
"Aku mau di ajak pergi ke acara syukuran sekaligus pembukaan cafe baru keluarganya ma.Dia mau nyanyi nanti di sana..."jelas Bening.
"Waow... very romantic..." goda bu Liviaa lagi.
"Romantis apaan sih ma.Kan cafenya konsepnya live music,ya pasti nyanyilah buat semua pengunjung..." Bening kembali sewot.
"O..o...h..mama kira dia bakal nyanyi khusus buat nembak kamu..." timpal ibunya.
"Ih...mama ada ada aja deh..."protes Bening.
"Oh...mama ingat itu cafe yang kamu rekomendasiin semalam ya buat kita rayain akhir tahun kan? " tanya bu Livia yang mengingat ide putrinya semalam.
"Iya ma.Oh iya ma,mama tau nggak,nama kafenya itu cafe Dear Baby dan kata kak Bastian dia yang idein namanya.Itu inspirasinya dari aku ma..."jelas Bening yang antusias.
"Maksudnya?Kok bisa?"tanya ibunya bingung.
"Mama tau,aku tuh nggak pernah dipanggil nama sama kak Bastian..."ucap bening.
"Trus dipanggil apa?" tanya ibunya begitu teliti.
"Jangan kaget ya ma ... BABY..!!!!"kata bening penuh penekanan dengan wajah yang tersipu malu.
"Baby?Emangnya kalian berdua pacaran?"bu Livia terus mengorek penjelasan.
"Ya,enggak lah ma.Nggak tau juga kenapa dia manggilnya baby....."bantah Bening.
"Bilang sama dia ya, mama kesal.Seenaknya saja dia ganti nama kamu.Kan kamu bukan bayi lagi,udah bontot.Mungkin entar lagi bakal ada pacar..." omel sang bunda lucu.
"Mama....ih.....malah becanda.Mungkin wajah aku,baby face kali ma.Ngomong ngomong,emang udah boleh ma, pacaran?"tanya Bening meminta jawaban sang ibunda.
"Sama Bastian?" tanya Bu Livia lagi.
Bening mengernyitkan dahinya.Ia heran dan kaget kenapa bisa ibunya langsung menyebut nama itu padahal sang bunda tahu siapa yang disukai anaknya.
"Kok gitu ekspresinya?Benar yah,tebakan mama?"bu Livia pura pura marasa tebakannya benar.
"Kan aku udah cerita ma,anak cantikmu ini lagi jatuh cinta sama siapa?Kok sebutnya malah nama itu?" tanyanya mengingatkan ibunda.
"Ya...ya ..ya...kali aja udah ganti orang ...." sangkal bu Livia tak mau mengaku.Bening makin kesal dibuatnya.Ia mencebikkan bibirnya.
Ibunya tertawa sendiri melihatnya.Dalam hatinya ia bersyukur putrinya begitu terbuka terhadapnya,ia dijadikan tempat curhatnya.Sehingga ia tak perlu cemas dan memata matai setiap gerak gerik putrinya meskipun candaannya sering membuat Bening kesal.
"Ma ....tapi kalau kak Daniel cuma nganggap aku adeknya,gimana ma?"ujar Bening kemudian.
Bu Livia mengamati wajah putrinya dengan seksama.Ia tersenyum.
"Menjalin hubungan dengan orang lain adalah sesuatu yang kompleks nak, apalagi dengan lawan jenis.Ketika kamu jatuh cinta atau kasmaran yang kamu rasakan atau bayangkan hanyalah hal hal yang indah dan menyenangkan.Tetapi kamu juga harus waspada jika semua yang kamu harapkan tidak berjalan dengan mulus.Ada kalanya kamu akan merasakan patah hati" jelas Bu Livia.
Ia tahu bahwa apa yang dirasakan anaknya adalah sesuatu yang wajar dan normal.Oleh Karenanya,ia dan suami sepakat untuk tidak melarang, tetapi justru ingin mendampingi dan memberikan arahan yang benar.Sebisa mungkin,ia akan mengajak anaknya untuk berbicara dari hati ke hati untuk sharing konsep pacaran yang sehat.
Bukan berarti ia dan suaminya adalah pasangan sempurna, tetapi justru karena mereka pernah muda dan sudah melewati masa-masa yang sekarang tengah dijalani putri semata wayang mereka.
"Mudah mudahan aku nggak ngalamin yang namanya patah hati ya ma atau cinta bertepuk sebelah tangan.Mudah mudahan kak Daniel tidak menyukai orang lain "doa Bening begitu tulusnya.Gadis itu sampai mengatupkan tangan serta menutup matanya.
"Yah...tapi kamu juga harus siaga untuk semua kemungkinan yang buruk nak.Mami malah senang kalau kamu ngalamin sedih atau patah hati.Karena kalau kamu mengalaminya kamu akan lebih kuat..."bu Livia tak henti hentinya memberikan semangat.
__ADS_1
Bening memandangi ibunya.ia mengangguk paham.
"Tetapi seandainya kak Daniel ngajak Bening pacaran,mama setuju nggak?"Bening tetap mengajukan kemungkinan lain.Sang bunda paham akan hal itu.Gadisnya itu benar benar sedang kasmaran.Yah,umurnya sudah 17 tahun,gelora asmara anak remaja sulit untuk dicegah.
"Boleh kok..."jawab Bu Livia sambil tersenyum tulus.
"Really?" tanya Bening bersukacita.
"Yes...of course..."Ucap sang bunda meyakinkan anaknya.
"Really?" tanya Bening lagi.
"Iya...iya ... boleh....But, you must be balanced.." jawab sang bunda.Kembali bening mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya?"tanyanya yang belum paham akan persyaratan yang diajukan ibunya.
"Selama pacaran, kamu harus tetap bisa membagi waktu antara keluarga,teman dan belajar.Harus tau prioritas sebagai anak sekolah..okay? Kamu masih SMA, perjalanan buat ke masa depan masih sangat sangat panjang Masih mau jadi dokter kan?"jawab bu Livia bijak.
Yah,ia dan suaminya telah berdiskusi dan sepakat tidak akan melarang putrinya untuk pacaran.Akan lebih buruk jika memilih untuk pacaran sembunyi sembunyi alias backstreet.Hal itu akan menjadi sulit bagi mereka memantaunya.
Bening mengangguk berkali kali.
"Aku janji ma.... kalau aku pacaran aku akan sebisa mungkin tetap menjalani tugasku seperti biasanya.Aku aku akan tetap seimbang.Mama dan papa tenang saja.."janji Bening kepada ibunya.
"Baiklah... kamu harus bertanggung jawab dengan janji kamu dan ingat,jatuh cinta saja tidak cukup. harus saling jatuh cinta...." kata ibunya menutup pembahasan mereka, karena seorang pegawainya memberitahu bahwa ada pelanggannya yang datang untuk menemuinya langsung.
"Oke ma.Makasih ya ma...."Bening sangat lega mendengar nasihat ibunya.Ia merasa nyaman menjadikan ibu ataupun ayahnya sebagai tempat untuk curhat.Tak sedikitpun ia merasa terintimidasi.
"You're welcome sayang...oh iya,nanti kalo teman kamu datang,buatin dia minum.Kalian ngobrol aja dulu..." pesan sang bunda lalu pergi menemui tamunya.
πΎπΎππΎπΎ
Bastian memarkir motornya di depan toko.Ia masuk ke dalam dan disambut ramah oleh Remon, seorang pegawai toko.
"Selamat pagi,gus...." sapa Remon yang usianya lebih tua dari.Keduanya sudah pernah bertemu sebelumnya,hanya saja tak berkenalan.
"Selamat pagi,Bli..Saya mau bertemu Bening.Dia ada?"jawab Bastian tak kalah sopan.
"Iya,ada.Dia di ruangannya bu Livia.Silahkan gus..."ujar Remon menunjuk arah.
"Makasih Bli.Oh iya, kita belum berkenalan.Padahal sudah pernah bertemu.Nama saya Bastian.Kakak kelas sekaligus calon pacarnya Bening..." ucap Bastian dengan sangat percaya diri.Remon menyambut uluran tangannya dan ikut memperkenalkan diri.
"Oh...." jawab Remon antara bingung dan tidak percaya.
"Hai baby...." sapa Bastian seperti biasanya jika mereka berpapasan.
"Hai kak.Mari silahkan duduk..." Bening mempersilahkan pemuda itu duduk.Dengan senyum sumringah Bastian duduk berhadapan dengan Bening.
"Mau minum apa kak?" tanya Bening kemudian.
"Formal banget beb,kayak nanya apa pengunjung aja?Nanyain aku kenapa lama kek atau yang lainnya"protes Bastian walau dengan volume suara yang kecil tapi tetap saja berhasil ditangkap oleh Bening.
"Mau minum nggak?"tanya Bening dengan menyembunyikan senyumnya.
"Iya,mau.Minum apa saja asal minumnya ditemani kamu,aku pasti mau..."jawab Bastian mulai dengan rayuan gombalnya.
"Hm.m.m..mulai lagi deh anehnya... minum sianida mau?" tanya Bening menantang.
"Yah... kalau kamu tega,beb....Tapi kan enggak mungkin?"jawabnya malah menantang balik.
Bening mulai kesal.Ia mencebikkan bibir bawahnya.Tak bakal kalah ia jika berdebat dengan pemuda itu.Ia memilih untuk berdiri membuatkannya minum.
Bening memilih membuatkan tamunya itu minuman ffrappuccino.Minuman ini berupa kopi blender yang dicampur bahan lain.Ada tambahan Whiped cream yang membuat rasanya tak sepahit kopi pada umumnya.Sedangka untuk dirinya sendiri,ia memilih membuat kopi Bali.
Untuk dirinya yang seorang pencinta kopi hitam, minuman itu selalu memberikan kelegaan hati.Ia mengambil beberapa donat Crispy dengan berbagai varian rasa untuk paduan minuman mereka.
Jenis donat yang digunakan di sini adalah bukan yang punya Lubang di tengah tetapi yang isian fla. Berbeda dari biasanya,donat yang sudah diisi dengan fla akan digoreng kembali setelah dilapisi cairan tepung.Lapisan donut akan semakin renyah tetapi bagian dalamnya akan tetap lembut dan creammy.
"Silahkan diminum kak ..."tawar Bening.
"Makasih beb,spesial banget rasanya..." puji Bastian.Ia pernah bisa berhenti menggoda jika berada di dekat gadis itu.
"Oh iya,beb.Calon mama mertua saya di mana?Tidak kelihatan dari tadi?"tanya Bastian setelah menyeruput minumannya.
"Ada,tapi lagi ada tamu kayaknya."jawab Bening fokus menghirup aroma kopinya.
"Kok nggak dibantah,berarti aku benar ya?"goda Bastian tak ada kapoknya.Bening baru menyadari maksud dari pertanyaan yang ia ajukan.
"Benar apanya?"tanyanya pura pura tak paham.
"Calon mama mertua..." ulang Bastian penuh penekanan.
__ADS_1
"Terserah kak Bastian aja...Eh,tapi nanti kalau di depan mama jangan panggil aku baby ya...Nanti mama kira kita pacaran..." kata Bening mengingatkan.Tapi bukan Bastian namanya jika ia langsung setuju saja.
"Nggak apa-apa dong,malah bagus kan?Aku nggak usah capek-capek jelasin.Dengan manggil kamu baby aja entar tante Livia paham maksudnya..."Bastian menjelaskan dengan santainya sambil mengunyah donat Crispy yang telah disuguhkan.
Sementara Bening makin mempelototkan matanya.
"Kok gitu sih?Entar kalau mama marah, nggak diizinin loh.Atau kalau pun mama ngizinin aku yang nggak mau pergi.Nah milih yang mana kak?"tantang Bening.
Bastian langsung siaga mendengar ancaman itu.
"Serem amat sih beb,pilihannya..." omel Bastian pelan.
"Makanya,kakak kenapa nggak nurut aja sih...?Lagian aneh nggak sih seumuran kita manggilnya kayak orang dewasa aja..." protes Bening tak ada hentinya.
"Astaga beb...yang namanya jatuh cinta itu nggak mandang umur.Aku lebih tua loh dari kamu beb...."Kata Bastian yang berbeda pandang dengan Bening.
"Au ...ah...." jawab Bening sewot.Untung saja Bu Livia sudah selesai meeting dengan kliennya sehingga dengan sendirinya perdebatan mereka usai.
Bastian berdiri menyalami bu Livia.
"Hallo tanan.Apa kabar?"sapanya sopan dengan badan sedikit menunduk.
"Hallo Bas.Kabar tante baik,sehat..." jawab ibunda Bening.
Meskipun bu Livia bersikap ramah terhadapnya dan ini bukanlah kali pertama mereka bertemu tetapi Bastian tetap merasa gugup.Seolah olah lidahnya telah kelu tak bisa berkata selancar ia mencandai Bening.
"Ayo, dihabisin minumannya Bas.Eh,dicampur es nggak tadi minumannya nak?"tanya bu Livia pada putrinya.Bening mengangguk.
"Iya,kenapa emangnya,ma?"tanya putrinya.
"Kan, sebentar malam mau nyanyi.Kasihan, nanti takutnya,suaranya keganggu..."terang bu Livia.
Bastian merasa terharu karena ada yang peduli dengan suaranya dan karena bu Livia sudah mulai menyebut malam,keberaniannya pun muncul.
"Terima kasih tante perhatiannya.Saya senang sekali.Tapi nggak apa-apa kok tan,masih aman..." Bastian memegang tenggorokannya.Bening mencebikkan bibirnya mendengar penuturan laki laki itu.
"Itu juga yang menjadi tujuan saya datang ke sini tan.Kalau dibolehin, saya mau ngajak Bening ke acara syukuran sekaligus pembukaan cafe and resto keluarga saya sebentar malam.." tutur Bastian.Wajahnya dipasang serius.Sontak saja Bening tertawa mendengarnya.
"Ih... nggak boleh ketawa gitu,nak.Nggak sopan..." tegur ibunya.
"Habis,lucu ma...mama tau nggak dari tadi sebelum mama datang kak Bastian becandain aku mulu. Giliran ngomong sama mama aja dia serius..by the way?Jadinya cafe and resto?"kata Bening.
"Yang benernya cafe and resto.Oh iya,tan.Namanya cafe and resto Dear..."
"Nggak usah disebut.." potong Bening sebelum laki laki itu menyebutkan namanya.
"Ben,nggak boleh gitu ih .Lagian kamu itu ya,masa dilarang sebut nama cafe and resto apa? Gimana kalo nanti mama pengen ke sana?Namanya saja nggak tau"omel bi Livia.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa kok tan.Bening kalau aku sebut nanti dia malu, karena itu nama panggilan aku ke dia..."Bastian malah membela gadis cantik pujaan hatinya itu.
Bening pun merasa bersalah.
"Maaf ya kak..." ucapnya.
"Iya beb...E..e..e...Ben,maksudnya.." Bastian terbata meralat panggilannya.Bu Livia hanya tersenyum mendengarnya.
"Kira kira berapa lama,Bas acaranya?"tanya bu Livia kembali ke pokok pembahasan.
"Mungkin 2 jam tante.Nanti aku yang ngantar dia pulang..."ucap Bastian.
"Kan belum diizinin kak?Udah ngomong antar jemput aja"sewot Bening.
"Oh maaf...." Bastian menjadi salah tingkah.Bu Livia mengambil nafas panjang.
"Iya,tante izinin,yang penting sesuai dengan janji kamu.."bu Livia pun memberikan izin.Bastian menarik nafas lega.
"Makasih tante.Daniel dan Widya aku undang juga
tan. ..." kata Bastian padahal tak ada yang menanyai.
"Oh,ya?Eh...nanti ajak Widya ke sini juga ya Ben. Mama kangen sama anak itu,udah jarang dia ke sini.," pinta bu Livia jadi teringat Widya ketika Bastian tiba tiba menyebutkan namanya.
"Oke ma,aku udah pernah bilang,tapi kayaknya dia lagi sibuk ma.Mungkin karena fokus ke les tambahannya ma..." jawab Bening.
Entah mengapa moodnya langsung turun jika membayangkan Widya dan Daniel pergi bersamaan.Padahal selama ini biasa biasa saja.Mungkin karena dia sudah mulai menyadari perasaannya.
"Oh, iya tan,nanti kalau tanta mampir, gratis buat tante sama om......" Ucap Bastian mengingatkan.Bu Livia mengernyitkan dahinya.
"Enggak boleh.Nanti tekor,kan baru buka..." tolak bu Livia halus.
__ADS_1
"Nggak apa-apa tan.Hitung hitung,pelaris ..." jawab Bastian mulai dengan candaannya.Mereka pun tertawa bersama.Bastian pulang setelah mengantongi izin.