Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.8


__ADS_3

Suasana dapur menjadi ramai karena kolaborasi Bening dan ibunda yang selalu tampil kompak.Beruntungnya bagi ibu dan anak itu kegiatan memasak bisa menjadi sebuah terapi yang mendatangkan kenyamanan dan kepuasan jiwa.


Apalagi di momen kali ini sangat berbeda dan istimewa.Untuk pertama kalinya setelah cukup lama mereka bisa makan semeja lagi.Bening begitu sibuk membantu ibunya sedangkan Daniel terlihat asyik bermain catur bersama ayahnya.


"Ma, waktu Tante Melia ke toko dia cerita sesuatu yang penting nggak ke mama? " Bening mulai mengorek ngorek informasi dari ibunya.


Bu Livia sepintas menoleh ke arah putrinya.


"Maksudnya hal yang penting menurut kamu itu seperti apa?" ibunya balik bertanya.Bening berpikir sejenak.


" Em..... I mean it's like a secret..." jawab Bening sekenanya.Ia sendiri bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.


Bu Melia mengernyitkan dahinya.


"Ya udahlah ma...nggak penting juga... tapi tante Melia diundang juga nggak ma ke sini?" tanya Bening mengalihkan pembicaraan.


Ia mulai memotong sayuran yang menjadi bagian tugasnya.Ibunya yang sibuk memasak tampak biasa-biasa saja mendengar pertanyaan putrinya.


" Iya...mama sudah mengundangnya.Mudah mudahan datang ya" jawabnya tak pasti.


" Memangnya kalau Melia nggak datang kenapa? kan yang penting anaknya.Danielnya sudah pasti datang.. Isn't that right?"tanya Bu Livia menggoda putrinya.


" Mama apa apaan sih..."Bening memonyongkan bibirnya." Kan tidak seru kalau tidak lengkap..."tambahnya membela diri.Bu livia hanya senyam senyum melihat reaksi anaknya.


"Tapi pasti lebih nggak seru kalau pak Darwin dan Bu Melia datang tetapi si Danielnya tidak...Iya kan?bisa bisa ada yang mogok makan terus susah tidur deh..."bu Livia semakin berniat menggoda putrinya.


" Ma....." rengeknya yang tak terima.


"Kenapa?nggak usah malu... nggak ada yang dengar.. di sini cuma ada mbak Yuyu.. lagian emang benar kan?" jawab Bu Livia yang tahu perasaan anak gadisnya.Asisten rumah tangga mereka itupun hanya menyunggingkan senyum.Ia juga begitu terharu melihat keakraban ibu dan anak itu yang sering ia saksikan sehari hari.


"Mbak Yuyu juga...kok senyum senyum sih mbak? " tanya Bening dengan tatapan kesal kepada asisten rumah tangganya itu.


"Enggak non...aku sebenarnya mau nanya,ini ada minuman buat mas Daniel dan bapak... mungkin non Bening mau nganterin sendiri ke depan.." tawar mbak Yuyu.


Bening menghela nafasnya,dibukanya celemek yang ia kenakan lalu merapikan diri.Diambilnya nampan berisi minuman itu kemudian melangkah ke luar dapur.Bu Livia hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.

__ADS_1


"Drinks are coming... silahkan diminum..." ujarnya bak seorang pelayan cafe.


"Thank you ....my beautiful girl..." ungkap ayahnya di sela keseruan mereka bermain catur.


"You're welcome pa.."jawabnya ceria.


"Makasih ya dek...." Daniel mengambil minuman yang diberi Bening.Yang disanjung terus mengukir senyum di bibirnya.


Waktu terus berlalu.Acara masak memasak pun sudah selesai.Terdapat banyak menu makanan yang sudah tertata di atas meja.Tak lupa menu khusus untuk pak Darwin juga sudah siap dengan racikan pak Cahyo sebagai dokternya.Tinggal menunggu kedatangan pak Darwin untuk mereka bisa mulai dinner bersama sama.


Bening berdiri di depan kaca riasnya.Sudah beberapa pakaian yang ia coba.Sebelum pada akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada midi dress selutut berwarna moccha yang sangat pas di badannya.Rambutnya yang ia biarkan terurai dan wajah yang hanya menggunakan pelembab dan lipbalm membuat kecantikan alaminya terpancar keluar.Entah mengapa ia begitu ingin membuat family dinner kali ini menjadi terkesan.Ditambah dirinya yang sudah mengetahui rahasia besar pak Darwin dan Bu Melia.Yah,apalagi kalau bukan tentang perceraian mereka yang tidak diketahui oleh anak mereka sendiri bahkan mungkin kedua orang tuanya pun tidak mengetahuinya.


Sempat terlintas di benaknya,kenapa pak Darwin malah menceritakan semuanya kepadanya.Mungkin karena ia sudah menganggapnya seperti anak mereka? atau adakah alasan lainnya?


Jika dirinya tak terlalu memahaminya sekarang,suatu saat nanti seiring berjalannya waktu ia pasti akan menemukan jawabannya.


Bening tersenyum sendiri mengingat obrolannya sore tadi.Ia tak habis pikir kenapa ia dengan begitu percaya diri mengungkapkan isi hatinya pada ayah dari pujaan hatinya.Sangat konyol,tapi toh pak Darwin mendukungnya.Paling tidak ia sudah mengantongi restu.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


"Itu om Darwin sudah datang kak...." kata bening kepada Daniel yang duduk di sebelahnya.Pak Cahyo berdiri dan pergi menyambut sahabatnya itu di pintu.Bening tak mau ketinggalan.Ia juga berdiri mengikuti langkah kaki sang ayah.


Gadis itu begitu terbelalak saat melihat Bu Melia turun dari mobil.Apalagi yang membukakan pintu untuknya adalah pak Darwin sendiri.Sangat romantis di usia mereka yang tidak lagi muda.Tetapi bagi seorang Bening yang sudah mengetahui status keduanya,ia malah berpikiran beda.Mungkinkah mereka mau bersandiwara di depan Daniel?


Bening segera menepis kecurigaannya itu dan memeluk Bu Melia haru.


" Cantik banget kamu,nak...." puji bu Melia padanya.


"Makasih tan...tante juga cantik,awet muda.." Bening balik memuji wanita itu.


"Kamu itu ya....bisa aja.Persis seperti mama kamu, suka banget muji..."bu Melia mencubit pipinya gemas .


"Hai om...." Tak lupa Bening menyapa pak Darwin yang sejak tadi memandang mereka dengan tak henti tersenyum.


"Hey girl....." Keduanya bersalaman.

__ADS_1


"Om sama seperti kamu...om sedang jatuh cinta lagi sama tante Mel...dan kamu sama anaknya.Ayo kita sama sama berjuang..." bisiknya dengan suara pelan di telinga gadis itu.Bening tersipu malu.Ia menjadi salah tingkah apalagi saat ayahnya memandanginya heran.


"Mari masuk Dar...... sudah ditunggu di dalam..." ajak pak Cahyo mempersilakan mereka masuk.


"Hai......" sapa bu Melia yang disambut gembira oleh Bu Livia.


"Hei.... senangnya lihat kamu datang Mel..." ungkap bu Melia pada temannya itu.


"Aku sebenarnya malu loh ke sini...kan kamu nggak ngundang aku...aku tebelin muka deh dateng..." kata bu Melia yang memang benar bahwa yang mengajaknya adalah pak Darwin.


Mungkin karena bu Melia merasa tidak enak jika mengundang mereka versi lengkap dikarenakan hubungan mereka yang sedang tidak baik.Takutnya nanti malah dua duanya tidak nyaman.


" U...u...u..hhhh.Kok ngomongnya gitu sih...iya...iya... sorry deh, dimaafin ya..." ujar bu Livia dengan wajah sendu.


"Hm.m.m.m.. dimaafin nggak ya...." canda bu Melia kepada teman baiknya itu.


"Kamu cantik banget loh bu, malam ini.. beda banget...ceria banget..."goda bu Livia.


"Mulai deh ... rayuan pulau kelapanya nggak mempan..." bu Melia berpura-pura tetap kesal.


"Yah .... emang beneran cantik,kok.."bu Livia kelabakan mendengar penuturan temannya itu.


"Iya deh...aku maafin karena udah muji..." ungkap bu Melia lalu keduanya kembali berpelukan bak teletubbies.


Daniel sangat bahagia melihat kedua orang tuanya datang bersamaan.Awalnya ia merasa aneh dan bertanya tanya.Ia diterpa pikiran negatif.Ia takut jika harus menyaksikan keduanya berselisih paham lagi.Tak enak pada bening dan kedua orang tuanya.


Tetapi ia yakin mereka bisa menahan diri.Melihat ekspresi wajah mereka yang nampak natural dan tidak dibuat buat sepertinya memang mereka sedang memulai hubungan yang lebih baik.Bisa datang berdua, semobil pula merupakan sesuatu yang luar biasa.Ditambah karena sang ayah yang sedang sakit mereka pasti mau menjalani hubungan yang sehat lagi.Memasuki bulan Desember ini, keduanya belum terlihat berselisih paham saat bertemu.Dan malam ini semuanya semakin jelas.


"Hi...boy... why didn't you tell me you were here?tadi mami telepon, bilangnya lagi di Vila..." tanyanya kepada putranya itu setelah mereka melepaskan pelukan.


"Em..m..m... That's because i didn't know mom wanted to come here too.Kalau saya tahu kan pasti saya akan bilang jujur ke mami"jawab Daniel sekenanya padahal bukan itu yang mau ia sampaikan.Sang bunda tersenyum paham.Ia mencium kening putranya.Ia tak sedikitpun marah karena Daniel tidak jujur, tetapi ia malah terharu.


Ingin rasanya ia menangis, tetapi ia menahan air matanya agar tak jatuh dan tak membuat putra semata wayangnya sedih lagi.


Mereka berenam pun duduk di ruang keluarga untuk bercerita sejenak sebelum makan malam.

__ADS_1


__ADS_2