
Rumah sakit memang menjadi tempat banyak orang mengeluh tentang fisik maupun psikisnya.Sehingga memiliki beragam kisah dari setiap pasien yang mengunjungi rumah tersebut.
Demikian pun Bastian yang memiliki kisah tersendiri tentang ketakutannya terhadap jarum suntik dan rumah sakit sehingga sebisa mungkin ia menjaga kesehatannya agar tidak akan bertemu dengan yang namanya jarum suntik apalagi sampai dirawat di rumah sakit.Melihat bentuknya saja sudah membuatnya gemetar apalagi jika disuntik.
"Kak...kenapa?kok gelisah gitu?masih sakit perutnya?atau mau buang air besar lagi?"tanya Bening ketika melihat Bastian gelisah dan berkeringat dingin.
Bastian hanya menggeleng gelengkan kepalanya,ia malu untuk bilang sekali lagi tentang ketakutannya pada jarum suntik terhadap gadis tersebut.Apalagi tadi perawat sempat menggodanya dan mengira keduanya berpacaran.
"Pacarnya baik banget ya,nyemangatin terus dari tadi..Jadi sudah siap kan,diinfus? Kalian,anak kuliah?"tanya perawat itu lagi.
"Masih SMA sus....dia kelas tiga dan saya kelas dua..."jawab Bening dengan polosnya.
"Oh.... selama ini nggak pernah disuntik atau diambil darah gitu?"suster mencoba untuk menggali informasi dari mereka entah apa tujuannya.
"Saya pernah sus...tapi kayaknya kak Bastian nggak pernah...iya kak? "tanya Bening dan Bastian malah meringis kesakitan saat suster mempersiapkan peralatan infus baginya apalagi saat trolinya diletakkan di sisinya.Ia sempat menengok sebentar.
"Diinfus harus pakai jarum ya sus? Nggak ada cara lain?"tawarnya berpikir masih ada alternatif yang lain.
"Iya, harus dengan jarum karena nanti cairannya masuk melalui pembuluh darah.. Seandainya cairan infusnya bisa diminum berarti nggak pakai jarum.Tinggal buka mulut aja.Tapi kan enggak bisa seperti itu"jelas suster itu membuat Daniel tidak mempunyai pilihan.
"Kamu tutup mata aja kak.Nggak usah dilihat kalau kamu takut..."sekali lagi gadis itu memberi saran padanya.Bastian mengangguk lalu memejamkan matanya menuruti saran gadis tersebut.
"Gimana..udah siap kan?saya tusuk ya...."Mata Bastian kembali terbelalak ketika suster mememasang infus untuknya.Ingin sekali ia berteriak dan menarik tangan kirinya saat jarum infus itu menusuknya tapi kata kata suster tadi kembali ia ingat tentang baiknya Bening padanya.
"Jangan bergerak dulu...ini belum selesai daripada nanti ditusuk lagi.Double nanti sakitnya"Suster itu mengingatkan Bastian karena ia refleks menggerakkan sedikit tangannya.Kata - kata menyeramkan itu membuatnya bergidik ngeri.Ia pun mematungkan tangannya.Widya tersenyum melihat tingkah kocaknya.
"Hei ..Bas...kamu kenapa?"tanya pak Darius ayah Bastian yang sudah sampai di IGD untuk melihat kondisi anaknya.
"Maag aku kambuh lagi pa...diare juga.."jawab Bastian.
"Bagaimana,bisa?"tanya ayahnya heran.
"Tadi saya makan sambel terlalu banyak pa, mungkin karena tadi pagi saya nggak sarapan juga, makanya kambuh..."jelas Bastian.
Tampak ayahnya mengernyitkan dahinya mendengar ceritanya.
"Makan sambel terlalu banyak? Memangnya kamu sudah bisa makan cabe?"tanya pak Darius tak paham.
Ia sangat mengenal putranya.Selain tak suka cabe Bastian memang tidak pernah mencicipi makanan yang pedas.Hal itu dikarenakan perutnya yang sensitif terhadap cabe atau makanan pedas.Kejadian yang sekarang dialaminya pernah ia alami saat kelas 5 SD.Waktu itu,ia ditantang temannya saat kalah dari sebuah permainan untuk memakan somay ekstra pedas yang dijual di depan sekolah mereka.
Bastian tak bisa mengelak karena itulah taruhannya.Mungkin teman temannya tahu kelemahannya sehingga mereka mengerjainya.Akibatnya,Ia sampai muntah berkali kali hingga nyaris pingsan kemudian ia pun dilarikan ke rumah sakit,dinfus dan dirawat persis seperti saat sekarang.Dokter menyarankannya untuk tidak lagi mengkonsumsi makanan dan minuman yang pedas.
Ayahnya yakin ia tidak akan melanggar anjuran tersebut mengingat bagaimana menderitanya putranya waktu hingga membuatnya trauma untuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Maaf pa...aku kira tidak akan bereaksi seperti waktu itu lagi ..."jawab Bastian sekenanya.Tapi dari raut wajahnya bisa dilihat kalau dirinya sangat menyesal dengan hal bodoh yang sudah ia lakukan.
Pak Darius menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kalau tahu akan seperti ini papa tidak akan menyuruh kamu untuk menemui Kak Elisa.."sesal ayahnya.
"Maaf pa... bukan salah tante Elisa pa... bahkan tante tidak tau saya ada di sana.."Bastian memilih untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya.
"Gimana sekarang? masih sakit nggak perutnya?"pak Darius mengelus elus rambut putranya.Meskipun awalnya ia marah mendengar penuturan Bastian tetapi melihatnya terbaring dengan lemah membuatnya tidak tega.
"Sudah lebih mendingan pa.. Sudah ditindaki juga...Untung tadi tante Elisa dan Bening cepat bawa aku ke sini...."jawab Bastian dengan senyumnya.Mungkin ia sengaja mengatakannya karena semenjak ayahnya datang,ia belum menyapa gadis itu yang hanya menyaksikan interaksi keduanya tanpa ikut bicara.
"Oh...hai nak... Makasih ya... sudah bawa putra om ke sini..."keduanya bersalaman.
"Sama-sama Om..."jawab Bening santun.
"Tante Elisa mana,pa?"tanya Bastian untuk mengalihkan ayahnya agar tak bertanya tanya ke Bening tentang yang sudah terjadi padanya.
"Sudah pulang tadi...kan sudah ada papa di sini...Mama kamu panik banget tau kamu dibawa ke sini"jawab pak Darius.
"Oh.....oh iya,pa...Papanya Bening ini bekerja di rumah sakit ini loh pa... Masih ingat dokternya kak Larasati nggak?"tanya Bastian ketika dilihatnya ayahnya hendak bertanya sesuatu kepada gadis itu.
Bastian hanya tak mau ayahnya menyalahkan Bening jika ia tau kejadian sebenarnya.Ia yakin Bening pasti akan berkata jujur jika ayahnya menanyakannya.
"Betul om..saya putrinya..."ucap Bening sopan.
"Bener bener keluarga penolong ya,pa... Kalau kak Laras ditolong sama bapaknya, saya oleh anaknya"Bastian kembali mulai melucuti.
"Dan kamu pasti suka,kan?"goda ayahnya yang ternyata kocak juga.
"Ya, iyalah pa... siapa yang nggak suka sama keluarga pahlawan..."jawab Bastian disambut tawa sang ayah.
"Kamu nggak marah kan?Maaf..."ungkap Bastian ketika wajah Bening tersipu malu.
Bening memilih mengangguk saja.
"Saya bicara sama dokter dulu ya, bentar"ucap pak Cahyo kemudian meninggalkan keduanya.
"Aku juga mau pamit ya,kak..."kata Bening sembari melirik jam di tangannya.
"Bentar ya, diantar sama pak Wahyu saja, sopirnya papa..."Bastian merasa tidak nyaman membiarkan Bening pulang sendirian.
"Nggak apa-apa kok..nggak usah...aku pulang bareng papa... kebetulan papa masih di sini."tolak Bening.
__ADS_1
"Beneran?"Bastian bertanya untuk memastikan.
"Iya, beneran.Oh iya nanti bilang ke papa kamu ya, nggak sempat pamit.."Bening tersenyum lalu setelah itu berjalan keluar dari ruangan IGD.
πΎπΎππΎπΎ
Setibanya di depan rumah Widya, Daniel memarkirkan mobilnya lalu turun untuk mengantar gadis tersebut masuk ke dalam.Meskipun Widya melarangnya, tetapi ia tetap memilih untuk masuk karena dirinya yakin Bu Vitha pasti sudah tidak semarah kemarin.Ia membawa paper bag yang berisi belanjaan mereka.
Widya melihat mobil ibunya sudah terparkir di garasi dan itu tandanya ibunya sudah pulang.
"Gimana nih,kak..?aku takut.Kakak pulang aja ya.Aku takut mama masih marah..."ujar Widya.
"Udah terlanjur masuk,Wid...Tuh sudah ketangkep CCTV.Kita coba hadapi saja... Kamu tenang.Kalau kamu ketakutan seperti itu nanti yang ada mama kamu curiga.Biasa aja..."Daniel menenangkannya dan berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti Widya dari belakang.
Mungkin ibunya sudah melihat mereka dari kaca sehingga sekarang ia berdiri di pintu sebelum mereka memencet bel.
Tampak Bu Vitha menyambut mereka dengan senyum.Ia langsung memeluk putrinya.
"Maafin mama ya..."ucapnya masih memeluk Widya erat.
"Aku yang minta maaf ma... maafin Widya.."ucap Widya dengan air matanya karena terharu dengan perlakuan ibunya.
Bu Vitha mencium keningnya.
"Selamat sore tante..."sapa Daniel dengan santun.Bu vitha hanya memandanginya tanpa membalas sapaannya.
"Bening mana?"Bu Vitha malah menanyakan Bening karena yang ia tahu putrinya pergi bersama gadis itu dan kaget melihat Daniel.
"Oh...tadi Bening sudah di rumahnya mi.. "jawab Widya.Bu Vitha memandang Daniel dengan sejuta makna.Entah apa arti dari tatapannya.
Sepertinya ia tidak suka melihat keberadaan Daniel di situ dan benar dugaannya.Widya pasti pergi bersama Daniel selain Bening.
Setelah menyerahkan belanjaan sang pacar,Daniel berpamitan.Ia memilih pulang karena tak kunjung diajak masuk oleh Bu Vitha.
"Saya pamit,Tan...Wid.."ujarnya.
Bu Vitha hanya mengangguk dan tetap tidak menjawabnya.Mengajaknya bicara saja enggan apalagi berterima kasih.Daniel juga sudah bisa menebak kalau Bu Vitha masih marah dan tak suka terhadapnya.
"Makasih kak...."jawab Widya.Ia merasa bersalah dengan perlakuan ibunya terhadap Daniel.
"Sama-sama.."Daniel memberinya senyum lalu melangkah menuju mobilnya diparkir.
"Masuk,yuk... sudah mulai dingin.. kamu harus segera mandi lalu istirahat .."ajak Bu Vitha padahal udaranya masih terasa panas.
__ADS_1