Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.101


__ADS_3

"Maaf... sepertinya aku nggak bisa datang di tanggal itu,aku diajak kak Bastian.Dia akan nyanyi di satu acara dan aku yang mainin gitarnya.Iya,kan kak?Tapi nanti aku pasti sempetin waktu untuk ketemu sama om Darwin dan tante Mel...Ini acaranya di tanggal yang sama lagi..." Bening membaca undangan yang diberikan Daniel dan meminta Bastian untuk mendukung alasannya tidak hadir


"Iya, tapi kalau kamu mau ke sana nggak apa-apa by..."ujar Bastian dengan senyumnya kemudian ia memberi kode kepada Daniel untuk tak menjawab.


"Itu hotel yang mau diresmiin punyanya kamu atau gimana?"celetuk Meva.


"Punya keluarga aku.."Daniel menjawab santun.


"Oh... kapan bangunnya?Kok tiba tiba saja diresmiin?Maksud aku,selama proses pengerjaannya kamu nggak pulang ya?"Meva merasa malu sendiri dengan semangat ingin tahunya.Ia memandangi mereka satu persatu yang menatapnya dengan berbagai ekspresi.


"Iya,selama ini daddy aku yang bolak balik Jakarta Bali buat ngurusin semuanya..."meski tak menyangka akan ditanyai seperti itu tapi Daniel tetap menjawab pertanyaan tersebut.


"Hotelnya udah dua Mev di Jakarta..."tambah Bastian.


"Oooh... Terus setelah ini mau stay di Jakarta atau mau pulang lagi ke sono?"Meva tak henti hentinya bertanya.


"Sono mana?yang jelas kamu nanyanya?"gurau Bening sambil tersenyum tetapi kemudian malu sendiri karena Daniel membalas senyumannya.


"Sampai sekarang tempat paling nyaman yang pernah aku tinggal itu adalah Bali, sahabat kamu tahu kok,itu?"Daniel menjawab gamblang.


"Enggak,aku nggak tahu..."sambar Bening.


"Kan pernah cerita, dulu sering malah aku bilang gitu..."Daniel coba mengingatkan memori adiknya.


"Gitu ya?Aku lupa... soalnya udah lama banget..."jawab Bening.


"Nggak apa-apa,dek..."sahut Daniel masih dengan senyumnya walau dalam hatinya tetap merasa kecewa dengan ucapan adiknya.


Mbak Yuyu sibuk membereskan piring setelah mereka selesai makan.Suasana hening mulai melanda, tatkala Bening menerima panggilan telepon.Ia berdiri untuk menerimanya.


"Hallo, selamat siang kak..."ucapnya lalu menjauh dari ketiganya.


Daniel bisa menebak siapa yang menelepon.Pasti dari Malvin, pikiranya.


"Mev...kakak kamu nanyain?Dia mau ke sini jemput kamu.."ujar Bening yang duduk kembali bersama mereka.

__ADS_1


"Kamu adiknya Malvin?"tanya Daniel.


"Iya, kok tahu?"tanya Meva.


"Dia teman aku.Oh...jadi adiknya yang dokter spesialis anastesi itu kamu?"ujar Daniel.


"Iya, benar... wow,kok kayaknya dunia ini sempit banget ya?"timpal Meva.


"Maksudnya?"tanya Bastian.


"Ya,kita di sini berteman.. mereka yang tinggal di luar negeri juga begitu.Kita sering bercerita tentang mereka eh, ternyata mereka juga menceritakan kita"jelas Meva sedangkan Bening dan Bastian hanya menatapnya heran dengan kepolosonnya.


"Kamu mau nggak aku antar aja, soalnya aku juga mau ke rumah kamu.."tawar Daniel karena tak ingin Malvin menemui adiknya.


Dia tak apa meninggalkan Bening di situ dengan Bastian ketimbang Malvin karena ia tahu bagaimana obsesi sahabatnya tersebut terhadap Bening.Ia pun berpikir untuk menemuinya dan membicarakan semuanya walau persahabatan mereka adalah taruhannya.


"Boleh..."untung saja Meva tidak menolak ajakannya sehingga ia tak perlu berpikir keras untuk mencegah Malvin ke situ.


"Dek...aku pamit ya,Bas... jangan lupa.."Daniel mengingatkan Bastian.Ia sudah mengundang penyanyi tersebut untuk mengisi acara di peresmian hotelnya.


"Jangan lupa apa,kak?"Bening mendadak ingin tahu.


"Jangan lupa datang mungkin..."tebak Bastian.


"Katanya ada acara lain?"tanya Bening.


"Iya, nanti diusahakan....oh iya, setelah acara itu nanti aku ke Italia.Ada projek di sana.Kamu mau nggak ikut?"tanya Bastian


"Mau banget kak...tapi kerjaan aku, gimana?"ucap Bening.Daniel membelai rambutnya.


"Padahal mau ngajak kamu liburan..."ucap pemuda itu.Ia sangat berharap kali ini Bening mau meluangkan waktunya.Tetapi tetap saja selalu ada alasannya.


"Maaf ya,kak... kalau masih di Indonesia aku pasti usahain untuk ikut..."Bening merasa tak enak hati terus saja menolak ajakan Bastian untuk berlibur ke luar negeri.


"Nggak apa-apa..aku pulang dulu ya, kakaknya Meva nggak jadi datang kan?Kan adiknya udah pulang.Nggak ada alasan lagi dong, datang?"Bening merasa aneh dengan pertanyaan Bastian.

__ADS_1


Dengan Daniel tak seperti itu reaksinya.


"Iya, udah aku wa tadi.. mungkin nggak jadi datang..."jawab Bening.


"Kok mungkin?Pastiin dong,by? Kamu harus istirahat..."Bening makin merasa aneh.


"Iya,iya.. nanti aku kabari kalau dia masih jadi ke sini ..."ucap Bening.Ia lalu masuk ke kamarnya untuk beristirahat.Ia kembali merenungi sikapnya terhadap Daniel.Gadis itu memejamkan matanya mencoba mendalami perasaannya sesungguhnya.


Sudah bertahun-tahun lamanya ia dan Bastian selalu menghabiskan waktu bersama sama.Banyak hal yang sudah dilakukan untuk diri mereka masing-masing.Banyak sekali perhatian dan kasih sayang yang sudah dicurahkan Bastian untuknya.Tetapi perasaannya belum berubah, tetap sama seperti saat mereka di Bali dan hal itu yang membuatnya terus dihantui perasaan bersalah.


Bening merasa nyaman berada di dekat Bastian,ia menyayanginya mungkin karena pemuda tersebut sudah seperti saudara baginya.Keluarganya juga sangat menyayanginya.


Sekarang, Daniel kembali.Ia pulang dan menjelaskan semuanya.Meskupun Daniel menceritakan kebenarannya tetapi ia memutuskan tak mau lagi hidup dalam bayang bayang kebersamaan mereka dulu di Bali.


Bahkan rasa takut kembali menghantui.


Ia takut akan mengingkari keputusannya apalagi setelah tahu perasaan Daniel padanya.Bukan karena Daniel mengatakannya beberapa hari yang lalu tetapi ia sudah membuka kotak itu, kotak yang dulu tertinggal di dalam tasnya dan sudah ia kembalikan.


Bening memilih untuk tidak bersikap baik terhadap Daniel agar tak kembali terlena dengan semua perhatiannya.Ia juga ingin fokus menjalani komitmennya yang belum genap sebulan.Komitmen untuk belajar jatuh cinta pada pria lain dan jika ada peluang bagi mereka untuk mengubah status pertemanan mereka selama ini ia ingin mencobanya.


Tetapi bagaimana jika Malvin malah terlebih dahulu mengatakannya daripada Bastian?Karena pemuda tersebut terus saja berkomunikasi dengannya dan ia bisa membaca maksudnya.Meski baru mengenal Malvin,ia meyakini pemuda itu orangnya baik dan bertanggung jawab.Buktinya ia tak pernah putus asa dengan kejadian tahun lalu saat ia menolak untuk bertemu dengannya padahal ia sudah mengorbankan waktunya.Komunikasi keduanya sejauh ini juga tidak membosankan karena Bening merasa menemukan sesuatu yang baru.


Gadis itu membolak-balikkan badannya karena resah.


"Mau ke mana lu?rapi amat?"tanya Daniel saat turun dari mobil dan bertemu Malvin.Ia melihat pemuda itu memegang kunci mobilnya seperti hendak bepergian.


"Loh, kok kalian bisa barengan?"tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Malvin.


"Tadi kami sama-sama di rumahnya Bening.Aku juga baru tahu tadi kalian ternyata berteman..."cerita Meva.


"Maksudnya?"Malvin mengernyitkan dahinya tak paham.


"Nanti gue ceritain..Ke hotel yuk,ada yang mau gue diskusiin sama lu..."Daniel menggandeng bahu Malvin dan mengajaknya ke mobil.


"Tapi gue mau keluar bentar..."tolak Malvin.

__ADS_1


"Mau ketemu dokter Bening kan? Nanti aja setelah kita diskusi.Nggak lama kok...ini emergency jadi nggak bisa diitunda..."Malvin pun dengan berat hati menuruti kemauan Daniel.


__ADS_2