
Widya sudah merasa lebih baik.Saat ibunya datang ia lebih banyak diam.Menjawab sesuai apa yang ditanyakan oleh ibunya.
"Makasih ya,bu Livia..."ucapnya di ruang tamu.
"Sama - sama bu...kami juga senang, akhirnya Widya bisa nginap di sini lagi.. udah berapa lama ya,nak...?"tanya Ibunda Bening pada Widya yang tampak tak bersemangat.
"Berapa bulan ya,Ben...aku lupa..."Widya malah bertanya kepada sahabatnya yang duduk di sampingnya.
"Ada 5 bulan kali ya atau lebih..."merekapun tertawa karena tak ada satupun jawabane yang pasti.
"Mari..Silahkan diminum bu..."ujar bu Livia.
"Terima kasih..."Bu Vitha mengambil secangkir teh untuknya dan meneguknya.Handphonenya berbunyi.Sepertinya ada panggilan masuk.
Saat melihat ekspresinya, Widya merasa curiga,pasti panggilan tersebut dari pria itu.Pria yang ia lihat di hotel dan di mall bersama ibunya.Pria yang membuat asmanya menjadi kambuh.
Karena merasa tak enak ia mengabaikan telepon itu lalu jemarinya mengetikkan pesan.
Tapi kembali handphonenya berbunyi.
"Diangkat aja bu..."kata bu Livia yang melihat bu Vitha merasa tak nyaman kembali mendapat panggilan telepon.
Bu Vitha pun berdiri dan melangkah menjauh dari situ.Widya menjadi kesal dan tak suka melihat sikap ibunya.
Ibunda Bening yang menangkap sesuatu yang aneh dari ekspresi Widya hanya tersenyum tak ingin menanyakan apa pun demikian halnya dengan sang putri.
"Mommy mau ke toko bentar... setelah itu mama akan keluar sama papa..buat beli kado untuk sebentar malam..."bu Melia bercerita tentang rencananya hari itu.
"Wah... ikut dong ma..."ujar Bening.
"Boleh... kamu Wid, gimana? Mau ikut, nggak?"tanya bu Melia siapa tahu Widya juga mau hanya tak enak untuk mengatakannya.
Widya memandangi Bening.
"Jadi, gimana?"tanya gadis itu karena belum meminta izin pada bu Vitha tentang keinginannya untuk ikut merayakan malam pergantian tahun bersama.
"Iya...entar aku coba ngomong ya ke mami kamu..."Bening seperti paham maksudnya dan berjanji akan meminta izin.
"Aku mau
__ADS_1
Tak lama bu Vitha kembali masuk dan duduk di tempatnya semula.
"Telepon dari siapa,mi?"akhirnya rasa penasaran itu tak mampu lagi ditahan sehingga membuat Widya menanyakannya.
Ibunya pun kaget putrinya seberani itu bertanya.
"Dari teman.. klien..."jawabnya berharap tak ada lagi pertanyaan berikutnya.
"Emang kerja,mi?masa akhir tahun nggak libur?"tanyanya tak terkendali seperti meluapkan kekesalannya.
Bu Vitha tak menjawab melainkan hanya tersenyum kepada anaknya.
"E e. ..bu Mel.. sekali lagi terima kasih sudah merawat anak saya semalaman.Kami mau pamit bu..."ujar bu Vitha setelah menghabiskan tehnya.
"Iya,sama sama bu..."terlihat dari gerakan tubuhnya sepertinya bu Vitha ingin segera pulang.
"Tan... maaf...saya mau minta izinnya tante.. boleh nggak Widya ikut bareng kami merayakan akhir tahun bersama entar malam..."Bening mengutarakan niatnya.
"Oh...gitu?gimana,nak?" tanya bu Vitha pada putrinya.
"Iya mi...aku mau.. Lagian kalo di rumah juga aku sendirian..mami mau pergi juga, kan?"Bu Vitha tak menanggapi omongan putrinya.Ia memilih berpamitan saja.Memang benar kata putrinya kalau ia akan merayakan malam tahun baru bersama kekasihnya yang bernama Andre Thimoti.
πΎπΎππΎπΎ
Bu Melia bersama pak Darwin dan putranya Daniel memasuki lobi hotel dengan senyum sumringah.Mereka kompak mengenakan baju serba putih.Meski awalnya aneh tapi bu Melia membangun kepercayaan dirinya melangkah bergandengan tangan dengan pria bule tersebut. Para pegawainya yang menyambut kedatangan mereka memberi hormat apalagi moment itu dirasa langka setelah beberapa tahun mereka tak terlihat bersama.
Ada yang senang melihat mereka tampil bersama lagi, tapi ada pula yang merasa kaget dalam hatinya mulai timbul berbagai pertanyaan tetapi mereka tidak berani membicarakannya.Nyonya besar itu juga hampir tak pernah menyambangi hotel lagi.
"Hey...Mel... Melia Indrawan kan?"seorang pria menghampirinya saat pak Darwin tengah berbicara sebentar dengan seorang pegawai hotel.
"Iya..."sahut bu Melia meskipun wajahnya familiar tetapi takut salah orang.
"Astaga... akhirnya bisa ketemu kamu juga..aku Andre... Ingat nggak?"ujarnya mengulurkan tangan dan bu Melia pun terpaksa memberikan tangannya juga tak mau dikesan sombong.
Wanita itu mengangguk tanda ia mengenalinya.
Pria asing itu memegang tangannya erat bahkan tak sampai di situ ia malah ingin menyodorkan pipinya untuk bersalaman lebih dekat tapi untungnya secara tak sengaja gerakan tubuh bu Melia berhasil menghindari adegan tersebut.
"Pak Andre apa kabar?Ke sini mau liburan?"tanyanya sekedar basa-basi.
__ADS_1
"Iya, sekalian mau ketemu kamu.Kamu tambah cantik aja,Mel...tambah seksi.."ujarnya sedikit berbisik.
"Oh iya,aku udah cerai Mel.. Mungkin aku kena karma karena udah ninggalin kamu dulu.Tapi kamu juga kan?Kamu udah cerai,kan? Syukurlah kita bisa bertemu di sini.Aku minta nomor kamu ya"cerocosnya tanpa jeda dan percaya diri.
Pak Darwin yang melihat pemandangan itu mengepalkan tangannya sekuat tenaga.Ia benar benar marah karena pria itu sudah berani mendekati bu Melia, berbicara bahkan memegang tangannya.
Wajahnya memerah menahan amarah.Walau saat hubungan mereka baik baik saja pun ia tetap bersikap posesif dan sekarang rasa itu semakin menjadi jadi.
Bu Melia melepaskan tangannya saat pak Darwin berjalan ke arahnya dengan wajah garang.Wanita itu memejamkan matanya tak berani membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu.
"Maaf udah buat kamu menunggu..."tanpa meminta izin terdahulu ia langsung mencium pipi wanita yang berhasil membuatnya terbakar cemburu.Ia tak peduli lagi jika bu Melia akan marah nantinya.Ia hanya merasa harus menunjukkan pada pria asing yang berdiri di hadapannya bahwa wanita itu miliknya, kepunyaannya, hartanya.Dilingkarkannya tangannya pada lengan bu Melia untuk merangkulnya.Bagai terkena sengatan listrik,bu Melia merasa darahnya mengalir lebih kencang.
Jantungnya seperti hendak melompat keluar saking cepatnya berdetak.Antara takut dan nervous.Takut pak Darwin akan melakukan sesuatu yang buruk pada pak Andre yang kini menganga melihat keduanya.
Karena dari sorot matanya tadi ia seperti singa yang kelaparan saat melihat seonggokan daging segar.
"Oh iya,pak Andre...ini daddy Darwin... ayahnya Daniel anak saya..."ucap bu Melia bingung bagaimana memperkenalkannya.
"Dan suaminya mommy Melia yang sangat cantik ini.."ujar pak Darwin begitu percaya diri malah tersenyum genit pada wanita yang tetap dalam rangkulannya.
"Oh....Aku jalan dulu ya.."tanpa menunggu jawaban dari bu Melia,laki laki yang bernama Andre itu berjalan meninggalkan keduanya dengan wajah malu dan penuh amarah.
"Bule sinting...awas saja aku akan merebut Melia dari kamu... lihat saja apa yang akan aku lakuin..."gerutunya sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
Seorang pegawai hotel yang dipanggil pak Darwin datang dengan membawa sebotol handsanitizer.Pria itu menuangkannya pada tangan bosnya lalu dengan segera pak Darwin menggosokkannya pada tangan bu Melia yang tadi dipegang oleh orang asing.
"Kenapa dad?"bu Melia heran melihat apa yang pak Darwin lakukan.
"Biar kumannya mati dan tak ada lagi bekas tangannya di sini.Mulai sekarang jangan mudah memberikan tangan kamu pada orang asing..."
ucapnya dengan wajah serius.
"Tapi dad aku hanya..."
"Please..."ungkap pak Darwin dengan lembut membelai telapak tangan wanita kecintaannya itu.
"Saya tidak rela mommy disentuh oleh pria lain.. cemburu itu sakit mom..."tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
Bu Melia hanya bisa menatapnya takjub.Tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
__ADS_1