
Saat pertama kali tiba di New York Daniel disambut oleh berita tentang kepulangan bu Vitha.Wanita itu tak berhasil diselamatkan karena mengalami serangan yang kedua kalinya.Dari informasi yang Daniel dapatkan,bu Vitha terkena stroke hemoragic.
Daniel sangat merasa bersalah dan terus berpikir bahwa ibunya juga termasuk orang yang ikut andil dalam kajadian naas yang menimpa bu Vitha.Saat gadis itu lulus SMA,ia membawanya ke Amerika karena impian gadis itu adalah kuliah di luar negeri.Beruntung orang tua Daniel mau membantunya walaupun ayah dan kakak Widya juga ikut membiayai kuliahnya.
"Hey, Dan.. Kamu tidur?"tanya Mark karena sepupunya itu tak merespon apa apa lagi.
"Enggak, cuma aku teringat peristiwa itu aja"jawab Daniel.
"Peristiwa apa? ibunya Widya lagi? Astaga..wake up Dan... Memangnya kamu yang bunuh? Lagian sudah terbukti kan, kalau pak Andre itu hanya memfitnah, kamu juga sudah tahu semua kebenarannya.Harusnya kamu itu merasa bersalahnya ke mommy sama daddy kamu.Kamu sempat membenci mommy kamu, berpikir negatif tentang dia, padahal kenyataannya? Mommy kamu nggak ada salahnya sama sekali.Kalau menurut aku nih,ya..sebenarnya yang membuat ibu itu umur pendek adalah anaknya sendiri, Widya.."Daniel mempelototkan matanya.
"Maksud kamu?"Daniel bingung.
"Dia kan, yang udah ngirim video itu untuk ibunya? Kata kamu, ibunya langsung lemas setelah menonton video tersebut.. berarti emang Widya yang salah.Dia penyebabnya.Kata kamu semenjak berpacaran sama kamu dia selalu berdebat dengan ibunya.Kelakaan yang membuat adik kamu hampir lumpuh itu juga terjadi setelah mereka berdebat kan? Widya itu toxic buat kamu.Apalagi sekarang tentang Daniah..."Mark terus saja memberikan pendapatnya walau Daniel juga selalu berpikiran sama seperti yang sepupunya itu pikirkan, hanya ia merasa tak layak untuk bertemu Bening lagi.
"Aku kangen banget sama dia,Mark.."ungkapnya.
"Siapa?Daniah?"tanya Mark langsung disambut oleh gelengan kepala dari Daniel.
"Pulang.. temui dia.. jelasin semuanya.Tebus semua waktu kamu yang sudah membuatnya kecewa..Toh, hotelnya juga sudah finishing.Ayo,pulang.. kebahagiaan kamu itu ada di sana.."Daniel seperti mendapat semangat yang baru.
"Tapi, gimana kalau dia nggak mau maafin aku?"nyali pemuda itu kembali menciut.
"Normal.Sangat wajar.Intinya start dulu.."Daniel memeluk sepupunya tersebut lalu pulang ke rumah dengan perasaan yang menggelora.
__ADS_1
Ia tak akan menarik ulur lagi.Keputusannnya benar benar bulat,ia harus pulang.Tak akan ada lagi yang bisa menghalanginya untuk kembali.
Pemuda tersebut menyelesaikan semua urusannya baik di kantor maupun urusan lainnya.
"Kamu lagi...ada apa?"tanya Daniel yang kembali kaget saat Widya malam malam datang ke rumahnya.
Tak menjawab, Widya langsung masuk ke dalam rumah.Ia duduk dengan wajah yang tidak tenang.
"Aku mau nginap"katanya.
'"Ngapain? Enggak! Nggak boleh! Kamu nggak boleh nginap.."tegas Daniel.
"Dave menelpon.Dia ingin ketemu.dia tahu aku mau pulang..."kata Widya panik.
"Apa? Kok kamu jawabnya gitu?Ini tentang Daniah!Dia pengen ketemu Daniah"Widya terlihat marah.
"Ya,terus?"jawab Daniel santai membuat Widya geram.
"Kok kamu santai banget jawabnya.Kasih solusi kek..."ujar Widya.
"Gini ya,Wid...Aku udah nggak peduli lagi sama kamu atau anak itu.Sudah cukup.Kamu harus belajar bertanggung jawab mulai dari sekarang.Kamu sudah menjadi seorang ibu.Harus bisa mandiri.Mau sampai kapan bersembunyi?Sampai kapan lari dari masalah?Apa kamu nggak capek hidup seperti ini terus.Aku udah capek..."jelas Daniel membuat Widya kaget.
"Kamu jangan bercanda,Dan..."bantah Widya.
__ADS_1
"Sumpah,aku serius..."Daniel bersungguh sungguh.
"Apa rencana kamu?"tanya Widya.
"Aku mau pulang.Aku mau mengambil kembali harta aku di sana.."ujar Daniel.Jika Daniel menyebut hartanya itu berarti tentang Bening.Pria itu selalu menyebut adiknya itu hartanya.
"Bening?Tapi dia sudah bahagia sama Bastian.Kamu tega mengambilnya dari Bastian.Dia sudah berkorban banyak untuk Ben..."jelas Widya berharap Daniel akan merubah keputusannya.
"Stop.Jangan diteruskan dan jangan memfitnah.Aku sudah siap.Apapun resikonya nanti, harus bisa aku terima.Kalau dia milih Bastian dan bahagia sama pilihannya,it's okay.Yang penting adalah ketemu dulu"Bastian tak goyah.
"Tapi kamu tahu dia sudah nggak suci laki..."Daniel malah tertawa mendengarnya.
"Wid...Wid... Ternyata kamu tidak pernah berubah.Kamu ngomongin kesucian orang lain yang tak kamu tahu kebenarannya.Lihat diri kamu.Apa yang sudah kamu lakukan?"sindir Daniel.
"Tapi gimana dengan janji kamu sama almarhumah mami?"Widya merasa tak ada alternatif lain lagi selain mengingatkan pemuda itu tentang janjinya pada ibunya.
"Kamu lihat apa yang sudah aku lakuin untuk kamu selama ini?Apa yang sudah orang tua saya lakuin untuk kamu? Bahkan untuk Daniah?Apa itu semua nggak cukup? Jangan lupa,ibu kamu pingsan setelah melihat video kiriman kamu.Padahal aku sudah bilang ke kamu videonya nggak ada.Tapi kamu malah mengirimnya padahal kamu tahu,ibu kamu menderita darah tinggi.Selama ini, pernahkah kamu memikirkannya? Lihat apa yang sudah kamu lakuin? Kalau ibu kamu masih hidup dia pasti sangat kecewa sama kamu.Berubahlah Wid..."ujar Daniel.
Widya dengan lemah duduk di kursi.Ia yang berharap kembali mendapat perlindungan saat datang ke rumah itu seperti sebelumnya kini malah sebaliknya.
"Kamu boleh nginap.Tapi jangan coba-coba ke lantai atas dan mengganggu aku.Oh iya,ada baiknya kamu harus bertemu pria itu.Selesaikan semuanya dengan baik.Berpikirlah untuk hidup normal mulai dari sekarang.."Daniel meninggalkan Widya yang terdiam di tempatnya duduk.
πΎπΎππΎπΎ
__ADS_1