
Tak hanya ibunya,Widya pun terus saja menghubungi kekasihnya.Tak terhitung berapa banyaknya ia mengirimi pemuda itu pesan.Tapi untuk kali ini Daniel bersikap tak segreget dulu lagi.Biasanya ia akan panik jika Widya meneleponnya berkali-kali dan akan segera menghubunginya balik.
Daniel juga tak mengangkat teleponnya atau membalas pesannya.Saat hendak menonaktifkan handphonenya kembali ia mendapat sebuah panggilan telepon.
"Hallo dek..."jawabnya.
"Hallo kak..."balas Bening yang awalnya tak yakin Daniel akan mengangkat teleponnya.Ia melihat ke bu Melia yang terus memberinya isyarat agar dirinya melanjutkan obrolan mereka.
"Iya,kamu gimana kondisinya?Udah lebih baik nggak?Masih nyeri nggak?"tanya Daniel panik.
"Udah lebih baik.Aku mau minta tolong,hanya nggak bisa terlalu banyak bicara,nyeri.."Bening berbicara pelan.
"Ya udah, kalau gitu kasih handphonenya ke mommy ya..biar aku bicara..."Bening langsung memberi handphonenya pada bu Melia persis seperti yang mereka harapkan dari rencana mereka.
Rupanya bu Melia terus gelisah saat Daniel tak mengangkat teleponnya dan hanya mengirim pesan.Ia merasa ada sesuatu yang aneh yang membuatnya tidak tenang.Putranya itu bersikap tak seperti biasanya malah lebih mirip dengan sikapnya ke tiga tahun saat ia dan ayahnya Daniel tak akur.Untuk memastikan firasat buruknya bu Melia meminta Bening untuk menghubungi Daniel dengan nomornya persis yang biasa ia lakukan dulu jika berada pada situasi seperti itu.
Benar saja, Daniel langsung merespon saat Bening yang meneleponnya.
"Hallo nak..."sang bunda menjawab.
"Mommy,si adek kenapa?Katanya mau minta tolong.."ujar Daniel kepada ibunya.
"Ini boy..Dia bilang nyerinya muncul lagi.Padahal tadi katanya udah aman.Mommy mau nelpon mas Cahyo tapi takut mereka kepikiran lagi."bu Melia mempraktekkan idenya yang terlintas begitu saja di pikirannya.Ia sebenarnya hanya ingin memastikan putranya benar benar sedang baik baik saja atau tidak.
"Kenapa nggak lapor ke dokter yang disitu aja my? Om Cahyo kan bukan ahli tulang.Lagian kalau om Cahyo di Jakarta, kalau nunggu om Cahyo berapa lama?"omel Daniel.Bu Melia hanya manggut-manggut sedangkan Bening terlihat penasaran melihat ekspresi bu Melia karena telepon itu tak dilouspeaker.
"Iya, udah kok.Mommy udah bilang ke susternya tadi cuma si adek pengen kamu beliin dia buku lagi.Yang kamu kasih tadi pagi itu sudah selesai dia baca.Katanya bagus bisa bantu dia alihin nyerinya.."kata bu Melia padahal nyatanya baru seperempat halaman.
"Oh gitu?Ya udah kalo gitu bilang ke adek nanti aku ke situ bawa bukunya.."bu Melia mengelus elus dadanya saat panggilan itu berakhir.Ia merasa lega.
__ADS_1
"Makasih ya,dek..."ungkap bu Melia memegang tangan Bening.Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tante maaf ya, udah ngerepotin.Tante pasti bosan ya, dari tadi di sini terus?"tanya Bening.
"Nggak kok,nak?Sama sekali enggak.Masa jaga putri sendiri bisa bosan?Lagian dari tadi tante diwawancarai terus sama orang ini."bu Melia menunjukkan foto pak Darwin yang terpampang di layar handphonenya.
"Oh ya?Om Darwin bilang apa,tan?Om tau nggak aku kecelakaan?"tanyanya antusias.
"Iya,tahu.Kemarin waktu kamu dioperasi dia nanyain terus.Bahkan kata om, kalau nggak ada perubahan biar berobat di sana aja..."Cerita bu Melia.
"Makasih tan, tapi sudah lebih baik kok.."Bening sangat bangga ia begitu dicintai oleh kedua orang tua Daniel.Karena itu sebagai balasannya ia akan terus berdoa supaya segala perjuangan mereka direstui Tuhan sehingga bisa menjadi utuh lagi.
Sebuah ketukan pintu menghentikan obrolan mereka.Bastian datang dengan membawa sebucket bunga.
"Sore tan..."ucapnya pada bu Melia yang sudah membukakan pintu.
"Selamat sore beb..."sapanya pada Bening yang berbaring di tempat tidurnya.
"Sore kak..."Bening menerima bunga pemberian pemuda itu kemudian memberinya pada bu Melia.Ia merasa risih disapa seperti itu di depan bu Melia.Ia takut jika wanita itu salah paham.Karena itu ia memlih memberikan bunga itu untuk dipegang oleh bu Melia.Bastian pasti tidak akan tersinggung mengingat dirinya yang masih dengan posisi tidak nyaman untuk memegang apapun.
"Kamu kenapa?Kok bisa sampai seperti ini?Gimana ceritanya?"tanya Bastian beruntun
"Dia belum kuat untuk bicara nak.. Masih suka nyeri,kan baru semalam dioperasi.."Bastian kaget mendengar penuturan ibunya Daniel.
"Operasi? Apanya yang dioperasi,tan?"tanya Bastian kaget sebab tadi di telepon Widya hanya bilang kecelakaan saja.
"Kakak tahu dari mana aku disini?"ujar Bening pelan.
"Widya.."jawab Bastian.
__ADS_1
Bening mengernyitkan dahinya.
"Widya?Dia nelpon atau gimana? Berarti dia udah sadar dong.."tanya Bening.
"Iyaaaa, tadi dia yang nelpon.."Bening sangat senang mendengar.
"Terima kasih Tuhan.."Ucap Bening sampai menutup matanya.Dirinya terlihat bahagia.Doanya terkabul.
"Memangnya Widya kemarin sempat tak sadarkan diri?"timpal bu Melia.
Bening mengangguk.Sejak setelah siuman paska menjalani operasi Bening terus memikirkan sahabatnya itu.
Tak lama kemudian, Daniel datang membawa beberapa buah buku dan makanan.Rencananya ia akan makan malam di rumah sakit bersama adiknya tersebut.Ia hendak masuk.Tetapi saat melihat dari pintu yang sedikit terbuka siapa yang ada di dalam,ia menghentikan langkahnya.Bening tampak tertawa lepas saat berbicara dengan Bastian.Sepertinya Bastian adalah salah satu obat yang bisa menghilangkan nyeri yang dikeluhkan adiknya.Terbukti ia begitu lepas tertawa.
Daniel memilih mundur kemudian meminta tolong kepada perawat untuk mengantarkan barang bawaannya ke kamar Bening.Ia akan menemui pak Richard untuk mempercepat keberangkatannya, sementara Widya terus saja gelisah di kamar tempat dirinya dirawat.
Gadis itu penasaran, ingin mendengar Daniel menceritakan pertemuannya dengan pak Andre.Tapi sampai sore hari,Daniel tak muncul padahal tadi pagi sebelum berangkat menemui pak Andre pemuda itu berjanji akan segera menemui dirinya setelah semua urusannya selesai.
"Mi...aku mau pulang.."kata Widya pada ibunya, membuat ibunya kaget.
"Pulang?"tanya bu Vitha.
"Ia,aku mau pulang ke rumah.Aku bosan di sini.."jawab Widya padahal ibunya mengira mungkin anak gadisnya itu bercanda.
"Nggak bisa lah nak...Kamu ada ada aja.."kata sang bunda.
"Tepi aku serius pengen pulang mi..."Widya merengek dengan mata yang berkaca-kaca pertanda ia sungguh sungguh.
"Tapi kamu belum pulih,Wid.. Kamu nggak dengar apa kata dokter? Kamu akan menjalani serangkaian pemeriksaan dan harus tetap dirawat sampai beberapa hari ke depan.. Kalau kamu nggak ada keluhan lagi setelah beberapa hari dan setelah dipastiin hasil pemeriksaannya baru boleh pulang"Bu Vitha mengingatkan putrinya dengan lembut.
__ADS_1