
Bening terus gelisah menunggu kakaknya kembali.Beberapa kali ia menghubunginya, tetapi nomornya tidak aktif.Ia tak bisa tidur dengan nyenyak karena sering terbangun hingga pagi menjelang ia melihat handphonenya berharap ada kabar dari pemuda tersebut.
Gadis itu menghela nafas kecewa karena apa yang ia harapkan tak terjadi.
"Pagi nak..."sapa ibunya membuka tirai kamar tempat ia dirawat.
"Pagi ma..."jawab Bening
"Semalam tidurnya nyenyak nggak?Hari ini belajar jalan lagi ya..."kata bu Livia bersemangat.
"Iya ma..."Bening tampak berbeda dengan ibunya.Ia terlihat lesu.
"Kok, kayak nggak semangat gitu? kenapa?"tanya sang bunda.
"Enggak kok ma...aku semangat kok.Aku senang biar bisa segera pulang.Aku kangen rumah.."Bening memberi senyumnya selebar mungkin agar ibunya yakin dia baik baik saja.
"Baiklah kalau begitu,kata papa nanti lihat perkembangan kamu beberapa hari ke depan.Kalau semua hasil pemeriksaan aman kita bisa pulang.."jelas bu Livia.
"Amin.Aku juga udah bosan ma,di sini..."Bening terus memegang handphonenya.
"Katanya mau jadi dokter.Harus betah dong dengan suasana rumah sakit.Kan nanti bisa belajar gimana psikologi pasien yang dirawat berhari-hari, karena udah pernah ngerasain jadi bisa berempati..."ujar bu Livia.
Ia sesungguhnya paham mungkin putrinya sedih karena harus berpisah dengan Daniel.Handphonenya berdering.Ada pesan masuk dan setelah dilihatnya ternyata dari bu Melia yang mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di bandara mengantar putranya.Ia berjanji akan ke rumah sakit setelah Daniel berangkat.
Bu Livia menghela nafas.Dipandanginya sang putri.Mungkinkah Bening tahu sehingga ia menjadi tak bersemangat?
Daniel tak bisa menahan kesedihannya di ruang tunggu.Ia terus memandangi foto adiknya yang terpampang di layar handphonenya.
Ia merasa bersalah karena tidak kembali lagi ke kamarnya.Meskipun Daniel tahu gadis itu pasti menunggunya, tetapi mengingat ancaman Widya membuatnya mengurungkan niatnya.Padahal besar sekali keinginannya untuk menemui adiknya tersebut.
Yah, saat keluar dari kamar Widya gadis itu sempat mengejarnya.
__ADS_1
"Daniel tunggu..."teriaknya.Mengingat kesehatan gadis itu yang belum pulih ia terpaksa berhenti.
"Ada apa?"tanya Daniel kesal.
"Aku sudah mendapat bukti percakapan kamu sama om Andre."Widya memegang handphonenya.
"Mau kamu apa?"tanya Daniel marah.
"Jauhi Ben.Jika kamu kembali menemui Bening dan membuat kesepakatan dengannya itu berarti feeling aku benar.Kamu menyukainya.Kalau kamu tetap ngotot ke sana,aku akan mengirim video ini ke mommy dan daddy kamu.Silahkan kamu pilih..."Daniel menggertakkan giginya menahan marah.
Sisi lain gadis itu benar benar membuatnya terheran heran.Selama ini Widya terlihat kalem dan baik.Siapa sangka dia memiliki sisi yang menakutkan seperti itu.
Daniel duduk di dalam pesawat dengan gundah, tetapi ia berharap keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang tepat.
Siang harinya, seperti janjinya bu Melia datang mengunjungi Bening di rumah sakit.Kelopak matanya terlihat sembab seperti sehabis menangis.Bagaimana tidak sedih,ia ditinggal mendadak oleh putranya yang hampir tak pernah jauh darinya.
Rasanya ia ingin segera menyusulnya pergi.Tetapi kata pak Darwin ia akan segera pulang ke Indonesia setelah Daniel tiba di sana.Bu Melia disuruhnya untuk bersabar menunggunya sekaligus mengurus masalah mereka.
"Wow... senang ngelihat kamu bisa berjalan normal lagi nak .."ucap bu Melia membuat Bening kaget dan menoleh.
"Tante...."gadis itu memeluknya dan melihat ke pintu barangkali ada yang mengikutinya dari belakang.
"Maaf ya Daniel nggak sempat pamit sama kamu...Dia sangat merasa bersalah.."ucap bu Melia langsung pada intinya.
"Maksudnya tan? Pamit? Memangnya kakak mau ke mana?"Bening mengernyitkan dahinya.
"Ke New York, nyusul daddy..."jawab bu Melia.
Bening mundur beberapa langkah.Ia merasa badannya tiba tiba saja lemas mendengar kabar yang disampaikan oleh ibunya Daniel.
"Ben...hey,kamu kenapa?"ibunya dengan sigap langsung menopangnya.
__ADS_1
"Ayo,duduk nak..."kata bu Melia.
Kedua wanita tersebut menuntun Bening untuk duduk.
"Minum air putih dulu"ibunya mengambil segelas air putih dan memberinya pada putrinya.
"Kamu kenapa? pusing nggak? Saya kabari papa kamu ya?"bu Livia mulai panik.
"Aku nggak apa-apa ma.."jawab Bening pelan.
"Maaf nak...tante kira kamu sudah tahu Daniel ke New York..."tak menjawab Bening mulai berkaca-kaca.
"Iya, mommy juga mikirnya kamu udah tahu,soalnya kemarin Daniel sempat pamit kok sama mama.."kata kata tersebut semakin membuat air mata Bening tak terbendung.
Dirinya merasa tertipu.Sungguh tak adil buatnya.Ia dibiarkan menunggu semalaman oleh pemuda itu.Perasaan marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu.
"Oh iya,ini ada titipan dari Daniel..."bu Melia memberikannya kepada gadis itu.
Untuk menghormatinya, Bening tetap menerimanya dan meletakkannya di atas meja.Tak ada niat baginya untuk membuka dan melihat isinya.
Ia terlanjur marah dan kecewa pada Daniel.Bayang bayang sikap Daniel padanya selama ini kembali muncul saat Bening berbaring.Ia ingat bagaimana perubahan sikap pemuda itu setelah berpacaran dengan Widya.Bagaimana ia sering dikecewakan dan menangis sendiri.Tetapi ia selalu memaafkannya.
Tetapi kali ini apa yang Daniel lakukan untuknya tidak bisa ditolerir lagi.Sungguh sangat melukai perasaannya.
Ketika hari pengumuman kelulusan tiba, meskipun marah tetapi Bening berharap pemuda itu datang tetapi harapannya kembali hampa.Tak terlihat tanda-tanda kehadirannya.Gadis itu juga tak berinisiatif untuk menanyakannya kepada pak Darwin dan bu Melia.Ia menyimpan sendiri pergumulannya.
Kini, sepuluh tahun telah berlalu.Bening sudah berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang dokter bahkan telah menjadi seorang dokter spesialis anak.Ia bangga dengan pencapaiannya.Namun sekalipun ia belum pernah bertemu dengan Daniel karena gadis itu memilih untuk bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta, untuk melupakan kenangannya dulu di Bali.
Kedua orang tuanya selalu datang ke Jakarta untuk mengunjunginya dan mengajaknya pulang.Tak terkecuali orang tua Daniel yang telah kembali bersama dan hidup bahagia.
Bening akan pulang, saat tiba waktunya untuk pulang ke sana.Ia selalu memberi tahu orang tuanya demikian.
__ADS_1