Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.6


__ADS_3

"Selamat sore... mas Daniel.. selamat datang non Bening...." sapa Bibi Marni setelah membuka pintu.


" Hai bi....apa kbar? sehat?" sapa Bening dengan senyum ramah.


"Daddy mana,bi?" tanya Daniel sambil berjalan mencari ayahnya.Bening mengikuti langkahnya dari belakang.Setelah mencari di beberapa ruangan, mereka mendapati pak Darwin sedang duduk di balkon dengan tatapan mengarah ke laut.


Ia tersenyum melihat kedatangan keduanya.


"Hai dad...." sapa Daniel lalu memeluk ayahnya.


"Hei..." balasnya dengan lembut.


"Hallo om...apa kabar?" sapa Bening dengan menunduk mencium tangan pak Darwin.


"Baik nak.... kamu sehat ?"tanyanyasembari tersenyum.Bening tersenyum mengangguk.


" Ini dari mama,om..."Bening memberikan bingkisan yang tadi dititipkan oleh Bu Livia.


"Wow... this must be my favorite cake.." ujar pak sangat senang sambil mencium aroma kuenya.


"Jika saja saya tidak lagi diet yang manis, saya pasti akan menghabisinya..." sesalnya dengan ekspresi yang menunjukkan kesedihannya.


"Bisakah kamu menggantikan Daddy untuk memakannya boy? " tanyanya kepada putranya.


"It's my pleasure" jawab sang putra dengan senang hati.


Ketiganya lalu duduk dan pak Darwin mengapiti keduanya.Tak lama kemudian Bi Marni membawakan mereka minum.Dua cangkir minuman terpampang di nampan.Aroma kopi hitam yang disuguhkan sungguh melegakan hati.


"Makasih bi...." ucap Bening santun.


" Sama-sama non... silahkan diminum"kata bi Marni kemudian berlalu.


"Papa kamu bilang kalian nggak liburan ke mana mana ya kali ini?"


"Iya, Om... kata papa mau fokus dengan kesehatan om Darwin...jadi nggak enak ditinggal..." Bening begitu polosnya memberi tahu alasan keluarganya tak bisa pergi liburan keluar dari Bali.


Pak Darwin tersenyum bahagia dan terharu mendengar penuturan gadis itu.


"Maaf ya nak..." hanya itu yang bisa pak Darwin ucapkan.


"Nggak apa-apa kok om...kan bukan suatu keharusan.Senang juga jika punya banyak waktu untuk bersama sama lagi. Kami mau melihat kesembuhan om..." ucap Bening membuat pak Darwin haru.


Memang nyatanya ia sendiri yang meminta pak Cahyo untuk tidak meninggalkan dirinya selama pengobatan.Ya, setelah melakukan berbagai pemeriksaan, pak Darwin didiagnosa menderita kanker laring.Beruntung, penyakitnya itu masih di stadium awal sehingga kemungkinan untuk sembuh masih sangat besar.


Awalnya,ia sempat menyerah dan menolak untuk dilakukan pengobatan.Ia berpikir untuk apalagi ia berjuang untuk sembuh.Istrinya tetap memilih untuk bercerai.Tetapi beruntungnya,satu hari bersama istrinya beberapa hari yang lalu telah membuatnya menemukan semangat baru.Bagaimana tidak, meskipun surat pernyataan cerai dari pengadilan telah keluar,Pak Darwin itu bukanlah akhir dari pernikahan mereka.Apa yang sudah mereka bahas hari itu benar benar telah menumbuhkan harapan baru.Mengingat jawaban Bu Melia yang mengatakan tidak akan menikah lagi dan hanya fokus untuk mengurus buah hati mereka adalah alasannya untuk sembuh.

__ADS_1


Sejenak,pak Darwin memperhatikan putranya dan bening secara bergantian.Ia mengulumkan senyum.Daniel merasa aneh dengan tatapan dan senyumnya itu.Sambil mengunyah kuenya ia mencoba memahami ekspresi ayahnya.


"By the way,boleh om tanya sesuatu ke kamu,nak?"ujarnya meminta izin terlebih dahulu kepada bening.


"Are you falling in love..?" tanyanya dengan nada yang lembut.Sontak saja Bening kaget mendengarnya.


Wajah berubah langsung berubah bak kepiting rebus.Daniel juga tak kalah kagetnya mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang ayah.Ia merasa tak enak hati dengan Bening.Sedangkan ayahnya tampak santai saja dan malah tersenyum.


"Kenapa Daddy bertanya seperti itu.What kind of question is that?" protes Daniel pada ayahnya.Ia menoleh ke arah Bening yang tampak diam saja.Meskipun gadis itu tersenyum tetapi Daniel tahu ia merasa malu.


"Maaf ya, kalau kamu merasa tak enak dengan pertanyaan om.Tapi om sudah menganggap kamu seperti putri om sendiri." jelas pak Darwin dengan perlahan.


"Nggak apa-apa kok om.But,do I look like someone in love?" tanya Bening memberanikan diri.


Pak Darwin langsung mengusap tangannya.


"I just hope you fall in love with the right person..."jelasnya lagi.


"Hopefully so.." jawab Bening dengan polosnya yang diamini oleh pak Darwin.Daniel mengernyitkan dahinya memandang keduanya.


"Kenapa boy?" tanya ayahnya yang paham akan ekspresi anaknya.


" No,it just feels weird" jawab Daniel sambil mengunyah kuenya.


"Ayo,diminum dek...entar keburu dingin kopinya.Daddy becanda.Jangan dimasukkin ke hati ya" katanya kepada bening yang belum menyentuh minumannya sama sekali.Gadis itu menurutinya.Ia pun meraih cangkirnya dan mulai meneguknya.


Bening refleks memberikannya minum dan menepuk nepuk punggungnya.Pak Darwin tak henti menyunggingkan senyuman melihat keduanya.


Jauh di lubuk hatinya,ia memang berniat menjodohkan keduanya, tetapi sekarang bukanlah zamannya menjodoh jodohkan anak.Kelak anak anak akan menentukan sendiri masa depannya termasuk jodoh.Orangtua, sejatinya hanya mendukung, merestui dan mendoakan anak anak mereka.


Tetapi bagi pak Darwin yang sudah mengenal Bening sejak gadis itu masih kecil,ia sangat menyukai karakternya.Meskipun terlalu dini untuk menyimpulkan tetapi ia sangat yakin Bening telah membawa pengaruh yang positif kepada putranya.Ditambah lagi kedua orang tua gadis itu yang sudah ia anggap sebagai sahabat sekaligus keluarga terbaiknya.


Baginya yang telah gagal menjaga keutuhan keluarganya, kehangatan dan keharmonisan sebuah keluarga sangatlah penting untuk membentuk karakter seorang anak dan hal itu telah nyata ia saksikan pada keluarga pak Cahyo.


Tetapi itu hanyalah harapannya.Yang memegang kendali adalah putranya sendiri.Ia yang menjalani hidupnya dan berhak atas hidupnya.


"Udah dad... nggak enak sama adek...." ujarnya menyuruh ayahnya untuk berhenti bercanda.


"Well....maaf ya nak... Tapi beneran Daddy setuju jika kalian berdua pacaran..yang terpenting pacarannya sehat" tegasnya kembali.Sang putra hanya melotot kepadanya.Ayahnya itu benar-benar tak menyerah mencandai keduanya.


Tetapi melihat sang ayah yang terkekeh, Daniel merasa lega.Ia tahu ayahnya sedang berjuang melawan sakit.Melihat ayahnya yang sedang tertawa lepas,Ia turut bahagia.Ia berharap ayahnya segera sembuh dan tak merasakan sakit lagi.


Handphone pak Darwin berbunyi.Ia melihat panggilan telepon di layarnya.


"Sebentar ya,om terima telepon dulu" ujarnya lalu berdiri menjauh.

__ADS_1


"Ayoo, dihabisin dek, kopinya.Maaf ya,kalau kamu jadi nggak enak papi nanya nanya kayak tadi.."Daniel memandang Bening yang terlihat bengong.


" Nggak apa-apa kak.. Nothing is wrong..." jawabnya dengan senyum yang khas.


"So,are you really in love..? ."tanya Daniel membuat wajah Bening kembali tersipu.Ia kelabakan dengan pertanyaan tersebut.Ia menghela nafas perlahan kemudian menatap Daniel sembari tersenyum.


"Really??" tanya Daniel penasaran.


"I,m not in love but in love."jawabnya dengan bercanda.


" Di usia kita yang sekarang,itu bukanlah hal yang penting dan prioritas.Lagian aku masih anak sekolah...dua SMA" sambung bening dengan bernyanyi mengurangi ketegangannya.Keduanya pun terkekeh.


"Ayo, dihabisin dong kopinya" kata Daniel yang melihat isi cangkir bening masih tersisa setengahnya.


" Kak...siapa yang nemenin om di sini?kan lagi sakit " tanya Bening kemudian.


"Saya dengan bu Marni..." jawab Daniel yang bisa menangkap kekhawatiran di mata Bening.


"Well, sebentar malam om ke rumah kamu nak..." pak Darwin kembali duduk bersama mereka setelah selesai menerima telepon.


"Oh... beneran om? tadi yang nelpon papa? " Bening sangat antusias mendenganya.Pak Darwin menggannguk mengiyakan.


" Boy, Om Cahyo ngajak kita makan malam di rumahnya, sekaligus ada yang mau Daddy diskusikan dengannya.You're coming right?" tanyanya kepada sang putra yang nampak bengong.


Bening menatap Daniel untuk menunggu jawabnya.Sudah lama sekali mereka tidak makan bersama.Kali ini ia sangat berharap kebersamaan itu kembali ada.Ia berharap Daniel mau ikut ke rumahnya.


" Yes,i will come" jawabnya perlahan.Ia menatap ayahnya.Sebetulnya ia sedikit curiga kepada ayahnya.Mungkinkah Ia punya rencana dengan orang tua Bening.Apa ada kaitannya dengan pertanyaan yang tadi ia tanyakan ke Bening.


Entahlah.. Mungkin juga ada kaitannya dengan penyakitnya.Pikiran Daniel menerawang.


Bening sungguh bersukacita dalam hatinya mendengar jawaban itu.Rindunya untuk mereka bisa makan semeja lagi sebentar lagi akan terpenuhi.


"Kalau begitu aku antar adek pulang dulu dad...yuk dek..." ajaknya lalu berdiri.


"Nggak usah kak... nanti jadinya kakak bolak balik.. capek...biar aku pulangnya naik taxi saja atau gojek... antar aku ke depan saja..." tolak Bening karena memang waktu untuk makan malam tinggal beberapa jam lagi.


" Nggak apa-apa kok...nggak capek dek...dekat juga..." Daniel tetap ngotot mau mengantarnya pulang.


"Ih beneran kak...aku pulang sendiri saja...oke" Bening tak kalah ngotot.


"All right.Begini saja..kamu mandi terlebih dahulu kemudian ke sana.Kamu duluan dengan Bening..nanti Daddy nyusul.." ucap ayahnya menengahi perdebatan mereka.


"No,dad... Daddy jangan nyetir dulu..nanti capek..." bantah sang putra.


"Nggak apa-apa.I'm fine..oke.. sekarang kamu siap siap sana.Nanti kalau capek saya pasti suruh sopir kok yang nyetir.." pak Darwin meyakinkan putranya.Daniel pun mengalah.Ia melangkah menuju kamarnya, tapi baru beberapa langkah ia kembali menoleh.

__ADS_1


Ia takut ayahnya terlalu menginterogasi Bening.Tetapi perasaan itu ditepisnya.Ayahnya sedang sakit.Ia harus berpikir positif.Sepertinya ayahnya memang bahagia saat bercerita dengan Bening yang sudah ia anggap seperti putrinya.Tak ada kecanggungan sama sekali.Demikian pun Bening yang terlihat sangat care dan sayang kepada ayahnya.


__ADS_2