
Bening hanya tersenyum melihat Daniel yang sangat berbahagia.
"Rasanya aku nggak perlu belajar lagi,dek...kamu adalah jawaban dari semua soal soal ujian itu nanti..."ujar Daniel.
Sekali menggobal kedengarannya menggelitik hati.
"Apaan sih?Masa gitu?"Bening tersipu malu.
"Emang bener,dek.Makanya aku nahan kamu jangan pergi.Kalau enggak,jangan berharap lulus nantinya..."terdengar mengada ada tetapi Daniel serius mengucapkannya.
"Hmm..lebay, sekarang sudah bisa gombal ya.Banyak banget perubahannya..."timpal Bening.
"Ya,biar bisa saingi si raja gombal itu..."jawab Daniel
"Siapa sih?Eh,tapi beneran ya, belajarnya yang serius.Terus nggak boleh terlambat ke sekolahnya..."Bening mengingatkannya tentang kebiasaan buruk pemuda itu.
"Iya, saya janji akan nurut semua apa yang kamu bilang..."Bening mengangkat dua buah jarinya seperti orang yang bersumpah dan pertanda sungguh sungguh.
"By the way, makasih ya.Udah mau penuhin permintaan aku.Makasih banget,udah mau tinggal.."Daniel memegangi tangan Bening, bahkan tak sampai di situ ia juga mengecup punggung tangan gadis itu.Bening yang makin merona, berusaha menata perasaannya agar tak terbawa perasaan.
Entah kenapa,rasanya Bali begitu sempit sehingga setiap ruang gerak mereka diintai.Seorang pria berumur yang sedang duduk di pojok sejak tadi menikmati kopi di tempat tersebut.
Karena mengetahui siapa Daniel dan siapa pacarnya maka ia pun merasa perlu untuk mengabadikan momen tersebut untuk memberi tahu pada Widya bahwa pacarnya selingkuh.Pak Andre tersenyum melihat hasil kerjanya.
"Tapi anak gadis ini cantik banget sih.Bening banget matanya.Wajar juga kalau Daniel suka,saya saja suka.Like father like son.Seperti ayah, begitulah anaknya.Sama sama suka selingkuh..."pak Andre menggeleng gelengkan kepalanya.
Alih-alih akan makan malam di rumahnya, Daniel ternyata sengaja menculiknya keluar sebentar agar bisa leluasa untuk menyampaikan niatnya dan mengobati rasa rindunya pada adiknya.
Kini setelah menjemput ibunya,mereka kembali ke rumah Bening.Kedua orang tua gadis itu sudah menunggu untuk makan malam.
"Malam,Mel..."sapa bu Livia menyambut kedatangan sahabatnya.
"Malam Liv...mas Cahyo..."keduanya berpelukan bak sudah berapa lama tak bersua.
"Kamu kelihatan happy banget,berseri bener..."tebak ibunya Bening.
"Iya, gimana nggak happy?Daddy Darwin akan pulang..."bu sangat ekspresif mengungkapkan rasa bahagianya.
"Wow... pantesan malam ini kamu beda banget.Ternyata bang Toyibnya mau pulang.."canda bu Livia.
"Kok,bang Toyib Liv...?Ihh...."Melia bergidik tak terima.
__ADS_1
"Oh, salah ya?Kan kamu pernah bilang dia bang Toyib..."bu Livia membela diri.
"Ya, itu dulu Liv.Sekarang semuanya udah kembali..."ibunya Daniel sudah tak malu lagi mengungkapkan perasaannya.
"Syukurlah kalau gitu.Emang itu yang selalu diharapkan.Happy always ya.."keduanya berpelukan lagi seolah-olah akan berpisah.
"Kita kok, pelukan mulu dari tadi,Mel?Kayak kamu akan ke mana..."ungkap bu Melia.
"Ya,kan besok saya ke Jakarta..."cerita bu Livia sedangkan Daniel, Bening dan pak Cahyo kini duduk setelah menonton percakapan duo ibu tersebut.
"Apa kabar,Dan?"tanya pak Cahyo karena pemuda itu akhir akhir ini hampir tak pernah ke rumah bahkan saat tahu kepulangannya dari NewYork.Bening juga tak bercerita apa apa, sehingga ia tidak merasa perlu untuk menanyakannya.
"Baik,om...Maaf,selama ini sibuk, persiapan mau ujian,jadinya nggak sempat datang ke sini"Daniel seperti mengakui kesalahannya padahal belum ditanyai.
"Oh... gitu, jadi gimana persiapannya,nak..?"tanya pak Cahyo.
"Lumayan om.."jawab Daniel sedangkan Bening hanya mendengarnya sambil tersenyum.
"Good luck ya,buat ujiannya.."kata pak Cahyo dengan menepuk bahu Daniel.
"Makasih om... Saya juga mau minta izin om.."Daniel mulai gugup.
"Minta izin buat apa?Kok wajahnya tegang banget? Rileks Dan,kayak mau ngomong sama siapa aja..."pak Cahyo sekali lagi menepuk-nepuk bahunya.
"Iya,om.. Boleh nggak besok adek nggak jadi ke Jakarta?Nanti setelah ujian,kami perginya sama sama..."Ungkap Daniel setelah memupuk keberaniannya.
"Tapi nanti setelah kamu ujian,pasti adek juga langsung masuk sekolah kan, buat persiapan ujian naik ke kelas tiga?"timpal pak Cahyo setelah sedikit lama berpikir.
"Iya, sih om.Tapi aku tetap berharap adek tetap nggak jadi ke Jakarta,om..."pinta Daniel.
"Gimana,nak?"pak Cahyo meminta pendapat putrinya.
"Aku sudah bilang iya tadi pa..aku mau batalin tiketnya.."jawab Bening.
"Kalau gitu nanti ngomong aja sama mama,ya..."Pak Cahyo memberi jalan keluarnya.
"Ngomong apaan,sih? Serius amat?"bu Melia dan bu Livia sekarang bergabung setelah selesai bercurhat ria.
"E..gini tan,aku mau minta izin agar besok adek nggak jadi ke Jakarta"ujar Daniel.
"Alasannya?Tiket udah beli lho?Kakek sama nenek juga pengen banget ketemu cucunya?"jelas bu Livia.
__ADS_1
"Iya,ma.Tapi aku mau temani kak Daniel ujian dulu."jawab Bening saat dilihatnya Daniel tak bisa lagi menjawab.
"Iya,tan...nanti kami ke sananya sama sama."pinta Daniel
"Oh, gitu... nanti kamu teloo kakek ya,dek.. kamu ngomong sendiri karena mereka tahunya kamu akan pulang..."jawab bu Livia pada akhirnya meskipun ia masih keberatan.
"Makasih tan..."ungkap Daniel bahagia sedangkan ibunya terus tersenyum melihat keberanian putranya itu.
Di hari pertama ujian,Bening menginap di rumah Daniel.Ia bangun pagi pagi membuatkan sarapan untuk kakaknya tersebut.Ia sangat telaten mengurusi semua keperluan pemuda itu untuk ujiannya.Seperti seorang anak yang diurus oleh ibunya.Daniel pun tampak bahagia.Ia menjadi lebih bersemangat.
🌾🌾❤️🌾🌾
Saat tahu bahwa Bening tak jadi berlibur ke Jakarta, Bening menelpon sahabatnya itu untuk ke rumahnya.Sekali lagi ia akan memanfaatkan kesehatannya untuk bisa keluar dari rumah dan yang bisa mengatur semuanya itu adalah Bening.
Ibunya pasti akan memberi izin, apalagi obat obatannya juga sudah habis.Setelah mendapat jawaban bahwa gadis itu setuju untuk datang ke rumahnya, Widya pun segera keluar dari kamarnya untuk menunggu Bening di ruang keluarga.
Telinganya mendengar seseorang menanyai ibunya pada bi Santi.Karena suara itu sudah tak asing lagi, Widya langsung menghampiri mereka.Mumpung ibunya sedang mandi ia pun memanfaatkan kesempatan untuk bicara berdua dengan kekasih dari ibunya.
"Hey, Wid.Apa kabar?."sapa pak Andre tapi tak dijawab oleh gadis tersebut.Entah mengapa ia tak bisa menyembunyikan rasa bencinya terhadap pak Andre.
"Mau ketemu mami,om..?"tanya Widya tanpa membalas pertanyaan terlebih dahulu.
"Iya..tapi mami kamu lagi mandi,kan?"ujar pak Andre.
"Kok om tahu?Nggak sopan banget sih om.."Widya merasa pikirannya langsung berubah negatif.
Pak Andre tertawa sinis.
"Dasar anak kecil..."umpat pak Andre.
"Apa om bilang?"tantang Widya kesal sedangkan pak Andre tak menghiraukannya.Ia memilih untuk duduk dan mengambil handphone-nya.
"Ini oleh oleh buat kamu dari Jakarta.."pak Andre memberikan sebuah paperbag.
"Om kapan dari Jakarta?"tanya Widya tak mengulurkan tangannya untuk menerima bingkisan oleh oleh tersebut.
"Tadi pagi.."jawab pak Andre terus mencari sesuatu di handphonenya.
"Beneran tadi pagi?Atau jangan jangan om selama ini nggak pernah pulang,kan?Om bohongin mami kan?"pak Andre terbelalak mendengarnya tapi ia berpura pura tenang, tak mau terpengaruh oleh sindiran dari calon anak sambungnya.
"Bisa nggak ngomongnya yang sopan dikit?Kamu itu anak gadis loh, sudah besar,masa nggak kenal tata krama?Selain saya ini pacar mami kamu, saya juga jauh lebih tua dari kamu dan saya adalah calon ayah sambung kamu.."kata pak Andre menahan amarah.
__ADS_1
"Puih....!Saya nggak sudi punya ayah sambung seperti kamu.Ayah saya cuma satu.Nggak akan tergantikan.Kamu harus tahu diri.."kata Widya dengan suara tinggi.Pak Andre menggertak giginya menahan amarah.Dikepalkannya tangannya.
"Widya...."teriak bu Vitha dari tangga dengan wajah garang.