Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab 32


__ADS_3

Bening berbalik hendak kembali ke ruang makan.Alangkah kagetnya ia saat Daniel kini sudah berdiri tepat di hadapannya.Entah dari kapan laki laki itu berada di situ.Bening berpikir,ia tak melakukan kesalahan.Ia sudah menghapus unggahannya dan tak memposting apa apa lagi.Tapi kenapa Daniel membuntutinya?


"Jadi benar kalian pacaran?"serang Daniel dengan wajah garang.


Diraupnya oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkan diri agar tidak terpancing menjawab pertanyaan kakaknya itu.Ia melangkah kembali.


"Sejak kapan?"tanyanya lagi.


Gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.


"Nanti kakak lihat di Facebook atau Instagram aku, kalau nggak coba nanya papa sama mama..."jawab Bening lalu meninggalkannya.Jawaban darinya seperti menampar pemuda itu.Ia sudah menuduh Bening si tukang posting.Ia memahami maksud dari ucapan gadis itu.


Masih kesal Daniel mengikutinya dari belakang.


"Maaf...lama..."ujar Bening lalu duduk lagi di tempatnya semula.


Tak lama Daniel pun duduk kembali di tempatnya tadi.Semua gerak gerik mereka tak luput dari pantauan pak Darwin.


"Rencananya mau berangkat kapan mas?"tanya Bu Livia untuk menutupi kecanggungan putrinya.


"Oh...nanti setelah tahun baru.Tiketnya sudah ada "jawab pak Darwin.


"Kamu ikut kan,mel?"Bu Melia bertanya kepada sahabatnya yang sejak tadi diam saja.


Yang ditanya kini memandang sejenak pada mantan suaminya itu.


"Nanti aku nyusul,ya..."ujarnya sambil memegang sebentar tangan pria itu membuat suasana menjadi mellow apalagi saat sentuhan itu berbalas,tangannya juga mendapat tepukan lembut dari pak Darwin.


"Aku maunya kamu yang antar Yo..."pinta pak Darwin pada sahabatnya.Ini bukan pertama kalinya ia meminta hal yang sama.Bahkan pak Cahyo pun sudah mendiskusikannya dengan istrinya.


Walau Bu Livia tak keberetan suaminya pergi hanya saja pak dokter harus mempertimbangkan pasiennya yang lain di rumah sakit.


Jika saja hubungannya dengan bu Melia belum berubah status mungkin ibu dari anaknya tersebeut akan ikut serta, hanya saja ia masih belum siap untuk menghadapi keluarga pak Darwin.


"Besok saya akan kabari kamu setelah saya atur jadwal di rumah sakit"jawab pak Cahyo melegakan hati mereka.

__ADS_1


Pak Darwin merasa lebih kuat saat ada yang mendampinginya.Jika Bu Melia dan putranya tidak bisa,tak apa jika diganti oleh sahabatnya apalagi sahabatnya sendiri adalah seorang dokter handal.


"Memang seharusnya kamu yang antar Yo,siapa suruh kamu rekomendasiin saya berobat di sana padahal saya maunya di sini,ditherapi sama kamu..."kata pak Darwin.


"Iya ...iya., saya yang antar..."pak Cahyo memberi kejelasan.


Mereka pun tertawa kecil mendengar kedua sahabat itu saling beradu pendapat.


"Oh iya, mungkin kalian berdua mau ikut biar daddy siapkan tiketnya"tawar pak Darwin kepada putranya dan putri dari sahabatnya.


"Gimana nak? mau nggak?"tanya Bu Melia pada bening.


Siapapun jika diajak untuk berlibur pasti senang.Tak terkecuali bening.Jangankan ke luar negeri,di dalam negeri pun tetap saja hati akan berbunga bunga.Tetapi semuanya butuh banyak pertimbangan.Libur tengah semester tinggal semingguan lagi.


"Aku sih mau aja mom...tapi adek nggak mungkin.. pacarnya lagi sakit.mana tega dia ninggalin.."bening mendadak kesal dengan jawaban Daniel.Ia selalu berkata sesuka hatinya.


"Apa maunya sih? Dari tadi marah mulu?sabar bening... jangan kepancing.."sahut gadis itu dalam hati.


Untung saja orang tua mereka sangat peka.Mereka pernah muda, pernah ada di posisi keduanya, jadi mereka memilih diam saja tak memberi tanggapan dan tak mau ikut campur.


"Kan kita bisa minta izin,dek.. Terus kita juga terhalang akhir tahun, karena mau dirayain bersama sama makanya keberangkatan daddy ditunda..."protes Daniel.


"Ya udah, kalau kakak mau berangkat, berangkat aja.Belum tentu pihak sekolah akan beri izin.Kakak itu udah kelas tiga,bentar lagi ujian akhir, beberapa bulan ke depan pasti padat jadwalnya.."omel Bening.


Daniel tak lagi menjawab.Biarpun gadis itu kesal tetapi ia senang sudah diingatkan soal ujian akhirnya.Itu tandanya ia tetap perhatian kepada dirinya.


"Lagian, kenapa nggak ngajak pacar kamu saja? Nanti kalau dia tahu kita perginya sama sama,pasti dia akan ngamuk lagi, kalian yang punya masalah malah saya yang jadi sasaran... aneh..."sahut bening dalam hatinya.


Daniel kini tersenyum kepadanya.Ia tahu gadis itu ngedumel dalam hatinya dan pasti mengomelinya.


"Nanti kita akan ke sana sama sama,tapi setelah kamu tamat boy.. pokoknya kita akan rencanain lagi semuanya"Bu Melia memberi solusi.


"Memangnya, daddy berobat selama itu?"sahut Daniel.


"Tergantung kok,nak.Mudah mudahan semuanya berjalan lancar.Kita berdoa saja yang terbaik agar semua prosesnya dipermudah.."pak Cahyo mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Amin..."masing-masing dari mereka mengamini ucapan tersebut.


Setelah makan malam selesai mereka bercengkrama di ruang keluarga.Banyak cerita ditorehkan.Gelak tawa yang terdengar riuh mewarnai kebersamaan itu.


Beberapa kali Daniel berusaha untuk mengajak Bening berbicara tetapi gadis itu selalu menghindar.Ia terus duduk di samping ibunya, mendengarkan cerita mereka yang kadang tak ia pahami.


Daripada berbicara dengan Daniel, rasanya lebih baik pura pura fokus mendengar obrolan para orang tua mereka.Handphonenya berbunyi.Ada pesan dan telepon yang masuk.Tetapi ketika dilihatnya semua itu dari kakaknya yang kini duduk berhadapan dengan dirinya sambil bibirnya terus menyunggingkan senyum, ia pun menonaktifkan telepon selulernya.


Mengetahui hal tersebut, Daniel semakin resah.


Bu Livia melirik jam di tangannya.Sudah waktunya mereka pamit pulang.


"Kayaknya sudah ada yang ngantuk nih"ujar Bu Livia karena putrinya terus bergelayut di lengannya.


"Iya,kami pamit ya.. sudah. waktunya juga kamu harus istirahat Dar..."tutur pak Cahyo.


Bening berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.Ia tak membawa serta bunga pemberian dari kakaknya.Dibiarkannya tertinggal di atas meja.Mengetahui adiknya masih marah dengan tak diambilnya bunga tersebut, Daniel segera bertindak.


"Aku pamit tan,om...",Bening mencium tangan orang tua Daniel lalu masuk ke dalam mobil.


"Dek... kamu lupa ini.bunga kamu,."ujar Daniel.Diletakkannya sebucket bunga tersebut di pangkuan gadis itu.Bening ingin memberinya kembali.


"Please dibawa.. kalau sebentar aku telpon, tolong diangkat...please..."bisik Daniel dengan wajah memelas.


Daniel diam saja tanpa ekspresi,tak menolak juga tak mengiyakannya.


Setelah tiba di rumah, Bening langsung ke kamarnya untuk beristirahat.Sebucket bunga pemberian Daniel diletakkannya di atas meja.Dipandangnya kembali bunga tersebut.Bila tadi sore ia menciumnya berkali kali dan merasa enggan untuk melepaskannya karena itu adalah hadiah yang istimewa baginya.Mawar putih, lambang permintaan maaf,artinta tak senyata itu sebab kini ia masih marah dan kecewa dengan pemuda pemberi mawar putih tersebut.


Cepat cepat,ia masuk ke kamar mandi, menggosok gigi dan membasuh muka untuk menghilangkan peluh yang membelenggu jiiwa.Hari yang melelahkan.Penuh dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan emosi.


Ia membayangkan semua yang sudah ia lakukan untuk Widya, lengkap dengan segala kebohongan yang telah mereka lakoni.Ada perasaan bersalah menyelinap di hati.Ia berharap semuanya tidak lagi terulang di esok hari.Selain itu bayang bayang wajah Daniel dan semua kata katanya, bagaimana ia dengan tega memarahinya, menuduhnya tanpa alasan, mengancamnya, sungguh membuat hatinya tersayat.Ia merasa tak dihargai semua pengorbanannya yang sudah susah payah ia lakukan untuk keduanya.


Ia juga tak menyangka Widya bisa senegative itu berpikir tentang dirinya.Bening jadi berpikir kembali, mungkinkah Widya adalah sahabatnya yang selalu ia sayangi?yang ia anggap seperti saudari sendiri? Mungkinkah jika seseorang memiliki pacar,ia akan berubah? Entahlah.. Bening merasa benar-benar lelah memikirkan semuanya.


Ketika semua ritual sebelum tidur dilakukannya,ia pun merebahkan diri di atas tempat tidurnya.Sekuat tenaga ia berusaha menghilangkan semua pikiran negatifnya tentang hubungan Widya dan Daniel.Rasa kantuk menyerang,tak mampu lagi ia tahan.

__ADS_1


Tak diingatnya lagi semua pesan Daniel untuknya.Kini ia sudah terlelap di dalam mimpinya.


__ADS_2