Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.62


__ADS_3

Mewakili ayahnya, Bastian memberanikan diri mengajak keluarga Bening untuk dinner di cafe and resto mereka sebagai ungkapan terima kasih atas semua budi baik dari pak Cahyo atas kesembuhan Larasati dari kanker payudara stadium awal yang pernah dideritanya.


Hingga 8 tahun berlalu penyakit tersebut tidak pernah aktif lagi membuat Larasati tak pernah berhenti mengucapkan syukur demikian pun keluarganya.


Karena pertemanan antara Bastian dan Bening hubungan itu pun kembali terkoneksi.Bening sudah banyak membantu Bastian.Pesona gadis itu telah memberi semangat yang besar bagi Bastian untuk rajin ke sekolah dan rajin belajar.Mengenal Bening membuatnya bisa seimbang antara tugas utamanya sebagai pelajar dengan hobinya menyanyi.


"Sorry,Bas...kata mas Cahyo belum bisa.Jadwalnya lagi padat banget.Maklum,dia ninggalin pekerjaannya sebulan.Lain kali aja, nggak apa-apa ya?Atau biar nanti tante yang bicara sama mama kamu.."ujar bu Livia saat Bastian menyampaikan niatnya dan keluarganya di toko siang itu.


"Iya, nggak apa-apa tan.. nanti saya sampein ke papa.Mudah mudahan lain waktu bisa..."kata Bastian.Walaupun Ia sangat berharap mereka akan memenuhi undangan keluarganya tapi mendengar alasan yang disampaikan ayah Bening membuatnya semakin kagum dengan tanggung jawab pak Cahyo terhadap profesinya.


"Iya, nanti kami usahain ya.Mohon sampein alasannya ke papa mama kamu... sorry..."bu Livia merasa tak enak.


"Oke tan... Kalau gitu aku pamit ya tan. "Bastian sedikit membungkukkan badannya.Bu Livia tersenyum kagum pada keberaniannya.


"Bas,tunggu... tolong kasih ini ke mama kamu ya.."bu Livia memberikan bingkisan berisi berbagai jenis roti dan kue di dalamnya.


Widya dalam perjalanan pulang bersama sopirnya ketika melihat sosok yang sangat tak disukainya berada di depan sebuah restoran.


"Pak. .pak... berhenti sebentar..."kata Widya kepada pak Daud.


"Ada apa, non?"tanya pak Daud kaget.


"Aku turun di sini ya.. bapak pulang aja duluan... nanti aku naik taxi.."Widya buru buru turun dari mobil.


"Saya nungguin aja,non"pak Daud menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Tapi agak menjauh dikit ya.Soalnya,dia kayak hafal mobil ini deh... nanti dia curiga lagi..."Ujar Widya khawatir.


"Memangnya mau ketemu siapa siapa sih,non?"


"Nanti aku cerita.. bapak nunggu di mobil aja ya sampai saya ke sini lagi dan jangan bilang ke mami apa yang saya lakuin sekarang..."kata Widya lalu bergegas mencari orang yang tadi dilihatnya meninggalkan pak Daud dengan rasa penasarannya.


Ia menutup mulutnya kaget melihat pemandangan di depannya.Lagi lagi pak Andre sedang bersama bu Melia.Entah mereka janjian atau tidak tapi mereka tengah duduk berhadapan sambil berbicara.Walaupun Widya tak mendengar apa yang mereka bicarakan tetapi gadis itu tak mau melewatkan moment itu apalagi saat pria tua itu memegang tangan bu Melia.Ia sesegera mungkin mengabadikannya melalui kamera handphonenya.


Tampak bu Melia berdiri dengan wajah marah setelah berdebat dengan pak Andre.Widya ingin sekali tahu apa yang sedang mereka perdebatkan tetapi ia tidak bisa lagi berpindah dari tempat persembunyiannya yang sudah pas.Ia memalingkan wajahnya saat bu Melia keluar dari restoran.


Setibanya di rumah Widya mendapati sang bunda yang tengah berbicara di telepon dengan seseorang.Gadis itu ingin mengacuhkannya karena menurutnya ia tak perlu tahu ibunya menelepon siapa tetapi telinganya kembali panas saat bu Vitha mengungkapkan kerinduan serta kata cintanya untuk lawan bicaranya dengan ekspresi yang membuat putrinya sendiri merasa geli melihatnya.


Melihat kedatangannya bu Vitha langsung merubah cara bicaranya kemudian mematikan teleponnya.


"Selamat siang Wid... sudah pulang?Kok lama?"tanyanya kaget.


"Om Andre udah nyempe Jakarta mi?"Widya ingin mengobati rasa penasarannya.


"Udah.. udah sampai kemarin.Kamu dapet salam dari dia..."bu Vitha menjawab pertanyaan sang putri tanpa ada rasa marah sedikitpun karena mungkin saja sebaiknya mulai membuka sebuah komunikasi yang baik untuk hubungannya agar bisa memperoleh restu.


"Jadi mami tetap yakin akan menikah dengan om Andre..?"Widya mulai kesal karena ia tahu pak Andre membohonginya.Pria tua itu masih berada di Bali bahkan gadis itu mengantongi buktinya.


Sejenak bu Vitha terdiam lalu mengangguk.


"Mami yakin om Andre adalah orang yang tepat buat mami? Menikah itu sulit loh mi apalagi mami untuk kedua kalinya.."sindir Widya mengulangi kata-kata ibunya saat di rumah sakit.

__ADS_1


"Mami yakin,Wid..."jawab bu Vitha berusaha tetap tenang.


"Really?seberapa yakin mi?"tanya Widya lagi.


"Seyakin-yakinnya..."bu menjawab penuh keyakinan.


"Kalau rencana pernikahannya masih lama,ada baiknya mami pertimbangin semuanya matang matang.Widya harap mami tetap mencari tahu semua hal tentang om Andre apapun jangan sampai nanti mami menyesal dengan pilihannya mami sendiri.Mami pasti tak mau kalau sampai ada penyesalan lagi,kan mi?Widya pengen banget mami selalu sehat dan bahagia.Tapi kalau mami nggak ada waktu biar aku saja yang selidikin.Aku ke kamar dulu,mi..."Widya meninggalkan ibunya yang tengah melotot tak percaya dengan kata katanya.


Ia merasa Widya malah ngelunjak setelah ia berkomitmen menjalin komunikasi yang berbeda dengannya.Memberi ia ruang untuk mengemukakan pendapatnya tapi gadis itu malah berkata tanpa memikirkan perasaan ibunya dan tak menyaring apakah kata katanya pantas atau tidak.


Ia meraba dadanya.Walau sebenarnya ia tak mau membebani pikirannya tetapi kata kata Widya ada benarnya juga.Tapi apa yang harus diselidiki dan bagaimana harus menyelidikinya.Ia tahu kekasihnya tersebut sudah bercerai dengan istrinya dan tidak memiliki seorang anak.


Ia juga tahu bahwa pak Andre adalah seorang manajer di perusahaan properti tempatnya bekerja dan ia datang ke Bali selain untuk menemuinya juga karena urusan pekerjaan.


Bu Vitha menggeleng gelengkan kepalanya.Tak mau berpikir lagi.Ia tak mau merusak segala rencana yang sudah dibuat olehnya bersama sang kekasih dan segala impiannya.


🌾🌾❤️🌾🌾


Menjelang ujian akhir Daniel pergi menemui Bening di rumahnya.Semakin hari gadis itu menghindarinya.Tak ada lagi tradisi membawanya sarapan pagi yang telah menjadi kebiasaannya bertahun tahun lamanya.Ia sangat merasa kehilangan dan merindukan semua kebiasaan menyenangkan bersama adiknya.


Gadis itu juga lebih sering bepergian dengan Bastian daripada dengan dirinya.Diajak ke rumah saja selalu ditolaknya apalagi pergi berduaan menikmati hobi mereka ngopi bareng sambil menikmati indahnya sunset.


Seringkali ia diam diam mengikuti Bening jika pergi berduaan saja dengan Bastian.Meskipun Bening selalu berkata mereka tidak berpacaran tetapi Ia merasa perlu untuk mengawasi setiap aktivitasnya.Ia takut Bastian khilaf dan melakukan sesuatu yang tak pantas dengan adanya kesempatan.


Bahkan Daniel pernah menyewa salah satu sahabat pak Richard untuk mengikuti Bening saat mereka memenuhi undangan keluarga Bastian untuk dinner di cafe and resto milik mereka.Pria sewaannya itu dengan menggunakan semua keahliannya berhasil merekam apa saja yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Daniel merasa geram saat ayahnya Bastian menawarkan kepada pak Cahyo untuk menjodohkan anak mereka.Hal itu membuat pria itu terbakar amarah.Walau pak Cahyo begitu bijak menjawabnya tetapi tetap saja ia tak puas.


Rasa rindunya kian memuncak kala mendengar dari bu Melia bahwa gadis itu akan berlibur ke Jakarta selama beberapa hari saat ujian akhir berlangsung.Ia panik dan bergegas menemui adiknya tersebut.Dan di sinilah ia sekarang.Di depan rumah Bening.


__ADS_2