
Daniel berdiri di depan kamar ibunya.Ia ingin memberi tahu tentang keberangkatannya di esok hari.Setelah mengetuk pintu, ibunya pun keluar.
"Malam my...."sapanya.
"Boy? Belum tidur?"tanya sang bunda.
"Belum my... mungkin sebentar lagi setelah ngobrol sama mommy..."jawabnya sembari tersenyum.
"Oh,gitu?Mau ngobrolin apa sih, mommy jadi penasaran.."ujar sang bunda menggoda putranya.
"Nggak penting kok my..cuma harus diobrolin"Daniel menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Oh...ya udah, kalau gitu ngobrol di kamar mommy aja ya... masuk yuk.."ajak bu Melia kemudian Daniel mengikuti langkahnya.
"Mau ngomong apa sih,boy?penasaran mommy..."Daniel yang sedang melihat foto foto mereka di kamar tidur tersebut menoleh sejenak.
"Nggak penting kok my...by the way foto foto itu kapan dipajang lagi my,di situ?Soalnya terakhir kali aku masuk ke kamar ini kayaknya cuma ada foto aku sama mommy deh, foto daddy nggak ada?"tak terpikirkan oleh pemuda itu akan menanyakan hal tersebut sebagai pembuka obrolan mereka.
"Oh,itu... Waktu ulang tahunnya daddy.Kan waktu itu aku nggak ngasih kado apa apa.Kata daddy kamu, dengan melihat mommy kembali memajang foto-foto itu sangat berarti buat dia jauh dari hanya sekedar sebuah kado..."jelas bu Melia apa adanya karena memang seperti itulah yang terjadi.
"Oh...gitu?Daddy cinta banget ya,sama mommy?"tanya Daniel kemudian
"Yap..sepertinya"bu Melia menjawab demikian karena tak mau terlalu percaya diri sebelum status keduanya sudah jelas.
"Kalau mommy?cinta juga nggak sama daddy?"bu Melia mengernyitkan dahinya.Ia merasa aneh ditanyai seperti itu apalagi itu untuk pertama kalinya putranya bertanya demikian.
"Hmmmm... gimana ngejelasinnya ya? Memangnya wajib ya, mommy jawab?Kan kamu sudah tahu gimana mommy sama daddy.Lagian kenapa sih boy,kok aneh gitu nanyanya?"Daniel terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata sang bunda.
"Aneh ya,my nanyanya?"sahut Daniel yang mengaitkan jawaban ibunya dengan cerita yang ia dengar dari pak Andre tentang hubungan mereka.
Daniel mulai membuat kesimpulan dari pernikahan mereka hanya ayahnya yang bisa dinilai betapa ia sangat mencintai istrinya.Buktinya sampai di ujung pernikahan mereka pun dengan dikabulkannya gugatan cerai dari ibunya ayahnya tetap saja tidak henti berjuang, tidak pernah putus asa di tengah sakitnya.Ia terus berusaha untuk mempertahankannya meskipun itu adalah jalan terakhir dan kemungkinan untuk sukses sangatlah minim.
"Nggak aneh juga,boy..... cuma bingung ngejelasinnya.Mungkin yang perlu kamu tahu adalah seseorang yang pernah disakiti terlalu dalam bisa menjadi orang yang traumatic dalam hal apapun yang membuatnya trauma.Dalam hubungan pernikahan, persahabatan ataupun yang lainnya..."bu Melia menjadi bingung sendiri untuk menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
Dulu ia sangat mencintai suaminya tapi setelah kejadian kelam itu semua berubah.Ia langsung memilih untuk mengakhiri pernikahannya.Tetapi setelah permohonan cerainya dikabulkan sesuatu yang aneh malah terjadi.Rasa bencinya berubah menjadi kasih.
Ia memaafkan pak Darwin dan mau menjalin silaturahmi yang baik dengannya.Beruntungnya pria itu,di luar dugaannya mengambil langkah yang lain yaitu mengajukan banding.Karena itu ia memasrahkan semua keputusannya, sekehendak Tuhan saja dengan mengharapkan yang terbaik.
Daniel mengangguk anggukkan kepalanya, seolah paham apa yang dimaksud ibunya tentunya dengan tafsirannya sendiri.Dirinya harus bisa menerima kenyataan.Ternyata cinta bisa sesewaktu berubah meskipun telah terikat pernikahan.
"Makasih ya my...."ujar Daniel.
"Makasih untuk?"ibunya bingung.
"For everything..."Daniel tersenyum.Keduanya berpelukan haru.
"Apaan sih, boy? Mommy jadi mewek nih...Eh, jadi mau cerita apa tadi?"bu Melia jadi teringat tadi di awal putranya hendak mengatakan sesuatu.
"My... jangan kaget ya..."kata Daniel membuat ibunya semakin penasaran.
"Apaan sih?Kamu putus sama Widya?"tebak sang bunda.
"Ih... mommy kok ngomongnya gitu ?serem amat tebakannya"bantah Daniel.
"Belum apanya my? Mommy doain aku putus ya?"tak disangka bu Melia malah menganggukkan kepalanya.
"Astaga my? Kenapa? Bukannya mommy kemarin setuju setuju aja? Kenapa sekarang malah berharap putus?"tanya Daniel.
"Karena mommy merasa dialah penyebab putri mommy kecelakaan dan dioperasi..."tutur bu Melia.
"My... Widya nggak salah kok.Justru aku yang menjadi penyebabnya.Mungkin saja kalau aku nggak tahan si adek untuk ke Jakarta mungkin kecelakaan itu nggak terjadi atau mungkin kalau aku nggak memintanya untuk pergi ke rumah Widya tragedi itu tidak terjadi.Jadi aku yang salah, bukan Widya.."jelas Daniel dengan penuh penyesalan.
Meski ia juga mengakui kalau Widya ikut andil dalam kecelakaan itu tapi ia tak ingin ibunya membenci gadis itu.Ia ingin membuat situasinya tak runyam sebelum berangkat ke New York.
"Kalau gitu, jika kamu merasa bersalah, tunjukkin ke Ben, kalau kamu benar benar merasa bersalah dan harus ada yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahan kamu itu..."kata bu Melia dengan begitu bersemangat.
"Misalnya? Mommy bisa memberi ide?"Daniel meminta pendapat ibunya.
__ADS_1
"Ya, seperti yang mommy bilang tadi.Putusin Widya dan pacarin si adek.Dia jauh lebih baik dari pacar kamu itu.Mommy yakin kamu akan bahagia kalau sama Ben..."kata sang bunda begitu jujurnya.
"Daddy juga jauh lebih baik dari om Andre my... tapi kenapa mommy malah lebih memilih om Andre?"tanya Daniel dalam hatinya.
"Kok malah melamun?"ibunya mengagetkannya.
"Nggak segampang itu kali my.."jawab Daniel.
"Ya udah..tapi kamu harus mempertimbangkannya mulai dari sekarang..."tak menjawab putranya hanya tersenyum.
"My... besok mommy nggak usah ngantar ya?"Daniel kembali membuat ibunya penasaran.
"Memangnya mau ke mana?"tanya bu Melia.
"Ke bandara.."jawab Daniel.
"Ngapain? Siapa yang mau pergi?"tanya sang bunda.
"Aku my...aku mau ke tempatnya daddy"Daniel begitu enteng bercerita.
"Apa? Kamu itu, suka banget bercanda"bantah bu Melia.
"Beneran my... aku serius.Udah ada kok tiketnya.Kalau mommy nggak percaya,aku ambilin ya, atau mommy telpon om Richard deh..."tantang putranya membuat bu Melia tak bisa berkata apa-apa antara percaya dan tidak.
"Kok bisa,boy? gimana ceritanya?Kok baru bilang sekarang? Mommy ada salah ya, sampai kamu nggak betah?"bu Melia mulai berkaca-kaca.
"Mommy jangan berpikir yang aneh-aneh ya? please.. Aku emang ada niat untuk nyusul daddy sejak waktu itu.Waktu om Cahyo pulang.Kalau om Cahyo aja bela belain ke sana nemenin Daddy masa aku anaknya enggak?Aku mau ngerawat daddy my,biar mommy nggak khawatir juga?"Daniel memegang kedua tangan ibunya.
"Tapi kenapa mendadak gini?"ibunya menitikkan air mata.
"Nggak mendadak kok my,om Richard yang ngurus semuanya.Toh ujian juga juga sudah selesai.Atau gimana kalau kita ke sananya sama sama aja my?"bu Melia tak menjawab.
Bukan karena ia tidak mau, tapi ia harus kooperatif dengan semua urusan mereka melalui kuasa hukum pak Darwin karena suaminya tersebut sedang sakit jadi tak bisa hadir.
__ADS_1
"Aku tahu my... mommy nggak mungkin mau barengan sama aku ke sana.Semoga mommy bahagia dengan apapun pilihan mommy"Daniel hanya bisa berbicara dengan batinnya sendiri dan berharap ibunya tersebut selalu bahagia selama ia tinggal.