
Dengan berat hati Widya menuruti saran Daniel meski rasa ingin tahunya terus bergelora.Mungkinkah itu adalah laki laki yang sering berbicara di telepon dengan ibunya?Apakah dia adalah orang yang baik? Jika dia adalah kekasihnya mudah mudahan ia tulus dan tak mempermainkan perasaan ibunya.Itulah harapan gadis itu di tengah kegundahan hatinya.
Ada banyak sekali keraguan melandanya dan ia bertekad harus segera mencari tahu dan menyelidikinya.
"Udah ya... nggak usah dipikirin.Sebaiknya jangan berpikir negatif dulu untuk sesuatu yang belum kita tahu pasti kebenarannya..."Daniel menenangkan Widya.Keduanya masuk ke dalam lift menuju lantai teratas di mana ada ruangan ayahnya.
"Tapi gimana kalau om itu adalah pacarnya mami?"tanya Widya.
"Ya,mau gimana lagi?Tapi kalau memang benar om itu adalah orang yang spesial untuk mami kamu pasti juga nanti bakal dikenalin ke kamu...."Daniel juga bingung harus menjawab apa tapi ia pikir orang tua Widya telah bercerai jadi rasanya sah sah saja jika mereka masing-masing ingin melanjutkan hidup dengan orang yang baru.
"Aku tahu gimana rasanya Wid...Aku pernah menghadapinya.Rasa takut, sedih, kecewa,marah,stress bercampur menjadi satu.Bener bener nyiksa banget.Pulang ke rumah adalah perjuangan buat aku.Bayangin aja aku yang sebelumnya hidup dengan bergelimang kasih sayang dan cinta dari mommy dan daddy harus menerima kenyataan pahit saat mommy ingin bercerai.Pertama kali aku mendengarnya,aku pikir mereka hanya bercanda atau mengerjai satu sama lain.Hari berganti hari semakin menjelaskan bahwa keduanya memang sedang menghadapi masalah dan mommy serius ingin bercerai.Mommy selalu histeris jika berbicara dengan daddy"Widya mendengar dengan hikmat curahan hati kekasihnya.
"Kakak tahu apa permasalahan mereka?Nggak mungkin karena persoalan ekonomi kan?Daddy kamu bergelimang harta.KDRT juga nggak mungkin sih.Daddy baik banget,humble banget orangnya.Apa karena ada orang ketiga? Pasti karena perselingkuhan.Tapi, siapa yang selingkuh? Daddy atau mommy?"Widya bertanya dengan begitu polosnya tanpa memikirkan perasaan pacarnya dengan pertanyaan seperti itu.Tetapi beruntung saja Daniel tidak menunjukkan ketersinggungannya.Ia malah tersenyum mendengarnya.
Mungkin kalau pertanyaan itu Widya tanyakan tiga tahun lalu saat pertama kalinya ia tahu orang tuanya sedang menghadapi badai dalam pernikahan mereka ia pasti tersinggung, tak terima dengan tuduhan seperti itu.Karena meskipun ia juga memikirkan hal yang sama tetapi ia selalu menyangkali diri bahwa kecurigaannya tidaklah benar..
"Aku pernah bertanya pada mereka apa masalahnya, tetapi keduanya memilih bungkam.Tak menjelaskan apa apa.Daddy bahkan minta maaf dan bilang kalau ia tidak bisa menceritakan masalahnya apa.Ia malah meminta saya untuk tidak mencari tahu apa yang sedang terjadi.Daddy janji akan membuat semuanya pulih kembali walau tidak mudah dan mungkin akan membutuhkan waktu yang lama.Tetapi dengan umur aku yang masih lima belas tahun waktu itu tentu bukan persoalan yang mudah untuk menerima begitu saja.Aku mulai mencari tahu dengan caraku.Aku diam diam ngecek handphonenya mommy juga papi tapi tidak menemukan hal yang mencurigakan di sana.Aku hanya melihat bagaimana daddy berusaha meminta maaf dengan cara yang berbeda beda.Tetapi tetap saja mommy ngotot ingin bercerai.Daddy akhirnya memilih untuk stay di villa.Sering juga ia pulang ke rumah saat larut malam dan mommy sudah tidur.Karena mommy akan berontak jika berbicara dengannya.Begitu besarnya perjuangannya sehingga aku berpikir pasti daddy yang bersalah.Daddy yang berkhianat.."Daniel menceritakan semua masalah yang pernah ia alami.
Meskipun Widya juga sekilas tahu bahwa ia sedang stress mengingat barapa kali gadis itu mendapatinya merokok di belakang sekolah bahkan pernah ia temui pacarnya tersebut mabuk hingga dilarikan ke rumah sakit.Tetapi sekarang ia sudah mendengar Daniel menceritakan semua kisah kelamnya.Ia bangga pemuda itu tidak malu untuk membagi kisahnya itu.
__ADS_1
"Jadi benar daddy yang selingkuh?"lagi lagi Widya langsung pada asumsinya
"Aku coba menyelidikinya.Aku sering mengikuti daddy secara diam-diam, memantau aktivitasnya tetapi tak menemukan apa apa.Bahkan sampai bekerja sama dengan om Richard asistennya daddy sekaligus orang kepercayaannya.Tetapi hasilnya nihil.Aku capek, stress,frustasi jadinya mulai kenal rokok, minum.Tapi beruntungnya, selain keluargaku aku juga punya keluarga yang lain yang sangat sayang dan care.Mereka sangat mengasihi dan menganggapku seperti anak mereka sendiri.Kamu pasti tahu siapa yang aku maksud.."Daniel membiarkan Widya mengisinya sendiri.Ia pasti tahu keluarga siapa yang dimaksud pacarnya.
"Bening?"tebaknya.
Daniel mengangguk dan tersenyum.
"Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.Demikian pun Ben.Wajar kalau seorang kakak menyayangi adiknya apalagi kami sudah kenal dari aku SD.Saat aku ada masalah bahkan orang tua aku pun mereka selalu ada buat kami.Jadi aku mohon kamu jangan cemburu dengan si adek.Dia sahabat kamu juga,kan?Dan mulai sekarang aku siap bantu kamu menghadapi masalah kamu..."pinta Daniel bersungguh sungguh agar pacarnya memahaminya.
"Tapi beneran cuma anggap dia adik kan?nggak lebih"tanya Widya.Ia hanya fokus pada pernyataan Daniel tentang Bening tanpa berterima kasih pada niat baik pemuda tersebut untuknya.
Daniel menenangkan dirinya sendiri.Ia tak menyangka Widya akan seberani itu.Entah bagaimana jadinya jika ciuman itu terjadi.Ia tak tahu apakah ia akan senang karena itu akan menjadi ciuman pertamanya.
Tetapi yang ia rasakan sekarang adalah ia sangat bersyukur bisa menghindarinya.
Berbeda dengan dirinya,Widya benar benar kecewa karena keinginannya tak terlaksana, padahal ia dengan segala keberaniannya menurunkan harga dirinya untuk mencium bibir pacarnya tersebut.
Sekarang wajahnya bersemu merah.Ia menjadi tidak nyaman dan ingin rasanya menghilang dari situ.
__ADS_1
"Selamat pagi om..."sapa Daniel saat membuka pintu ruangan pak Richard.Pria tersebut tampak sibuk dengan laptopnya.
"Hey...Dan... apa kabar?"Pak Richard menyambut kedatangannya.Ia berdiri menyalami tamunya yang sudah ia tunggu tunggu
"Hallo,om..."sapa Widya.
"Hi... Wid... Benar Widya,kan?"tanyanya meminta kepastian.Ia takut salah.
"Benar om...aku Widya... pacarnya Daniel..."Gadis itu dengan beraninya memperkenalkan diri sebagai pacar seorang Daniel Scott putra tunggal pemilik hotel berbintang lima tersebut.
"Oh... gitu... Sudah punya pacar kamu, rupanya? Siap dapat traktiran dong..."Canda pak Richard.
"Apaan sih, om?"jawab Daniel.Ia menjadi salah tingkah karena Widya sebegitu jujurnya memperkenalkan diri padahal ia tidak ingin terlalu heboh mengingat usianya yang masih 18 tahun.Masih berseragam putih abu-abu walau berapa bulan lagi akan tamat.Romansa cinta anak SMA, bukanlah suatu hubungan yang serius karena perjalanan mereka masih sangat panjang.
"Aku pikir kamu akan datang sama si adek...Batal deh makan brownies.. "ucap pak Richard seperti sedikit kecewa.Karena Bening tahu kesukaannya dan jika ke hotel ia pasti akan membawa oleh-oleh tersebut walaupun tanpa diminta.
"Iya, sebenarnya gitu om...tapi si adek ada janji sama temannya.Dia nemenin temennya itu check up di rumah sakit.Tahu saja si adek baiknya nggak ketulungan.."Widya tak suka kedua orang yang ada di hadapannya sangat memuji Bening.
"Bukan temannya,om...tapi pacarnya?"Widya sengaja mengatakannya untuk membuat Daniel kesal biar rasa kecewanya terbalaskan.
__ADS_1