
Saat tiba di Bali,Daniel yang sudah tak tahan lagi menahan kerinduannya untuk bertemu dengan Bening, segera menuju rumah gadis tersebut.Tak ada lagi keraguan atau kebimbangan.Yang ada dalam pikirannya hanyalah menemuinya.Apapun reaksi adiknya nanti saat melihatnya tak ia pedulikan.
Kini ia berdiri di depan rumah gadis itu dengan sebucket bunga di tangan kirinya.Rumah tersebut masih tampak seperti dulu.Rumah yang pernah membuatnya merasa terlindungi,merasa aman dan pernah menjadi rumah ternyaman untuk pulang.
Daniel melangkahkan kakinya perlahan.Bayang bayang masa kecilnya bersama adiknya mulai bermunculan.Ia seperti melihat kembali dirinya saat pertama kali datang ke rumah itu.Ia ingat bagaimana terpakunya ia saat dikenalkan dengan gadis kecil bermata Bening yang membuatnya terpesona.
Gadis itu sangat ramah, tutur katanya lembut menyejukkan jiwa.Semarah apapun dia, selalu dihadapinya dengan senyum meski Daniel tahu di balik itu perasaannya terluka.Sama seperti adiknya ia pun merasa terluka, hanya selalu ditepisnya.
Semua kenangan indah yang ia ingat tersebut berubah menjadi rasa bersalah dan penyesalan kala dirinya mencoba untuk berpacaran.Berpacaran dengan sahabatnya sendiri adalah kesalahan awal dan fatal yang pernah diambilnya.Yah, bagaimana tidak akibat kesalahan tersebut telah mengubah semuanya, dunianya, kehidupannya dan kisah cintanya.
Sepuluh tahun ia lalui dengan perasaan bersalah.Bersalah karena meninggalkannya tanpa pamit dan penjelasan apapun.Padahal saat itu gadis tersebut tengah berjuang untuk sembuh di rumah sakit.Ia malah tega meninggalkannya tanpa penjelasan hingga sepuluh tahun lamanya.
Yang paling menyakitkan adalah kala lima tahun yang lalu,Daniel pulang ke Bali bersama Widya dengan membawa seorang bayi perempuan bermata biru ke hadapan orang tuanya.
Ia meminta kepada orang tuanya untuk merawat anak tersebut tanpa menjelaskan apa apa.Niatnya hanyalah supaya mereka tak membenci Widya terutama ibunya yang sudah mengetahui semua cerita tentang Widya yang telah mencemarkan nama baiknya.
Beruntung respon mereka baik meskipun dalam hatinya kecewa dengan pilihan Daniel.Beruntung saat itu sang ayah telah dinyatakan sembuh dan hubungannya dengan ibunya pun sudah membaik sehingga Daniel tidak merasa khawatir.
Waktu itu bu Livia hampir pingsan dibuatnya sedangkan ibunya Bening yang kebetulan hari itu berada di rumahnya hanya diam saja tapi dari raut wajahnya terlihat sangat kecewa padanya.Bagai teriris sembilu Daniel merasa hatinya terasa nyeri.
Benar kata ibunya, kalau Widya bukanlah orang yang baik untuknya.Dari Widya ia belajar berbohong dan berpura-pura serta tidak menjadi diri sendiri.
Memang waktu sepuluh tahun bukanlah waktu yang sedikit yang telah ia sia siakan dengan hidup dalam sandiwara.Oleh karena itu ia tak ingin menunda nunda lagi untuk memulai semuanya dari awal, memperbaiki hubungan yang telah rusak dan mengobati semua luka yang pernah ia torehkan.
Meski akan menghadapi tantangan yang besar dan banyak tapi ia bertekad untuk mulai saja dulu.Apapun keputusan dan pilihan Bening nantinya harus bisa ia terima sebagaimana gadis tersebut menerima kebenaran dan kenyataan tentang dirinya selama ini.
Bening bersikap baik terhadap Daniah menandakan bahwa ia sudah bisa menerima dan mungkin melupakannya.
__ADS_1
"Selamat pagi.."sapa seorang wanita paruh baya setelah membuka pintu.
"Selamat pagi..."jawab Daniel.
"Mau cari siapa?"tanyanya.Daniel tidak merasa heran jika wanita tersebut tidak mengenalnya.
"Nama saya Daniel Bu.Saya mau bertemu dengan om Cahyo dan tante Livia, Mereka ada?"kata Daniel tak lupa memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Oh... bapak dan ibu sudah keluar dari tadi subuh.Mereka ke bandara mengantar mbak Bening"Daniel mempelototkan matanya.
"Kenapa nggak langsung bilang dari tadi,bu?"bu Darma mengernyitkan dahinya.
"Kok malah nyalahin saya,mas? Dari tadi masnya diam saja di situ,melamun..sampai saya pikir mas ini maling..."ujar bu Darma membuat Daniel kesal.
"Saya ini calon suaminya dokter Bening bu..masa dibilang maling? Kalau Ben tahu,dia pasti marah sama ibu"omel pemuda tersebut.
"Ya udah, saya pamit bu..."kata Daniel lalu bergegas menuju mobilnya.
"Ganteng ganteng tapi aneh.Ngaku ngaku calon suaminya mbak Bening..."bu Darma mengomel sendiri.
πΎπΎππΎπΎ
Daniel segera kembali ke bandara.Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Tak mau gagal lagi,ia pun tak peduli dengan pengendara lain yang mengumpatnya karena menyabotase jalur pengendara lain.
"Tunggu aku dek... please...kita harus bertemu...Ya Tuhan,tolong restui niat ini.."doanya tak henti hentinya ia ucapkan.
Daniel berlari sekuat tenaga menuju ke rute penerbangan tujuan Jakarta.Benar benar adegan yang sangat dibencinya saat menonton film karena merupakan sesuatu yang memalukan dan membuang buang energi.Tak disangka kini ia pun melakukannya dan memilih jalan tersebut sebagai solusi untuk permasalahannya.
__ADS_1
Tak ada lagi rasa malu dan gengsi.Yang terpenting hanyalah menemukan hartanya.Ia tak peduli apa kata orang tentangnya.
Beberapa kali ia dihadang oleh petugas dengan mengajukan alasan yang terlintas begitu saja di kepalanya.Mereka berdebat karena Daniel memaksakan kehendaknya.
Ia sampai berlutut memohon agar diberi jalan meskipun sudah dijelaskan bahwa penerbangan pertama menuju Jakarta telah berlangsung satu jam yang lalu.
Bahkan ia pun sudah diberi tahu bahwa wanita yang ingin ia temui itu ada dalam penerbangan pertama tersebut.Tapi Daniel tak percaya dan tetap ngotot ingin membuktikannya sendiri dengan caranya.
Seorang laki laki yang sejak tadi sibuk melayani penggemarnya yang masih mengenalnya meskipun menggunakan masker dan topi, menghentikan aktivitasnya berfoto bersama dan fokus pada pemandangan yang mencuri perhatiannya.
Bastian kaget melihat apa yang dilakukan oleh sosok yang menjadi rivalnya selama ini meskipun ia tinggal di negara yang berbeda dengannya.
Sulit dipercaya ia akan bertemu dengan Daniel dalam situasi seperti itu meskipun Bastian tahu bahwa Daniel pulang.Widya memberi tahunya kemarin.
Perasaan pemuda itu bercampur aduk ketika melihat Daniel.Ada rasa cemas, takut dan sedih bercampur menjadi satu menyerangnya dan seketika menyedot energinya.
Bastian bisa menebak apa tujuan Daniel.Dia mendengar perdebatannya dengan petugas bandara dan hal itu membuatnya syok.Daniel ingin menemui Bening.
Daniel terlihat kesal dan kecewa karena lagi lagi tak berhasil bertemu dengan adiknya.Ia ingin segera menyusulnya kembali ke Jakarta tapi saat menoleh ia bertatapan dengan Bastian.
Keduanya terdiam, hanya saling memandang.Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing, bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya.
Daniel yang semalam tak bisa tidur setelah menonton konser Bastian dari handphonenya tak menyangka malah bertemu dengan pemuda tersebut padahal yang ingin ia temui adalah adiknya.
Rasa cemburu yang telah menggerogoti tubuhnya berusaha ditaklukkannya.Ia berpikir bahwa sebaiknya harus berbicara dengan orang yang selalu membuatnya merasa cemburu.
Perlahan ia melangkah menuju tempat Bastian berdiri.
__ADS_1
"Hey...bro..."Daniel mengulurkan tangannya memberi salam.