
Daniel yang awalnya sok cool mengesampingkan gengsinyanya dan mengajak Bastian untuk menepi sejenak.
Bastian pun yang semula enggan untuk berkomunikasi dengannya juga pada akhirnya merasa memang perlu untuk berbicara dengan Daniel.
Dulu mereka tak pernah akur apalagi jika tentang Bening, gadis yang sama sama mereka anggap spesial.Daniel yang menganggapnya sebagai adik, tetapi caranya memperlakukan adiknya sungguh berbeda apabila di dekat Bastian.Dia memandangnya seperti seorang rival.Bisa ditafsirkan ia cemburu pada rivalnya tersebut.
Demikian halnya Bening.Bastian bisa melihat dari matanya tampak berbeda jika menatap orang yang dianggapnya kakak yakni Bastian.
Sebagai seorang laki-laki yang juga menyukai gadis yang sama, Bastian tidak pernah lupa bagaimana kisah mereka.Kisah yang belum usai karena tak ada yang berinisiatif untuk menyelesaikannya meski setelah sepuluh tahun berlalu.
"Kapan?"tanya Bastian saat keduanya sudah duduk di cafe & resto Dear baby milik keluarga Bastian.
Daniel yang sedang mengamati sekeliling cafe and resto tersebut langsung tersedak saat melihat foto Bening dan Bastian di sudut ruangan.
"Ini diminum dulu..."Bastian memberinya segelas air putih saat mendengar Daniel tersedak.
"Tadi elo nanya apa?"tanya Daniel sambil memegangi lehernya.
"Gue nanya, sejak kapan di sini?"Bastian memperjelas pertanyaannya.
"Tadi pagi...gue baru nyampe tadi pagi.."jawab Daniel.
"Oh... berarti yang tadi di bandara itu?lu belum sempat ke rumah lu dong?"tanya Bastian berpura-pura tidak mengetahui apa apa.
Dengan tadi ia tersedak pun, Bastian tahu alasannya karena apa.Demikian pula halnya dengan insiden di bandara tadi, tapi Bastian tidak mau Daniel merasa canggung di pertemuan pertama mereka setelah sekian lamanya.Jika jujur bisa berkomunikasi berdua dengan Daniel seperti saat sekarang adalah hal yang ia tunggu dan merupakan waktu yang tepat ditambah lagi tanpa kehadiran Bening.
"Iya.. belum.."jawab Daniel pendek.Memang pada kenyataannya ia belum pergi ke rumahnya.
__ADS_1
"Oh... ke sini liburan atau gimana?"tanya Bastian.
"Elo mau gue jawabnya jujur atau gimana?"tanya Daniel.
"Kalau bisa, yang jujur bro...masa udah belasan tahun gak ketemu yang dibawa cerita boong?"Bastian tertawa kecil.
Daniel pun ikut tertawa.
"By the way, selamat udah jadi penyanyi terkenal."ucap Daniel.
"Biasa aja bro... thank you...kamu juga, selamat ya, udah jadi pengusaha sukses..."balas Bastian dengan senyumnya membuat Daniel tertawa.
"Berlebihan nggak sih,itu?"timpal Daniel lalu keduanya.
Seorang pelayan datang membawakan minuman ke hadapan keduanya.Daniel disuguhkan kopi sedangkan Bastian teh madu jahe.Melihat minuman tersebut, Daniel berusaha menahan tawa.
"No, soalnya benar benar di luar pemikiran gue..."jawab Daniel.
"Maksudnya?"tanya Bastian tak paham.
"Gue kira lu bakal suguhin gue wine atau apalah gitu..lu kan artis.Terus ini juga kali pertama kita bertemu dan bisa ngobrol seperti ini, sesuatu yang wow buat gue, mengingat dulu kan kita musuh."Bastian kini paham apa maksudnya.
"Tadinya sempat terpikir sih buat suguhin itu.Tapi gue pikir lebih baik kopi biar elu tahu bahwa gue bisa jadi teman yang baik.Buktinya gue tetap ingat minuman kesukaan elo.Gue emang artis tapi gue juga penyanyi,dokter pribadi gue selalu nyaranin gue buat minum minuman ini buat ngejaga pita suara gue, apalagi semalam baru adain konser.Jadi, sorry ya, nggak bisa nemenin elu minum kopi,gue juga nggak kuat sama caffeine, langsung mules...sama reaksinya kayak cabe...elu pasti tahu lah gue..."cerita Bastian.
Daniel terlihat mulai menunjukkan wajah cemburunya tatkala Bastian menyebut tentang dokter pribadi.Pikirannya mulai traveling mendengar kata itu karena tanpa disebut pun dirinya sudah tahu siapa yang dimaksud Bastian.
"Nggak apa-apa..It's okay.."Daniel kemudian menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Tapi dulu itu,benar nggak sih lu nganggap gue musuh? Atau itu cuma di pemikiran gue doang?"tanya Bastian tak ingin kehilangan bahan buat diobrolin.
"Ya..bisa dibilang gitu.."Daniel mengangguk angguk sambil tersenyum.
"Iya, sih...dulu kenapa ya,kita nggak pernah akur?Elo tahu nggak kenapa?"ujar Bastian.
Daniel terdiam sejenak.Ia mulai membayangi masa masa mereka dulu.Kisah masa remaja yang unik,masa SMA yang indah.Semuanya tereka ulang dalam memorinya bersama aroma kopi hitam kintamani yang ia hirup.
"Karena kita berdua berusaha melindungi gadis yang sama, mungkin..."jawab Daniel.
"Mungkin...tapi kalau gue, bukan cuma mau melindungi, lebih karena gue jatuh cinta sama adik lu dan elo nggak suka.Nggak suka apa nggak setuju,sih?"Bastian memilih untuk lebih terbuka.
"Dua duanya,bro..."Daniel tak kalah jujur.
"Tapi kalau sekarang udah nggak begitu lagi kan?Iya,dong...masa kita harus musuhan lagi?" tanya Bastian membuat Daniel kembali tersedak.
"Lu kenapa bro...? Pelan pelan kalau minum.."saran Bastian.
"Sebelum gue jawab,gue pengen nanya sesuatu ke elu...Apa yang lu tahu tentang gue selama sepuluh tahun ini?"tanya Daniel
"Waow... pertanyaan yang benar-benar gue tunggu.Yang gue tahu tentang elo, adalah elu dan Widya udah punya Daniah yang sekarang tinggal bersama orang tua lu.Maaf telat ngucapinnya tapi waktu itu gue udah ngucapin kok ke Widya.Elo kan udah ganti nomor.."jawab Bastian.
Daniel langsung tersenyum ketus mendengarnya.
"Pasti Widya ceritanya begitu ke elu.Benar benar pengarang handal.."ucap Daniel.
"Jujur,gue sama Widya itu emang masih komunikasi sampai sekarang.Terus apa yang lu tahu tentang gue sepuluh tahun terakhir ini.."Bastian ingin tahu sejauh mana Daniel tahu tentang dirinya karena ia ingin memastikan apa yang menjadi pertimbangannya selama ini tentang Bening.
__ADS_1