Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.92


__ADS_3

Berjam jam lamanya dua orang pemuda tersebut saling berkisah.Banyak hal yang mereka perdebatkan.Setelah mengetahui semua kenyataan tentang diri masing-masing, mereka pun sama sama sepakat,tak saling menyalahkan tetapi memutuskan untuk bersaing dengan halal.Bahkan keduanya berjanji untuk mengutamakan kebahagiaan Bening di atas kebahagiaan mereka sendiri.


Daniel menyambangi toko roti milik orang tua Bening.Ia ingin menemui ibunya,bu Livia.Sekian lamanya mereka tidak saling berkomunikai dan terakhir kalinya di malam saat Daniel ke rumah sakit menemui Bening.Saat itu bu Livia tampak ramah padanya.Ia sama sekali tidak menyalahkannya soal kejadian yang menimpa putri semata wayangnya.


Toko itu sudah berbeda tampangnya mungkin dikarenakan sudah direnovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.Daniel turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama toko tersebut.


Berkali kali ia mengatur napasnya agar tak gugup atau kaku.Pegawai yang ada juga tak adanya yang mengenalinya dan Daniel juta tidak mengenali mereka.


Bu Livia yang kebetulan sedang memandang ke arah pintu merasa terkejut dengan kedatangan Daniel.Ia sampai memfokuskan penglihatannya karena tak yakin dengan apa yang ia lihat.


"Selamat siang tante..."sapa Daniel tapi wanita paruh baya itu terus mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala.


"Tante...ini,aku Daniel..."ujarnya sekali lagi.Daniel membungkukkan badannya,meraih tangan bu Livia untuk menghormatinya.


"Kamu? Daniel.... selamat siang Dan...Ini beneran kamu?"tanyanya.


Daniel tersenyum dan mengangguk berkali kali.Bu Livia langsung memeluknya.Daniel yang tak menyangka akan mendapat respon demikian merasa sangat senang dan bersyukur.


Setelah sekian lamanya wanita itu selalu menyambutnya tanpa memperhitungkan semua kesalahannya terhadap putrinya.Yah, dulu jika Daniel berdebat dengan Bening ia tidak menunjukkan sikap yang lebih dominan terhadap putrinya sendiri untuk membelanya tetapi sebisa mungkin ia bersikap adil.


Bahkan saat berpacaran dengan Widya pun, Daniel sering menyakiti hati Bening dan Daniel tahu, hati seorang ibu seperti bu Livia pasti tahu.Tetapi bu Livia tidak pernah marah padanya dan tetap bersikap baik hingga masalah kecelakaan itu.Harusnya bu Livia memarahinya atau menyalakannya karena sudah menahan putrinya untuk ikut bersamanya ke Jakarta.


Manusiawi jika ia menyalakannya dan berpendapat bahwa mungkin saja kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi jika Bening ikut bersamanya ditambah lagi Bening tak bisa melihat kakeknya untuk terakhir kalinya.Tetapi sungguh luar biasa hatinya.


Daniel benar benar merasa seperti putra kandungnya.


"Apa kabar tante?"tanya Daniel.


"Baik....tante sehat.Kamu apa kabar?"jawab bu Livia.Ia pernah merasakan kecewa yang mendalam saat Daniel pulang membawa Widya dan Daniah.Apalagi saat itu,ia ada di sana.Ia kecewa karena tahu putrinya jatuh cinta pada anak dari sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Tetapi melihat putrinya yang bisa menerima kenyataan tentang pemuda itu, membuat bu Livia pun juga akhirnya menerima.Toh, siapapun tak berhak atas jodoh setiap orang.Bahkan orang tua sekalipun.


"Baik tan... sehat..."jawab Daniel dengan senyumnya.


Daniel mengamati sekeliling toko.Penataannya sudah sangat berbeda.


"Ayo duduk,nak... sini..."ajak bu Livia lalu Daniel mengikutinya untuk duduk di salah satu kursi yang ada.


"Beberapa tahun lalu toko ini direnovasi biar lebih luas dan rapih..."kata Livia saat melihat Daniel terus memandangi sekitar.


"Bagus banget tan desainnya..."puji Daniel.


"Oh, ya? Terima kasih...Eh, kapan tiba di sini? Tadi tante pikir tante salah lihat ternyata beneran, memang kamu?"bu Livia tertawa kecil.


"Saya baru nyampe tadi pagi tan..."jawab Daniel.


"Oh,gitu? Mommy kamu pasti seneng banget ya kamu pulang, soalnya waktu kemarin Ben pulang dia bilang dia juga pengen kamu pulang.."bu Livia menceritakan keinginan sahabatnya tanpa ia lebih lebihkan.


"Mungkin dia rindu sama kamu,nak.Wah, Daniah juga pasti happy papanya pulang.Anak itu aktif sekali,pintar, menggemaskan.Dia benar benar penghibur.."wajah Daniel mendadak tegang saat dengan semangatnya bu Livia memuji Daniah bahkan dari senyumnya terlihat sangat jujur.


"Saya belum ke rumah tan... mungkin nanti setelah dari sini.."jawab Daniel tanpa menjawab penuturan bu Livia tentang Daniah.


Nyalinya mendadak redup.Ia tak ingin pembicaraan mereka menjadi kaku jika membicarakan hal hal yang tak seharusnya dibahas.Beberapa ide pun terlintas begitu saja di kepalanya.


"Bentar ya,tante buatkan minum dulu.."saat bu Livia berdiri Daniel menghubungi pak Cahyo.Ia memberi tahunya bahwa dirinya sudah tiba di Bali dan ingin menemuinya.


Tetapi karena ada operasi, pak Cahyo pun menawarkannya untuk bertemu di malam hari.Daniel pun menyetujuinya.Setelah menutup teleponnya,ia mulai berpikir.Ia ingin kembali ke Jakarta sore harinya tetapi ia juga tak mungkin untuk tidak menemui ayahnya Bening.Ia tak mungkin membatalkannya.


"Masih minum kopi kan?"tanya bu Livia yang kembali datang dengan dua cangkir minuman.Untuk tamunya ia suguhkan kopi.

__ADS_1


"Masih tan... nggak bisa lepas malah..."jawabnya.


Aroma kopi tersebut membuat Daniel merasa seperti kembali ke masa masa putih abu-abunya dulu.Rasanya ia sedang duduk berduaan dengan partner terbaiknya meminum kopi.Siapa lagi kalau bukan Bening.


Seperti mendapat hadiah yang berharga, Daniel langsung mengangkat cangkirnya dan dengan segala penghayatannya, dihirupnya aroma kopi tersebut dalam dalam hingga beberapa menit sambil memejamkan matanya.Tanpa ia sadari air matanya mengalir.Ini kali ke dua ia disuguhkan minuman tersebut dan hal itu membuat rasa rindunya semakin berat.


Bu Livia yang melihatnya demikian,pura pura meminum teh herbalnya sambil membuka handphonenya.


Daniel yang menyadari kekonyolannya, langsung menghapus air matanya.


"Terima kasih banyak tante... terima kasih untuk kopi ini...enak banget.."kata Daniel sungguh sungguh.


"Sama sama, Dan... kamu kayak sama siapa aja.Padahal tadinya tante ragu, suguhin kamu kopi..., mungkin saja kamu udah nggak minum lagi..."bu Livia menatapnya penuh kasih.


"Enggak kok,tan...masih kok... bahkan bisa sampai sepuluh kali sehari..."cerita Daniel sebegitu entengnya.


"Apa?Sepuluh kali sehari?Kok bisa?"ibunya Bening kaget mendengar pengakuannya.


"Itu dia tan...saya sekarang udah jadi pecandu kopi.Susah banget lepas dan mungkin nggak bisa.Saya bahkan nggak bisa tidur kalau nggak minum kopi tan.Apalagi kalau rasa dan aroma kopinya seperti ini.Bisa lebih dari sepuluh kali mungkin Tan, sehari.."Daniel dengan jujurnya bercerita membuat yang mendengarnya merasa ngeri.


"Tapi gimana sama kesehatan kamu?Apa nggak berpengaruh?Kan nggak boleh.Terlalu banyak caffeine nggak bagus buat kesehatan.Atau tante salah,ya?"wanita itu menjadi khawatir.


"Iya,bener banget tante...Saya bahkan pernah diopname di rumah sakit gara gara muntah dan BAB berdarah.Lambung saya luka dari hasil pemeriksaan.Sempat berhenti selama diopname tapi malah jadi tidak bisa tidur bahkan sampai tiga hari.Akhirnya ngopi lagi tan... Tapi berkurang jadi tiga kali dalam sehari.Malam sebelum tidur itu wajib hukumnya tan.Syukurnya lambung saya aman, kalaupun nyeri,tapi masih bisa ditolerir..."tak ada rasa malu saat pemuda itu mengisahkan kecanduannya.


Ia tak mau berbohong lagi walau resikonya ia tak disukai karena ceritanya sendiri.


"Tapi kamu nggak mau lepas dari kecanduan kamu itu?Maaf,nak ..tapi tante mikir kesehatan kamu.."ujar bu Livia.


"Mau tan...mau banget.. cuman susah dan belum nemu caranya.."ungkap Daniel dengan wajah serius.

__ADS_1


"Mungkin jika kamu punya aktivitas lain atau kesibukan lain yang membuat konsentrasi kamu teralihkan.Mungkin Daniah bisa bantu kamu,Dan..tante yakin..."karena anak kecil itu kembali disebut membuat pemuda itu tidak bisa mengelak atau menunda lagi.


Siang itu mereka habiskan dengan bercerita dan bu Livia sungguh adalah pendengar yang baik meskipun awalnya perdebatan itu ada.


__ADS_2