
Bila diingat dari kata kata Bening waktu itu kepada ayahnya, sepertinya memang benar kalau gadis itu sedang jatuh cinta.Dan Daniel sekarang bisa menebak ia jatuh cinta kepada siapa.Ia kembali ingat saat dirinya dan Bastian serempak memberikan air minum untuknya saat makan tadi,ia lebih memilih pemberian Bastian daripada dirinya.
Gadis itu juga memilih untuk tidak meninggalkan Bastian padahal kondisinya sudah lebih baik.Tak salah lagi,jika dirinya memang sedang dilanda asmara dengan Bastian.
Mengingat keduanya yang tak pernah akur selama ini, ia menjadi marah karena Bening menjadi lebih peduli padanya.
Widya dengan antusiasnya memilih belanjaannya dari pakaian, make-up, hingga pernak pernik lainnnya dari satu store ke store lainnya di dalam mall sesuai dengan kebutuhannya.Ia ingin mencoba hal hal yang baru, berdandan, berpenampilan up to date, meskipun tidak tau apa yang akan dipakai itu sudah benar atau tidak. Ia hanya ingin menggunakan pakaian yang sedang trend di zaman saat ini.Maka dari itu semua yang akan menunjang keinginannya tersebut dipersiapkannya.
Daniel hanya mengekornya dari belakang dengan beberapa shopping bag di tangannya.
Sementara itu, Bening dan Bastian masih berada di rumah makan.Laki-laki tersebut sudah beberapa kali mondar mandir keluar masuk toilet dengan terus memegang perutnya.Rupanya setelah Nyeri ulu hatinya lumayan membaik dan reda, sekarang malah perutnya yang terasa sakit,mules dan membuatnya mencret.
"Kita ke rumah sakit aja ya kak.."ujar Bening lalu memberinya air putih.Bu Elisa sang pemilik warung pun kembali menghampiri mereka dengan segelas air yang berisi larutan gula dan garam di tangannya.
"Ayo, diminum Bas... dihabiskan ya... kamu pusing nggak?"tanyanya dan Bastian hanya mengangguk lemah.
"Itu obat atau apa,bu?"Bening mencari tahu karena dilihat dari warnanya yang sedikit keruh itu bukanlah air putih.
"Ini larutan gula dan garam,untuk pencegahan pertama pada diare karena hanya ini yang bisa kita lakukan di rumah.Garamnya setengah sendok teh lalu gulanya dua sendok teh untuk ukuran segelas air.Ini membantu mengembalikan cairan dan elektrolit yang sudah terbuang saat buang air besar dan mencegah dehidrasi.Paling tidak ada yang bisa kita lakukan sebelum nanti ke dokter untuk mendapatkan obat atau pertolongan lebih lanjut..."jelas Bu Elisa detail.
Bening mengangguk paham.Ia senang karena pemilik rumah makan tersebut tahu pertolongan pertama pada penderita diare.
"Kalau begitu,kita harus tetap ke rumah sakit kak..tuh kakak lemas gitu.Mungkin sudah banyak cairan yang sudah terbuang saat kakak Buang air besar tadi.."ujar Bening tanpa risih sekalipun.
"Iya,betul bas... kamu harus tetap ke rumah sakit..Kamu masih pucat dan lemas gitu berarti kamu banyak kehilangan cairan..."tambah Bu Elisa lalu mengambil handphone-nya dan menghubungi orang tuanya Bastian untuk memberi tahu kondisi anak mereka.
"Aku udah nggak apa-apa dek...aku mau pulang ke rumah aja.."pinta Bastian sambil terus meminum air putih.
"Ternyata kakak bandel juga ya... diperiksa dulu kak... nanti juga kalau menurut dokter nggak apa-apa ya, kakak pasti akan disuruh untuk istirahat di rumah saja.Kalau kakak nggak mau dibawa ke rumah sakit lebih baik aku pulang..."Bening mengancam dan memberinya pemahaman.
"Tapi aku takut ke rumah sakit..ke tempat prakteknya Om Cahyo saja kali ya.Bisa nggak aku berobat ke sana saja..."Bastian masih tawar menawar.
__ADS_1
"Iya,tapi jam segini papa belum buka prakteknya..aku coba telpon papa ya..."kata Bening lalu mengambil handphone-nya.
"Ayo,kita ke rumah sakit sekarang.. papa kamu sudah siap siap juga biar kita ketemu di sana saja.Tante antar..."Bu Elisa mengambil tasnya beserta kunci mobilnya.
Bening pun berdiri dan membantu Bastian.
"Nggak apa-apa beb...aku bisa kok..."ujarnya kembali ke mode semula.Bening hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
πΎπΎππΎπΎ
"Masih ada lagi yang mau dibeli?"tanya Daniel ketika Widya kembali masuk ke tempat aksesoris padahal ia sudah membeli sebelumnya.
"Iya...ini lucu ...bagus nggak?"tanya Widya pada kekasihnya.Daniel hanya mengangguk dan tersenyum meskipun sudah mulai bosan.Beberapa kali Widya keluar masuk toko tanpa tujuan yang jelas dan itu yang membuatnya malas.
Gadis itu terlihat sibuk memilih milih sesuatu yang ia ingini."Kamu mungkin mau beli sesuatu yang?apa gitu?"tanya Widya.
"Oh... nggak..kan udah tadi..."jawab Daniel karena tadi mereka sudah membeli baju coulpe dan Daniel merasa itu sudah cukup.
"Enggak kok....sama sekali enggak..."jawab Daniel.
"Terus kenapa wajah kamu kayak bete gitu? Nanti aku bayar sendiri kok..Kamu nggak usah khawatir.."Widya berkata asal, membuat Daniel kesal.
"Kok, kamu bisa ngomong gitu? wajah aku biasa aja...emang udah begini cetakannya.."Daniel mencoba bergurau padahal ia sebenarnya kecewa Widya berbicara demikian.Ia tahu, menemani pacar berbelanja adalah mungkin salah satu agenda yang wajib bagi seorang cowok dan bukan soal siapa yang akan membayar,ia pasti akan membayar hanya saja rasanya malas dan bosan jika belanjanya terlalu lama.
"Habisnya dari tadi kamu lebih banyak diam? Kamu masih kepikiran Bening,ya?"Widya belum juga berhenti ngelantur.
"Kepikiran gimana maksud kamu?"Daniel berusaha sebisa mungkin untuk tidak terpancing dengan pertanyaan Widya.
"Ya... kamu pasti kecewa dia nggak ikut sama kita, kamu kepikiran karena nggak bisa antar dia pulang...dan kamu...."
"Udah ya... daripada kamu bicaranya ngelantur, lebih baik kita pulang sekarang biar kamu bisa istirahat.Kamu pasti capek..."Daniel memotong pembicaraan Widya lalu menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.
__ADS_1
Tampak sang pacar mengekorinya dengan wajah cemberut.Daniel mengeluarkan kartu ATM miliknya dan membayar semua belanjaan Widya.
Setibanya di parkiran, Widya mengambil paperbag yang dipegang Daniel.
"Aku mau pulang dengan taxi aja.."katanya.
Daniel menghela nafas panjang.Ia meraih tangan Widya.
"I'm so sorry..."ucapnya lembut dengan wajah sendu dan hanya itu yang bisa ia katakan karena percuma juga berbicara banyak saat emosinya menggebu gebu.Selain itu Daniel juga takut salah bicara.
Beruntungnya tidak butuh waktu yang lama untuk Widya merajuk.Ia pun masuk ke dalam mobil dan pulang bersama Daniel.Di perjalanan pulang, Daniel terus memikirkan kata-kata yang tepat ke Widya agar ia tak berpikir bahwa dirinya lebih peduli terhadap Bening ketimbang dirinya.
"Sebenarnya aku hanya nggak enak sama tante Livia karena aku yang menjemput Bening tadi pagi di rumahnya jadi seharusnya aku juga bertanggung jawab mengantarkan dia pulang.Bagaimanapun,dia sudah menolong kamu untuk bisa keluar dari rumah dan aku berterimakasih untuk hal itu.Aku harap kamu bisa memahaminya."Daniel akhirnya memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang membuat pacarnya tersebut kesal.
Widya terdiam.Tak jelas apakah dia menerima penjelasan itu atau masih ada hal lain lagi yang mengganjal dalam pikirannya.
πΎπΎππΎπΎ
Bening menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Bastian ketika dokter di UGD menanyakan kronologis Bastian mengalami diare.Dengan cekat mereka menangani pasien tersebut.
Saat seorang suster menyiapkan peralatan infus untuk dirinya atas anjuran dokter setelah memeriksanya, Bastian tampak ketakutan.
"Sus... Haruskah saya diinfus?apa nggak bisa dengan minum obat saja?"tanya Bastian takut.
"Ini anjuran dokter,mas.Kamu mengalami dehidrasi sehingga harus diinfus untuk menggantikan cairan tubuh yang sudah hilang saat kamu BAB"jelas perawat tersebut.
"Biar cepat pulih kak..kakak harus mau diinfus.Tuh, susternya udah jelasin.Kakak harus dinfus.Paling juga ditusuk bentar"Bening membujuknya seperti anak kecil.
"Justru karena itu beb..aku takut jarum.Lihat aja ngeri apalagi kalau ditusuk"Daniel bergidik ngeri melihat peralatan yang siap dipasang padanya.
"Kalian berdua pacaran ya?Mas nggak malu sama pacarnya?Masa sama jarum kecil ini saja takut?"kata perawat tersebut membuat Bening dan Bastian saling berpandangan.
__ADS_1