Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.22


__ADS_3

"Gimana?"Sambut Daniel yang hampir dua jam menunggu.


Untuk kedua kalinya Widya memeluknya secara spontan, meluapkan kegembiraannya kerena hasil pemeriksaan baik baik saja dan terutama rasanya semua berjalan sesuai rencana.


Melihat pemandangan itu, Bening menjadi salah tingkah apalagi saat tatapannya dan Daniel bertemu.Ada pesan yang tersirat dari tatapan laki laki tersebut seolah mau mengatakan bahwa ia tak bermaksud untuk memeluknya dan semua di luar kendalinya.Gadis itu pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghilangkan kecanggunganya.Ia berharap mudah mudahan akan bisa terbiasa dengan situasi seperti itu, dengan demikian perasaannya juga bisa beradaptasi sehingga rasa cemburu, sedih dan tersakiti akan berkurang.


"Makasih ya,dek...."ucap Daniel saat ia berhasil melepaskan pelukannya.


"You're welcome..."jawab Bening dengan senyum yang ia buat sebiasa mungkin.


"Ben....."kata Widya lalu memeluk sahabatnya itu.


"Hey.... apaan sih?kok malah nangis?ih...."Bening menyeka air mata yang mengalir di pipi Widya dengan lembut.


"Thank you...."ucap gadis tersebut.


"You're welcome...udah ya ..jangan nangis lagi dong...nggak malu apa dilihatin pacar.Kak Daniel itu paling nggak suka loh kalau lihat perempuan nangis, apalagi pacarnya..."hibur Bening padahal ia sendiri juga berusaha untuk menahan buliran bening dari matanya.


"Habisnya aku terharu...kamu baik banget.. Kamu selalu ada buat aku.Aku tahu kamu terbebani dengan ide aku...ini bukan kamu banget... Tapi kamu mau berkorban ngelakuin semuanya buat aku..."Jawab Widya lalu kembali memeluk sahabatnya itu.


"Kok ngomongnya gitu sih...Aku ngelakuin semuanya karena aku sayang kamu,Wid...Aku mau kamu nggak sedih lagi..Aku mau kamu sehat...Oh,iya...I have a good news for you.Tadi Tante Vitha bilang,beliau sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening kamu.So,setelah dari rumah sakit ini kamu punya waktu untuk bersenang senang, kamu boleh belanja, makan makan atau apalah yang penting kamu have fun.."Bening menyampaikan kabar gembiranya yang sengaja tak ia katakan sebelumnya sehingga menjadi kejutan buat sahabatnya itu.


"Apa? beneran Ben?"tanya Widya tak yakin tetapi sorot matanya sangat gembira mendengar hal itu.


"He...eh...kan aku nggak pernah bohong sama kamu.."Widya terenyuh memandang sahabatnya itu.Benar yang dikatakan Bening, selama mereka bersahabat gadis itu selalu berkata apa adanya dan belum pernah mengecewakannya.


Kebahagiannya kini ia rasakan berlipat ganda.Direntangkannya tangannya sekali lagi ingin memeluk Bening.


"Uuuh ...kamu memang sahabat terbaikku..."ungkapnya lagi.


"Jadi gimana, setelah dari sini kita bertiga akan ke mana?"tanya Daniel.


"Kok bertiga?aku nggak ikut.. kalian silahkan menikmati waktu kalian.Mumpung dikasih izin loh.Susah loh dapetnya,jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.Lagian nggak mungkin juga aku ngintilin kalian ke mana mana.Udah capek jadi nyamuk..."Dengan kata yang seindah mungkin dirangkaikannya untuk menolak ajakan Daniel.


"Apaan sih dek.Kan Tante Vitha nggak tau aku bersama kalian.Yang Tante tahu kan Widya perginya sama kamu.Mungkin itu juga bentuk terima kasihnya Tante Vitha karena kamu sudah temani Widya berobat..So... nggak ada alasan buat kamu untuk nggak ikut.."Daniel seakan akan tak rela membiarkan Bening pulang dan tak pergi bersama mereka.Padahal harusnya ia senang mereka punya waktu untuk berduaan mengingat sang kekasih yang sangat sulit untuk bisa keluar dari rumah.


"Iya... Ben... ayo ikut.. nggak seru kalau nggak ada kamu.. kita makan dulu yuk.. Pokoknya hari ini kita belanja sepuasnya...aku traktir deh...."ucap Widya.


"Aduh... gimana ya..Aku udah ditungguin mama..."Bening tampak menimbang nimbang ajakan mereka.


"Ayo.Nanti biar aku yang ngomong sama tante Livia...."Daniel menarik tangannya dan membukakan pintu belakang untuknya.Widya menangkap pemandangan tersebut.Berapa kali sudah ia naik turun dari mobil pacarnya itu tetapi belum sekalipun laki - laki tersebut membukakan pintu untuknya seperti yang barusan ia lakukan kepada Bening.


"Let's go.."ucap pria tersebut.

__ADS_1


Daniel memberi senyum melalui kaca di depannya.Tampak Bening membalas senyumannya.Widya menjadi semakin cemburu.Tapi ia tak ingin menunjukannya mengingat bagaimana baiknya Bening kepadanya.Ia merogoh handphonenya dan mencari nomor handphone seseorang lalu mengirimnya pesan.Setelah beberapa kali berbalas pesan ia akhirnya menghirup napas lega, berharap idenya kali ini mampu meredam rasa cemburunya.


Widya memberitahu tempat makan yang ingin ia kunjungi dan sang pacar pun menyetujuinya.


"Nanti setelah makan kita shoping ya..."ujar Widya.


Lagi lagi Bening hanya mengangguk dan tersenyum.


Ia membiarkan Widya menentukan pilihannya.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


"Aku mau makan pesan nasi campur...Kamu?"tanya Bening pada kekasihnya.


"Mau pesan apa ya?"Daniel melihat menu yang ada.


"Kamu dek?"Ia malah bertanya pada Bening tanpa menjawab pertanyaan Widya.


"Aku ikut kamu aja Wid..."kata Bening dan langsung disetujui Daniel.


"Kalau begitu kita pesan menu yang sama saja...."Daniel pun menuliskan menu yang akan mereka makan.


"Hai...."sebuah suara menyapa mereka.


Senyum khas seorang Bastian kini menyalaminya.Ia sampai mengernyitkan dahinya heran kenapa pria tersebut tiba-tiba menyambangi mereka.


"Hai baby...."sapaan wajibnya saat bertemu dengan pujaan hatinya.Bening hanya melihatnya dengan wajah bingungnya.


"Kok... ngelihatinnya kayak gitu beb... terpesona ya..."ujarnya kali ini sontak memancing kekesalan Bastian dengan percaya diri duduk di sampingnya.


"Kak Bastian kok???"Bening tak melanjutkan perkataannya.


"Bisa ke sini? atau bisa tau kamu ada di sini?"sambungnya mulai mengeluarkan jurus jurus gombalnya.


"Iya..."jawab Bening.


"Iya...kok kamu bisa ke sini...?"tanya Daniel tak bisa menyembunyikan wajah tak sukanya pada laki laki tersebut.


Beruntungnya, Bastian sudah terbiasa dengan sikap Daniel padanya sehingga ia tidak merasa tersinggung lagi.


"Aku ke sini karena aku tau kamu ada di sini,beb..."ujar Bastian tak peduli lagi bagaimana reaksi Daniel.Ia hanya fokus pada gadis yang ada di sampingnya.


Entah kenapa ia sangat suka menjahilinya.Suatu kesenangan tersendiri baginya melihat ekspresi kekesalan di wajahnya yang bening dan itu sungguh menggemaskan baginya.

__ADS_1


"Hmmm....mulai lagi deh....Kak Bastian.ih..bisa nggak sih sesekali ngomongnya yang normal normal aja..Yang apa adanya aja.Yang sebenar benarnya gitu loh..."ungkap Bening.


"Tega banget kamu beb...Aku normal.Perasaan aku ke kamu itu apa adanya dan sebenar benarnya.."jawab Bastian semakin memiliki celah untuk mencandainya.


"Apaan sih... dibilangin apa .. jawabnya apa... menyebalkan...."Bening memanyunkan bibirnya.


Widya yang melihat kekocakan Bastian tak bisa menahan tawa.Ia jadi suka melihat cara Bastian berkomunikasi dengan Bening.Berbeda dengan Daniel.Mendengar rayuan gombal Bastian menciptakan sebuah rasa panas di telinganya.


"Oke....oke....Aku ke sini karena ada tujuan lain...mau ketemu sama pemilik rumah makan ini.Jangan cemberut lagi dong beb,nanti cantiknya nggak ilang sih..Tapi senyumnya jadi sedikit pahit...dimanisin lagi dong..."Bastian akhirnya melunak.Rasanya tak tega juga jika ia teruskan candaannya.Tetapi tetap ada saja kata kata tak biasa yang akan terselip di setiap ia berbicara.


Sebenarnya dialah yang memberi ide untuk makan di tempat tersebut saat Widya mengirimnya pesan agar ia bisa ikut.Sekali jalan,dua atau tiga tujuan akan bisa digapainya, pikirnya.Karena ada tugas utama lain yang tak bisa ia tunda untuk melakukannya di rumah makan keluarganya tersebut.


Bening menggeleng gelengkan kepalanya.Ia tak berpikir untuk membantah lagi karena ia sadar yang dia hadapi adalah seorang Bastian Purnomo.Kendati demikian ia tetap memberi senyumnya walaupun terpaksa.


Pesanan mereka pun datang.Nasi campur dengan lauk favoritnya kulit ayam goreng yang renyah dan teksturnya yang teramat renyah dipadu dengan ayam suwir,telur rebus,sayur lawar,kacang tanah goreng, sambal goreng nan pedas yang dijamin kenikmatannya bikin kenyang dan ketagihan.


"Wow....."kata Bastian ketika memandang makanan yang tersaji di atas meja.


"Pesan gih sana... biar kita rame makannya..."ujar Widya.


"Atau dibagi aja ini yang punya aku... kayaknya aku nggak bakalan kuat makannya..mau?"tawar Bening.


"Iya, mau lah....tapi kamu beneran mau bagi? sweet banget..."ucapnya membuat Bening sedikit menyesal sudah menawarkannya.


"Kumat lagi deh...mau bagi nggak?"tanya Bening sekali lagi.


"Mau...mau...mau...tapi aku mau tes sambelnya dulu ya...kalau pedis kamu nggak boleh makan..."Bastian pun mencoba sambalnya.


Bening hanya memandangi apa yang dibuat laki laki itu untuknya.


"Pedis banget beb...kamu jangan makan ya..."Bastian meneguk segelas air putih yang ada di depannya untuk membuktikan perkataannnya.


"Masa sih... tapi aku mau coba... sesekali kak.."rengek Bening.


"Biasa aja... nggak pedis pedis amat... standar kok..Lebay banget."timpal Daniel ketus.


"Standart buat kamu bro...masa kamu nggak kenal,dia kan nggak bisa makan pedes..."Daniel langsung meradang mendengarnya.Dikepalnya tangannya.Ingin sekali ia melayangkan tinjunya pada mulut Bastian karena sudah menganggap remeh dirinya.


"Kalau begitu,aku coba dikit aja ya..."Bening meminta sedikit agar Daniel tak merasa kalah dengan Bastian.


"Janganlah beb...masa buat sakit dicoba coba...jangan ya...please..."Bastian sampai memohon mohon dengan mengatupkan tangannya.


Bening tak tahu lagi harus bagaimana.Ia melihat kepada kakaknya dengan wajah memelas tanda ia mengalah.Daniel benci pada Bening yang takluk begitu saja dengan ucapan dan tingkah Bastian yang amat berlebihan dan menjijikkan di matanya.

__ADS_1


__ADS_2