
Daniel datang ke restoran tersebut karena ia tahu Widya akan menemui Bening di sana.Karena itu ia datang lebih awal agar tidak didahului Widya.Tak ingin perempuan itu berulah lagi.
Ternyata Bening dan Bastian sudah tiba lebih dulu di sana.Tak disangka ia kembali bertemu Bening yang baru sejam yang lalu ditemuinya.
"Siang Dan...Gimana bisa?"tanya Bastian sedangkan Bening hanya memandangi pemuda yang duduk di hadapannya.Rupanya Bastian paham apa yang sedang dikhawatirkan Bening.Pasti gadis itu berpikir bagaimana bisa ia seramah itu pada Daniel.
Ia tadinya ingin bercerita kalau dirinya sudah bertemu Daniel di Bali tetapi karena Daniel tiba tiba datang akhirnya ia pun mengurungkannya.
Daniel tak menjawab, tatapannya fokus pada tangan keduanya yang masih saling berpegangan.
Perlahan mereka melepas tangan mereka masing-masing karena sadar telah membuat konsentrasi Daniel terarah ke situ.
"E....iya,itu Widya katanya mau ke sini..."jawab Daniel.
"Oh...gitu?Bagus dong kita kebetulan banget bertemu di sini.. Serasa reunian.."kata Daniel sedangkan Bening tak memberi tanggapan apapun.
"Ayo duduk,Dan.. Gabung sama kita aja ya...ya by ya..."kata Bastian pada Bening.Gadis itu hanya mengangguk dengan senyumnya yang dipaksakan.
Tanpa berpikir lagi Daniel pun menyetujuinya.Ia duduk di sebelah Bastian.
"Thank you..."ucap Daniel.
"Nyampe jam berapa tadi?"tanya Bastian.
"Jam tujuh..."jawab Daniel sambil mengetuk meja dengan jemari kanannya sembari melihat ke pintu.
"Widya tahu nggak tempat ini?"Bastian yang berpikir Daniel melihat ke arah pintu untuk menunggu kedatangan Widya.Kali saja dia takut gadis itu tidak datang atau nyasar.Padahal yang sebenarnya adalah Daniel merasa tidak tenang berada di antara keduanya.
"Tau...ini kan punya kakaknya.."jawab Daniel.
"Oh.... pantas aja dia rekomendasiin restoran ini waktu itu, ternyata ini punyanya kakaknya.. tapi menunya enak enak sih,iya kan by?"tanya Bastian pada Bening yang tetap saja diam.
"Iya...Eh kita belum pesan makanan kak...jam berapa sekarang?Nanti telat lagi ke acaranya?"Daniel langsung melirik jam di tangannya.
"Jam 14.30...Mau ke mana lu ,Bas?"tanya Daniel.
"Gue ada reality show entar jam tiga,Dan..."jawab Bastian.
"Oh...iya..gue lupa...lu kan artis, pasti sibuk terus.."gurau Daniel.
"Biasa aja Dan...ayo pesan yuk..."Mereka pun memilih menu masing-masing.
Saat ketiganya tengah makan,handphone Bening berbunyi.Sebuah pesan masuk dari Widya yang membatalkan pertemuan mereka.
"Dari siapa by?"tanya Bastian penasaran.
__ADS_1
"Widya.. katanya dia nggak bisa hari ini"cerita Bening.
"Kenapa?"ujar Bastian.
"Nggak tahu..."Bening mengangkat bahunya karena tak tahu alasannya apa.
"By?apa dari kata baby?Kamu kok nyaman aja dengan panggilan itu dek.."gumam Daniel penasaran kenapa Bastian memanggil adiknya dengan panggilan by.
Ia juga merasa cemburu saat adiknya tersebut mau saja tangannya dipegang oleh Bastian untuk beberapa menit lamanya.Berbanding terbalik dengan reaksi adiknya saat bertemu dengannya, jangankan berpegangan tangan,ia malah memintanya untuk menjauhinya dan hal itu membuat hatinya sedih.
"Nanti pulangnya aku naik ojek online aja kak..."ucap Bening setelah selesai makan.
"Jangan...biar aku antar aja.."kata Bastian.
"Nggak usah..nanti kakak telat lagi... harus muter balik..."tolak Bening.
"Gimana kalau aku aja yang antar dek..."Daniel menawarkan diri.
"Makasih..Tapi aku mau naik ojek aja.Mau ke mall dulu.."ucap gadis itu selain karena tidak enak menerima tawaran Daniel di depan Bastian,ia juga harus konsisten dengan ucapannya yang sudah meminta kakaknya agar tidak menemuinya sendirian.
Gadis itu juga ingin membeli sesuatu yang menunjang penampilannya sebentar malam.Untuk pertama kalinya ia akan bertemu dengan orang yang menyukainya.Ia ingin menikmati pertemuan tersebut bukan untuk menyenangkan sahabatnya tapi untuk kebahagiannya sendiri.
Bastian juga tak bisa berbuat apa saat Bening menolak tawaran Daniel.Sedangkan Daniel lagi lagi harus bisa bersabar karena Bening kembali menolak tawarannya.
Setelah membeli semua keperluannya,Bening pun pulang ke apartemennya.Dengan bekal tutorial makeup yang sudah didownloadnya ia mulai bereksperimen.Tak lupa juga ia mencoba beberapa gaun kepunyaannya.
πΎπΎππΎπΎ
Dengan dijemput sahabatnya, Bening pergi menemui Malvin.Ia mengenakan red dress selutut dengan male up minimalis tapi terlihat berbeda dari biasanya.
"Wow...kamu cantik banget Ben... siapa yang make up?Gaun itu,dibeli kapan?Baru lihat?"tanya Meva yang sudah menunggunya di parkiran.
"Udah... nggak usah banyak nanya..kita berangkat sekarang.Aku nggak mau telat.Kakak kamu udah di sana belum?"tanya Meva memilih tak menjawab ocehan sahabatnya.
"Cieh...yang udah nggak sabar pengen ketemu sama abang aku... Penasaran ya?"goda Meva.
"Apaan sih..aku tuh nggak mau aja pertemuan pertama ini kesannya gimana.Minimal jangan telat lah dari waktu yang udah dijanjiin.."jelas Bening.
"Oh... berarti besar kemungkinan akan ada pertemuan berikutnya dong...Yes..."Meva bersorak gembira.
Bening hanya menggeleng gelengkan kepalanya.Ia tak mau meruntuhkan harapan sahabatnya seketika.
"Tuh.... senyum senyum sendiri..."goda Meva saat Bening melakukan foto selfi.
"Ya iyalah,masa foto nggak senyum...kamu tuh ya...godain aja terus...."Bening merapikan bajunya saat hendak turun dari mobil.
__ADS_1
"Aku nggak ikutan turun ya..."kata Meva.
"Kenapa? Kamu curang... anter sampe di dalam dong..."Bening merasa tidak percaya diri.
"Tuh... abangku udah nunggu di depan..masa dianterin lagi..."Bening yang kaget langsung melihat ke depan restoran.
Benar saja,di sana tengah berdiri tegap seorang pria yang gagah, tinggi,tampan dengan tangan kanannya memegang tangan kirinya sambil tersenyum bak seorang pangeran yang sedang menyambut Cinderellanya datang.
"Ganteng kan,abang gue...? Jangan ngecewain ya,Ben..."pesan Meva.
Bening merasa gugup apalagi saat pemuda itu mendekatinya.
"Hai.... Selamat malam..."ujarnya sembari membungkuk mengulurkan tangannya.
"Hai... Selamat malam kak...saya Bening..."gadis itu memperkenalkan diri.
"Oh iya, lupa...Saya, Malvin..Senang berkenalan sama kamu.."ucap Malvin lalu keduanya tertawa.
"Semoga sukses ya,bang..."kata Meva dari dalam mobilnya saat hendak pulang karena tugasnya sudah selesai.
"Makasih dek... kamu nggak mau masuk dulu? makan dulu..."ujar Malvin pada adiknya.
"Nggak ah... nanti jadi nyamuk...da..."gadis itu tak henti hentinya bergurau.
"Ayo dek..."ajak Malvin bermaksud menuntun gadis itu ke meja yang sudah ia reservasi.
"Aku boleh manggil kamu Ben atau Ning?"tanya Malvin sopan.
"Kalau keluarga sama teman teman aku biasa manggil Ben sih kak...Meva malah dari zaman kuliah sampai bulan kemarin manggilnya Beng Beng..."Bening bercerita bagaimana kocaknya sahabatnya tersebut.
"Lucu ya dia pelesetin nama kamu ke nama makanan gitu.Dia kan penyuka coklat dan cemilan itu.Katanya kamu juga sering beliin dia coklat itu ya?Mungkin itu kali ya, alasannya.Tapi kamu nggak marah kan?"tanya Malvin.
"Sempat kesal sih kak,awal awalnya.Lama lama dibiarin aja.Tapi dia teman yang baik.Cuma dia teman cewek aku yang benar-benar akrab selama sepuluh tahun terakhir..."cerita Bening.
"Oh,ya? Kalau teman cowok ada nggak yang dekat? atau ngedeketin..."tanya Malvin memberanikan diri.
"Ada kak,dia penyanyi,artis juga.Kami berteman dari SMA di Bali,sama sama hijrah ke ibukota mengejar mimpi.."Bening bercerita dengan polosnya toh ia juga merasa tak ada salahnya bercerita tentang Bastian karena ditanyakan juga dan memang benar hanya Bastian yang menjadi teman cowok sekaligus kakaknya yang dekat dengannya hingga kini.
Malvin ingat akan cerita adiknya tentang penyanyi yang disebut oleh gadis itu.Adiknya pernah menceritakannya, tetapi kata adiknya sampai sekarang mereka hanya dekat bak seorang kakak dan adik.Karena hal itulah membuat Malvin masih memberanikan dirinya mendekati Bening.
Ia pun bangga gadis itu berkata jujur.
"Kamu cantik sekali..."ucap Bastian saat keduanya sudah duduk berhadapan dengan suasana ruang yang didekorasi persis seperti yang biasa dilihatnya di film jika dua orang insan melakukan dinner romantis.
"Terima kasih.."Bening berusaha mencegah agar wajahnya tidak bersemu merah.
__ADS_1