
Malam harinya kedua orang tua Bening telah sampai di Bali.Mereka langsung menuju rumah sakit untuk menemui putri tercinta.Dengan sedikit berlari bu Livia membuka pintu kamar.Ia langsung memeluk putrinya.
"Ma...."Bening yang baru saja masuk di alam tidurnya setelah meminum obat kembali terbangun saat merasa ada seseorang memeluknya.
"Kok bisa jadi begini sih nak..."kata bu Livia sembari menangis.Berkali kali ia mencium kening sang putri dengan penuh kasih sayang.
Tak menjawab, Bening hanya diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.Melihat kehadiran ibunya ada rasa sesal yang mendera.Mungkin saja jika ia waktu itu pergi bersama sang bunda mungkin kecelakaan itu tidak terjadi.Ia merasa bersalah kepada ibunya, kepada kakek dan neneknya.
"Maaf ma.."ungkap Bening
"Masih nyeri nggak tulang belakangnya?"tak menjawab permintaan maaf putrinya,bu Livia lebih fokus pada kondisinya.
"Udah enggak ma..."jawab Bening.
"Beneran?"sang bunda memeriksa tubuh putrinya dari ujung rambut hingga kaki untuk memastikan keadaannya walau suaminya sudah bercerita bagian mana yang mengalami cedera.
"Pusing nggak?"tanyanya lagi disambut oleh gelengan dari putrinya.
"Bener nggak pusing?Kepala kamu nggak terbentur kan?"tanya bu Livia.
"Nggak ma,cuma nyeri di tulang belakang aja,sama di bagian sini.Tapi udah enggak kok,kan sudah dioperasi.."cerita Bening dengan senyumnya agar ibunya tak khawatir lagi.
"Ben...Ben... Kamu itu bikin mama kena serangan jantung aja tahu nggak?"saat suaminya tiba di Jakarta,ia bingung kenapa putrinya tak ikut serta.Ditanyainya suaminya,tapi pak Cahyo memilih untuk tidak menjawab karena situasinya yang tidak memungkinkan untuk ia langsung bercerita.
Rupanya hal itu malah membuat dirinya menjadi curiga dan tidak tenang.Jika alasannya adalah Daniel,tak mungkin jika putrinya kembali menolak untuk ke Jakarta saat tahu kakeknya meninggal.Ia terus menanyai suaminya.
__ADS_1
Hingga proses pemakaman selesai pak Cahyo pun perlahan mulai bercerita.Diajaknya istrinya masuk ke kamar lalu dengan penuh hati hati ia mengatakan yang sesungguhnya.Ia syok mendengarnya.Badannya lemes apalagi situasi hatinya yang masih berduka akibat kehilangan sang ayah.Dua hal yang beruntun terjadi pada orang kesayangannya membuatnya hampir terkena serangan jantung.
Untung saja dengan cekat dan siaga pak Cahyo berhasil memenangkannya.Ia menunjukkan semua foto tentang keadaan putri mereka.Meskipun awalnya tak percaya karena khawatir apa yang diceritakan suaminya hanya semata untuk menghiburnya tetapi pak Cahyo tetap dengan kesabaran hatinya memberi keyakinan kepada istrinya hingga menunjukkan beberapa foto Bening saat dioperasi juga sebelum ia berangkat ke Jakarta.
"Sorry ma... Jangan marah ya,ma..aku minta maaf.."ungkap Bening.
"Kenapa marah.Kenapa minta maaf juga? Memangnya kamu sengaja nyelakain diri?"ujar bu Livia.
Bu Melia dan pak Cahyo yang sejak tadi mengamati interaksi mereka tak memberi komentar.
"Mel... makasih ya.."kedua sahabat itu berpelukan.
"Iya, Liv...kamu kayak sama siapa aja..."jawab sahabatnya.
"Kamu nanyain kakek?"tanya sang bunda.Bening mengangguk.
"Apa kata kakek?Dia nggak kecewa kan,aku nggak ikut sama mami ke sana?"tanya Bening memastikan
"Kakek aman.. udah tenang... nenek juga sehat.Mama udah bilang kok ke mereka kalau kamu akan ke sana sama Daniel..."jawab bu Livia membuat Bening diam dan mengingat kakaknya Daniel.
"Iya, kamu cepat sembuh ya..biar bisa ke Jakarta sama Daniel.. Oh iya,tadi tante lupa ini ada titipan dari Daniel.."bu Melia menyerahkan sebucket bunga dan buku bacaan yang tadi diminta oleh Bening.
"Kakak tadi ke sini tan?Kok aku nggak tau?"protes Bening.
"Tadi kamu ketiduran waktu dia datang.Tante nggak enak bangunin kamu.."ujar bu Melia seidenya saja padahal ceritanya berbeda.Ia juga kaget saat perawat membawa hadiah tersebut.Meskipun ibunya merasa aneh kenapa Daniel tak masuk saja dan bertemu Bening tapi ia berpikir lagi mungkin saja karena tadi ada Bastian.
__ADS_1
"Pa, bantuin...aku mau duduk..."kata Bening yang begitu antusias hendak menyambut pemberian dari kakaknya.Dengan siaga, pak Cahyo langsung membantu putrinya memberi posisi yang aman.Setelah itu, Bening memeluk bunga tersebut dan menciumnya dengan bahagia.
"Hmmmm... rasanya biar tanpa obat pun bisa cepat pulih nih.. cukup dengan bunga saja..."komentar sang ayah.
"Papa,ih..."kata Bening dengan wajah yang merona membuat ketiganya tersenyum,tahu akan apa yang kini dirasakan putri mereka seperti mengintip potret masa muda.
Pak Cahyo dan istrinya sejenak melupakan rasa marah dan kecewa mereka terhadap Daniel saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putri tercinta.
Bening langsung mengirim pesan kepada Daniel untuk berterima kasih atas pemberiannya.Daniel yang menerima pesan tersebut saat dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menjemput ibunya pun berpikir untuk menemui adiknya tersebut sebelum berangkat sebab semua proses untuk keberangkatannya sudah final bahkan tiket pun sudah diurus.
Bangun dari tidur siangnya Bening kembali mengambil bunga yang ia letakkan di samping tempat tidurnya dan kembali menciumnya dengan wajah bahagia.Ia teramat menikmatinya, terbukti sampai memejamkan matanya sembari menghirup aroma dari bunga tersebut.
Ibunya hanya menggeleng gelengkan kepalanya.Meski ia kesal dengan Daniel dan marah karena merasa dialah penyebab putrinya mengalami kecelakaan, tetapi melihat putrinya yang bersukacita ia tak bisa berkata apa-apa.Juga melihat perhatian yang diberikan oleh ibunya Daniel untuk putrinya, rasanya ia perlu menurunkan egonya.
Karena itu ia yang melihat kedatangan Daniel, menyambut pemuda tersebut dengan ramah dan sejenak melupakan kekecewaannya.Ia memilih untuk pulang sebentar ke rumahnya setelah berbicara dengan Daniel di luar ruangan setelah dari semalam saat pulang dari Jakarta.
"Ehmm...."sebuah suara mengagetkan Bening.Ia takjub melihat siapa yang datang dan tak sempat menyimpan kembali bunganya.Bak seseorang yang tertangkap basah ia kini tak bisa berbuat apa-apa.
"Kakak..."ujarnya menahan malu.
"Yang itu pasti udah nggak harum lagi.Nih ada yang baru lagi, lebih wangi.."Daniel kembali memberinya sebucket bunga.
Tak berkata apapun Bening hanya menerimanya.
Daniel yang melihat kondisinya langsung pasca operasi langsung memeluknya dengan sejuta makna.Bening yang awalnya malu kini merasa jantungnya berdetak kencang apalagi saat Daniel mencium keningnya lembut.
__ADS_1