Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.27


__ADS_3

Daniel melangkah keluar dari rumah Widya dengan perasaan resah.Meskipun ia malu karena Bu Vitha tak membalas sapaannya dan tak menganggap keberadaannya tetapi ia tidak mungkin mundur begitu saja.Karena itu dia memilih untuk menerima bagaimanapun perlakuan Bu Vitha terhadapnya demi rasa sayangnya terhadap Widya.


Ia akan menunjukkan kepada ibunya Widya bahwa dirinya tidak membawa pengaruh buruk kepada putrinya seperti yang sudah ia tuduhkan.


Di tengah kegundahan hatinya, ia ingat Bening dan janjinya pada gadis tersebut saat mengantar Widya ke rumah sakit,ia telah diam diam memberi pesan kepadanya bahwa ia mau mengajaknya pergi setelah mereka mengantar Widya pulang ke rumahnya.


Dia harus memenuhi janji tersebut.Rasa bersalahnya karena telah banyak menyusahkan adiknya tersebut demi kepentingan Widya dan dirinya membuat ia ingin segera menemuinya.Ia ingin sekali berterima kasih untuk semua usahanya membantu Widya bisa keluar dari rumah.Bibirnya mengukir senyum mengingat gadis itu tetapi bayang bayang kejadian di rumah makan tiba tiba membuatnya resah.Bagaimana tidak, Bening begitu peduli terhadap Bastian dan malah merasa nyaman menerima semua perhatian Bastian yang dianggapnya terlalu lebay.


Ia jadi berpikir mungkinkah gadis itu benar benar jatuh cinta seperti yang ia ceritakan ke ayahnya.Bastian kah orang yang ia maksud? Daniel menggeleng gelengkan kepalanya membantah perkiraannya.Sepertinya ia sulit untuk menerima jika hal itu benar adanya.


Diambilnya handphonenya lalu mencari nomor handphone Bening dan kemudian menghubunginya.Sekali,dua kali hingga ketiga kalinya ia mencoba tetapi tak diangkat.


Dikendarainya mobilnya ke tempat ia meninggalkan Bening bersama Bastian.Mungkin saja mereka masih ada di sana,pikirnya.


Dalam perjalanan pun ia tetap mencoba menghubunginya tapi hasilnya tak berubah.Ketika sampai di depan rumah makan ia melihat motor yang biasa dipakai oleh Bastian terparkir di sana.


Karena itu ia tak ragu lagi untuk masuk kembali ke dalam karena berpikir bahwa orang yang dicarinya masih di tempat itu.


"Mbak,mau tanya.Teman saya yang tadi siang sakit masih di sini atau udah pulang?"tanyanya pada salah satu karyawan yang ada di situ.


"Oh...mas Bastian ya?"tanya karyawan tersebut.


"Iya,betul,mbak.."jawab Daniel


"Kalau mas Bastian tadi sudah diantar ke rumah sakit sama Bu Elis.."jawabnya.


"Terus teman saya yang satunya?yang tadi nemenin dia di sini mbak.."tanya Daniel lagi.


"Dia juga ikut ke sana tadi.Coba hubungi mereka saja mas untuk mastiin.Soalnya Bu Elis juga belum kembali.."Daniel pun melangkah keluar setelah mengucapkan terima kasih atas informasinya.


Daniel kembali mengecek handphonenya, barangkali ada pesan masuk dari Bening atau telepon tetap yang ada malah pesan dari pacarnya yang menanyakan keberadaan dirinya apakah masih di jalan atau sudah di rumah.Daniel memilih untuk tidak membalasnya.

__ADS_1


Tetapi rupanya Widya tak bisa menunggu jawaban terlalu lama.Ia pun menelepon sang pacar saat Daniel sedang melakukan panggilan ke nomor Bening.Mengetahui nomor handphone pacarnya sibuk dan sedang dalam panggilan lain membuat Widya kesal.


Daniel kembali membawa mobilnya menuju rumah sakit terdekat, rumah sakit tempat tadinya Widya memeriksakan kesehatannya.Ia berpikir jika Bastian membutuhkan pertolongan yang cepat ia pasti dibawa ke rumah sakit yang dekat.


Sesampainya di sana, awalnya Daniel bingung harus ke tempat mana.Ia jarang sekali ke rumah sakit dan bahkan saat ayahnya bolak balik rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ia tak pernah ikut demikian pun saat mengantar Widya.


Tak berselang lama ia melihat sosok yang ia kenal yakni ibunya Bastian berjalan masuk ke ruang IGD.Tak salah lagi,ia pasti datang untuk melihat kondisi anaknya.Ia pun berinisiatif untuk mengikutinya dari belakang tapi langkah kakinya terhenti di depan pintu IGD.


Melihat banyaknya pasien yang masuk dengan berbagai ekspresi kesakitan mereka membuatkannya takut.Ia juga ragu jika ketahuan datang ke situ apalagi kalau yang dicarinya tak ada entah apa yang ia akan katakan terhadap Bastian.Tak mungkin ia datang untuk mengunjunginya sementara keduanya tak pernah akur.


Ia memilih kembali ke mobil dan mencoba menghubungi Bening lagi.Hasilnya sama saja.Daniel pun menelepon ibunya untuk merencanakan sesuatu.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


"Pa, aku ke kamar dulu ya, rebahan bentar..."ujar Bening pada ayahnya saat mereka telah sampai di rumah.


"Oke.. papa juga mau siap siap ke tempat praktek..."jawab pak Cahyo.


"Nggak usah... kamu istirahat gih,sana..."kata ayahnya penuh perhatian.


Bening pun merebahkan badannya di atas kasur empuknya untuk menghilangkan sedikit rasa capeknya.Memang, hari ini rasanya capek sekali.Tetapi membayangkan wajah Widya dan Daniel yang tampak bahagia membuatnya lega walaupun ia masih belum bisa menghapus total kesedihannya.


Rasa kantuk kembali menyerangnya.Tapi hari sudah menjelang sore,ia ingat kata neneknya bahwa tak baik bagi seorang gadis untuk tidur di waktu sore.Walau mungkin itu mitos tapi selama ini gadis itu meyakininya.Bening, ingat akan rencana keluarganya untuk merayakan perayaan akhir tahun bersama tapi mereka tidak lagi membahasnya sejak malam itu padahal waktunya tersisa tiga hari lagi.Ia pun bangun dan mengambil handphone dari dalam tasnya.


Alangkah kagetnya dirinya saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Daniel juga pesan yang masuk.Bening membuat handphonenya dalam mode diam saat menuju rumah sakit karena tak enak dengan Bastian.Suara handphonenya mungkin akan mengganggumu.


Dibacanya pesan tersebut yang menanyakan keberadaannya sudah di rumah atau belum.Daniel juga meminta maaf karena tak bisa mengantarkannya pulang.Membaca pesan tersebut Bening tersenyum sendiri.Ia senang karena Daniel masih peduli padanya.


Ia pun segera menghubungi Daniel.Tak butuh waktu yang lama untuk laki laki tersebut mengangkatnya.


"Halo dek... Udah di mana?"tanyanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Selamat sore kak...iya,aku udah di rumah.Tadi pulang sama papa dari rumah sakit.Maaf,tadi nggak angkat telepon soalnya hp aku kasih silence.Takut ngeganggu, apalagi di rumah sakit .."Bening memberi tahu alasannya.


"Oh, gitu? biar bisa fokus ngurusin pacar ya?Seneng banget dia..."goda Daniel atau mungkin dia penasaran bagaimana reaksi adiknya tersebut.


"Bukan seperti itu juga.Aku merasa bahwa kak Bastian sampai seperti itu gara gara aku.Kalau saja dia nggak nggak makan mungkin nggak seperti itu kejadiannya atau mungkin aku yang ada di posisinya karena kami sama sama nggak suka pedas..."jelas Bening agar Daniel tak asal bicara.


"Salah dia sendiri.Kalau tahu nggak suka pedas kenapa malah maksain diri?Mau jadi superhero siang bolong"Daniel berbicara sinis.


Bening memilih untuk tidak menanggapinya dan tak perlu memberikan pembelaan.


"Gimana Widya kak? Jadi shoping kan, tadi?"tanya Bening.


"Yes,she's happy.I've already taken her back to her house"jawab Daniel.


"Syukurlah kalau begitu.I'm happy to hear that.. Ketemu tante Widya nggak?"tanya Bening lagi.


"Yes...He asked you"ucap Daniel tanpa menceritakan bagaimana perlakuan Bu Vitha terhadapnya.


"Iya, nanti kapan kapan aku main ke sana.By the way, nanti malam tahun barunya jadi nggak kak?"Bening mengingatkan laki laki itu perihal rencana itu.


"Ya, jadi dong..Kan papa nunggu itu dulu ke New York..Jadi nggak mungkin dibatalin.."jelas Daniel membuat Bening ingat dengan pak Darwin.Ia jadi ingin menjenguknya.


"Oh,iya...om Darwin sehat nggak kak?"


"Iya, sehat.Mau nggak ketemu papa?"Daniel mengajak Bening untuk pergi seperti yang ia janjikan akan mengajaknya pergi.


"Mau...mau..ke mana?"tanyanya antusias.


"Surprise...Kamu siap siap aja, nanti aku jemput..."Daniel sengaja membuat gadis itu penasaran.


"Oke, baiklah..."Bening memutuskan obrolan dan menyimpan handphonenya di atas meja.

__ADS_1


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Bening segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Sedapat mungkin ia tak akan membiarkan laki laki itu menunggunya terlalu lama setelah tiba di rumahnya.


__ADS_2