
"Mungkin karena kombinasi keduanya.Teknik yang kakak buat dan salepnya bekerja sama.Jadi manjur deh..By the way,tadi si embaknya bilang gini waktu dia kasih salepnya ke aku.Non,Ben...ini non...dari mas Bastian.."Bening mencoba untuk mengguraunya.Padahal sebenarnya mbak Miya tak salah menyebut nama pemuda tersebut.
"Enak aja...itu aku yang ngasih.Tadi itu mbak Miya,kan?"Bening menahan diri untuk tidak tertawa.
"Iya,mbak Miya..."jawab Bening.
"Awas aja besok kalau aku ke toko.Bakal aku marahin tuh, mbak miya..."ancam Daniel.Rupanya ia sungguh kesal.
"Kakak kok suka ngancam sih, sekarang?serem tau...."Daniel memang tidak bisa menerima dirinya malah dinamai Bastian oleh karyawan bu Livia.
"Ya, habisnya si mbak Miya itu ngeselin.Masa aku dibilang si tenor?Nama dia aja aku ingat,masa dia enggak ingat nama aku.Minus kali ya dia atau katarak sampai nggak bisa bedain yang mana Tenor yang mana aku..."Daniel semakin menjadi jadi.
Bening tak menyangka dia akan sereaksi itu ia pun akhirnya tertawa karena merasa lucu.
"Kenapa kamu malah tertawa,dek?Kamu senang ya tadi?sangkanya itu dari si tenor terus waktu tahu itu dari aku pasti kecewa kan, karena tak sesuai harapan kamu?"cerocos Daniel.
"Astaga kakak...ngomong apa sih...?masa karena itu aja marah?pake bilang minus, katarak.Pedas amat kata katanya.Itu karena mbak Miya keliru aja.Dia itu ngefans banget sama kak Bastian, jadi yang ada dalam pikirannya itu hanya kak Bastian"Bening jadi berpikir untuk terus saja menjahilinya alias ngeprank kakaknya karena sudah mencuri waktu tidurnya.
Ia bangun dan duduk bersandar di bahu tempat tidurnya.Rasa kantuk yang tadi melandanya kini telah pergi diganti oleh semangat untuk membuat sang kakak kesal.
"Ngefans sama si tenor?gimana ceritanya?yang benar aja..."Daniel tertawa sinis.
"Iya, benar...Dia ngeidolain kak Bas karena suaranya bagus..kata mbak Miya kak Miya suatu saat nanti dia pasti akan jadi penyanyi terkenal.Kak Bastian juga ganteng,lucu, baik,gemesin..."Bening bertutur sambil berusaha keras menahan ketawa.
Daniel mencebikkan bibirnya geli mendengar penuturan adiknya.
"Penyanyi dari Hongkong?Itu menurut kaya mbak Miya atau menurut kamu?"tanya Daniel.
"Mmmm.. menurut aku sama mbak Miya.. mungkin menurut gadis gadis di luar sana yang mengenal kak Bastian pasti akan sependapat dengan aku dan mbak Miya..."jawab Bening kemudian menutup mulutnya.
"Oh gitu... jadi beneran kamu jatuh cinta sama si Bastian?"Bening mulai panik ketika ditanya demikian.Ia tak ingin salah untuk menjawab.
"Loh kok jadinya malah nanyain itu sih kak... Nggak ada kaitannya?"timpal gadis itu.
"Memangnya kenapa?Kan tinggal dijawab, benar atau tidak?"Daniel begitu ingin tahu jawaban dari adiknya itu.
__ADS_1
"Kalau aku nggak mau jawab, nggak apa-apa kan?"Bening memilih untuk tidak menjelaskan apapun.
"Kakak tetap nggak setuju dan nggak bolehin kamu pacaran..."tegas Daniel.
"Kenapa?masa kakak boleh tapi aku enggak?"protes Bening.
"Kakak bisa jaga diri.."Daniel memberikan alasan yang membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.
"Memangnya, pacaran mau ngapain?"Bening merasa alasan yang diajukan Daniel tidak masuk akal.Ia mengharapkan alasan lain yang akan membuatnya bisa menerima dan sepakat dengan alasan tersebut.
"Pokoknya, nggak boleh... kalau kamu nganggap aku sebagai kakak kamu,maka kamu harus nurut,dek.. nggak boleh ngebantah..."Bening menghela nafas panjang.Selalu saja begitu, karena dia adalah kakaknya bukan karena hal lainnya yang lebih menyentuh perasaannya.
"Dek...."panggil Daniel saat tak ada jawaban dari perkataannnya.
"Iya..."jawabnya tak bersemangat.
"Nggak boleh ya..."Daniel sekali lagi berkata seolah olah sedang memperingati seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan sesuatu.
"Hmmmm..."Daniel tahu dari jawaban adiknya terkesan dibuat buat supaya ia senang.
"You,re welcome..."jawab Bening sudah kehilangan selera pranknya.
"Besok aku ke toko,ya..."kata Daniel.
"Ngapain kak?Kakak mau marahin mbak Miya,ya? jadi ancaman kakak, benar? tadi itu aku hanya bercanda kak.Mbak Miya bilang itu salepnya dari kak Daniel kok, bukan kak Bastian..."Bening pun pada akhirnya mengakui yang sebenarnya.
"Adek..... kamu tuh ya,polos banget.Nggak Mungkinlah aku pergi cuma buat ketemu mbak Miya?Oh... jadi kamu dari tadi ngerjain? Niat banget sih?"protes Daniel.Kesal dan senang bercampur menjadi satu.
Ia kesal karena telah menghabiskan waktu hanya membahas tentang mbak Miya jadinya ia lupa tentang hal yang menjadi tujuan utamanya menelepon dan mengganggu tidur dari adiknya tersebut.
Ia juga senang karena Bening mau menyanggupi permintaannya.Walau tidak adil seperti yang dikatakan oleh ibunya tetapi entah mengapa ia tidak rela jika adiknya tersebut berpacaran.Ia ingin menjaga dan melindunginya.Tak ingin adiknya tersebut tersakiti perasaannya meskipun ia tidak sadar bahwa dirinyalah yang sudah sering membuat hati Bening terluka.
"Habisnya,kakak ngeselin.Udah bilang,aku ngantuk masih aja maksa buat ngobrol.Ya,udah aku ngeprank aja.."Bening heran terhadap keberaniannya menjahili Daniel.Ia tidak tahu bagaimana bisa mendapatkan energi tersebut,tiba tiba saja ide itu terlintas di benaknya.
"Kamu tuh ya...udah berani ngerjain aku...tega.."ujar Daniel sembari tertawa.
__ADS_1
"Kakak lebih tega... udah berani marahin aku,ngancam lagi..."kata Bening dalam hatinya.Jika mengingatnya akan membuatnya bersedih.
"By the way... kakak kok ngikutin mama sih?plesetin namanya kak Bastian jadi tenor?"ujar Bening membuat mood Daniel jadi berubah karena gadis itu kembali menyebut namanya.
"Hallo kak..."panggil Bening ketika tak ada jawaban dari kakaknya.
"Hmmmm..."Daniel menjawab lesu,bisa ditebak jika ia enggan dan tak suka untuk membahas atau menyebut nama Bastian lagi.
"Kakak udah ngantuk?"tanya Bening.
"Belum..Pulang jam berapa tadi dari toko?"tanya pemuda itu malah membahas hal lain.
Gadis itu kini paham Daniel memang tidak menyukai Bastian,sebaik apapun Bastian terhadapnya.
"Jam lima.."jawabnya.
"Dijemput siapa?"tanya Daniel.
"Papa..."sahut Bening.Kini rasa kantuknya kembali lagi.
"Oh ..maaf ya.."kata Daniel.
"Untuk?"Bening bingung kenapa kakaknya itu kembali meminta maaf.
"Karena tidak bisa ngantar adek pulang.Kan tadi perginya sama aku.Coba aja tadi hp aku nggak ketinggalan, mungkin aku akan bantu kamu lebih lama dan ngantar kamu pulang..."Daniel merasa bersalah.
"Nggak apa-apa..Yang penting kakak sama Widya nggak berantem lagi...Tadi Widya bilang apa,kak? Dia nggak marah,kan?Aku nggak bilang ke dia kalau kakak datang ke toko...dan untungnya dia nggak nanya juga sih..."cerita Bening.
"Aman kok..."jawab Daniel.
"Syukurlah..."ujarnya.
Daniel merasa terenyuh mendengar ucapan Bening.Hatinya merasa bersalah telah menyalahkan gadis itu saat ia dan Widya bertengkar.Ia ingat nasihat ibunya bagaimana ia harus bersikap adil dan seimbang antara pacar atau sahabat karena selain adik ia juga sudah menganggap Bening sebagai sahabatnya yang sangat mengerti dirinya.
Setelah menyudahi obrolan mereka, Bening memandang potret keduanya yang tersimpan indah di atas meja.Sama halnya dengan Daniel ia pun teringat nasihat sang ayah.
__ADS_1
Cinta saja tidak cukup.Harus saling jatuh cinta.Karena itu seturut jejak sang ayah rasanya tidaklah salah jika mulai mendoakan pasangan hidup.Gadis itu berdoa untuk pasangan hidup yang dari Tuhan,pada waktu Tuhan dan sesuai rencana Tuhan untuknya.Bayang bayang wajah Daniel terus terlintas saat ia berdoa meskipun ia tidak memohon untuk berjodoh dengannya.