Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.50


__ADS_3

Jantung bu Melia berdetak lebih kencang saat pak Darwin memegang kedua tangannya.Ia tak tahu lagi apa yang mereka lakukan ini benar atau salah.Hatinya sangat bertolak belakang dengan logikanya.


"Maukah kamu memulai semuanya dari awal lagi,mom?"pak Darwin memulai aksinya.Meskipun gugup dan khawatir ditolak tapi ia tak mau menundanya.Waktunya tidaklah banyak.Tiga hari lagi ia akan berangkat pulang ke negara asalnya.


"Maksudnya dad?"Wanita itu mulai gugup.


"Saya mau kita mulai lagi semua tahapnya.. dari awal.Rasanya tak sah jika kita tidak memberi nama pada hubungan kita ini... dengan demikian, jika kepastian itu ada saya akan tenang tidak takut terhadap apapun..."pria itu terlihat bingung untuk menjelaskan maksud keinginannya.


"Tapi dad...kita ini sudah bercerai..."jawab Bu Melia.


"Justru karena itu mom...Di hari kamu datang membawa surat itu, besoknya saya langsung ke pengadilan bersama pengacara saya.."pak Darwin pun dengan perlahan menjelaskan semuanya.Keduanya mulai berdebat.Setiap pertanyaan dari bu Melia dijawabnya dengan sabar dan memberikan penjelasan selembut mungkin.Meski awalnya bu Melia ragu tapi entah kenapa hatinya diselimuti kehangatan.


"Kamu tahu mom, saya mengajak mommy ke tempat ini bukan tanpa alasan.Saya tahu pasti ada rasa trauma saat di awal tadi kamu ragu untuk masuk.Tapi melihat mommy mampu duduk di tempat ini dengan senyum bahagia, membuat saya sangat merasa lega.Itu artinya pintu maaf itu telah terbuka.Karena itu saya memberanikan diri untuk menyatakan niat dan kesungguhan saya.. Saya tidak tahu kalimat atau kata apa yang pantas tapi saya tidak bisa mencintai orang lain karena saya tidak berniat melakukannya.. Karena itulah saya terus berjuang selama tiga tahun ini.Jika saya disuruh memilih antara sembuh atau kamu saya memilih mommy.Lebih baik mati saja daripada harus hidup sendirian..."ujarnya dengan penuh kesungguhan hati.


Ia yang adalah seorang pemimpin yang selama ini dikenal brilian dan tak takut pada siapapun,seakan akan kehilangan kemampuan merangkai kata.


"Ssst... nggak boleh bilang begitu dad... Nanti Tuhan marah.. Ucapkan yang baik baik saja biar menjadi doa.Lagian kalau daddy nggak ada, saya......"bu Melia tak melanjutkan kata-katanya.Ia menjadi malu sendiri.


"Makasih mom... Jadi gimana?"Rasa nervous kembali menyerang membuat pria itu mengocok ngocok tangannya untuk mendapatkan kehangatan dan energi.


"Dad.... sejujurnya saya bahagia dengan hubungan kita akhir akhir ini.. saya bersyukur sekali kita bisa berkomunikasi dengan baik.Peduli satu sama lain.Tapi saya takut dad.. saya takut disakiti lagi.. "ujar bu Melia.


"Saya paham mom.. semua tidaklah mudah.. asal mommy memberi kesempatan saya pasti akan menggunakannya sebaik baik mungkin.Akan saya buktikan... Saya mengikuti anjuran dokter Cahyo untuk berobat di New York dengan sungguh-sungguh.Itu adalah bukti keseriusan saya yang pertama.. Lihat saja apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Mommy tak usah berbuat apa-apa.Cukup bawa saya dalam doa.Doakan saya sembuh.."Wanita itu mengangguk dan mengamininya.


Pak Darwin lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya.Ia berdiri dan berlutut di hadapan bu Melia.


"Daddy ngapain?"wajahnya bak kepiting rebus saat melihat apa yang dilakukan pak Darwin.


"Maukah mommy menjadi kekasih saya lagi?"ungkapnya sambil membuka kotak yang berisi sebuah cincin tersebut.


"Astaga dad... kenapa harus seperti ini?ayo duduk..."ucapnya malu.


"Tapi mommy belum menjawab..."katanya pak Darwin tetap tak mengubah posisinya.


"Harus jawab apalagi? Daddy sudah tahu jawabannya..ayo duduk...."rengeknya.


"Berarti mommy mau?"pak Darwin membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Iya..."kata itu akhirnya keluar begitu saja dari mulut bu Melia.


"Ye.....y...."pria itu melompat kegirangan.Hatinya dipenuhi sukacita.Sedangkan bu Melia hanya tersenyum memandangnya.


"Tuhan.... semoga ini semua bukan kesalahan... bukan dosa..."ungkap Bu Melia dalam hatinya.


Pria itu meraih tangan ibu dari anaknya lalu memasangkannya sebuah cincin.


"Harus ya, seperti ini?"ujar bu Melia.


"Yap...ini simbol dan bukti bahwa kita ada ikatan..."ucapnya.


Wanita itu hanya tersenyum.Dengan lembut pria itu mencium tangannya.


"Boleh?"tanya pak Darwin nervous.Bu Melia berdiri lalu menunduk tanda ia setuju memberi keningnya.


Tak membuang waktu, pak Darwin langsung mengecup keningnya penuh kasih hingga beberapa menit lamanya.


Jantung bu Melia berdebar.Ia tetap berusaha mengontrol perasaannya agar tetap waspada.


"Dad... saya punya permintaan..."ucap wanita itu tiba tiba terpikir untuk mengatakan sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya.


"Iya,ada apa mom?"pak Darwin mendadak deg degan, takut bu Melia akan merubah keputusannya.


"Saya belum bisa melakukan hal hal yang biasa dilakukan oleh orang orang yang pacaran pada umumnya.Daddy ngerti kan, maksud saya....."ungkapnya.


Pak Darwin kembali meraih tangannya.


"Mommy tenang saja.. selama tiga hari ke depan saya tidak akan macam macam.Saya tidak akan mengkhianati janji saya ini.Mudah mudahan mommy percaya bahwa semenjak malam kelam itu saya tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun.So, kalau selama itu saya bisa menahannya apalagi sekarang.Hanya dalam beberapa bulan sambil kita menunggu panggilan dari pengadilan mungkin setelah saya mengikuti pengobatan dulu.Saya akan menahan diri.Percayalah..."Pria itu menepuk-nepuk punggung tangannya memberi keyakinan.


"Terima kasih dad..."akhirnya ia pun bernafas lega.


"Tapi bukan berarti saya tidak pernah merindukannya mom.Saya laki laki normal.Hanya yang saya rasakan sekarang pure only love... bukan nafsu..."jelasnya sekali lagi membuat bu Melia berkaca-kaca.


"Happy anniversary mommy and daddy..."seorang pemuda yang menyamar menjadi seorang pelayan datang kepada mereka membawa samabe cave dining menu.


"Boy...."bu Melia berteriak senang.Ia sangat mengenal suara anaknya meskipun ia berpakaian seperti pelayan di tempat itu.

__ADS_1


Dipeluknya Daniel dengan begitu erat.Tangisnya pun pecah saat Daniel kembali membawa sebuah kue dengan lilin di tengahnya.


"Selamat berbahagia untuk kalian.. teruslah seperti ini apapun yang akan terjadi..."ucap Daniel pada kedua orang tuanya yang berdiri di hadapannya.


"Amin.. Thank you boy..."ucap keduanya.


"Sebelum tiup lilin,make a wish dulu..."Daniel mengingatkan keduanya.


Mereka pun memejamkan matanya masing-masing dan mengucapkan doa di dalam hati kemudian sama sama meniup lilin.


Ketiganya berpelukkan haru dihiasi tangis.


"Kalian berdua kerja sama,ya?by the way,kok happy anniversary sih? kan sudah lewat banget? Kenapa nggak happy birthday aja ucapannya?Kan daddy baru saja berulang tahun?"protes bu Melia sambil melap air matanya yang terus mengalir.


"Kita sudah ngerayain ultahnya daddy sama sama mom...yang tak pernah dirayain selama tiga tahun ini adalah anniversary kalian..."jelas Daniel.


"Iya,mom...ini sekaligus perayaan sekaligus selama tiga tahun terakhir..."dengan bantuan pelayan pak Darwin memberikan tiga buah kado untuk tiga tahun terakhir.


Bu Melia memandangnya saksama.Dari bingkisannya sepertinya ia pernah menerimanya hanya ditolaknya saat ulang tahun pernikahan mereka dari tahun pertama rumah tangga mereka bermasalah hingga yang terakhir yaitu tahun ketiga yang sebentar lagi berakhir.Tetapi ia memilih untuk membuka semua kado itu jika sudah sampai di rumah.


"Aku hanya bisa memberi ini mom... Daddy nggak ngasih aku uang untuk membeli kado"Daniel memberi sebucket bunga beserta sebuah kotak.Ayahhnya hanya menggeleng dan kepalanya sambil tertawa.


"Dibuka sekarang mom..."ujar Daniel.


"Harus sekarang ya?apa nggak langsung makan aja... daddy udah lapar mungkin.."ujar sang bunda.


Suasana menjadi kian haru saat bu Melia membuka isinya.Sebuah kalung berlian yang berharga fantastis.


"Hah? kenapa harus seperti ini Dad?ini terlalu mahal.Terlalu berlebihan... Astaga...."ucap bu Melia pada pak Darwin sungguh sangat kaget.Ia memprotesnya pada pria itu karena ia tahu pasti ia yang membelinya.


"Kok protesnya ke daddy,mom...aku yang beli...aku yang ngasih kadonya.."protes Daniel.Bu Melia tertawa mendengarnya.


"Apa yang sudah kamu jual,boy?"tanyanya pada putranya.


"Nggak ada....cuma jual ide ke papi...jadi dibayarnya pake kado ini..."jawab Daniel membuat ibunya gemas padanya.


"Itu karena kamu juga berharga mom... bahkan lebih dari benda itu..."Bu Melia hanya bisa menutup mulutnya mendengar penuturan pak Darwin.Matanya berkaca-kaca lalu memeluk pria yang terus membuatnya terpesona.

__ADS_1


__ADS_2