
Dari kado yang ia pegang sekarang yaitu ketiga foto dari momen penting dalam perjalanan cinta mereka, memberikannya gambaran bahwa betapa pentingnya mendokumentasikan setiap momen berharga dalam hidup.
Alasannya adalah agar selalu diingat karena waktu tidak berputar mundur dan moment tersebut tidak akan bisa terulang kembali.
Memiliki momen kebersamaan dengan orang orang tersayang di hari spesial, pasti merupakan momen yang penuh emosional.Tangis haru, kebahagiaan dan keceriaan larut dalam satu waktu langka itu.
Karena semuanya tidak bisa terulang,maka dengan melihat foto foto tersebut, dapat memunculkan kembali, suasana seperti waktu itu.
Dengan melihat detail detail foto di hari kebahagiaan,tentu akan membuat senyuman tercipta dengan sendirinya.
Senyum dan air mata bergantian menghiasi wajah Bu Melia sedangkan pak Darwin dengan lembutnya menghapus air mata mengalir membasahi pipinya.
Sebelum menikah,istrimu tak pernah menunggumu.Demikian pun suamimu tak pernah sengaja datang untuk menemuimu pertama kalinya.Tapi kalian telah dipertemukan Tuhan untuk berjodoh, dengan caraNya,pada waktuNya dan oleh kasihNya.Bersukacitalah atas anugerah dan cinta Tuhan yang teramat besar dalam hidup kalian.
Cahyo & Livia
Tak ada ucapan selamat ulang tahun dari sepasang suami istri tersebut.Rupanya mereka sengaja memberi kado kado berisi foto foto tersebut tanpa memberi tahu maksudnya karena mereka yakin bu Melia dan pak Darwin bisa memaknainya sendiri.Selama ini dari awal prahara menyerang rumah tangga mereka, sepasang suami istri itu selalu setia mendampingi dan berusaha melakukan yang terbaik sebisa mereka tanpa adanya intervensi.
Segala keputusan sepenuhnya ada pada Bu Melia dan pak Darwin karena mereka yang memulai, mereka yang menjalani dan mereka yang paling tahu apa yang sedang terjadi.Tetapi sebagai sahabat dan keluarga bu Livia dan pak Cahyo selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan mereka dengan harapan keputusan tersebut telah dipikirkan secara matang segala konsekwensinya dan merupakan satu satunya keputusan yang terbaik dari banyaknya pilihan.
Melihat bu Melia yang tak henti hentinya menangis, hati pak Cahyo kembali diserang rasa bersalah.
Rasa bersalah dan penyesalan karena telah membawa pernikahan mereka kepada keadaan hari ini.
Sebagai seorang suami dan seorang ayah harusnya ia bisa memberi kenyamanan dan kebahagiaan terhadap istri dan anaknya.Hati pak Cahyo benar benar sedih.
__ADS_1
Walau ia sudah bertekad untuk tidak ingin hidup dalam penyesalan lagi, tetapi sebagai seorang manusia biasa akan ada saja hal yang ditemui yang akan membuat penyesalan itu kembali ada.
"Jangan menangis lagi mom... please..."ujarnya lembut.
Bu Melia memandangi pak Cahyo.Ia merasa iba melihatnya dengan wajah penyesalannya.
"Saya merasa bersalah melihat foto foto ini dad.Saya sangat menyesal.Kok bisa pada akhirnya kita seperti ini.. Saya minta maaf.."ujarnya dengan berurai air mata.
"Kamu tahu mom... minta maaf adalah bentuk ganti rugi dari kesalahan yang dibuat.Mommy salah apa? Mommy nggak bersalah?Saya yang salah..Saya tahu,kata kata saja tidak cukup.Harus ada pembuktian.Harus ada ganti rugi terhadap kondisi kita yang sekarang.. Mungkin waktu tiga tahun tidaklah cukup.Mommy sudah berjanji akan memberi saya kesempatan.I am so grateful.I promise I will fight to heal.Saya mohon mommy sabar saya akan memulihkan semuanya dengan kesungguhan saya.So,never cry or be sad again"pak Darwin kembali mengulangi janjinya dengan segala kesungguhannya.
Wanita itu mengangguk dengan air mata yang tak berhenti mengalir.Bukan karena rasa bersalah lagi atau penyesalan lagi tetapi karena terharu dengan semua janji yang kembali diucapkan oleh ayah dari putranya tersebut.Entah mengapa ia merasa begitu lega, dadanya plong,beban yang selama ini dipukul terasa telah terangkat.
"Thank you dad.. cepatlah sembuh..."hanya itu yang bisa wanita itu ucapkan.Ia takut salah untuk terlalu banyak berbicara.
πΎπΎππΎπΎ
Daniel berbaring di tempat tidurnya sambil memegang handphonenya.Ia belum berpikir untuk tidur.
Ayahnya sudah memberitahunya saat makan malam bahwa mereka akan merayakan malam pergantian tahun di hotel milik mereka.Mengenai acara dan segala persiapannya akan dilakukan oleh para pegawai ayahnya sedangkan jika ada yang mau diusulkan putranya tersebut tinggal memberitahunya kepada penanggung jawab yang sudah ditunjukkan ayahnya.
Daniel ingin menyampaikan kabar gembira tersebut kepada adiknya Bening, sekaligus menanyakan kondisinya.
"Hallo, selamat malam kak. "jawab Bening dengan suara parau.
"Malam...udah ngantuk ya dek?"tanya Daniel berharap adiknya itu tak akan memutuskan untuk menyudahi panggilan tersebut lantaran tak sanggup lagi menahan kantuk.
__ADS_1
"Iya..aku ngantuk mau tidur.."ucap Bening.
"Ngantuk banget ya,dek? Masih bisa ditahan nggak?Mau ngobrol sebentar..."Daniel malah menawarkannya untuk ngobrol padahal gadis itu sudah memberitahu tentang apa yang ia rasakan.
"Nggak bisa besok pagi aja ya kak?aku udah ngantuk banget, mau tidur..."Bening merasa tak bisa lagi untuk terus berbicara akibat rasa kantuk yang menyerangnya apalagi seharian ia berada di toko dan Daniel tahu itu.
"Ya, udah... kalau gitu jangan dimatiin handphonenya, nggak apa-apa kamu tidur gih sana,tapi jangan matiin teleponnya ya"kata Daniel membuat Bening kesal.
"Apaan sih,kak?Mana ada seperti itu.Ada perlu apa?Mau ngomong apa?"omel Bening.
Ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya.Daniel mulai berubah.Selama ini ia tidak akan memaksa jika sudah diberitahu apalagi pemuda itu tahu apa yang dilakukan oleh Bening hari ini.Biasanya ia malah akan memberi banyak sekali anjuran jika gadis itu capek, disuruh istirahat lah, minum air hangat lalu dan banyak lagi perhatian yang lainnya.
"Maaf dek...ya udah aku matiin telponnya.. kamu tidur gih,sana.."ucapnya.
Kini Bening malah merasa bersalah.Ia menyesal telah mengomelinya.Untung saja pemuda itu tak kunjung mengakhiri teleponnya.
"Kakak ngambek?"tanya Bening lalu bangun dan mengambil segelas air putih agar lebih segar dan mengusir sedikit rasa kantuknya.
"Nggak kok,dek...maaf ya,aku maksa.Padahal kamu sudah ngantuk banget.Aku cuma mau tahu, gimana dahi kamu.. masih bengkak nggak? masih sakit?"Bening langsung dihinggapi perasaan bersalah.Ia sudah berpikir negatif.Ia merasa bahwa pemuda itu tidak lagi peduli terhadapnya.
"Udah... udah aman kok,kak... udah nggak bengkak dan nggak sakit lagi.Makasih ya,kak salepnya.."Bening menjawab senang.
"Oh....jadi bengkak dan sakitnya hilang karena salepnya?bukan karena teknik aku tadi?"goda Daniel.
Bening kembali mengingat teknik yang dimaksud oleh kakaknya itu.Teknik yang telah berhasil membuat jantungnya berdetak lebih kencang.Teknik yang membuat perasaannya tak karuan.Momen pertama kalinya ia diperlakukan demikian yang langsung membuat darahnya berdesir.
__ADS_1