
Bu Melia menitikkan air mata mengingat bagaimana mertuanya sangat menerimanya dulu hingga memberikannya banyak sekali hadiah termasuk gaun yang kini dipakai oleh sebening.
Bila menyadari kenyataan pahit tentang rumah tangganya sekarang hatinya teriris nyeri.Tetapi apa yang sudah diputuskan hendaknya bisa dipertanggung jawabkan.
"Tan... nanti gaunnya saya balikin..ini pasti sangat istimewa untuk tante..."ujar Bening.
"Jangan...jangan...kamu tidak boleh mengembalikannya.Ini buat kamu.Iya,memang gaun ini sangat berarti bagi tante.Tapi kamu juga orang yang istimewa buat tante dan keluarga tante.Jadi kamu pantas menerimanya.Tapi kamu beneran suka nggak? Jangan jangan nggak sesuai selera kamu lagi..."Bu Melia menatap wajah Bening yang berbinar-binar.
"Suka kok tante...suka banget..malah tadinya kalau tante nggak ngasih aku bakalan memohon mohon biar sama tante.."kata Bening.
"Bisa aja kamu nak..Tante malah kepikiran kayaknya mulai sekarang tante harus sering sering ngasih kamu hadiah seperti yang mertua saya dulu lakukan untuk tante dengan harapan kamu berjodoh sama anak saya..."Bu Melia berkata dengan senyum menggoda.
Bening kaget mendengarnya.Walaupun dalam hatinya bergembira, tetapi ia tidak mau besar kepala mendengarnya, siapa tahu Bu Melia hanya menggodanya.
"Kenapa harus dikasih hadiah tante,kalau berjodoh kan biar tanpa hadiah juga"Bening berspekulasi padahal dalam hatinya ia mengamini perkataan itu.
"Ya, kalau tante sering ngasih kamu hadiah kan nanti kamunya jadi nggak enak buat nolak anak tante...iya nggak?"Bu Melia membenarkan alasannya.
"Tante ada ada aja...kak Daniel itu cuma nganggep aku adiknya tan.Dia sudah punya.." Bening tak melanjutkan perkataannya.Ia takut nantinya ia akan disalahkan lagi karena sudah menceritakan hal itu pada ibunya.Mungkin saja Daniel juga ingin merahasiakannya dari orang tuanya.
"Sudah punya pacar?Iya kan?"tebak Bu Melia untuk mengisi ucapan Bening yang terpotong.
"Tapi nanti jangan bilang ke kak Daniel tan, kalau saya yang sudah beritahu tante..."Ungkap Bening dengan wajah sendu.
"Nggak lah ..tante udah tau kok... Widya kan?Dia teman kamu juga,kan?"Bu Melia memastikannya.
Bening mengangguk.
Suara ketukan pintu mengganggu obrolan mereka.
"Mom...kok lame banget.. parah ya, lukanya?Aku boleh masuk nggak?"teriak Daniel dari luar pintu.
"Anak itu, nggak sabaran banget... mengganggu aja.."omel sang bunda.
"Mom...."panggilnya lagi.
"Iya,bentar.. lukanya cukup serius.."sahut Bu Melia membuat putranya semakin panik.
"Kalau begitu ke rumah sakit aja mom..."Daniel kesal ibunya tak kunjung membuka pintu.
"Dek...bukain pintunya dek..."pemuda itu sekarang meminta bantuan Bening.Gadis itu pun berdiri ingin membukakan pintu.
"Jangan...biar kita kerjain.Siapa suruh tadi dia ngejalanin kamu..."Bu Melia memberi ide pada Bening.
__ADS_1
Wajah gadis itu memberi isyarat kalau dia tidak menyetujuinya.
"Bening nggak bisa jalan,boy..."sang bunda memulai aksinya.
"Mommy...bukain pintunya..dek...pliss buka pintunya..kamu nggak apa-apa kan?"pinta Daniel khawatir.
Gadis itu pun langsung memohon pada Bu Melia untuk membuka pintu.
"Tan... bukain aja ... kasihan"Bening memohon dengan sungguh.Bu Melia tersenyum melihat ekspresinya.Ia pun menyetujui permintaan gadis tersebut.
Tanpa membuang waktu lagi, Bening segera melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Astaga dek,... lama amat bukanya..."Daniel berkata pelan dengan memegang dadanya.Ia kini terpukau melihat penampilan Bening.
Bening memasang senyumnya.Daniel yang awalnya kesal karena tak kunjung dibukakan pintu kini diam saja menatapnya.
"Kok malah bengong?Kamu terpesona ya...."goda Bu Melia kepada putranya.
"Apaan sih mom?"sahut Daniel salah tingkah.
"Mama lama amat ngobatinnya.Jadinya saya khawatir..."sambung Daniel.
"Cieh .. yang udah khawatir aja...Tapi dia cantik kan?"Lagi lagi Bu Melia menggoda putranya.
"Beneran?"Daniel refleks membungkuk untuk memastikan ucapan adiknya tersebut.
"Iya,kak .. Nggak bisa dilihat juga, udah diplester lukanya.. aman kok."ucap Bening sembari menunjukkan lututnya sembari digeraknya berapa kali untuk membuktikan bahwa sudah tak apa apa .
Bu Melia tersenyum melihat kedekatan keduanya.Feeling seorang ibu, seringkali tidak salah.Ada sesuatu yang bisa ia baca dari pertemanan mereka.
Ketiganya pun menghampiri pak Darwin yang tengah duduk di taman.
Dengan senyum sumringah dia menyambut mereka.
"Cantik kan dad?"Bu Melia meminta pendapatnya apalagi pak Darwin sangat mengenal gaun yang kini dipakai oleh sebening.
"lya, cantik banget mom.... kalau saja ada orang lain yang lewat di sini pasti akan terpesona.."pak Darwin sengaja mengatakannya untuk melihat bagaimana reaksi Daniel.
"Terpesona sama siapa dad?"timpal Daniel.
"Sama gadis cantik ini lah...masa sama mommy"sahut sang bunda.
Daniel tak bisa berkata lagi.Kedua orang tuanya benar benar jago menggodanya.
__ADS_1
"Kayaknya insiden yang menimpa kamu tadi itu kode alam deh nak..."ujar Bu Melia membuat Bening dan putranya mengernyitkan dahi tak terkecuali mantan suaminya.
"Maksudnya mom?"tanya pak Darwin.
"Kalau nggak lututnya terluka nggak mungkin kan sekarang dia pakai gaun ini..."jelas Bu Melia membuat sang putra menjadi semakin aneh dengan penuturannya.
"Daddy tau kan arti gaun ini buat mommy"tambahnya lagi.
"iya tau....oh iya...ya..ya.... daddy paham... mudah mudahan ya my..."Bening hanya tersenyum melihat kedua orang tua itu saling memberi dan menjawab kode.Meskipun dirinya tak terlalu paham bagaimana maksud mereka sesungguhnya tetapi mendengar cerita bu Melia sebelumnya tentang gaun yang sekarang ia kenakan membuatnya bangga menjadi pewaris gaun tersebut.
"Bicara apa sih, dari tadi banyak teka tekinya? Kamu paham dek?"tanya Daniel pada bening yang terus tersenyum.
"Enggak..."gadis itu menggeleng gelengkan kepalanya.
"Terus kenapa senyum mulu?"tanya Daniel.
"Daripada cemberut?mending disenyumin aja..."jawab Bening membuat Daniel kesal kepada ketiganya.
"Udah ya.... mendingan sekarang kita minum..."ujar Bu Melia ketika asisten rumah tangga mereka datang membawa minuman.
"Ini kopi buat mbak Bening dan mas Daniel...teh rendah gula buat ibu dan ini minuman herbal buat bapak..."Mbak Yuyu menyebut satu persatu minuman mereka dengan segala keterangannya.
Mereka pun serempak mengucapkan terima kasih.
"Cheers..."Pak Darwin memberi komando.Mereka berempat pun masing-masing mengangkat cangkir mereka untuk bersulang.
Sungguh pemandangan yang sangat syahdu tercipta di senja ini.Sudah lama sekali keharmonisan itu pergi.Mudah mudahan sekarang harmoni itu kembali pulang dan telah menempatkan hati mereka masing-masing.
Ada banyak sekali harapan yang terpatri di hati.Harapan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik,masa depan yang ceria dan bahagia.
Sambil menyeruput kopi panas di tangannya kini, Daniel berdoa agar semuanya tidak cepat berlalu lagi.
"Kayaknya ini harus diabadikan deh.. foto yuk..."ide pa Darwin.
"Iya betul dad...biar jadi kenangan saat mereka dewasa nanti..."Bu Melia menyambut baik ide tersebut.Dengan segera dipanggilnya mbak Yuyu untuk menjadi fotografi mereka.
Mereka pun melakukan pemotretan itu hingga berkali-kali sambil mencari hasil yang maksimal dan memuaskan.
"Kak...aku posting di media sosial aku ya.."pinta Bening kepada kakaknya.Tanpa pikir panjang, pria itu menyetujuinya.Dan alhasil Bening pun mengunggahnya.Tak lupa sebuah bucket bunga mawar putih yang diberikan oleh Daniel ikut dipostingnya.
Tak butuh lama unggahannya tersebut mendapat banyak sekali like dari teman temannya juga keluarganya.Banyak sekali yang berkomentar positif setelah melihatnya.
Lain halnya dengan Widya.Setelah melihat postingan tersebut ia kembali meradang.Ia dilanda cemburu.Tak ada like juga komentar darinya.Ia kembali marah dengan keadaannya yang tak sebebas Bening.Seharusnya ia yang berada di sana, bukan Bening.Ia marah kepada temannya itu karena merasa bahwa dia sengaja mengunggah kebersamaan mereka di Facebook untuk membuatnya iri.Ia juga marah kepada Daniel yang terlihat bahagia dalam foto.Tak ada satupun foto dirinya yang tak menampakkan senyum.
__ADS_1
Pandangannya sekarang fokus pada sebucket bunga yang dipegang Bening lengkap dengan sebuah caption "The first and special gifts".