Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.87


__ADS_3

"Mas Daniel?????"mbak Yuyu yang membuka pintu sangat kaget dengan sosok yang kini ada di hadapannya.Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Tak percaya dengan penglihatannya.


"Hallo mbak.."Sapa Daniel.


"Beneran ini mas Daniel?"mbak Yuyu yang masih tak percaya kembali bertanya padahal Daniel hampir setiap hari menghubunginya.


"Iyaa,ini aku,mbak..."Daniel tersenyum sumringah.


Ia melambai-lambaikan tangannya saat wanita itu terus menatapnya.


"E.... maaf mas, saya masih belum percaya,mas tiba tiba muncul seperti ini.. saya pikir saya mimpi..."kata mbak Yuyu.


"Ini beneran saya mbak...masa hantu..."Daniel mencoba bercanda.


"Iya,mas aku percaya...Mari masuk mas..."ajak mbak Yuyu.


"Makasih mbak!"jawab Daniel.Ia mengikuti wanita itu dari belakang dan mengamati sekeliling.


Meskipun mbak Yuyu pernah mengirim video tentang hunian tersebut sampai kamar tidur Bening pun sudah pernah dikirimnya, tetapi tetap saja rasa ingin tahu dan ingin memastikan bahwa apartemen itu nyaman dan layak buat ditinggali hartanya adalah tugasnya.


"Ayo duduk,mas....mau dibuatkan minuman apa?"Daniel celingak-celinguk mencari sosok utama yang menjadi tujuan kedatangannya.


"Ada tamu, mbak?Siapa yang datang?"tanya Ameva yang sudah siap siap hendak berangkat ke rumah sakit.


Kemarin setelah mengantar sahabatnya ke bandara ia memilih nginap apalagi apartemen tempat Bening tinggal lebih dekat dengan rumah sakit dibandingkan dari rumah gadis tersebut.


"Itu,dok...itu...."kata Yuyu masih salah tingkah.


"Itu siapa? Maling?"tanya Meva yang bingung melihat ekspresi mbak Yuyu.


"Astaga bukanlah dok,masa maling?Itu ada mas Daniel..."ujar mbak Yuyu.

__ADS_1


"Mas Daniel???Mas Daniel siapa mbak?"Meva masih bingung walaupun ia sering mendengar dan bercerita tentang nama itu, tapi ia merasa tak mungkin sosok tersebut tiba-tiba ada di situ.


"Itu loh dok...mas Daniel kakaknya non Bening yang di Amerika sana..."jelas mbak Yuyu dengan memelankan suaranya tak mau didengar oleh Daniel kalau dirinya dan dokter Ameva sedang membicarakannya.


"Hah?Masa sih mbak?Kok bisa?"tanya Ameva.


"Saya juga kaget,dok...ayo kita ke depan.Dia pasti mau bertemu non Bening.Aku nggak bilang tadi kalau non Beningnya lagi pulang ke Bali kemarin.."kata mbak Yuyu.


Meva mengikuti langkahnya.Ia juga penasaran dengan sosok Daniel Warren Scott yang menjadi nama yang paling sering ia bahas bersama sahabatnya akhir akhir ini.


Daniel langsung berdiri saat mbak Yuyu datang membawakannya minum.Ia yang sejak tadi sibuk mengatur nafas dan detak jantungnya yang terus berdegup kencang merasa penasaran untuk bertemu dengan sosok yang bersembunyi di belakang mbak Yuyu.


"Hai..."sapa Meva.


Daniel langsung menghembuskan nafasnya dengan memejamkan sebentar matanya karena ternyata yang ia lihat bukanlah Bening.Padahal otaknya terus mencari kata-kata yang terbaik yang akan ia gunakan pertama kalinya untuk menyapa Bening.


"Hai..."jawab Daniel saat gadis yang ada di depannya terus menatapnya.


"Ehmm... silahkan duduk...Ayo dok..."mbak Yuyu berpura-pura batuk untuk mencairkan suasana.


"Saya Ameva, temannya Ben.Tapi kalian bukan adik kakak kandung kan? Soalnya setahu saya,Ben anak tunggal.."kata Ameva dengan senyum tipisnya.


"Iya,betul..."timpal Daniel dengan senyumnya.


"Datang dari mana?Dari Bali?Baru lihat soalnya.."tanya Meva sengaja.Ia pura pura saja seperti orang yang tidak tahu apa apa tentang pemuda tersebut.Hal itu dilakukannya dengan maksud biar Daniel tak berfikir bahwa ia pasti tahu tentangnya dari Bening meskipun belum pernah bertemu.


"Bukan dok...masa dokter nggak tahu mas Daniel ini siapa?Mas Daniel ini selama ini tinggal di New York.Masa dokter nggak tahu?Bukann non Bening sering cerita..."


"Cerita apa mbak? Beneran aku nggak tahu tentang mas Daniel ini.Aku sahabatan sama Ben juga udah lama banget kali mbak, dari zaman kuliah pertama kalinya.Oh,iya aku ingat..Ben sering cerita tentang cowok yang dekat dengannya,kerja di New York juga,tapi namanya Malvin, bukan Daniel.Iya,aku ingat kok namanya, ingat banget.Baru juga kemarin Ben curhat lagi kalau cowok itu dalam waktu dekat bakal pulang mau ketemu orang tuanya.Eh,tapi tahun lalu waktu datang cowok itu juga ke Bali kan? Ingat nggak sih, mbak? Bening juga kemarin pulang ke Bali karena mau ngomong itu ke orang tuanya kan? Mau ngomong kalau pacarnya yang mau datang dari New York itu akan ke Bali juga"mbak Yuyu mengernyitkan dahinya benar benar tak paham apa maksud dokter Ameva.


"Masa sih,dok..?Kok saya nggak tahu? Bukannya non Bening pulang karena mas Bastian mau konser di sana?"ujar mbak Yuyu tak mau kalah.

__ADS_1


Dalam hatinya,Ameva kesal karena mbak Yuyu ternyata tidak mudah untuk diberi kode.Padahal tadi ia sengaja memotong pembicaraannya agar tak ketahuan Daniel kalau sebenarnya ia tahu dan selama ini mereka sering menceritakannya sehingga pemuda itu tidak besar kepala.


Berbeda dengan mereka, Daniel yang mendengar cerita Ameva mendadak tak tenang.Pikirannya kacau.Meskipun ia sudah bertekad untuk tidak mau lagi dengan mudah mempercayai cerita siapapun tentang adiknya dan akan mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya, tetapi tetap saja ia merasa terganggu.


"Jadi,si adek nggak di sini,mbak?"tanya Daniel serius.


"Iya,mas..non Bening kemarin pulang.Sebentar malam ada konsernya mas Bastian di sana.."jawab mbak Yuyu.


"Mbak Yuyu kok nggak ngomong dari tadi?"Daniel melirik jam di tangannya.


Ameva merasa senang pemuda itu terlihat kecewa.


"Maaf,mas... karena mas juga nggak bilang bakal pulang.."jawab mbak Yuyu.


"Kalau gitu aku pamit pulang ya, mbak..Oh, iya tolong titip ini.."Daniel menyerahkan sebucket bunga dan paperbag yang tadi ia bawa.


"Mau pulang ke mana mas? Maksudnya biar nanti aku bilang ke Beningnya jelas,ada kakaknya datang dan sudah pulang ke..."ujar Ameva tak peduli apa tanggapan pria itu tentangnya, bahkan kalau ia menganggap dirinya terlalu kepo pun tak menjadi masalah.


"Makasih dokter Ameva, tapi nggak apa-apa,biar saya yang temui dia langsung.."jawab Daniel lalu berdiri.


"Berarti ke Bali dong?"gadis itu benar benar belum puas dengan jawabannya.


Daniel menoleh dan tersenyum.


"Makasih dokter Ameva, senang berkenalan dengan dokter..."Daniel tetap tersenyum dan bersikap santun.


Saat pemuda itu melangkah ia terus melihatnya dari belakang.


"Dokter kok gitu, sih?Ini kali pertamanya loh,dok dia ke sini setelah sekian lamanya..


"omel mbak Yuyu.

__ADS_1


"Emang aku kenapa,mbak?"tanya Ameva dan pandangannya tetap tak beralih.


"Dia ganteng kan,dok? Wangi,sopan...romantis..jangan bilang kalau dokter terpesona.Iya kan"kata mbak Yuyu yang melihat Ameva tak bergeming.


__ADS_2