Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.48


__ADS_3

Bening sedang membuat teh madu hangat di dapur saat Daniel mengagetkannya dengan tiba tiba ada di belakangnya.Ia menghela nafas dalam.


Untung saja Bastian buru buru pulang sehingga tak bertemu dengannya karena pemuda itu sudah ditunggui teman teman satu bandnya untuk latihan.


"Kebiasaan... suka banget ngagetin..."omelnya malah hidungnya dipencet pemuda itu sehingga membuatnya makin kesal.


"Siapa suruh kamu ninggalin aku sama Widya di kamar?"protesnya.


"Emang kenapa?Kan nggak ngapa-ngapain?Jangan jangan.... mau ngapain,hayoo...."Bening malah balik menjahilinya.


"Apaan sih?siapa yang udah ngeracunin pikiran kamu?"Daniel mencubit pipinya gemas.


"Emang aku mikirnya apa?"tanya gadis itu.


"Tau..."jawab Daniel tak mau menjawabnya.


"Kakak kok ninggalin Widya sendirian?"Bening sudah siap mengantar teh yang kini dipegangnya.


"Ada mbak Yuyu yang nemenin.. Lagian kamu itu ya, nggak mungkin aku berduaan sama dia di kamar kamu.Apa kata tante nanti.Walau karena Widya sakit..."jelas Daniel membuat Bening takjub sikapnya.Ia pun paham apa maksud kakaknya dan ia senang mendengarnya.


"Aku antar ini dulu ya?"ujar Bening.


"Buat aku mana?"Daniel tiba tiba ingin dibuatkan minum.


"Mau...?Teh madu hangat juga?"Daniel mengangguk dengan senyumnya.


"Baiklah...tapi aku antar ini dulu ya,buat Widya... takut keburu dingin..."Bening pun mengantarkan minuman yang suda dibuatnya ke kamar.


Daniel masih duduk menunggunya di dapur.Ia terus tersenyum saat ayahnya mengirim sebuah foto.


"Mommy dan daddy berkencan,dek..nih lihat.."Daniel begitu gembira menunjukan foto yang ia dapat dari pak Darwin.


"Oh,ya?"Bening yang awalnya tak percaya menjadi ikut senang melihat potret tersebut.


"Aku happy banget,dek... akhirnya doa kita terkabul.Makasih ya,dek..."Daniel memeluk adiknya itu saking senangnya.


"Aku juga bahagia kak... banget.."ucap Bening tapi tetap saja ia merasa was-was, mengingat apa yang sudah ia ketahui tentang pernikahan orang tuanya Daniel.Tetapi ia juga selalu berharap ada keajaiban yang akan terjadi yang bisa membuat kebahagiaan kakaknya benar-benar utuh.

__ADS_1


"Berarti nggak akan ada yang ngerokok lagi,kan?"tambah Bening.


"Iya.Lagian udah nggak pernah lagi kan? Tapi kayaknya aku bakal ngerokok lagi deh..."Daniel tahu gadis itu sangat kecewa saat ia melampiaskan kekesalannya dengan merokok bahkan minum.


"Kenapa?"tanya Bening penasaran ada masalah apa lagi.


"Kalau kamu pacaran..."lagi lagi pemuda itu menyatakan ketidaksetujuannya jika Bening berpacaran.


"Kok gitu sih...kirain karena masalah apa lagi..."protes Bening.


"Tapi aku serius,dek..."Daniel berbicara dengan raut wajah yang menunjukkan keseriusannya.Meski tak tahu alasannya apa,tapi dalam hatinya ia senang.


"Nanti aku pertimbangin lagi...Jadi gimana tadi? Udah ketemu om Richard?"Bening mengalihkan pembicaraan.


"Kamu berhasil ngerjain aku.Tapi makasih lagi karena udah idein semuanya.Maaf aku sempat kesal tadi pagi.Itu karena aku nggak tahu.Maafin ya...Oh,iya..om Richard nitip salam.. salam Brownies katanya..."ujar Daniel dengan tulus.Bening hanya bisa mengangguk dengan senyumnya yang selalu dirindukan.


"Nanti deh,aku bawain browniesnya buat om Richard..nih.. minumannya...."aroma minuman yang disuguhkan terasa menyegarkan jiwa yang tengah lelah.Daniel sampai menghirupnya sambil memejamkan mata.


"By the way kamu udah nyiapin kado buat besok kan?"Daniel mengingatkannya.Bening mengangguk.


"Widya besok mau ikut,dek?"ujar Daniel menunggu jawaban adiknya.Meskipun dalam hatinya Bening sedikit keberatan jika Widya ikut karena merasa tidak akan bebas untuk melakukan setiap acara yang sudah direncanakan besok, tapi ia tak mungkin bilang ke pemuda itu bahwa dirinya tak setuju.


"Tapi Widya minta tolong kamu untuk izin ke maminya..mau ya?"mohon Daniel.


Bening jadi berpikir jangan jangan memang pemuda itu yang mau agar Widya ikut.Katanya tak mau orang tuanya tahu ia tengah berpacaran, tetapi kenapa malah nunjukin sendiri sekarang?


"Iya... nanti aku coba ya..Tapi kak,tadi kenapa....?"Bening memilih untuk menghentikan omongannya.


"Kenapa?"tanya Daniel.


"Nggak... nggak jadi.. nggak penting"ujarnya padahal sesungguhnya ia ingin bertanya tentang apa yang sudah terjadi pada Widya.Mungkinkah ada kaitannya dengan dirinya.


Keduanya pun bercerita sambil pemuda itu menikmati teh madu hangat buatan sang adik.Tak ada lagi kesal karena telah diganti oleh rasa bahagia yang ada yang diberi oleh waktu.


Bening masih penasaran, kenapa Widya sampai meringkuk sendirian dengan tubuh yang lemah di parkiran.Tapi ia memilih untuk tidak menanyakannya.Kini gadis itu sedang beristirahat di kamarnya setelah ayahnya memeriksanya.


Jika ia ingin menginap tak masalah, tapi harus atas seizin Bu Vitha hanya dari tadi sejak sampai di rumah tak ada pembahasan soal itu.

__ADS_1


"Wid aku mau pulang... kamu gimana?mau sekalian aku antar nggak?"seperti terkoneksi dengan pikirannya Daniel pun menanyakannya.


Sejak tadi pemuda itu juga merasa tak tenang berada di kamar Bening.Setiap gerak geriknya terlihat kikuk.Bening juga tak mau meninggalkan keduanya di kamar itu karena rasa pedulinya pada sahabatnya.


"Aku nggak mau pulang ke rumah..aku mau istirahat di sini dulu boleh ya,Ben?"pinta gadis itu masih dengan ekspresi seperti tadi di dalam mobil.


"Boleh kok,Wid... tapi tapi harus izin tante Vitha dulu ya... maksudnya tante harus tahu kamu di sini..."Bening berharap sahabatnya itu tidak tersinggung dengan perkataannya.


"Iya Wid..tante Vitha harus diberi kabar...Biar dia nggak khawatir kamu nggak pulang..."tambah Daniel.


"Tapi mami mungkin nggak pulang... jadi sama aja"kata Widya dengan mata yang berkaca-kaca.


Daniel dan Bening saling memandang.Bingung dengan jawaban gadis itu.


Bening pun langsung saja menghubungi bu Vitha tanpa berdebat lagi dengannya.


Setelah beberapa menit berbicara ia mematikan teleponnya.


"Gimana dek?tante bilang apa?"tanya Daniel penasaran.


"Tante minta maaf belum bisa jenguk kamu di sini,Wid... mungkin besok pagi ia akan datang.Tapi dia sangat menghawatirkan kamu,kok... Terus, besok kalau tante datang aku akan minta izin ke tante biar kamu ikut kita ya ngerayain malam tahun baru bersama"Bening tersenyum menatapnya.


Memang benar seperti kata Widya kalau bu Vitha memang tidak pulang.Ada urusan penting yang harus diselesaikan.


"Kalau gitu,aku pamit ya.. kamu jangan lupa makan dan minum obatnya.. besok pagi aku pasti datang lagi..."Daniel melihat jam di tangannya.Diusapnya kepala sang pacar dengan lembut sebagai bentuk kasih sayangnya.Widya hanya mengangguk.Ia juga tak mungkin menahan Daniel untuk tetap berada di situ.


"Titip ya,dek...maaf merepotkan..."ucap Daniel.


"Nggak lah..aku malah senang akhirnya kamu bisa nginap Wid.. setelah beberapa lama..."Bening tersenyum kepada keduanya.


Daniel berpapasan dengan bu Livia di pintu.


"Tan...aku pamit...mau pulang..."ucapnya santun.


"Makan dulu Dan..."ujar Bu Livia.


"Lain kali aja tan...mommy dan daddy sudah nungguin..."jawab Daniel.

__ADS_1


Sementara itu bu Melia dan pak Darwin sudah berada di Cave Dining at the Samabe.Makan malam berdua di sebuah gua,dengan memandang laut biru dan deburan ombak.


__ADS_2