Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.14


__ADS_3

Berbeda dengan Bening pagi ini Widya bangun dengan semangat pagi yang luar biasa.Hatinya dipenuhi sukacita yang penuh walau semalam tidurnya telat karena ia menerima telepon dari pacarnya dan keduanya berbincang bincang hingga larut malam.


Menyadari bahwa semalam ia pulang dengan mengendap endap agar tak ketahuan ibunya,ia pun bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan membantu bibi Santi, asisten rumah tangga mereka untuk membereskan rumah.Meskipun dilarang oleh bibinya ia tetap ngotot ingin membantu.


Dengan demikian ia berharap ibunya mempertimbangkan semua usahanya untuk menyenangkan hati sang bunda.Disuruh untuk memperbaiki genteng sekali pun mungkin akan dilakukannya agar ibunya tidak terus terus memarahinya.


Dengan hati yang berbunga-bunga Widya menyiapkan sarapan pagi.Ia begitu antusias menata piring di atas meja makan untuk mereka sarapan.Ketika dilihatnya sang bunda datang ia segera menyalaminya.


"Selamat pagi mi...."sapanya dengan lembut seolah-olah tidak ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka.


"Pagi..." ibunya menjawab dengan ketus.


Bu Vitha duduk di kursinya mengamati gerak-gerik putrinya yang terlihat berbeda.


"Mi...ini nasi goreng sayur aku yang buatin khusus untuk mami.Tapi tetap dibimbing sama bibi Santi kok mi.." ujarnya mulai menarik simpati sang ibu.


Bibi Santi yang berdiri di belakang Widya tersenyum mengangguk membenarkan ucapan gadis itu.


"Oh ya.... rasanya sama nggak?"tanya Bu Vitha yang terlihat ragu.


"Dicoba dulu mi...tadi kata bibi udah pas seperti biasanya..." terang Widya meyakinkan ibunya.


"Tapi sebelum makan ,mami jangan lupa minum obat penurun tekanan darahnya dulu mi.."Widya mengambil segelas air mineral untuk Bu Vitha.


Mendengar hal itu,sang ibu sejenak menatap lekat kepadanya.


"Kamu tau dari mana mami mengkonsumsi obat itu dan tau dari mana juga minumnya sebelum makan...?"tanya Bu Vitha mencari tahu karena selama ini ia tak pernah menceritakan masalah kesehatannya kepada putrinya itu.


"Sorry mi....aku lihat obat obatannya mami yang mami lupa di dekat meja TV.. Karena penasaran,aku foto terus tanya ke Bening..."terang Widya.


"Tanya ke si Bening, memangnya dia dokter?"cerca Bu Vitha dengan wajahnya yang mulai kesal.


"Aku minta tolong sama Bening untuk nanyain ke ayahnya mi...terus dijelaskankan sama om Cahyo obat itu untuk apa dan cara minumnya bagaimana.Makanya aku tau..Kan om Cahyo..."


"Dokter..mami tahu..."sambung Widya kesal.Apa yang ia rahasiakan selama ini pada akhirnya terbongkar sudah.Entah mengapa,ia sangat marah.Ia sungguh tak terima orang lain bisa tahu tentang penyakitnya.


Widya mulai cemas karena ekspresi sang bunda yang terlihat tidak suka dan marah.


Dengan tangan yang dikepal Bu Vitha menatap tajam kepada Widya.

__ADS_1


"Lancang benar kamu ya?Kamu mau bilang ke orang orang kalau mami ini penyakitan? sekalian saja kamu umumin di sosial media biar se-Indonesia tahu..Kamu pikir mami nggak tau semalam kamu ke mana? Nggak dikasih izin malah milih kabur.Mami nggak habis pikir,kok bisa bisanya kamu ngelakuin itu.Ide dari siapa?Awas aja,kalau sekali lagi kamu berani ngebantah mami...mami hukum kamu biar kapok.." Bu Vitha berdiri dengan marahnya meninggalkan meja makan tanpa sempat mencicipi sarapannya.


"Mi...maaf....maafin Widya mi...." Widya berdiri mengejar ibunya dan memohon mohon sembari memegang lengan sang bunda.


"Lain kali Widya nggak akan ngulangin lagi mi...ayo sarapan dulu...."bujuknya.


Tapi sang bunda benar benar sudah dikuasai amarah.Dihempasnya tangan Widya dan berlalu pergi.Sampai Widya harus berlutut pun, tetap saja tak ada belas kasihan dari ibunya.Widya mulai menangis, kecewa.


"Bi.... tolong siapin sarapan buat saya... nanti saya makannya di kantor saja..."ujar Bu Vitha dan menyuruh asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan bekalnya.


Seketika Widya kehilangan semangatnya.Susah payah ia bangun pagi-pagi, melakukan pekerjaan rumah, memasak hanya untuk menyenangkan hati ibunya.Tetapi semua usahanya itu tak bernilai sedikitpun di matanya.


Apa salahnya ia mencari tahu tentang sakitnya? Bukankah wajar sebagai seorang anak yang hanya tinggal dengan ibunya menginginkan agar wanita yang selalu bersamanya, melindunginya itu selalu sehat?Ia tak pernah tahu bagaimana sedihnya Widya saat tahu ibunya ternyata sakit, dari obat-obatan yang ia minum.Selama ini yang ia tahu kalau sang bunda hanya mengkonsumsi vitamin.Tapi ternyata bukan.


Widya malah berpikir, mungkin dirinyalah penyebab sang bunda mengalami tekanan darah tinggi sehingga ia akan bersikap lebih menurut dan menyenangkan hatinya.


Tetapi Bu Vitha malah mengungkit kejadian semalam dan semakin keras terhadapnya.


Hal itu semakin membuatnya sedih dan kecewa.


Widya melangkah cepat menuju kamarnya dengan air mata yang mulai mengalir.


Tampak bibi Santi, berjalan menuju mobil yang akan membawa majikannya ke kantor.


"Sarapan untuk ibu .."Jawab Bu Santi.


"Loh, memangnya ibu belum sarapan?"tanya pak Daud hampir tak pernah melihat Bu Vitha membawa bekal ke kantornya.


"Tadi ibu sebenarnya mau sarapan... tetapi kemudian dia dan non Widya berdebat.Bu Vitha marah dan memutuskan untuk tak jadi sarapan.Katanya biar di kantor saja." jelas bi Santi.


"Tapi kan di sana juga ada makanan Bi... tinggal dipesan saja ibu mau makan apa pasti dibuatkan.."kata pak Daud.


"Ya,mana saya tahu... tadi ibu yang suruh... mungkin karena makanan ini tuh, yang buatin non Widya.."jelas bibi Santi yang hanya melaksanakan apa yang diperintahkan Bu Vitha.


"Oh... tumben banget anak itu mau masak..."Pak Daud berkata dengan tak percayanya.


Tak lama berselang,Bu Vitha muncul di pintu dengan tas yang ditenteng di tangannya.


"Ya udah,nih mau ditaruh di mana rantangnya? "tanya Bi Santi pada pak Daud yang terlalu banyak omong.

__ADS_1


Diambilnya rantang tersebut lalu diletakkan di belakang.


"Bi... saya titip Widya ya... jangan lupa ingatkan dia untuk makan dan pastikan dia menghabiskan makanannya..."Pesan Bu Vitha saat Santi hendak berlalu dari hadapannya.


"Baik Bu..." jawab bi Santi sedikit membungkukkan badannya.


"Oh, iya bi ..tadi pagi dia bangun jam berapa?" tanyanya lagi.


"Mungkin jam 5, karena waktu saya ke dapur dia sudah duduk di ruang makan.


"Oh ya?Dia bilang apa ke bibi?"


"Dia hanya bilang mau bantu saya masak dan beresin rumah.Tapi saya sudah melarangnya Bu...non Widya tetap ngotot mau bantu.." jelas bi Santi yang tetap waspada kalau ia mungkin akan dimarahi Bu Vitha karena sudah membiarkan putrinya melakukan pekerjaan yang menjadi tugasnya.


"Nggak apa apa, malah ibu senang kalau dia mau bantu bibi.Libur juga,biar dia nggak merasa bosan. hanya jangan sampai kecapean saja ya.. Terus, jangan dibolehin kalau yang berat berat.."ujar Bu Vitha.


"Baik bu...." Bi Santi mengangguk paham.


"Terus,satu lagi bi...awasi semua gerak geriknya.Jangan sampai dia kabur seperti semalam.Apalagi kalau si bule itu datang... bibi langsung telepon ibu saja ya...Awas saja kalau kalian malah sekongkol...."Bu Vitha dengan tegas memperingatkan si bibi.


Di perjalanan Bu Vitha hanya diam sambil menatap foto putrinya Widya pada layar handphonenya.Ada raut penyesalan di sana.


Ia menyesal telah bertindak keras terhadap anaknya.Emosinya benar benar tak bisa dikontrol.Padahal seharusnya ia bersyukur sudah diingatkan sang putri tentang obatnya, karena sesungguhnya ia sering lupa dan tak sesuai anjuran dokter mengenai cara dia meminum obat.


Seperti halnya pagi ini,ia lupa untuk meminum obatnya sebelum makan.Untung saja Widya mengingatkan.


Tetapi karena terlanjur malu dan marah menjadikannya enggan berterima kasih.


Selama ini ia selalu berusaha tampil prima dan sehat.Ia malu jika orang lain tahu bahwa ia ternyata menderita tekanan darah tinggi.


Bayang bayang keluarga utuhnya dulu mulai terlintas.Seandainya mereka tak memilih untuk bercerai mungkin ia tak perlu mengalami ini semua terutama Widya.Paling tidak saat ia memarahi gadis itu, akan ada ayahnya yang menghiburnya sehingga ia tidak merasa sendirian.Ia ingat anak sulungnya laki laki yang sekarang berada di luar negeri melanjutkan studinya.Ia teramat merindukannya.


"Maafin mami Wid....mami sayang banget sama kamu"gumamnya dalam hati dengan air mata yang sudah menetes.Ia segera menyekanya.Pak Daud yang melihatnya dari kaca depan tak berani berkata apa apa.


Handphone Bu Vitha berdering.Ia segera mengambil tissue dan menekan nekan kelopak matanya ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.Ia tak ingin terdengar seperti sehabis menangis saat berbicara dengan penelepon misterius itu.Setelah dirasa siap ia pun segera menyentuh warna hijau dan mengangkat telepon.


"Hallo selamat pagi..."ucapnya selembut mungkin.


"Selamat pagi sayang..."jawab pria di seberang.Keduanya pun mulai mengobrol dan Bu Vitha menyetujui permintaan orang tersebut untuk bertemu dengannya di sebuah tempat.Wajahnya tersipu malu kala lawan bicaranya terus mengeluarkan kata kata mutiara rayuan gombal.

__ADS_1


Bahkan sampai percakapan tersebut usai pun Bu Vitha masih saja tersenyum sendiri layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta.


Pak Daud yang mencuri pandang dari kaca depan hanya menggeleng gelengkan kepala.Ia ikut tersenyum lucu dengan sembunyi sembunyi takut kelihatan Bu Vitha.


__ADS_2