Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.42


__ADS_3

Widya duduk bersama ibunya di ruang makan untuk sarapan.Semalam ia sempat mendengar percakapan sang bunda di telepon dengan seseorang yang masih membuat gadis itu penasaran.Sudah ke sekian kalinya ia memergoki ibunya tersebut berbicara diam diam dengan ekspresi yang berbeda dan menjauhi diri mungkin supaya tak terdengar olehnya.


Gerak geriknya persis seperti seorang gadis yang sedang kasmaran.


Dari siapakah itu? Mungkinkah itu ayahnya? Pertanyaan itu terus membuat rasa penasarannya semakin menjadi jadi.


Ibunya tampak bahagia.Sepintas yang gadis itu dengar mereka membahas tentang perayaan akhir tahun.Sepertinya mereka akan merayakannya bersama.


Tak ada yang berinisiatif untuk memulai percakapan di antara keduanya.Widya beberapa kali mencoba untuk mengajak ngobrol tetapi selalu diurungnya takut salah dan momentnya yang tidak tepat.


"Jangan lupa diminum obatnya..."kata bu Vitha kemudian berdiri.


"Makasih,mi...entar setelah makan aku minum kok, obatnya..mami juga...."Widya tak melanjutkan kata-katanya.Ia bermaksud mengingatkan sang bunda tentang obat-obatannya, tetapi ia ragu dan takut ibunya akan bereaksi seperti waktu itu lagi.


"Iya, makasih nak... udah mami minum kok tadi.Kan obat penurun tekanan darahnya diminum sebelum makan..."kata Bu Vitha di luar dugaan Widya.


Iya tak menyangka kali ini respon Bu Vitha sangat berbeda.Dengan lembutnya ia berbicara kepada putrinya.


"Makasih mi..."Widya sekali lagi mengucapkan terima kasih.


"Untuk?"tanya Bu Vitha heran.


"Pokoknya makasih aja..."Widya tersenyum haru.Ibunya pun membalas senyumannya itu.


"Mami pergi dulu ya..."ucapnya lagi sembari mencium kening putrinya lalu berjalan keluar dari ruangan makan.


Widya mengumpulkan keberaniannya.Ia pun bangkit dari tempat duduknya hendak menyusul ibunya.Ia ingin mencoba lagi meminta izin.Ia hanya ingin membuktikan apakah ibunya akan tetap lembut atau tidak jika ia kembali meminta izin.


"Mi...."panggilnya.Ibunya menghentikan langkah dan menoleh.Senyumnya masih merekah indah di bibirnya.


"Iya..... kenapa nak?"tanyanya.


"Boleh minta izin nggak,mi?Tapi kalo nggak dibolehin aku nggak apa-apa juga..."ujarnya ragu.Digigitnya bibir bawahnya dengan pandangan ke bawah.


"Mau ke mana?"bu Vitha paham akan ekspresi putrinya.


"Mau main ke rumahnya Bening mi... sekalian mau nengokin tante Livia..Kata Ben,lagi sakit..."ucapnya.Deg degan gadis itu menunggu jawaban sang bunda.


"Oh,ya? sakit apa?Bu Livia dirawat di rumah sakit?"Widya menggelengkan kepalanya.


"Nggak mi... mungkin karena kecapaen aja..jadi istirahat di rumah,kata Bening sih gitu..."Widya menjawab sesuai yang ia dengar dari sahabatnya.


"Ya, udah kalau gitu nanti sampein salam dari mami, ya..."ucapnya.Widya tersenyum lebar.Meski belum ada kalimat pasti yang mengizinkannya untuk pergi tetapi apa yang disampaikan ibunya telah mewakili artinya.

__ADS_1


"Jadi gimana,mi? boleh aku ke sana?"Ia pun berani bertanya lagi.


"Boleh dong..."bu Vitha sangat jelas mengatakannya.


"Ye.....e.."Sontak saja putrinya tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas saking senangnya.Dipeluknya ibunya dengan sangat erat.


"Hei...mami kehabisan napas,nak...."gurau Bu Vitha sembari tertawa.


"Makasih mi..."Widya mencium pipi sang bunda.


"Kamu ini... seperti sedang mendapat harta karun aja..seneng banget... nanti kalau ke sana jangan lupa bawa parcel.."Bu Vitha mengingatkannya.


"Siap mi... parcel buah kan mi?"Widya meminta persetujuan wanita itu.


"Iya..."Bu Vitha memencet hidung putrinya gemas.


"Auh....sesak mi... nggak bisa napas..."Widya membalas ucapan ibunya.Keduanya tertawa bahagia.


"Terus gimana dengan lesnya mi?"tanya Widya.Ia berharap ibunya tidak berubah pikiran.


"Dicancel aja...Kamu telpon gurunya biar dia nggak usah datang.."Bu Vitha ternyata tetap memberinya izin.


"Makasih banyak mi..."


"Apaan sih,Wid?makasih mulu?Mami berangkat ya..Jangan kesorean pulangnya."ujar bu Vitha.


"Terima kasih mi untuk kebahagiaan ini... Semoga mami selalu sehat dan bahagia.. Widya sayang banget sama mami..."Gadis itu mengucap syukur dalam hatinya.


Ia sangat bahagia ibunya bisa selembut itu lagi kepadanya.Belakangan ini ia sangat tertekan dan stress dengan cara ibunya memperlakukannya.Mungkin tujuannya baik untuk masa depannya seperti yang selalu didengungkan sang bunda hanya saja proses yang Widya terima sungguh membuatnya tersiksa.


Widya jadi rindu ayah dan kakaknya.Ia ingin sekali membagi kebahagiaan yang ia dapat pagi ini.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


Bening bersama ibunya sudah siap siap untuk berangkat ke toko.


"Yakin mau ke toko ma?"tanya pak Cahyo pada istrinya.


"Yakin,pa.. udah seger kok..."jawabnya meyakinkan suaminya.


"Kalau belum fit, biar aku aja ma..."ujar Bening.


"Udah...udah...udah fit kok...nih.. nggak pusing lagi, nggak lemes lagi..."Bu Livia menggeleng gelengkan kepalanya serta mengangkat lengan kanannya menunjukkan ototnya agar meyakinkan anak dan suaminya bahwa ia sudah kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Pak Cahyo tertawa melihatnya.


"Ada ada aja,ma"sahut Bening.


"Besok kan, akhir tahun pa, jadi aku harus ke toko.Biasa..."bu Livia memberi kode kepada suaminya.


Sepertinya pak Cahyo paham dengan tradisi yang berlaku untuk para pegawai istrinya jika akhir tahun.


"Selamat pagi...."Widya sudah sampai di rumah Bening.


Ketiganya menoleh ke sumber suara tersebut.


"Pagi Wid....."bu Livia menyambut kedatangannya.Dipeluknya gadis tersebut dengan hangat.Widya memberikan parcel yang ia bawa.


"Wah..., makasih ya.. kenapa harus repot-repot sih,nak?"ujar Bu Livia.


"Ini dari mami tan...mami titip salam... semoga Tante cepat sembuh.."jawab Widya.


"Oh ya, bilang ke mami kamu...makasih banyak ya..tante udah pulih.. kemarin cuma kecapean saja"bu Livia mengelus elus punggungnya.


"Hallo Wid...?"sapa pak Cahyo.


"Hallo om..."jawabnya santun.


"Kok nggak bilang mau ke sini,Wid?"Bening menyapa temannya.Ia tak menyangka Widya bisa datang karena dari ceritanya ia kesulitan untuk keluar dari rumah karena tak mendapat izin apalagi jadwal les tambahannya yang sudah dibuatkan ibunya.


"Surprise...aku mau jenguk tante... bukan mau ketemu kamu..."Bening langsung bersungut mendengarnya.


"Becanda..."Widya memeluk Bening yang terlihat kesal.


Mereka pun berangkat ke toko.Setibanya di sana seorang pemuda yang sangat Bening kenal sudah berdiri tegap di depan toko dengan senyumnya yang menawan hati.


"Cieh...yang sudah ditungguin pacarnya.Kamu janjian sama kak Daniel?"tanya Bening.


"Nggak...Aku nggak bilang kok mau ke sini..."jawab Widya.Padahal awalnya bia ingin memberikan surprise kepada pacarnya tersebut dengan langsung datang ke rumahnya setelah dari toko.


"Dan.... Selamat pagi.... Sudah dari tadi?"sapa bu Livia.Daniel berjalan mendekat.


"Iya tan...aku ada janji sama si adek.Mau ke hotel"jawabnya tanpa tahu siapa yang akan keluar dari tempat duduk di belakang.Widya yang sedang membuka pintu mobil heran mendengarnya.


"Wid...."Daniel kaget ketika yang keluar adalah Widya.Bening menyusul membuka pintu sampingnya.


Widya hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kok..."Daniel tak melanjutkan ucapannya.


"Tante masuk duluan ya..."bu Livia langsung masuk ke toko,tak ingin mendengar dan mengganggu obrolan mereka.


__ADS_2