
Betapa sedih hati seorang Bening mendengar perkataan Daniel.Tanpa harus diperjelas seperti itu pun,ia tahu bahwa laki-laki itu tidak menganggapnya lebih dari seorang adik.Ia yang berharap lebih,ia yang menyukainya dan jatuh cinta padanya.
Walau sudah bersusah payah menata hati agar bisa menerima kenyataan tetapi tetap saja rasa sakit itu tak terelakkan.Jauh lebih sakit rasanya saat semua itu keluar dari mulut kakaknya tersebut.
Baru saja ia merasa sangat bahagia dengan perhatian dan kado yang diberi oleh kakaknya itu,namun sekarang dengan secepat kilat telah berganti kepedihan.
Sungguh sangat mengiris hati.Perlahan ia berjalan menuruni tangga mencari toilet agar bisa membasuh wajahnya.Dibukanya keran air dan menepuk-nepuk pipinya.
Ia menatap wajahnya di cermin.Sungguh menyedihkan, harus kembali menangis dan menyaksikan dirinya yang patah hati..Setelah beberapa menit, diambilnya nafas dalam dalam untuk merelaksasikan diri.
"Sudah ya...kamu sudah dengar sendiri tadi.Kamu sudah tahu jawabannya.So, jangan bersedih lagi.Jangan berkhayal lagi.Ingat, cinta saja tidak cukup,harus saling jatuh cinta.Jadilah teman dan kakak yang baik buat mereka.Be happy for them.. Fighting!!"Bening menyemangati dirinya sendiri.
Setelah merasa lebih tenang ia pun keluar untuk kembali ke dapur menemani Bu Melia.
Bening kaget,saat membuka pintu sosok Daniel sudah berdiri di luar menunggunya dengan wajah yang serius.
"Mau ke toilet kak?"tanyanya.
Tanpa menjawab, Daniel menarik tangan gadis itu masuk kembali ke dalam toilet.
"Ada apa kak?"Bening menjadi takut dengan tingkah pemuda itu.
"Apa yang sudah kamu posting?"tanyanya.
"Maksudnya?"bening mengernyitkan dahinya bingung.
"Udah jangan pura pura bingung,kamu posting foto kita tadi di Facebook kan? Ngapain? Untuk apa?"Daniel mencerca.
"Aku hanya..."
"Kamu tahu,gara-gara postingan kamu aku sama Widya bertengkar.Lagian kenapa sih harus diunggah?Wajib banget ya?Kamu itu kebiasaan.Segala sesuatu diceritain.Nggak ke orang tua kamu juga ke sosial media.Ngapain?Awas aja kalau sampai aku sama Widya putus kamu harus bertanggung jawab"Daniel benar benar marah.
Sungguh di luar dugaan Bening, pemuda itu akan berucap seperti itu.Kata katanya sangat melukai perasaannya.Bukan hanya tuduhan yang ia terima, bahkan ancaman juga.Yang sangat membuatnya kecewa dan marah adalah saat Daniel menyebut orangtuanya.Dia sudah kelewat batas.
Bening ingin memberikan klarifikasi tetapi diurungnya karena tak mau membuat kehebohan apalagi sekarang ia berada di rumahnya.Ia tak mau merusak suasana yang sudah susah payahnya dibuat agar mereka bisa berkumpul.Dia ingin segera lenyap dari situ untuk meluapkan kesedihannya.
Bening membuka handphonenya dan akun media sosialnya.Dilihatnya kembali akun media sosialnya.Tak ada yang salah dengan postingannya.Mungkin caption-nya saja yang salah.Kata special gifts yang dimaksud Bening memang adalah bunga dan gaun pemberian yang diberikan Bu Melia.Tak disangka menjadi bumerang buat Widya.Padahal ia hanya ingin mengabadikannya biar bisa dikenang.
Setelah berpikir sejenak,ia menghapusnya yang terpenting tetap tersimpan dalam albumnya.
"Sudah aku hapus.."Bening menunjukkan handphonenya tepat di depan mata laki laki itu, sebagai bukti.
"Maaf..."tambahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia ingin marah, tetapi tak mampu.Ditinggalkannya Daniel yang sedang mengusap wajahnya frustasi.Ia menyesali sikapnya,kata katanya.Harusnya,ia tak sekasar itu dan melampiaskan kekesalannya karena Widya kepada gadis itu.Dikepalnya tangan kanannya lalu ditinjunya ke dinding tembok toilet.
πΎπΎππΎπΎ
Daniel membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala ke hadapan ayahnya.Lantunan lagu selamat ulang tahun dinyanyikan serempak oleh mereka.
__ADS_1
"Make a wish dulu dad..."ucap Daniel saat ayahnya hendak meniup lilin.Ia pun mengikuti saran putranya, menutup mata lalu mengucapkan harapan dan doa dalam hatinya.
"Happy birthday bro... get well soon ya..."Pak Cahyo memeluk sahabatnya itu erat.
"Selamat ulang tahun mas Darwin.."gantian Bu Livia memberi ucapan kepada pak Darwin yang terlihat bersukacita untuk ulang tahunnya kali ini.
Bu Livia memberi sebuah kado yang sudah mereka siapkan.
"Wow...Thank you ya..."ucapnya sumringah lalu menyerahkan kado itu ke Bu Melia yang berdiri di sampingnya.
"Jadi penasaran..kira kira apa ya,isinya?"sahut Bu Melia.
"Silahkan dibuka nanti kalau kami sudah pulang.Biar kami nggak perlu dengar omelan kalian jika hadiahnya tidak berkenan di hati"canda pak Cahyo membuat mereka tertawa.
"Foto dulu yuk..."ujar Bu Livia lalu memanggil asisten rumah tangganya yang telah ia ajari perihal potret memotret.Dengan berbagai gaya telah lakukan di setiap sesinya.Biasanya Bening akan mengeluarkan handphonenya untuk mengambil gambar dari kameranya sendiri.Tapi kali ini ia tak melakukannya.Menyadari hal tersebut,Daniel dilanda penyesalan yang amat mendalam.
Pak Darwin pun memotong kuenya dan memberikan potongan kue pertamanya untuk sang mantan istri lalu yang kedua untuk putranya disusul Bening.Berhubung dirinya sendiri yang tak bisa mengkonsumsi yang manis manis maka ia pun tidak memakannya.
"Makasih ya,Mel...kuenya... padahal aku pengen banget tapi masalahnya ada pak dokter di sini..."ucap pak Darwin dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Semua demi kesehatan kamu,Dar..."kata pak Cahyo sambil menyenggol bahu sang sahabat.
"Kamu nggak ucapin,nak?"tanya Bu Livia pada putrinya yang lebih banyak diam sejak tadi.
"Udah tadi ma... sebelum mama datang..."jawab Bening yang terus menempel pada lengan ibunya.
"Iya...tapi belum ngasih kado.."sahut pak Darwin dengan senyumnya.
"Kamu nggak usah kasih kado.. takutnya tidak sesuai harapan saya.Kali ini om yang akan minta sama kamu.Ayo makan yuk...."ucap pak Darwin sedangkan yang lainnya heran tak mengerti maksudnya.
Mereka kini tengah duduk mengelilingi meja makan.Berbagai jenis makanan sudah tertata rapi di atas meja.
"Untung saja tadi ada anak gadis yang bantu siapin ini semua.. makasih ya,nak."ungkap Bu Melia dengan tersenyum kepada Bening.
"Aku yang makasih tan, karena bisa kembali makan di meja ini lagi versi lengkap"Bening tak mampu menutupi ungkapan syukurnya.
Gadis itu tak mau melihat ke arah Daniel meskipun pemuda itu menatapnya.
"Jadi gimana dengan malam tahun baru kita? Udah tentuin belum tempatnya?"bu Melia membuka percakapan tentang rencana mereka sebelumnya.
"Kan yang ngurus itu anak anak kita.Jadi kita para orang tua nurut aja..."timpal Bu Livia menatap Bening dan Bastian.
Merasa dirinya bertanggung jawab akan acara akhir tahun mereka, Daniel pun berbicara.
"Aku dan adek sudah nentuin tempatnya, pokoknya om,tante,daddy dan mommy nanti tinggal ngikutin arahan kami saja.Iya kan dek?"jelas Daniel membuat Bening melongo.
Mereka belum pernah membahas hal itu sebelumnya.
"Dasar pembohong.. seenaknya saja bicara"Bening ngedumel dalam hatinya.
__ADS_1
Handphone Bu Livia berbunyi.Seseorang meneleponnya.
"Maaf, aku angkat telepon bentar..."ujarnya lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Iya,hallo... malam Bas..."ucapnya.Rupanya yang menelepon adalah Bastian.Mendengar nama Bastian disebut Daniel menghentikan makannya.
"Malam tante...maaf saya mengganggu.."ucap Bastian sopan.
"Nggak apa-apa Bas.. kamu gimana, udah mendingan?"tanya Bu Livia yang sudah tahu tentang apa yang menimpa teman dari putrinya itu.
"Udah kok tante..saya mau bicara sama Bening,boleh tan?"Bastian meminta izin karena ia sudah mencoba menghubungi nomor Bening namun tak diangkat.
"Bastian mau ngomong..."Bu Livia memberikan handphonenya kepada Bening.
"Maaf aku mau angkat telepon bentar"Bening berdiri dan berjalan menjauh dari situ.
"Hallo,kak..."sapa Bening.
"Hallo beb...kamu lagi makan ya, tadi?"tebaknya.
"Kok tahu...?"Bening menimpali.Mereka seperti bermain teka teki saja.
"Ya, tahulah... soalnya barusan aku ngerasa perut aku kayak ada makanan yang keisi gitu,kamu yang makan, aku yang kenyang..."Bastian kembali menggombalinya.
"Hmmm..mm...kumat lagi deh? nggak lucu tau.Gimana? udah lebih baik belum?kakak masih di rumah sakit?"tanya gadis itu.
"Udah keluar..Nih baru sampai rumah.."jawab Bastian.
"Oh... syukurlah kalau begitu... istirahat gih sana..."Bening senang mendengarnya.
"Siap laksanakan beb..aku hanya mau ngabarin ini biar kamu nggak khawatir.Takutnya kamu nggak bisa tidur lagi..."goda Bastian.
"Apaan sih,kak?aku matiin teleponnya ya?"ancam gadis itu.Bagaimanapun kesalnya ia, tapi tetap saja merasa terhibur dengan semua rayuan gombal Bastian.
"Ya, udah., kamu lanjut makan gih sana.. jangan makan yang pedas pedas ya?"pesan Bastian membuat Bening tertawa gemes.
"Kakak tuh yang sok sok an sama makanan pedes,pake nyaranin aku segala lagi,aku mah konsisten..."Bening menggeleng gelengkan kepalanya.
"Makasih ya..."ucapnya.
"Buat?"sahut Bening.
"Makasih karena sudah berdoa buat kesembuhan aku"Bastian berkata datar.
"What?"Gadis itu kaget dengan ucapannya.Ia merasa seperti disindir karena sejujurnya ia tak melakukannya.
"Sekali lagi, makasih ya beb..."ucapnya lagi.
"Kalau gitu, kakak istirahat ya, jangan lupa minum obat...aku mau lanjut makan dulu..."Setelah mendapat persetujuan pemuda tersebut ia pun menutup teleponnya.
__ADS_1
Bening senyum senyum sendiri mengingat semua kata kata ajaib Bastian dan bersyukur karena ia telah kembali pulih.