
Alangkah kagetnya Bening mendengar penuturan Daniel yang sudah menuduhnya memberitahu kedua orangtuanya tentang ia yang sudah berpacaran.Sungguh ia tak menyangka tuduhan tak beralasan tersebut keluar dari mulut kakaknya itu.
Bening mengernyitkan dahinya.
"Kakak harap tentang hal ini juga,tolong rahasiakan dari om dan Tante livia ya..."Bening hanya diam tak menjelaskan apapun.
Bukan berarti karena ia merasa bersalah tetapi ada baiknya ia akan mencari tahu kepada ibunya terlebih dahulu.
"Jadi,gimana dek?kamu bisa bantu Widya kan? please kali ini aja..."mohon Daniel.
Bening kembali berpikir.Permintaan dan ide sepasang kekasih itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya.
"Kenapa tidak jujur saja kak..aku yakin Tante vitha pasti ngerti..."jelas Bening masih mempertahankan suara hatinya.
"Saya juga berpikiran seperti itu tadi,tapi kan mamanya Widya bukan Tante Livia atau Mommy Melia dek...."ucap Daniel memberi gambaran.
Setelah lama berpikir Bening pun mengambil keputusan.
"Jujur,aku takut benget kak, ngelakuin hal ini.. tetapi demi Widya aku akan mencoba.Mudah mudahan ini yang pertama dan kalau bisa terakhir.."Bening berkata dengan berat hati.
"Oke, kalau begitu kita berangkat ya,ke rumah Widya..Dia lagi nunggu kamu..."Daniel begitu bersemangat setelah mendengar jawaban dari gadis itu.Berbeda sekali dengan Bening yang terlihat tidak nyaman.
"Oke... aku kabari mama dulu kalau aku akan terlambat ke toko..."pinta Bening.
Daniel pun segera menuju mobilnya.Setelah menelpon sang bunda gadis tersebut pun ikut menyusul Daniel yang sudah menunggu di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Bening tak berkata sepatah kata pun.Sesekali ia melihat ponselnya saat ada pesan masuk.Daniel yang duduk di sampingnya pun ikut membisu.Tatapannya fokus melihat ke depan tetapi sesekali ia mencuri pandang kepada gadis yang ada di sampingnya.Ada perasaan bersalah menyelinap di hatinya.
Setibanya di depan rumah Widya,ia tetap diam.
"Sudah sampai dek.Oh iya, aku nggak masuk ya.Aku nunggu di sini aja..ada CCTV soalnya.Takut nanti ketahuan.." jelas Daniel mengharapkan pengertian dari Bening.
Bening mengangguk paham tetap tak berkata sedikit pun.Ia turun dari mobil tersebut dan berjalan menuju ke pintu gerbang rumah Widya.
Daniel memandangi langkahnya yang terlihat ragu membuat perasaan bersalah itu semakin menjadi jadi.
Setelah beberapa kali memencet bel, seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya dan Widya mengenal wanita tersebut.
"Selamat pagi bi..." sapanya ramah.
"Pagi non Bening... wah...akhirnya bisa ke sini lagi...kasihan non Widya kesepian nggak ada temannya non....mana didiemin ibu lagi..."celoteh bi Santi sembari membukakan pintu gerbang.
__ADS_1
Bening tak merespon ucapan bi Santi karena ia sendiri sudah mendengarnya dari Daniel dan kalau ia meladeninya mungkin akan memakan waktu yang lama.Lagian bukan itu tujuan utamanya menyambangi rumah Widya, bukan untuk menghiburnya dari masalahnya dengan sang ibu.
"Maaf bi... baru bisa datang hari ini.Oh,iya aku juga lupa bawa oleh-oleh buat bibi... tadi buru buru soalnya bi..."ucap Bening karena biasanya jika ia bertamu ke rumah sahabatnya itu pasti tak lupa membawa oleh-oleh baik untuk Bu Vitha maupun bi Santi.
"Nggak apa-apa non... dengan non datang saja sudah cukup kok... biar non Widya ada temannya.. langsung ke kamarnya aja atau gimana non.."tanya bi Santi.
"Iya,bi... itu dia aku ke sini sebenarnya mau lihat Widya bi... tadi dia nelpon, katanya sesak napas lagi.Kemungkinan asmanya kambuh"Bening mulai menjalankan misinya.
"Beneran non?kok bibi nggak tau? aduh... padahal tadi waktu sarapan aman-aman saja.Ayo,non.. buruan..."Untungnya Bi Santi pun terpengaruh dan percaya begitu saja bahkan mendadak panik mendengar cerita dari Bening.
Keduanya langsung menuju kamar Widya dengan langkah setengah berlari.
"Hallo...non Widya...ayo buka pintunya.Ini....Non beningnya sudah datang... cepat buka non..."ujar bi Santi dengan napas memburu.Diketuknya pintu hingga berkali-kali.
Widya tampil dengan wajah yang dibuat seletih mungkin untuk meyakinkan bi Santi bahwa ia benar benar sakit.Ternyata ia telah melakukan persiapan yang matang saat kekasihnya memberi tahu bahwa Bening bersedia membantunya melancarkan sandiwaranya.
Saat memandangnya,sang sahabat pun sempat terkecoh dan menganggap kalau dirinya beneran sakit.
"Wid... astaga wajah kamu pucat banget.Masih sesak nggak?Kita langsung ke rumah sakit aja ya..."ujar Bening.Ia berkata sesungguhnya dari hatinya tanpa peduli kalau Widya sesungguhnya hanya berakting.
Tanpa menjawab, Widya mengangguk anggukan kepalanya dengan tarikan nafas yang secepat mungkin,khas orang sesak.
Tanpa berlama-lama, Bening mencari nomor Bu Vitha di handphonenya dan menelponnya.
Awalnya Bu Vitha sempat mereject panggilannya.Hal itu sempat membuat Bening takut.Akan lebih beresiko jika ia membawa Widya tanpa sepengetahuan ibunya.
Tak lama kemudian, handphonenya berbunyi.Dengan segera gadis itu mengangkatnya.
"Halllo, selamat siang Tante...maaf menggangu.."ucapnya sopan.
"Iya, selamat siang nak... memang Tante lagi sibuk, tapi nggak apa-apa. .ada apa nak?"tanyanya.
"Tan... saya lagi di rumahnya tante.. Widya asmanya kambuh tan.. saya langsung bawa dia ke rumah sakit saja ya..." ujar Bening dengan terbata bata karena gugup.Sungguh ia benar benar tak pandai melakukankannya.
"Apa... ?kalau begitu Tante ke sana sekarang ya.."jawabnya sontak membuat Widya yang mendengarnya diserang rasa panik dan takut.
"Nggak tan...nggak apa apa..tante lanjut meeting aja dulu.Saya bisa kok Tan ... seperti waktu itu.Lagian sudah minum obat juga tadi.Tapi karena obatnya sudah habis dan selama ini juga dia belum pernah kontrol.Jadi saya akan tetap bawa Widya ke rumah sakit, nanti di sana ada papa yang akan bantu kami.."Bening sebisa mungkin meyakinkan Bu Vitha.
Meskipun awalnya Bu Vitha diam, mungkin karena masih bimbang tetapi pada akhirnya ia setuju.
"Makasih ya Nak... makasih banget...maaf Tante selalu merepotkan kamu...tapi kalau tante selesai meeting,Tante sesegera mungkin menyusul..."Bu Vitha sangat merasa bersalah dan tak enak hati pada gadis itu.
__ADS_1
"Oke Tan...nanti saya kabari..mau ngomong sama Widya mungkin tan...?"Tanpa menunggu jawaban dari sebelah Bening menyerahkan ponselnya kepada Widya.Gadis itu kelabakan.
Ia mengatur nafasnya dan dengan ngos-ngosan ia berbicara kepada ibunya.Widya hanya bilang kalau ia tidak apa-apa dan mau ke dokter lalu mematikan teleponnya.
Meskipun Bu Vitha sempat meragukan kebenarannya, mengingat tadi pagi sebelum ia berangkat ke kantor,tak ada tanda-tanda sedikitpun yang menunjukkan kalau anaknya sakit.Bahkan saat si telepon tadi ia tidak mendengar bunyi nafas mengi yang menjadi ciri khas penderita asma dan yang biasa ia dengar saat sakitnya kambuh.Tetapi ia menepis semua kecurigaannya tersebut karena Bening tadi sempat mengatakan padanya bahwa ia sudah meminum obatnya.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan Widya pun segera mengambil tas yang sudah dari tadi ia siapkan.
"Cepat non... jalan sekarang aja.."kata bi Santi yang ikut terbius dengan akting keduanya.
"Iya,bi... makasih ya...kami berangkat dulu.."pamit Bening kemudian keluar dari rumah, sedangkan Widya berjalan mendahuluinya.
πΎπΎππΎπΎ
"Sayang......."Widya langsung memeluk Daniel ketika sudah sampai di dalam mobil. Daniel yang kaget dipeluk mendadak hanya bisa diam tak mampu menghindar.Ditatapnya Bening yang kini duduk di belakang.Tatapan penuh dengan perasaan bersalah.Dari gerakan tubuhnya seperti ia mau mengisyaratkan sesuatu kepada adiknya itu.
Tak bisa dipungkiri, Bening benar-benar tak nyaman melihat keduanya berpelukan.Ada perasaan aneh bergemuruh di hatinya.Mungkinkah itu yang namanya cemburu.Entahlah yang jelas gadis itu ingin segera menghilang dari situ.
"Makasih ya Ben... kamu memang sahabat terbaikku.. makasih banget.."ucap Widya dengan sangat ekspresif.
Bening sebisa mungkin tersenyum walau ia kecewa dengan sikap Widya dan Daniel yang sudah membuatnya harus berbohong.
"Jadi, selanjutnya gimana?kita akan ke rumah sakit atau gimana?"Bening meminta pendapat keduanya.
"Ngapain ke rumah sakit?kan ceritanya aku hanya pura pura sakit biar bisa keluar dari rumah.."tolak Widya.
"Iya,aku tahu Wid...tapi gimana kalo nanti tante Vitha minta bukti atau malah nyusul kita ke rumah sakit nanti.."Bening mengingatkannya agar lebih waspada.
"Ya,tapi jangan ke rumah sakitlah,aku kan nggak apa-apa, nggak sesak juga, nanti sampe di sana aku harus bilang apa sama dokter.. nanti malah diketawain lagi, nggak sakit juga... gimana kalau kita ke apotek saja,kita beli lagi obat yang bulan kemarin diresepin dokter?nih...aku bawa obatnya,ada copy resepnya juga nih... kebetulan inhalerku juga memang udah habis.. gimana?." jelas Widya sebegitu detailnya sudah mempersiapkan semuanya.
Bening dan Daniel hanya bisa menganga mendengarnya.Benar-benar dia sangat niat merencanakannya.
"Iya, sih ... tapi yang dibilang Bening juga benar Wid, nanti kalau ketahuan mami kamu,gimana? Kalau dia nyusul ke rumah sakit terus ngecek di sana gimana?"Daniel memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.Mengingat Bu Vitha sangat perfeksionis,dia tidak mungkin terima jika dikerjai anaknya lagi.Bisa jadi ke depannya akan semakin rumit kalau mereka kehilangan kepercayaannya.
"Ih...... Enggaklah...mama lagi sibuk banget... nggak mungkin dia buang buang waktu dengan ngelakuin itu semua.Lagian kenapa ribet banget sih pemikirannya? Udah ya... seperti ide aku saja yang tadi.Bakalan aman kok...oke?Jadi kita mau jalan jalan ke mana nih?"tanya Widya tanpa beban sedikitpun.
"Ya, udah kalau menurut kamu itu ide yang aman.Kalau begitu aku langsung ke toko aja ya..kan nggak mungkin jadi nyamuk buat kalian..."Bening mencandai keduanya.
"Makasih buat pengertiannya.Tapi kamu nggak cemburu kan kalau aku pergi berduaan sama kakak kamu ini?"canda Widya, sukses membuat Bening terkejut.Wajahnya langsung bersemu merah.
Apa yang dikatakan sahabatnya itu benar adanya.Dalam hatinya ia akui kalau Nia memang cemburu.Hal inilah yang ia takutkan beberapa hari ini.Ia takut tak bisa menyembunyikan perasaannya dan itu akan membuatnya merasa malu sendiri.
__ADS_1