
Sungguh seperti mengulang memori yang lama tertinggal, suasana yang tercipta malam ini meskipun awalnya masih canggung untuk memulai percakapan tetapi lama kelamaan semuanya menjadi lebih nyaman.
Canda dan tawa bahagia mengalir begitu alami dari mulut mereka.Tak ada satu pun yang merasa terasing dengan pertemuan ini.Tak terkecuali Daniel.Seringnya ia melihat pertunjukan perselisihan orang tuanya yang kerap kali membuat ia merasa sendirian.Tapi kali ini ia mulai melihat sinar kedamaian yang lama redup terpancar dari wajah ayah dan ibunya.
"Jadi gimana, Liv.. ?Natal kali ini nggak ke mana mana?Akhir tahun mau dirayain di mana?"tanya bu Melia.
"We're not going anywhere.Natal di sini, akhir tahun juga kita rayakan di sini..ya nak ya?Udah setuju kan kita nggak kemana mana...?" jawab bu Livia yang langsung menanyai putrinya.
"Oke ma.Kesehatan om Darwin lebih penting daripada liburan.." jawab Bening dengan polosnya karena memang alasan mereka tidak liburan karena pak Cahyo fokus mengurus kesehatan pak Darwin sahabatnya.
Bu Melia langsung terharu mendengarnya.Meskipun jawaban itu sedikit membuatnya tertampar tetapi ia tidak merasa bahwa sakit yang diderita mantan suaminya ada kaitannya dengan keputusan mereka mengakhiri pernikahan.
"Makasih ya nak,Liv,mas Cahyo, sudah mau mengorbankan liburannya untuk daddy..."ucap bu Melia yang mewakili isi hati pak Darwin.
"So,you have to be excited.Kamu harus kuat,jalani semua pengobatan dengan baik.Kamu harus sembuh..." tambahnya dengan menyemangati pak Darwin.
Pelan-pelan Melia yang dulu mulai kembali ditandai dengan sikapnya yang sangat care dengan suaminya.
"Thank you mom.I promise,for you and our son.I will fight to get better..." jawab pak Darwin dengan kesungguhannya membuat mereka yang mendengarnya tersenyum haru.
"Well...seperti yang dibilang tante Livia,we're not going anywhere.Kita liburannya di sini.Ngerayain Natal di sini sama sama and spend the rest of the year together "Daniel akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Hore...." Bening sontak mengangkat kedua tangannya bak seorang anak kecil.
"Akhirnya....ye..e..i..." teriaknya kegirangan.Mereka menertawainya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Are you happy?"tanya Daniel padanya.
"Yes....of course...I am very-very happy.Memangnya kakak enggak?" Bening malah balik bertanya.
Daniel tersenyum indah dan mengacak rambut adiknya lembut.
"I am happy too.Maybe even more than you feel..." jawabnya membuat kedua orang tuanya tersenyum haru.Ada perasaan bersalah yang teramat dalam pada hati ibunya yang membuatnya sedih.Ia ingin sekali memeluk putranya itu.Menilik semua derita yang pernah mereka lalui, membuat matanya kembali berkaca kaca.
Pak Darwin melihatnya.Ia mengusap tangan wanita yang masih sangat dicintainya,meskipun keduanya baru saja mendapat surat keputusan dari pengadilan.
Ia sangat paham apa yang kini sedang ia rasakan.Sama halnya dengan bu Melia,ia juga merasa terenyuh mendengar penuturan putranya.Tetapi ia juga tak mungkin menunjukkan wajah sedihnya di depan putranya.
Bening melihat adegan itu.Bagai terkoneksi,ia juga merasa pilu karena mengetahui kenyataannya.
"Kalau begitu kita harus sepakat,nanti kita merayakan akhir tahun di mana dan mulai sekarang kita bisa memikirkan apa apa yang akan kita buat untuk akhir tahun kita.Kita bagi tugas..." usul pak Cahyo
"That's right.Aku setuju" timpal bu Livia.
__ADS_1
"Kalian berdua ada yang punya ide nggak?Kali ini biar kalian saja yang memutuskan tempatnya.Waktunya kalian berdua.Kami orang tua, ngikutin atau bagaimana?" pak Darwin meminta pendapat mereka.
"Bagaimana kalau kita rayain akhir pekan di cafenya teman aku saja?Di sana kita bisa dengar live music, barbeque..." Bening memberikan usul.
"Cafe Dear baby maksud kamu?Emang kamu sudah lihat tempatnya?Diresmiin aja belum, cafenya.Kesan apa yang mau kita ambil dari sana?Kita mau membuat kenangan kan?Terus live music? Penyanyinya si tenor itu?" sanggah Daniel dengan berbagai pertanyaan.Bening hanya nyengir kuda mendengar pertanyaannya.
"Udah buka kok kak, walau masih percobaan.Namanya bukan tenor kak,tapi Bastian..."protes Bening dengan menonjolkan bibir bawahnya.Daniel yang diprotes diam saja.Orangtua mereka tak satupun yang menanggapi perdebatan keduanya.Keempatnya hanya mendengar dan tersenyum.
"Lagian daddy Darwin juga nggak boleh makan yang panggang panggang dulu nak.Iya kan pa?Jadi mulai sekarang kita harus lupakan barbeque"kata bu Livia yang meminta penjelasan suaminya.
"Iya...betul .." jawab pak Cahyo singkat,tapi bukan tipe anaknya yang akan diam saja jika itu berkaitan dengan kesehatan.Rasa ingin tahunya pasti selalu muncul dan ia akan diam jikalau telah menemukan jawabannya.Apalagi dirinya sangat menyukai makanan yang dibakar.Bukan hanya dirinya,ibunda Daniel pun sama.
"Kenapa nggak boleh,pa?"tanyanya.
"Ada dua jenis senyawa penyebab kanker yang akan terbentuk selama proses pembakaran.Dua senyawa itu yang pertama HCA( amines heterosiklik) yang terbentuk ketika daging dimasak pada suhu yang terlalu tinggi baik dipanggang atau digoreng tetapi HCA juga terdapat pada rokok sehingga mengakibatkan kanker.Sedangkan yang kedua namanya PAH, terbentuk ketika cairan lemak pada daging menetes ke permukaan bara yang panas dan menimbulkan asap.Nah,asap ini mengandung zat kanker yang akan nempel di daging.Sebenarnya bukan karena arangnya yang menyebabkan kanker tetapi lebih ke suhu yang terlalu tinggi selama proses pemanggangan ..." jelas pak Cahyo secara detail.
"Wah... serem juga ya... selama ini kayaknya banyak yang salah deh prakteknya..." ungkap bu Melia yang mulai was was setelah mendengar penjelasan pak Cahyo.Jika bukan karena pak Darwin yang terkena penyakit kanker, mungkin mereka tak akan membahas tentang hal itu.Walaupun mereka sendiri juga adalah penganut gaya hidup sehat, tetapi mereka juga harus lebih banyak belajar lagi tentang pola hidup yang sehat mengingat pak Darwin yang tengah menderita kanker stadium awal.Tak ada satupun yang ingin sakit, sehingga setiap hari harus selalu berusaha untuk hidup lebih sehat.
"Jadi gimana dong om?kita nggak bisa barbequean lagi ..." timpal Daniel.
"Iya, padahal enak banget,seru.Terus kita juga jarang banget kan barbequean bareng... terakhir di ulang tahun kak Daniel tiga tahun lalu..." tambah Bening dengan mengenang kembali memori lama yang masih terus diingatnya. Ia berkata tetap dengan polosnya.
"Iya,kamu sama mommy pasti stress.Kan, kesukaan kalian berdua tuh?"kata Daniel.
"Makasih,mas Yo informasinya.Berguna banget.Nanti saya jadi asistennya kamu aja Liv..." ungkap bu Melia pada sahabatnya.Merekapun tertawa bersama.
"Tapi untuk kamu Dar,memang sebaiknya untuk tidak mengkonsumsi makanan bakar atau panggang dulu ya. ." ucap pak Cahyo pada sahabatnya itu yang sejak tadi hanya diam mendengarkan mereka membahas banyak hal tentang penyakitnya.
"Siap pak dokter..."jawabnya tegas dengan suara yang begitu diusahakan lantang padahal ia bermasalah dengan laringnya.
"By the way,kita lanjut ngobrolnya sambil makan aja ya...yuk..." ajak bu Livia pada suami,anak dan ketiga tamu spesialnya.
Merekapun berdiri menuju ruangan makan.Tampak berjejeran menu makanan yang aromanya benar benar menggugah selera.
"Wow...looks so delicious..." puji pak Darwin takjub.Apalagi ia sangat tahu bahwa makanan makanan yang ada bukan pesanan tetapi dimasak sendiri oleh bu Livia dan ia sangat tahu gimana rasanya.
"Mas Cahyo,daddy boleh makan yang mana saja?" tanya bu Melia begitu perhatian.
"Tenang Mel,untuk daddy Darwin ada kok.Menu khusus ala me" tunjuk bu Livia pada dirinya sendiri.
"Dan tentunya atas racikan mas Cahyo..." lanjutnya.Pak Darwin merasa sangat bahagia diperhatikan.Ia sangat bangga memiliki sahabat sebaik Cahyo juga istri dan anaknya yang sangat care dengannya.Baginya bu Melia tetaplah istri karena dirinya sudah rembuk bersama pengacaranya dan sudah ke pengadilan untuk melakukan banding.
Ia yakin, keputusannya akan berpihak padanya mengingat sakitnya dan bu Melia juga sudah menunjukkan sikap yang berbeda.
__ADS_1
"Tadi supnya aku yang buat loh kak..." ujar Bening mempromosikan dirinya sendiri.
"Iya,aku percaya..." jawab Daniel datar.
"Loh,emang benar..." sanggahnya.
"Iya,kan tadi aku sudah bilang aku percaya?Gimana sih dek...?"bantah Daniel gemes melihat wajah adiknya yang mulai manyun.
"Daddy juga percaya kok,nak.Kamu yang buatin.Rasanya pasti enak banget.Kamu pasti capek ya? Thank you banget loh nak." ucap pak Darwin tulus.Bening langsung tersenyum lebar.
"Tante juga nak,makasih ya sudah masak buat kami.."bu Melia tak mau kalah.
"Ada yang gede kepala nih, terlalu banyak dipuji..."ledek Daniel.
"Biarin.Wek..."Bening memanyunkan bibirnya.
"Aku yang makasih sama om dan tante,sudah mau membuat malam seperti ini terjadi.Sudah lama kita tidak seperti ini.I missed this so much for a long time..."jawab Bening.
"U..u..u..h....tante sangat terharu.."bu Melia menyeka air matanya yang tak bisa ia bendung.Kata kata Bening benar-benar membuatnya tak bisa lagi menahan diri.
Bu Livia yang melihatnya juga ikut menangis.Daniel refleks mengusap tangan ibunya.
"Udah ya mom.Jangan nangis lagi ya.." ujarnya lembut.Bening jadi merasa bersalah dengan kata katanya.
"Gimana kalo sekarang kita langsung berdoa saja sebelum makan.." kata pak Cahyo menengahi.Dengan dipimpin olehnya mereka pun mengambil sikap untuk berdoa sebelum melakukan family dinner.
Tak lama setelah itu mereka masing-masing mulai mengambil menu yang disuguhkan dengan pilihan masing-masing.
"Jadi,rencananya gimana, Dar?Pengobatannya mau lanjut di sini atau di New York?"tanya pak Cahyo di sela makan.Semua mata memandang ke arah pak Darwin yang menjadi sasaran dari pertanyaan tersebut.
"Ya.... kalau menurut kamu saya harus berobat di sana,tidak apa-apa.Tapi kalau kamu mau tahan saya di sini juga tidak apa-apa.Its oke.Saya dengan senang hati menjalani apapun yang menjadi anjuran kamu Yo.Kalau yang kankernya saja stadiumnya sudah lebih dari aku,bisa kamu tangani dan sembuh,masa aku enggak?" jawab pak Darwin yang menyerahkan sepenuhnya keputusan pada sahabatnya itu.
Ia berpikir sejenak.Memang benar ia ingin menyembuhkan pak Darwin dengan tangannya sendiri.Tetapi ia juga tak mau egois dengan permintaan keluarga besar pak Darwin yang menginginkan agar sahabatnya itu pulang dan berobat di sana.Apalagi mereka tahu, bagaimana kondisi rumah tangga pak Darwin.
"Iya,sih Dar.Tapi yang menyembuhkan mereka itu kuasa Tuhan.Saya hanya perpanjangan tanganNya." jawab pak Cahyo merendah.
"Iya,Yo...aku tahu itu.Aku juga yakin,Tuhan akan pakai kamu buat nyembuhin saya"ungkap pak Darwin membuat hati sahabatnya diliputi haru.
"Oke,Dar... tapi seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, saya tetap ingin kamu ke sana dengan alasan yang sudah saya jelaskan ke kamu.I want the best for you..." ucap pak Cahyo meyakinkan sahabatnya itu.
"Oke,baiklah kalau seperti itu.Saya akan ke sana setelah kita merayakan akhir tahun bersama sama..." jawabnya mengambil keputusan.Bu Melia menyentuh tangannya pertanda ia mendukungnya.
Ketika mendengar penjelasan pak Cahyo saat ia berkonsultasi tentang penyakitnya,rasa bersalah menghantuinya.Mungkinkah dirinya menjadi salah satu penyebab pak Darwin sampai sakit? Salahkan keputusannya yang tetap kekeh ingin bercerai?
__ADS_1
Mereka pun menikmati makan malam dengan hikmat dan penuh kasih.