
"Hai..."sapa Bastian dengan senyumnya yang menawan.
Pemuda itu tahu bahwa kekasihnya akan menemui Malvin yang pernah ia ceritakan.Karena itu ia berpikir untuk menemuinya juga, sekalian mengenalnya .
"Hey... udah selesai syutingnya?"tanya Bening menyambut kedatangan kekasihnya.
"Iya... kebetulan juga nggak macet ke sininya.."jawab Bastian.
"Oh...oh, iya kenalin...ini kak Malvin... Kak,ini namanya kak Bastian..."Bening memperkenalkan keduanya.
"Oh..."kedua pemuda tersebut pun saling mengulurkan tangan mereka masing-masing.
"Bastian... pacarnya dokter Bening..."di luar dugaan Bastian memperkenalkan status mereka.
"Oh...yang penting bukan istri kan"ucap Malvin membuat wajah sepasang kekasih tersebut berubah ekspresi.
"Becanda kok...tegang amat..."celetuk Malvin.
"Kak Bastian ini adiknya Meva,kak... Udah aku ceritain kan,ya?"Bening mengingat ingat sekilas apa yang sempat diceritakannya tentang Malvin sekaligus mengganti bahan pembicaraan agar suasana bisa adem.
"Bisa ditebak kok,Bi...walau nggak kamu ceritain.."kata Bastian dengan percaya dirinya membalas candaan Malvin sebelumnya.
"Maksudnya?"Bening kurang paham maksudnya demikian pula halnya dengan Malvin.
"Mirip.."kata Bastian dengan suara yang mengecil sambil tersenyum.
"Masa, sih?Kayaknya enggak deh.."Bening malah memperhatikan ulang wajah Malvin yang menurutnya tak punya kemiripan sama sekali.
Malvin yang terus memasang tampang sok coolnya menjadi salah tingkah saat wajahnya ditatap lekat oleh mata indah Bening dengan bibirnya mungilnya yang menggoda untuk dicium.
"Mungkin karena kamu cowok kak,tapi iya loh... mirip..."ucap Bening tanpa tahu kalau pria di hadapannya berusaha untuk tidak terlihat sedang tersipu malu.
__ADS_1
"Well,kami duluan ya kak..."pamit Bening.
"Oh,iya... silahkan.. Terima kasih untuk traktirannya.See you next time..."ungkap Malvin.
Tak menyia-nyiakan peluang, Bastian langsung meraih tangan Bening dan menggenggamnya lalu melangkah.Beruntung gadis itu tak menepisnya sehingga ia tak perlu merasa malu apalagi di depan saingannya.Bastian sengaja melakukannya agar rivalnya tersebut tak lagi mengganggu pacarnya.
Malvin mengambil handphone-nya dan memotret sejoli yang tengah saling menggenggam tangan tersebut dan dengan isengnya segera dikirimkannya pada sahabatnya yang beberapa hari terakhir tak saling berkomunikasi pasca terlibat adu fisik.Siapa lagi kalau bukan Daniel.
Karena tak ada respon dari Daniel setelah ia mengirim foto tersebut, meskipun telah tercentang dua biru ia pun segera menelponnya.
"Dimana lu?"tanya Malvin ketika Daniel mengangkatnya.
"Bali..."jawab Daniel singkat.
"Boong... ada yang ngelihat elo tadi pagi wara wiri di rumah sakit bawa rantang.."kata Malvin yang tak percaya akan keberadaannya.
"Adek lu pasti.."tebak Daniel.
"Hmmmm...biasa aja.."jawab Daniel meskipun sebenarnya ia terbakar cemburu melihat foto tersebut.
"Pembohong.. Nggak mungkin banget.."Ujar Malvin tak percaya.
"Iya,lah...elu kali yang terbakar tadi..."kata Daniel.
"Emang iya dan gue nggak mau nyerah.Lu tahu perjuangan gue kan?Lu sendiri udah move on atau gimana?elu nyerah? Cepat amat? Katanya cinta banget.Cuma segitu cinta lu?"tanya Malvin masih tak percaya.
"Gue cuma pengen lihat dia bahagia, Vin.. Karena itu gue harus bisa menerima dan menghargai pilihannya sekarang.Itu bentuk sayang dan cinta gue ke dia.Apalagi pacarnya yang itu sangat baik.Kita nggak ada yang tau hari esok kan? Jodoh juga begitu.. misteri..."Daniel tetap berusaha tenang mengungkapkan isi hatinya sehingga dengan demikian Malvin pun akan melakukan hal yang sama yaitu menerima.
Ia mengenal sahabatnya itu yang tak mudah menyerah terhadap apa yang menjadi keinginannya.Ia hanya tak ingin kalau sahabatnya itu akan melakukan sesuatu yang bisa melukai perasaan Bening dan merusak kebahagiaannya.
"Tapi kalau mereka pacarannya nggak sehat,masa lu tetap berharap jadi jodohnya?Mau dapat yang sisa?"pertanyaan Malvin sontak membuat Daniel marah.
__ADS_1
"Brengsek banget sih pemikiran lu?Adek gue itu cewek baik baik..Awas aja kalo elu coba coba ngerencanain yang aneh aneh.."Daniel memberikan peringatannya.
"Terserah elu deh.. Tapi gue tetep nggak mau nyerah..."tegas Malvin.
"Ya...ya..ya.. yang penting lu nggak nyakitin dia aja..Awas aja kalo berani..."ancam Daniel.
"Idih... ngancem...by the way lu kenapa pulang? bukannya lu dikejar waktu?Tinggal beberapa hari kan peresmiannya?"tanya Malvin tak ingin memperpanjang perdebatan keduanya.
"Ada seorang ibu yang harus gue temani karena dia nggak bisa tinggal sendiri.."jawab Daniel.
"Oh,om Darwin di sini?"tanya Malvin.
"Iya..."kata Daniel.
Ayahnya memang sedan di Jakarta saat dirinya pulang ke Bali dan seorang ibu yang ia maksudkan itu adalah bukanlah ibunya sendiri melainkan bu Livia, ibundanya Bening.
Pak Cahyo sedang melakukan tugas ke luar negeri, karena itu ia menawarkan diri untuk menjaganya sebisanya setelah berpikir bahwa tak ada cara lain untuk bisa mengambil kembali hati adiknya yaitu dengan mendekatkan diri kepada orang tuanya.
"Oh,gitu?ya udah deh, entar gue ketemu om Darwin,deh..."ucap Malvin.
"Baguslah.. daripada lu mikirin si adek sama pacarnya?"kata Daniel.
"Kayak lu nggak aja?Mana gue tau bentar lagi lu pasti nyari oksigen karena nyesek kan?"cecar Malvin.
"Sok tahu.. Udah dulu ya, nggak enak sama ibu.. udah nunggu untuk makan siang"Malvin mengernyitkan dahinya.
Seingatnya, Daniel tak pernah memanggil ibunya sendiri dengan sebutan ibu.Selama ini yang ia tahu adalah mommy.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya.Tetapi di lain sisi rasanya lega bisa menelpon sahabatnya setelah kejadian keduanya bak petinju di ring.
Tak ada kata maaf untuk kembali berdamai, karena tak ada yang merasa bersalah tetapi seperti itulah persahabatan keduanya.
__ADS_1
"