
Bening berjalan sedikit gugup memasuki gedung hotel.Bukan kali pertama baginya untuk datang ke tempat itu.Meskipun tangannya tak pernah lepas dari genggaman Bastian sang pacar tetapi tetap saja ia merasa nervous, padahal penampilannya sangat memukau karena hasil kerja seorang make-up artist terkenal yang disewa oleh Bastian walaupun kecantikannya alami.
Gaun yang ia kenakan juga adalah dari seorang desainer ternama yang menambah anggunnya penampilannya.Mungkin saja ia tidak akan dikenali oleh orang terdekatnya dan mengira kalau dirinya adalah seorang artis apalagi yang berjalan di sisinya adalah seorang Bastian.
"Kamu nggak nyaman ya,By?"tanya Bastian dengan memelankan suaranya karena merasa telapak tangan Bening yang dingin.
"Iya,kak... dikit..mungkin karena baru pertama kali di-make over sih, jadi kayak nggak ngerasa jadi diri sendiri dan kayak nggak pantas aja..."jawab Bening merendah.
Tadinya ia sempat protes saat Bastian memberinya gaun tersebut, karena saat dirinya diajak untuk menemui sang desainer gadis itu menolak dengan alasan bukanlah waktu yang tepat untuk ia harus menggunakan baju yang didesainer secara khusus.
Ternyata Bastian tetap memesannya, karena baginya gadis itu adalah orang yang sangat spesial yang pantas untuk diperlakukan secara spesial juga.
"Tapi kamu selalu pantas kok By,diperlakukan secara khusus dan kamu sangat cantik malam ini, By...i love you"Bastian membisikkan kata-kata mutiaranya itu ke telinga Bening.
"Hanya malam ini kak?"tanyanya berusaha untuk tidak fokus ke kalimat terakhir yang diucapkan kekasihnya.
"Dari dulu hingga malam ini, kamu selalu menjadi yang tercantik di mata aku, sayang..."wajah Bening bersemu merah saat Bastian kembali menyanjungnya apalagi saat matanya bertemu dengan mata seorang Daniel yang melihat ke arahnya dengan tatapan terpukau.
Pria yang lebih dari seminggu tak dilihatnya dan tak ada kabarnya meskipun setiap hari ia mengirimkan Bening makanan ke tempatnya bekerja melalui orang suruhannya.Hanya sekali dia mengantarnya sendiri.Meskipun berkali-kali Bening mengirimkannya pesan agar menghentikan aksi anehnya tetapi tak ada satupun yang dibalasnya meskipun pemuda itu telah membacanya.
__ADS_1
Bening semakin gugup saat Daniel berjalan mendekati keduanya untuk menyambut kedatangan mereka.
"Hai Bast..dek....."sambut Daniel saat sudah berada di dekat mereka.
"Terima kasih sudah datang..."sapanya dengan sangat santun.
"Hai Dan..."balas Bastian tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Bening.Daniel yang berusaha untuk beradaptasi dengan pemandangan tersebut sebisa mungkin untuk tidak fokus pada hal tersebut meskipun rasa cemburu dan sedih menggerogotinya.
Tapi gestur tubuh dan raut wajahnya tidak mampu menyembunyikan semua perasaannya.
Bening jadi tak tega melihatnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan untung saja ia bisa menemukan sosok yang bisa membuatnya rileks yaitu pada seorang anak kecil yang sangat ia kenal.
"Anty Ben ..."jawabnya sedikit berteriak lalu masuk ke dalam pelukan Bening dengan sangat bahagia.Sontak saja hal tersebut mencuri perhatian para tamu undangan yang sudah datang tak terkecuali Widya.
Ia yang sudah tahu bahwa Bening pasti akan datang berjalan mendekat.
"Anty cantik banget seperti princess.."ucap Daniah polos sambil memandangi wajah Bening.Bastian yang berdiri tak jauh dari keduanya merasa bangga saat anak kecil itu memuji kecantikan sang pacar.
"Masa sih?Ini bukan karena kamu ada maunya kan?"Bening menggodanya dengan senyum curiga.
__ADS_1
"Enggak kok.. Emang beneran,anty cantik banget...Daddy,Anty cantik kan?"suara gadis kecil benar benar tak bisa direm membuat Bening merasa malu sendiri.Bahkan ia dengan kerasnya meminta pendapat Daniel.
"Cantikan Daniah kok..."jawabnya berbisik dengan harapan anak itu juga kemudian akan berbicara padanya dengan cara yang sama.
"Memang cantik kok... sangat cantik..."kata kata itu lolos begitu saja dari mulut Daniel.
"Daniah cantik banget..."buru buru Daniel menambah kalimatnya saat beberapa mata menatapnya.
"Berarti kita berdua adalah princesnya malam ini anty..."untung saja gadis kecil itu terus berceloteh.
Daniah juga terus memujinya dan bercerita dengan membisikkan kata-katanya ke telinga Bening.
"Kapan dari Bali?Sama siapa?"tanya Bening.
"Sama grandma..."ucapnya sambil mencari sosok yang ia sebut.
"Kok nggak bilang kalau mau ke sini?"kata Bening dengan wajah cemberut.
"Hai..."sapa Widya dengan senyum yang dibuat seramah mungkin.Mata dan kupingnya sejak tadi memanas melihat dan mendengar pembicaraan yang sepertinya hanya fokus terhadap Bening.
__ADS_1