
Daniel dan Widya tengah menikmati makan siang di sebuah pusat perbelanjaan dengan beberapa paperbag yang berisi belanjaan mereka terletak di samping gadis itu.Keduanya telah berganti kostum agar tak ada yang mengira keduanya bolos dari sekolah.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengamati gerak-gerik mereka.Siapa lagi kalau bukan pak Andre yang kebetulan berada di situ juga.Diam diam ia memotret keduanya dan mengirimkan hasil jepretan tersebut kepada bu Vitha.
Mendapat kiriman foto tersebut bu Vitha langsung meradang.Apalagi mengetahui siapa yang sedang bersama putrinya.Ia marah dan langsung menghubungi Widya tetapi handphonenya tidak aktif.
"Anak itu benar-benar sudah membawa pengaruh buruk bagi Widya..."gerutu Bu Vitha.Ia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan anak gadisnya tersebut.
Dengan diantar oleh Daniel kekasihnya,Widya turun di depan rumahnya.Ia melangkah masuk ke rumahnya dengan hati yang senang.Ia pun sudah kembali mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah.
"Selamat siang..."ujar ibunya mengagetkannya.
"Siang mi... mami sudah pulang?tumben pulangnya cepat..mami sakit?"Widya heran tak seperti biasanya ibunya itu pulang lebih cepat.Biasanya ia akan kembali dari kantornya pada sore hari bahkan tak jarang malam hari.
"Mami nggak sakit.. kamu kan yang sakit?"ujar sang bunda membuatnya mengernyitkan dahi.
"Enggak kok mi.. Aku sehat kok..."ucapnya meyakinkan diri.
"Iya, fisik kamu memang sudah sehat..Tapi tingkah laku kamu yang sakit..apa ini? jelaskan ke mami ini maksudnya apa?"bu Vitha menunjukkan kepadanya beberapa lembar photo yang sudah diprintnya.
Meskipun sangat marah tapi ia berusaha mengontrolnya mengingat kesehatan Widya.
"Bisa jelasin ke mami itu semua maksudnya apa?"Bening menjadi ketakutan tak habis pikir kenapa ibunya bisa tahu dan siapa yang sudah memotretnya.
"Mami dapat semua foto ini dari mana? dari siapa?"
tanyanya penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu mami dapat dari mana.. cukup kamu jelasin kenapa kamu bolos?itu foto kamu kan?"jawab Bu Vitha tetap dengan nada yang terkontrol.
"Tapi mi...itu bukan..."Widya tak melanjutkan perkataannya dan setelah dipikir-pikir lebih baik ia berkata jujur.
"Bukan kamu?itu rekayasa?gitu maksud kamu...?"Bu Vitha menggeleng gelengkan kepalanya benar benar kecewa.
__ADS_1
"Maaf mi... "ucapnya.
"Kamu kenapa bolos?"tanya bu Vitha.
Tak menjawab Widya hanya menunduk.
"Mami sangat kecewa sama kamu..mami marah sekali... kamu masih punya niat untuk sekolah nggak?"
"Masih mi..." jawab Widya masih menunduk.
"Terus kenapa bolos?siapa yang idein?"Kembali Widya tidak menjawab.
"Anak itu sudah memberi pengaruh buruk bagi kamu.Sudah berapa lama kalian pacaran?"tanya sang bunda.
"Baru sebulan mi.."jawab Widya.Mendengar nada bicara sang bunda yang tak seperti biasanya jika ia sedang marah rasanya Widya tak perlu berbohong lagi.
"Berarti benar kan? sejak kamu pacaran sama dia, banyak hal baru yang kamu dapet, kamu bolos, kabur dari rumah, pergi tanpa izin, mulai ngebantah, bicara nggak sopan.Besok ibu ke sekolah kamu untuk menghadap wali kelas kamu"Bu Vitha menyebutkan sederet hal hal negatif yang menurutnya akibat pergaulan putrinya dengan Daniel.
"Tapi mi... Bening pasti sudah bilang ke bu Nining tentang kesehatan Widya.Dia kan ketua kelas aku mi.."ujar Widya.
"Tadi mami sudah telepon Bening.. Andai kamu bisa mencontohi dia ..."kata bu Vitha lalu berdiri hendak ke kamar.
"Kalau kamu masih pacaran sama bule itu, jangan bermimpi untuk bisa ikut kakak kamu kuliah di luar negeri..."ucapnya kemudian ke kamarnya untuk beristirahat karena merasa sangat pusing.
🌾🌾❤️🌾🌾
Bening datang ke rumah Daniel dengan membawa catatan tentang pelajaran hari itu yang sudah diringkas olehnya dengan bantuan Bastian.Ia tak ingin kakaknya tersebut ketinggalan pelajaran penting apalagi tidak lama lagi ia akan mengikuti ujian akhir.
"Hey kak... lagi ngapain?"tanya Bening ketika dilihatnya kakaknya tersebut duduk di taman sambil memegang handphonenya.
"Nggak... cuma duduk saja.."Daniel tak memberinya senyum seperti biasanya.
"Aku ganggu ya?"Bening lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak sakit?"Bening bertanya lagi.
"Yang kamu lihat?Kenapa?apa karena tadi saya tidak masuk sekolah?saya bolos,dek... bareng Widya..."dari cara Daniel bicara sepertinya ia tengah kesal.
"Oh...."Bening tak tahu bagaimana ia harus bereaksi.
"Kalau ditanya kenapa,yah karena kami mau pacaran, makanya milih bolos..itu kan yang kamu bilang ke tante Vitha?"lagi lagi Daniel kembali menyudutkannya, menuduhnya tanpa mencari tahu terlebih dahulu.Padahal pemuda tersebut sudah berjanji tidak akan membuatnya sakit hati lagi.
"Maksudnya,kak?"Bening meminta klarifikasi.
"Kamu bilang ke tante Vitha kalau kami bolos dan pergi pacaran..."Daniel seenaknya saja berbicara.
"Hah? Tante Vitha bilang gitu? Bagaimana bisa? Emang bener..tadi tante telpon katanya hanya mau pastiin apa benar Widya nggak ke sekolah.Ya,saya bilang,benar Widya nggak ke sekolah.Itu aja.Saya nggak bilang dia pergi pacaran, nggak bilang bolos, nggak bilang pergi sama siapa?"jelas Bening.
"Tapi kenapa harus ngomong?"Daniel menjadi ngotot.
"Terus saya harus bilang apa? Saya juga nggak pernah terpikir untuk bilang ke tante kalau bukan karena beliau yang sudah menghubungi saya duluan.Lagian bu yang bilang Widya nggak masuk itu bu Nining.Tante Vitha nanyain kebenarannya ke saya.."jelas Bening dengan hati yang kecewa.
Daniel diam.Ia melihat Bening berkaca-kaca matanya.Ia tak tahu kebenarannya yang pasti sebab yang Widya cerita kepadanya berbeda sekali dengan apa yang adiknya tersebut.
"Ya, udah... kalau gitu saya pulang dulu kak.. saya sebenarnya ke sini hanya mau bawa ini... mudah mudahan bermanfaat.. Kalau enggak biar dibakar aja ."Widya mengeluarkan ringkasan yang sudah susah payah dibuatnya dan diletakkannya di atas meja.Ia yang datang ke rumah Daniel dengan kekhawatiran yang tinggi malah menerima tuduhan yang membuatnya sangat kecewa dan sedih.
Dengan langkah cepat ia berjalan menuju pintu gerbang.Ia ingin segera pergi dari tempat tersebut.
"Loh kak, belum pergi?"tanya Bening yang kaget Bastian masih menunggunya padahal tadi waktu ia turun ia berpesan untuk tidak menunggunya.
"Baru mau pergi beb..kan tadi kamu bilang, kalau Daniel ada berarti kamu akan lama di dalam, tetapi kalau dianya nggak ada kamu juga nggak akan lama .Jadi saya mau mastiin dulu.Ini kamu keluar lebih cepat berarti Daniel nggak ada ya, di dalam?"tanya Bastian.Ternyata ia menempati janjinya.Dan hal itu membuat Bening merasa terhibur di tengah suasana hatinya yang sedih.
"Makasih kak...Kita pulang ya...eh,aku boleh numpang lagi nggak?"gadis itu memelas dengan wajah yang tampak lucu di mata Bastian
"Ya,pasti boleh dong beb... saya siap mengantar ke mana pun kamu mau pergi.."bukan Bastian namanya jika tak menggombal.
"Apaan sih,ya udah yuk... kalau gitu jalan sekarang ya...mendung.. kayaknya bentar lagi hujan.."Bening langsung mengambil helmnya.
__ADS_1
"Aku bantuin ya..."Bastian membantu Bening memakai helmnya.
"Nggak bakal turun kok hujannya.Kan ada pawangnya..."tambah Bastian.