
"Terima kasih banyak,Ben... karena sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya..."ucap Malvin mengingat bagaimana perjuangannya untuk bertemu dengan gadis itu tahun lalu.
"Aku juga makasih kak,karena nggak kapok dengan kejadian waktu itu di Bali.."ungkap Bening dengan senyum di bibirnya yang membuat Malvin semakin menyukainya.
"Oh, iya aku bawa ini buat kamu..Maaf kalau nantinya kamu nggak suka.."Malvin menyerahkan sebuah paperbag.
Bening mengernyitkan dahinya.
"Ngapain repot-repot bawain oleh oleh segala kak..ini isinya apa, kalau boleh tahu?"tanya Bening.
"Buka dong...tapi jangan di sini ya,nanti aja setelah tiba di apartemen.."pinta Malvin.
"Oh, gitu...? Baiklah... Makasih ya..."Bening pun menyimpannya di samping tempat duduknya.
"Kalau boleh saya tahu, kamu kenapa ya waktu itu nggak mau ketemu saya..?Tapi kalau kamu nggak mau kasih tau alasannya juga nggak apa apa kok,saya hanya mensyukuri waktu yang sekarang akhirnya bisa ngobrol berdua sama kamu.. "kata Malvin memberanikan diri.
"Aku sudah terlanjur buat kesepakatan sama diri aku sendiri kak untuk tidak mau pacaran sampai saya berhasil menjadi dokter dan bisa bekerja.."jawab Bening tidak mengada-ada.
"Oooh...berarti waktu itu kamu udah tahu dong niat saya bukan cuma mau kenalan doang sama kamu tapi lebih ke arah serius, pengen jadiin kamu pacar?"pancing Malvin.
"Ya,tapi kalau untuk pacaran kan pastinya melalui berbagai tahapan dulu kak, nggak mungkin cuma satu dua kali ketemu atau ngobrol langsung pacaran.Intinya waktu itu aku nggak mau terbebani sama komitmen, pacaran kan ada komitmennya juga.."jelas Bening.
"Iya, saya paham kok.Tapi kalau untuk sekarang?Cerita tentang waktu itu sudah usai,kan?"tanya Malvin sambil menikmati minuman yang disuguhkan oleh pelayan.
"Tergantung kak..baru juga bertemu belum ada sejam"Bening melihat jam di tangannya.
Malvin tertawa mendengarnya.Ia senang gadis itu orangnya terbuka dan polos.Tak salah ia berjuang untuk bertemu dengannya.Ia menyimak ucapan Bening dan berjanji dalam hatinya akan berjuang untuk mendapatkan hati gadis itu.
"Kamu suka nggak minumannya?"tanya Malvin saat melihat gadis itu seperti tak terlalu menikmati minumannya.
__ADS_1
"Suka kok..Cuma terlalu manis aja..."Bening memberi penilaiannya.
"Oh, kalau gitu ganti aja,ya... sorry nggak nanya dulu tadi..."Malvin hendak memanggil pelayan tetapi Bening langsung menahannya.
"Nggak usah kak... beneran ... nggak apa-apa.."ujar Bening.
Pemuda itupun menuruti permintaannya.
"Kamu suka minuman apa?"tanya Malvin kemudian.
"Kopi.."jawab Bening tak malu menjawab tentang kesukaannya terhadap minuman berkafein itu.
"Oh,ya? minumnya setiap hari atau gimana?"Malvin mencari tahu.
"Setiap hari...pagi sebelum berangkat kerja dan sore hari ..."jawab Bening.
"Oh, ya? Tapi nggak apa-apa?"tanya Bening penasaran.
"Ambruk...Dia sampai dilarikan ke rumah sakit karena lambungnya bermasalah, mungkin karena efek kebanyakan caffeine kali ya? Setelah kejadian itu,dia kurangin sampai tiga kali saja sehari, yang penting setiap hari minum kopi, karena katanya hanya itu minuman yang mengingatkan dia pada seseorang.. Dia baik banget orangnya,nanti kalau sempat aku ajak dia deh biar kita bisa ngopi bareng..Dia pasti senang ngobrol sama penikmat kopi seperti dirinya."Entah mengapa Bening langsung teringat Daniel.
Seandainya saja yang diceritakan oleh Malvin adalah kakaknya paling tidak Bening sedikit senang karena Daniel mengingatnya.Tetapi sepertinya itu hanya mimpinya.
"Oh,iya, kamu jadi dokter karena cita cita atau ngikut ayah kamu?"tanya Malvin semakin bersemangat menggali informasi tentang gadis itu.
"Dua duanya.Yang pertama mungkin karena dari kecil sering diajak sama papa ke kliniknya, rumah sakit, lihat bagaimana papa kerja menolong orang sakit, mulia banget... Akhirnya jatuh hati deh dan jadi cita cita.Bukan berarti profesi lain gak mulia tapi karena saya mencintai dunia yang papa geluti..."cerita Bening.
"Kakak sendiri gimana? Boleh nggak sih aku tahu kerjaannya di sana?"Ia pun balik menanyai Malvin.
"Boleh dong... boleh banget.Dengam senang hati, malah...."Malvin pun bercerita tentang pekerjaannya di Amerika.Mereka pun terus saja bertukar cerita mewarnai makan malam mereka yang sangat mengesankan bagi Malvin.
__ADS_1
Pemuda itu benar benar bahagia.Gadis yang disukainya itu benar benar sesuai kriterianya dan ekspektasinya walaupun mereka baru pertama kali bertemu.
"Elu di mana?"Daniel mengirim pesan kepada Malvin.Ia yang merasa sungtuk di kamar hotel ingin bertemu dengan sahabatnya itu.Dirinya ingin menanyai pendapatnya tentang apa yang ia alami.
"Gue lagi dinner... Nggak bisa diganggu.Besok gue ke tempat lu..."balas Malvin.
"Sorry... jadi nggak sopan mungkin ya,megang hp saat ngobrol..."ucap Malvin pada Bening.Ia merasa tidak enak karena sudah meladeni sahabatnya tapi jika tidak dibalas Daniel akan menghubunginya terus.
"Oh, nggak apa-apa kok, kak... mungkin penting..."Bening menunjukkan senyumnya tak ingin keduanya menjadi kaku.
"Makasih Ben... saya senang banget bisa ngobrol sama kamu dan berharap setelah ini kita lebih intens komunikasinya dan hubungan ini bisa berlanjut..."Malvin mengutarakan niatnya.
Gadis itu hanya tersenyum tak memberi kepastian apapun.Ia juga senang bisa memiliki teman yang banyak.Untuk urusan jodoh biar Tuhan yang atur yang penting menjalin hubungan yang baik dulu.
"Boleh nggak kita foto?"Malvin pun memberanikan dirinya untuk meminta izin selain karena ia ingin mengabadikan momen tersebut, Daniel juga memintanya mengirim foto untuk membuktikan kebenaran dari ceritanya.
Malvin pun mengirim foto tersebut tentu setelah ia mengeditnya terlebih dahulu terutama untuk wajah Bening ditutupinya dengan menggunakan stiker berbentuk hati.
Daniel mengamati foto tersebut dengan saksama.Perasaannya mendadak tak karuan.Ia merasa mengenali wanita yang berfoto dengan sahabatnya tersebut walau wajahnya hampir sepenuhnya ditutupi.Tetapi rasa penasarannya akan kebenaran dari feeling-nya membuat ia harus membuktikannya.
"Good luck bro...Ini di mana?bagus banget tempatnya..."Daniel kembali mengirim pesan Wa dengan kata kata yang sebisa mungkin tak membuat Malvin curiga kalau sebenarnya ia ingin ke sana.
Daniel terus berdoa dalam hatinya agar Malvin segera membalasnya.Alhasil sahabatnya tersebut pun memberi tahu lokasinya dan nama restorannya.
Tak mau membuang waktu Daniel langsung bergegas menuju ke sana.Bermodalkan GPS,ia mengemudi mobilnya.Ternyata jaraknya tidak terlalu jauh.Dengan kecepatan tinggi pemuda itu melajukan mobilnya tak ingin terlambat menemui mereka.
Setelah tiba di depan restoran tersebut ia pun segera masuk dan bertanya pada pelayan tentang sahabatnya itu yang sedang melakukan dinner di sana.Dengan alasan yang bisa diterima ia pun dituntun ke ruangan yang sudah direservasi oleh Malvin.
Tubuh Daniel terasa lemah saat melihat gadis yang sangat dicintainya tengah duduk di hadapan sahabatnya dengan bibir yang mengukir senyum dan tawa.Ternyata dugaannya benar.Mereka sibuk bertukar cerita tanpa menyadari kehadirannya.
__ADS_1