
Bening berjalan di lorong rumah sakit dengan raga yang amat letih.Bagaimana tidak, setibanya di Jakarta ia hanya pulang ke apartemennya untuk membersihkan diri lalu berangkat ke rumah sakit.Sungguh, dirinya merasa seperti dikejar oleh mesin waktu.
"Dokter Bening..."panggil seorang laki laki berjas putih sama seperti dirinya.Sang dokter cantik itu pun menghentikan langkahnya dan diam di tempatnya berdiri menunggu pemuda itu yang berjalan ke arahnya.
"Dokter Rio, dokter manggil saya?"tanya Bening santun untuk memastikan.
"Iya...,dokter mau pulang?"tanya pemuda itu.
"Iya..ada apa ya,dok?"tanya Bening.
"Boleh nggak, saya antar?"dokter Rio menawarkan diri.Itu bukanlah kali pertamanya dia mencoba mendekati Bening dengan cara yang sama.
"Oh... makasih dok...tapi tadi saya bawa mobil sendiri"lagi lagi itu jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.
"Oh, ya udah... nggak apa-apa..biar lain kali aja.."katanya dan pasti selalu saja berakhir seperti itu.
"Sorry,dok...Saya duluan"ucap Bening tidak enak hati kemudian melanjutkan langkahnya.
"Nanti sore boleh nggak, saya main ke rumah kamu...?"ujarnya lagi.
"Hmmmm... boleh dok..."Bening mengangguk dengan senyumnya yang dipaksakan padahal dirinya sungguh sangat capek dan ingin beristirahat saja untuk memulihkan staminanya.
"Tapi kalau nanti saya main ke rumah kamu,ada yang bakal marah nggak?"tanya Rio.
"Maksudnya?"Bening tak paham.
"Maksud saya, itu teman kamu yang penyanyi itu nggak bakal marah kan?"Bening kini tahu maksudnya.Mungkin saja Rio berkata seperti itu karena sudah menonton konser kemarin.Tetapi seingat Bening tak ada kata kata yang diucapkan Bastian yang mengarah ke maksud yang spesial.
Toh, sebelumnya pernah juga diklarifikasi perihal hubungan mereka.Kalau sekarang ia tak membiarkan pemuda itu untuk berkunjung ke rumahnya secara tak langsung ia sendiri membenarkan rumor tersebut.
"Nggak kok..kak Bastian nggak mungkin marah.Dokter Rio boleh main ke rumah..."jawab Bening.
"Yes!!!!..."pemuda itu melompat dengan mengepalkan satu tangannya seperti baru saja menonton sepak bola dari pemain favoritnya yang berhasil mencetak gol.
__ADS_1
Bening yang mendengarnya dengan jelas tak mau menoleh untuk melihat reaksi pemuda tersebut meskipun sebenarnya ia penasaran kenapa Rio bisa sebegitu senangnya, padahal dia hanya akan berkunjung ke rumahnya dan dia juga tidak menanyakan di mana Bening tinggal sekarang.Mungkin dikiranya gadis itu masih tinggal di rumah neneknya.
Bening melangkah ke ruang operasi untuk menemui sahabatnya.Ia mendapat pesan bahwa kakaknya Malvin akan pulang di keesokan harinya.Bening disuruh untuk bersiap-siap menyambutnya.Ia jadi penasaran dengan isi pesan sahabatnya tersebut dan ingin bertanya persiapan apa yang akan ia lakukan.Karena tak ingin salah, Bening pun menemuinya.
"Ben..."panggil Meva saat setelah mendapat pesan Wa kalau Bening sudah di depan ruangannya dan ingin bertemu.
"Aku nggak lama...cuma mau nanya,ini maksud kamu gimana? persiapan apa?"tanyanya sembari menunjukkan pesan tersebut.
Serentak saja sang sahabat dibuat tertawa oleh pertanyaan tersebut.
"Aku pengennya kamu tampil lebih cantik saat bertemu kakakku besok..."ungkap Meva.
"Iya, besok aku dandan.."kata Bening.
"Bagus...aku mungkin dua jam lagi pulang.Kamu tunggu aja di rumah.Siap siap aku jemput..."ujar sahabatnya.
"Kita mau ke mana?"Bening dibuat curiga.
"Hah..? Ngapain? Enggak ah,aku capek.. mau tidur aja..."tolak Bening.
"Kan,ada dua jam.Kamu bisa pakai buat istirahat..Kali ini nggak boleh nolak.Kita bakal ke tempat yang sudah dipesan sama kak Bastian?Masa iya,kamu mau ngecewain dia...?"tanya Meva.
"Maksud kamu?Kamu cerita kalau aku mau ketemu kakak kamu?"tanya Bening was was.
"Iya, tadinya mau bilang begitu.Tapi nggak aku beritahu kok.Aku cuma minta dia rekomendasiin tempatnya buat kita perawatan.Secara dia artis,dia pasti tahu lah tempat yang bagus dan aman.Dan akhirnya dia rekomendasiin.Bukan cuma itu.Dia juga udah booking buat kita berdua.Jadi bukan cuma buat kamu.Aku juga..."Meva memperjelas maksudnya.
Gadis itu sebenarnya ingin bercerita tentang dirinya yang sudah bertemu Daniel kemarin saat Bening pulang ke Bali.Tapi niat itu diurungnya.
Bening pun bernafas lega mendengarnya.Ia pun pulang ke apartemennya untuk beristirahat sejenak.
Setelah membersihkan diri,ia yang berniat untuk langsung tidur,dikagetkan oleh sesuatu yang ada di meja di sudut kamarnya.Tampak sebucket bunga dan paperbag terpampang di sana.Karena penasaran ia pun bangkit dari tempat tidurnya.
Reaksinya berbeda melihat bunga tersebut.Bunga mawar putih yang persis pernah ia terima di beberapa tahun silam.Bentuknya, penataannya.Bening merasa enggan untuk melihatnya.
__ADS_1
"Mbak...mbak Yu...?"panggilnya.
"Iya,non?Ada apa?"tanya mbak Yuyu yang berjalan mendekatinya.
"Kok bisa ada bunga di kamar aku?"tanyanya dengan suara yang bergetar karena bisa menebak itu dari siapa dan untuk membuktikan kecurigaannya ia memilih untuk bertanya ke asistennya.
"Oh...itu non...Tadi aku mau bilang,tapi karena non buru buru pergi jadinya lupa.Itu...kemarin mas Daniel ke sini dan bawain itu buat non..."kalimat tersebut berhasil membuat sekujur tubuhnya bergetar.Dugaannya benar.Bukan apa apa,tapi ia merasa enggan untuk menerima pemberiannya lagi, apapun bentuknya.
"Tolong mbak ambil semuanya dan buang ke tempat sampah..."wanita itu pun menuruti permintaannya tanpa membantahnya.
"Mulai hari ini jangan pernah menerima pemberian orang yang tak dikenal lagi mbak dan kalau ada yang ke sini tidak mbak kenal jangan dibiarkan masuk....."kata Bening lalu mengunci kamarnya.
Mbak Yuyu tetap tak merespon karena setelah sekian lama ia tinggal di bawah atap yang sama dengan majikannya tersebut baru kali ini ia mendengarnya berkata setegas itu.
Bening berusaha mengontrol emosinya.Ia sendiri bingung kenapa dirinya bisa sebegitu marahnya.Tapi ia tak mau lagi menerima pemberian Daniel apapun bentuknya.Ia bertekad pada dirinya sendiri tak akan memberi ruang untuk pemuda itu lagi untuk mengusik hidupnya dan mengganggu kenyamanannya.
Rasa kantuk yang tadi menderanya kini sirna.Bayang bayang masa lalu memenuhi isi kepalanya dan hal itu membuat rasa kecewa dan marah kembali muncul.
Bening bangun dan mulai berdoa.Setelah dirasa cukup tenang ia pun bersiap siap untuk pergi bersama sahabatnya.Ia jadi tak sabar menunggu hari esok untuk melakukan hal yang baru dalam hidupnya yang ia yakini bisa membuat dirinya lebih baik dalam mengambil keputusan.
Dengan semangat yang baru, Bening bangun dari tidurnya.Semalam ia tidur dengan lelapnya mungkin imbas dari aktivitasnya bersama sahabatnya kemarin.Dirinya yang semula terus saja mengomel dengan ide Ameva pada akhirnya sangat menikmati semua perawatan yang diberikan.Pelayanannya bagus dan hal itu yang membuatnya nyaman.
Apalagi hasilnya sangat memuaskan.Jiwa dan tubuhnya terasa bugar seperti baru disuntikkan energi yang baru.Setelah dipikir pikir memang seharusnya ia perlu memanjakan tubuhnya dari aktivitasnya.Ia pun ingin mengucapkan terima kasih pada sahabatnya dan berjanji akan memenuhi permintaannya serta tidak mengecewakannya.
Ia mencari jam tangannya untuk melihat waktu.Gadis itu menepuk jidatnya karena melupakan benda tersebut di kamarnya di Bali.Jam tangan pemberian pak Darwin yang akhir akhir ini seringkali ia gunakan.
Bening tak lupa meminum kopinya sebelum berangkat ke rumah sakit.Sudah menjadi kebiasaannya.Suara bel mengagetkannya.
Ia sudah mengiyakan permintaan dokter Rio yang ingin menjemputnya.Semalam ia menerima telepon dari pemuda tersebut yang bercerita kalau dirinya datang ke rumah neneknya karena menyangka gadis itu masih tinggal di rumah tersebut.Alhasil ia pun berada di sana sejaman karena sang nenek terus menanyainya.
Meskipun terdengar lucu tetapi tetap saja perasaan bersalah itu muncul.Karena itu Bening memilih untuk menunggu jemputannya ke rumah sakit.
Dengan memegangi secangkir kopi di tangannya ia membukakan pintu.Alangkah kagetnya ia melihat siapa yang datang dan berdiri di hadapannya.
__ADS_1