
Ketika melihat kembali dirinya di depan cermin,rasa marah kepada diri sendiri muncul.Mengurung diri berjam jam lamanya hanya untuk menangis.
Ia tak mau seperti itu terus.Toh laki laki yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri itu tidak bersalah.Ia bebas menyukai siapapun.Dihapusnya air matanya itu.Ia ingin menata kembali perasaannya itu.Bukan berarti ia akan melupakan perasaannya begitu saja.Tetapi lebih kepada melindungi diri agar tak merasakan kesedihan yang lebih lagi.
Dengan menggunakan kaus oblong dan celana jeans,Bening menunggu ayahnya di ruang tamu.Untuk mengisi waktu,Ia mengambil handphone di dalam tasnya lalu melihat beberapa panggilan masuk.Siapa lagi kalau bukan Bastian yang tak hentinya menanyakan kabarnya.
Awalnya ia enggan untuk menjawab, tetapi mengingat bagaimana baiknya Bastian memperlakukannya ia pun berubah pikiran.Ia mengirim pesan kepadanya kalau ia baik baik saja dan sekarang sedang menunggu ayahnya karena mereka akan keluar untuk jalan jalan.Tapi bukan Bastian namanya kalau ia hanya akan diam saja tak kembali menanyainya.
"Kepo banget sih kak...Nanya aku mau ke mana?Ih.....!!" kesal Bening lalu menaruh kembali handphonenya ke dalam tas yang akan ia bawa.
Rasanya sangat menggangu kala handphonenya tak henti berbunyi.Bening menjadi greget untuk mengatainya.
"Ada apa sih,kak?"tanya Bening setelah mengangkat telepon.
"Astaga beb...beb... Nggak ngucapin selamat sore dulu atau apa gitu..?"gerutunya.
"Iya... selamat sore..." ucap Bening langsung menurunkan nada suaranya walau terdengar dipaksakan.Entah kenapa juga ia harus menuruti permintaan pria tersebut.Padahal di awal ia ingin sekali memarahinya.Mungkin karena sedang dalam fase patah hati jadi moodnya pun terganggu.
"Nah,gitu dong...ngucapnya dengan senyum nggak tadi?"Daniel mulai lagi bersaksi.
"Apa sih kak? Nggak jelas banget.Aku matiin ya..."Bening akhirnya benar benar kesal.Mulutnya tetap saja komat kamit setelah memutuskan telepon.
Pak Cahyo memandanginya dengan tatapan heran.Baru kali ini ia melihat putrinya ngedumel sendiri.
"Telepon dari siapa nak? Kok mukanya masem begitu..."tanya ayahnya penasaran.
"Itu pa... dari kak Bastian..."jawab Bening lalu berdiri agar bisa segera pergi bersama ayahnya.
"Oh...yang ngajak kamu pergi semalam itu,nak?" tanya pak Cahyo memastikan.
__ADS_1
"iya pa...bener..Ayo jalan pa....keburu macet.. "Bening merangkul lengan ayahnya dan bersama berjalan menuju mobil.
"Oh... jadi kita mau jalan ke mana nih?ke Jimbaran atau tanah Lot?" tanya sang ayah memastikan karena ia tahu anak gadisnya itu sejak kecil senang melihat matahari terbenam.
Setelah berpikir sebentar Bening memantapkan pilihannya ke pantai tanah Lot untuk melihat sunset di sana sekaligus menikmati deburan ombak yang sudah jarang mereka lakukan lantaran kesibukan ayahnya di rumah sakit dan sore harinya di tempat prakteknya.
Apalagi liburan yang sudah mereka rencanakan telah dibatalkan.Bukan berarti tanpa alasan ia memilih untuk pergi ke pantai.Ia merasa nyaman saat memandang ombak yang menghempas batu karang.Ada kedamaian hati saat menikmatinya ditambah pesona matahari terbenam yang menyejukkan jiwa.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai juga.Tak lupa keduanya menelepon Bu Livia untuk menyampaikan kalau keduanya telah sampai tujuan.
Bening tampak menikmati pemandangan yang disuguhkan.Hembusan angin pantai menyapu wajahnya.Sejenak ia melupakan kesedihannya.
Sang ayah hanya memperhatikannya dengan penuh kasih.
"Senang?"tanya pak Cahyo.
"Banget pa.... makasih ya..."ucapnya.Mereka pun duduk menghadap ke pantai.Untung saja hujan hanya datang di pagi hari kemudian membiarkan siang hingga sore tak diguyurnya.
"Sama-sama... Eh,itu handphone kamu berdering lagi..."ujar pak Cahyo.
Bening mengambil handphone dan langsung mematikannya setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Kenapa nggak diangkat nak.?"tanya ayahnya saat dilihatnya bening mematikan panggilan tersebut.
"Dari kak Bastian pa... paling juga nanya nanya nggak jelas gitu..." sewot Bening.
"Dia suka sama kamu?"tanya sang ayah menerka.
"Iya,pa...tapi aku enggak...!" jawab Bening tegas.
__ADS_1
Pak Cahyo terkekeh mendengar kepolosannya.
"Kamu pernah nggak dengar, ada yang bilang jangan terlalu membenci nanti lama lama jatuh cinta.." kata pak Cahyo menggodanya.
"Masa sih pa?Ih jangan sampai..."ujar Bening bergidik.
"Iya,bener... buktinya ada loh...mama kamu.."terang sang ayah membuatnya terbelalak.
"Maksudnya pa?"tanya Bening penasaran.Pak Cahyo tersenyum, mengingat bagaimana kisah cintanya bersama sang istri.
"Dulu ayah kuliah kedokterannya di Jakarta dan sekampus dengan mama kamu.Pertama kali bertemu Livia papa langsung jatuh cinta at the first sight.Papa memberanikan diri untuk berkenalan.Meminta nomor hp,yah waktu itu handphonenya belum secanggih sekarang. Bentuknya juga tidak seperti yang sekarang.Tetapi bukan itu masalah utamanya.Aku pikir dengan dia memberi nomor handphonenya,dia pasti bisa baca niat saya.Paling nggak signalnya positif.Tapi ternyata mama kamu hanya berniat untuk mengerjai papa.Yang dia kasih itu ternyata nomor hp bapaknya.Nah mulai dari situlah awal mula likunya jalan yang papa tempuh." pak Cahyo menghentikan sejenak ceritanya lalu menatap putrinya.
"Terus pa?"ujar Bening penasaran.
"Dari situ papa mulai berdoa untuk jodoh yang sebelumnya tak terpikirkan melakukannya,yah yang selalu papa doakan selalu orang tua,keluarga ,cita cita.Tetapi semenjak bertemu mama kamu papa mulai berdoa untuk jodoh.Niat itu muncul begitu saja.."sambung sang ayah.
"Maksudnya pa?papa mendoakan agar mama jadi jodoh papa atau gimana?Trus likunya gimana?Kakek nggak setuju atau gimana?"Bening memborong pertanyaannya.
"Bukan, papa hanya berdoa agar diberi jodoh yang terbaik dari Tuhan dengan caraNya dan pada waktu Nya.Walaupun papa saat itu sedang jatuh cinta sekali dengan mama kamu.Tetapi papa tak pernah berdoa agar ia menjadi jodoh papa.Waktu papa tahu bahwa yang mengangkat telepon papa itu adalah bapaknya,papa bilang bahwa papa punya niat untuk mendekati anak gadisnya.Bukannya disambut baik,papa malah ditertawai, dibentak bahkan diancam untuk tak boleh mendekati Livia.Papa kaget dan tak menyangka akan menerima reaksi yang begitu mengerikan.Tetapi papa mau coba untuk berusaha, bertemu,siap tahu dengan melihat wajah papa beliau berubah pikiran.Esok harinya saat bertemu Livia di kampus,papa bilang kalau papa semalam ngobrol sama bapaknya dan papa nggak marah sama sekali kenapa dia mengerjai papa dengan memberikan nomor bapaknya toh kalau misalkan kami pacaran juga pasti akan bertemu orang tuanya atau kalau berniat untuk serius kan pasti akan meminta restu.Jadi tak ada salahnya juga jika mengenal orang tuanya lebih awal.." Bening terpaku mendengar penuturan ayahnya.Tak salah ia mengidolakannya selama ini.
"Lalu mama kamu memberi papa tantangan.Dia akan menerima papa jika diberi izin sama bapaknya.Benar benar menantang.Tak membuang waktu papa mulai melakukan pendekatan kepada bapak dan ibunya.Papa datang ke rumah.Pertama kali,papa ditolak, diusir dari kantornya, bahkan setelah ke sekian kali,pokoknya beratlah jalan yang papa tempuh.Singkat cerita bapaknya tak memberi izin karena ia sudah menjodohkan mama kamu dengan anak kolega bisnisnya, walaupun komunikasi kami sudah membaik.Pada akhirnya papa menyerah karena merasa tak menemukan jalan.Toh Livia juga tak menginginkan papa berjuang untuknya dan sering kali menyuruh agar menyerah saja.Dia bahkan berterus terang bahwa dia mencintai orang lain dan tanpa sepengetahuan papa berpacaran.Lalu keajaiban datang.Suatu hari bapaknya mengalami serangan jantung persis saat papa ada di situ.Kebetulan hari itu entah mengapa,papa ingin berpamitan untuk pulang ke Bali setelah diwisuda.Jadi kakek kamu adalah pasien pertama papa setelah menjadi dokter.Puji Tuhan,papa bisa menyelamatkannya.Sejak itu satu persatu jalan yang sudah tertutup mulai dibuka.Bapaknya memberi restu untuk papa menikahi putrinya."cerita pak Cahyo dengan senyum sukacita mengingat memori indah tersebut.
Tak kalah dengan putrinya yang sejak tadi sangat serius mendengar kisah cinta yang ia dendangkan.Ia tersenyum haru mendengarnya.
"Tapi pa,mama gimana..kan tadi kata papa mama punya pacar.Apa mama setuju saja nikah, nggak pacaran dulu?" tanya bening yang ingin sang ayah berkisah sedetail mungkin.
"Iya,mama sampai bilang ke papa kalau dia benci papa karena menuruti permintaan bapaknya padahal papa sudah berjanji untuk menyerah.Yang papa pikir papa sudah ada di posisi nyaman, ternyata enggak.Papa harus berjuang lagi untuk mendapatkan hati Livia.Karena Cinta saja tidak cukup, tetapi harus saling cinta.So,pada akhirnya dengan banyaknya perhatian dan kasih yang papa beri membuat cinta itu menemukan jalannya.Kami menikah kemudian papa melanjutkan studi spesialis papa ke Amerika dan di sanalah papa bertemu dengan Darwin ayahnya Daniel..."tutur pak Cahyo menyudahi kisah cintanya.
Mendengar nama Daniel disebut,sang putri berkaca kaca dan tak kuasa menahan air matanya.Pak Cahyo mengusap pucuk kepalanya dan menariknya ke dalam pelukannya.
__ADS_1