Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.86


__ADS_3

"Hai....lama amat sih bukanya..."omel Meva saat berkunjung ke apartemennya Bening.


"Sorry,tadi lagi beberes soalnya.Wow...bunga dari siapa tuh?"tanya Bening saat melihat sahabatnya itu merangkul sebucket bunga di tangan kirinya.


"Dari abang aku...buat calon pacarnya..."jawab Meva begitu percaya diri.


Bening tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Cieh... senyum senyum, berarti suka dong...nih bunganya kok nggak diambil..."omel gadis itu.Bening pun mengambilnya dan menaruh bunga tersebut di atas meja.


"Harus banget ya kenalan sama kakak kamu?"tanya Bening ragu tapi sebisa mungkin ia tak membuat sang sahabat kecewa karena itu ia perlu mendiskusikannya sekali lagi.


"Kok,gitu lagi nanyanya? Kamu ragu ya?"cerca Meva.


"Aku cuma nggak enak sama kak Bastian,Mev... Kamu paham kan, maksud aku?Mungkin sebaiknya aku ngomong kali ya,sama dia.."Bening kembali meminta pendapat.Sejenak Meva terdiam lalu menghembuskan nafas yang panjang.


"Gini ya,Ben... kalau kamu nanya, harus banget ketemu sama kakak aku,ya aku sebagai adiknya pasti bilang iya, harus.Kali ini jangan sampai batal lagi.Soalnya ini bukan kali pertamanya loh,dia mau ketemuan sama kamu.Masih ingat kan, gimana perjuangan dia buat ketemu sama kamu tapi gagal.Cuma ketemuan loh,Ben...masa nggak jadi lagi? Okay,aku paham perasaan kamu.Tapi, mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Maksud aku, kamu ngelakuin sesuatu tanpa harus mempertimbangkan perasaan orang lain.Perasaan kamu sendiri gimana? Kecuali kalau kak Bastian sama kamu itu ada apanya.Misalkan,kak Bastian baru aja nembak kamu dan kamu belum ngasih jawaban.Enggak kan?"Bening diam.


Sesungguhnya ia selalu dihantui perasaan bersalah tiap ada pria lain yang ingin dekat dengannya.Kecuali jika Bastian sudah memiliki pacar.Tapi selama hampir 11 tahun pemuda itu tak sekalipun menembaknya untuk dijadikan pacar.


Tapi perhatiannya membuat gadis itu merasa tak enak jika melakukan sesuatu yang bisa mengecewakannya.

__ADS_1


"Iya,sih Mev..aku juga berpikir yang sama.Dia memang nggak pernah nembak aku,tapi dia selalu nunjukin perhatiannya, waktunya dan dia selalu bilang dia sayang banget sama aku.."curhat Bening.


"Sesama manusia emang harus saling sayang kan?Aku juga sayang sama kamu.Tapi sayang atau cinta saja tidak cukup,Ben.. Harus jelas maksudnya itu gimana?Nembak kek atau minimal jelasin maunya dia sama kamu itu gimana?Di masa depan maunya seperti apa harapannya?Iya nggak?"Bening tampak manggut-manggut.


"Benar Mev, dulu kak Bastian itu sudah lulus loh ke Harvard,tapi pada akhirnya dia milih untuk kuliah di sini..."ungkap Bening.


"Aku tahu, udah pernah kamu ceritain kali..Tapi kan,dia milih untuk kuliah di sini karena karirnya juga kan?Dia udah kuliah di sini waktu kamu masih di Bali.Waktu itu kamu masih kelas tiga SMA.Kecuali kalau dia batalin ke Harvard karena pengen nunggu kamu tamat dulu dan stay di Bali.Itu baru kamu merasa bersalah.Beng...Beng...kisah kalian emang ribet ya... belum lagi sama kakak kamu yang di sono itu.Tapi saran aku nih, ya... Lebih baik kamu temuin abang aku,biar tahu juga reaksi kak Bastian itu gimana nanti?"Bening tampak menyimak ucapan sahabatnya.


"Hmmm...mentang mentang kamu adiknya.Tapi...tentang kak Daniel, beberapa hari ini aku mulai mikir,Mev..Aku udah mutusin untuk ngelepas impian aku buat ketemu sama dia.Walau sekali aja.Udah capek, nunggu.Kalau di kemudian hari kami tiba tiba harus bertemu aku akan mengingat lagi waktu yang sudah banyak aku buang untuk menunggunya.Gimana, kamu senang kan?"kata Bening membuat sahabatnya merasa senang.


"Tapi awas aja ya kalau kata kata kamu nggak bisa dipegang.Lagian mereka juga udah punya anak Ben..Masa menunggu bertahun tahun lamanya cuma untuk jadi pelakor?"


"Ih... jangan ngomong gitu,ah ..serem amat.."bantah Bening sampai bergidik ngeri mendengarnya.


"Oh,ya?"tanya Bening kemudian diam.


"Kenapa kamu diam? Jangan bilang kalau kamu juga cemburu?Hayo...."cerca Meva.


"Apaan sih,Mev... kamu ada ada aja..."Bening kembali diam.


Sulit diungkapkan bagaimana pendapatnya tentang berita itu tapi ia hanya ingin memastikan bahwa jika hal itu benar adanya,ia berharap wanita itu adalah orang yang baik, tulus dan tidak akan mengecewakan Bastian.

__ADS_1


Tak membuang buang waktu lagi,ia pun mencari tahu berita tersebut.Saat berhasil mendapatkannya,ia pun penasaran dan mencari tahu latar belakang wanita yang sedang digosipkan dengannya.


"Kamu ngapain? Kamu baca juga beritanya? Cieh,ada yang penasaran?"goda Meva.


"Aku hanya ingin tahu,Mev...sepak terjang cewek itu?Dia baik apa enggak?"


"Kalau cuma mau dilihat baik apa enggak mah,aku juga baik kali Ben buat dia..."kata Meva membuat Bening kesal.


"Becanda mulu..."Omelnya.


"Daripada serius? Lagian namanya juga artis,Ben... hari ini digosipin ama siapa? Besoknya ama siapa?, Kamu juga pernah digosipin ama kak Bastian juga kan? Beritanya dulu sampai heboh tuh di kampus.Tapi apa kata kak Bastian?Kamu itu adiknya.Besoknya nggak diberitain lagi..."Meva memutar kembali beritanya.


"Itu aku yang minta kak Bastian buat klarifikasi seperti itu?"ujar Bening.


"Terserah ah...aku mau istirahat bentar ya,entar shift malam soalnya.."Ameva pun berdiri menuju kamar sahabatnya.


πŸŒΎπŸŒΎπŸ€πŸŒΎπŸŒΎ


Daniel sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta setelah melewati 22 jam penerbangan.Tak ada rasa lelah sedikitpun.Niatnya untuk bertemu dengan gadis pujaan hatinya yang telah lama ia tinggal tak mampu untuk ia bendung lagi.


Setelan tiba di hotel,ia langsung membersihkan diri tanpa membuang buang waktu untuk rebahan.Semangatnya begitu menggebu gebu.Setelah beberapa menit berada di depan cermin dan meyakinkan penampilannya sendiri ia pun menyetir mobilnya menuju alamat apartemen gadis itu yang telah ia dapat dari orang kepercayaannya.

__ADS_1


Tak ada kesulitan baginya menyetir di ibukota.Setelah memarkir mobilnya,ia langsung menuju lantai enam tempat gadis itu tinggal.Ia mengatur nafasnya dan penampilannya saat berdiri di depan pintu.


__ADS_2