
Seandainya saja,ia tak meminta Bening untuk tinggal mungkin kecelakaan itu tidak terjadi.Padahal gadis itu awalnya menolak dan memberikan alasannya tetapi ia terus memaksa dengan egoisnya.
Bahkan tadi siang, sebelum berangkat ke rumah Widya, Bening juga melakukan hal yang sama yaitu menolak dengan menyampaikan alasannya.Tetapi lagi lagi gadis itu pada akhirnya menurut saja meskipun bertentangan dengan nuraninya.
Daniel amat menyesal.Ia merasa bersalah dan terus mengutukki diri.Ditambah lagi operasi yang menurutnya terlalu lama.
"Duduk dong,boy... kamu mondar mandir terus, nggak capek?"tanya bu Melia pada putranya.
"Operasinya lama amat mom? Kenapa ya?"tanya Daniel khawatir.
"Parah mungkin..."jawab sang bunda sambil membuka handphonenya.Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Jangan bilang gitu dong,my..."bantah Daniel.
"Ya,mana mommy tahu.. Mungkin emang begitu kali?Mana Via nelpon terus lagi nanyain mereka kenapa hp keduanya sama sama gak aktif.Pasti dia mikirnya mas Cahyo sama Ben,dalam penerbangan ke Jakarta.Mommy nggak tahu harus bilang apa?Kamu ada ide?"boro boro memikirkan ide.Pikiran Daniel tak karuan.
Dirinya diselimuti perasaan bersalah ditambah lagi dengan kata kata ibunya membuat penyesalan itu semakin menjadi jadi.
"Seandainya saja aku nggak minta adek untuk batalin liburannya pasti kecelakaan ini nggak akan pernah terjadi.Adek juga pasti akan sedih banget kalau tahu kakeknya meninggal.Mana dia nggak bisa hadir untuk pemakamannya lagi..."kini giliran Daniel yang mengungkapkan kegalauannya.
"Mau gimana lagi, boy.Sudah kejadian juga.Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar adek bisa kembali pulih dan mas Cahyo sama teman temannya sedang berjuang untuk itu.Kita bantu doa saja buat mereka.Livia pasti syok banget kalau tahu tentang ini semua.Mommy bingung,kok bisa sih mereka kecelakaan?Bukannya tadi si adek di rumah sama kamu?"bu Melia merasa penasaran dengan kronologinya dan ia curiga putranya ikut andil dalam peristiwa tersebut.
Setelah beberapa menit diam, Daniel pun bercerita tentang dirinya yang meminta Bening untuk ke rumah Widya meminta izin sama ibunya agar Widya bisa menemuinya untuk merayakan keberhasilannya mengikuti ujian akhir.
__ADS_1
"Kenapa harus Bening yang pergi meminta izin? Memangnya Widya nggak bisa ngomong sendiri? Kamu juga, kenapa bukan kamu saja yang pergi?Dia itu pacar kamu kan?"bu Melia sangat kecewa dengan cerita putranya.
"Maminya Widya nggak suka sama aku my.Dia nggak setuju aku pacaran sama Widya.."tutur Daniel.
"Oh jadi kalian backstreet?ckckck... Kasihan banget ya si adek.Selalu jadi korban.Padahal dia sempat nolak kan? Kamu tahu boy, segala sesuatu yang dilakuin bertentangan dengan hati nurani, hasilnya bisa jadi nggak baik.Kamu sayang nggak sih,sama Ben?"bu Melia sangat kecewa dengan putranya.Ternyata dugaannya benar.
"Sayanglah my... sayang banget..."Daniel menjawab tanpa ragu.
"Tapi mommy lihat sekarang kamu banyak berubah.Sikap kamu ke adek sudah nggak seperti dulu lagi.Kalau kamu sayang,tolong hargai dia, perasaannya, prinsipnya.Kalau dia nggak mau berbohong jangan dipaksa.Kamu laki laki, harus berani dan bertanggung jawab.Nggak kebayang gimana perasaannya mas Cahyo sama Livia kalau tahu kejadiannya.Mereka pasti akan sangat sedih dan kecewa sama kamu.."tutur bu Melia.
Ia kenal bagaimana pak Cahyo dan bu Livia sangat mencintai putri semata wayang mereka.Bu Livia tak bisa hamil lagi karena kondisi rahimnya yang tidak memungkinkan dirinya untuk memberikan Widya adik.Oleh karena itu mereka sangat bersyukur memiliki Bening dan bagai sebutir telur yang terus dilindungi agar tak pecah pada waktunya, seperti itulah mereka menjaga Bening.
"Iya,my... mudah mudahan saja adek nggak cerita apapun ke orangtuanya..Aku nggak tahu nanti gimana harus mengahadapi om Cahyo dan tante Livia...."Daniel terlihat gundah.
Sementara itu Widya yang sudah sepenuhnya sadar kini menangis mengingat kejadian yang menimpanya.Ia kecewa kepada ibunya.Ia juga marah pada sosok pak Andre kekasih ibunya yang menjadi pemicu awal ia mengalami kecelakaan.
Widya meminta handphonenya,lalu menghubungi Daniel yang tadi dilihatnya ada di ruangan tersebut dan meminta sang pacar untuk menemuinya.
"My... Widya nelpon.Aku ke ruangannya dulu ya.. Nanti balik ke sini lagi.."cerita Daniel kepada ibunya.Wanita itu tidak menjawab.Ia hanya mengangguk lesu.Ia menangkap sesuatu yang tidak sehat pada apa yang dijalani putranya bersama pacarnya.Ia menjadi ragu pada Widya.
Tapi segala pikiran buruk tersebut segera ditepisnya dan hanya ingin fokus pada Bening dulu.Ia akan mengurus gadis itu untuk menggantikan posisi ibunya yang tak berada di sampingnya.
Wanita itu tersenyum bahagia saat pintu ruangan operasi terbuka.Tampak pak Cahyo terus memegangi tangan putrinya saat tempat tidurnya didorong keluar oleh beberapa petugas.
__ADS_1
Pak Cahyo membalas senyumannya meskipun wajahnya terlihat peluh.
"Hallo nak..."bu Melia memegangi tangan Bening.Tanpa sadar matanya berkaca-kaca melihat kondisi Bening yang masih belum sepenuhnya sadar karena pengaruh obat bius.
Bening hanya memandangnya tanpa ekspresi.Ketika tak melihat sosok Daniel kakaknya,ia merasa sedih.Dipikirnya pemuda itu akan menunggunya menjalani operasi dan khawatir pada kondisinya.Namun kenyataannya nihil.Bu Melia pun berjalan di sebelah pak Cahyo menuju ruang rawat Bening.
"Sudah dari tadi,Mel?"tanya pak Cahyo.
"Iya,mas... gimana tadi operasinya?Kok, sampai berjam jam? Pikiran saya udah gak karuan, mana mamanya Bening nanyain terus lagi..."jawab bu Melia dengan suara pelan agar Bening tak mendengar pembicaraan mereka.
"Puji Tuhan semuanya lancar kok,Mel.. Walau sedikit lama.. Sebentar saya akan menelpon mamanya Bening.Untuk sementara biar jangan bilang apa apa dulu.."ujar pak Cahyo.
"Iya,mas.. Pasti berat ya,bedahin anak sendiri.."tanya bu Melia membuat pak Cahyo tersenyum.
Apa yang dibilang bu Melia benar adanya.Ia terus mengontrol perasaannya saat tadi di ruang operasi.Beruntungnya ia memiliki teman-teman yang telah membantunya membuat operasi untuk putrinya tercinta berjalan sukses.
"Dari mana aja,kak?"Daniel disambut oleh wajah Widya yang terlihat kesal.
"Tadi..."
"Menemui Ben?"sambung Widya sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya.
"Iya..."Daniel tak menceritakan kondisi Bening,takut Wydia syok dan merasa bersalah.
__ADS_1