Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.43


__ADS_3

"Kalian ada janji rupanya...aku ngeganggu dong..."kata Widya.Meski ia tersenyum tapi Bening merasa dan tahu senyumnya itu dipaksakan.


"Nggak kok Wid.. emang kita ada janji kak? Nggak kan?"Bening bingung bagaimana harus memberi kode kepada Daniel.Ia tak mau ada kesalahpahaman lagi.


"Aku tadi ngirim pesan..cuma belum kamu baca dek..telpon juga nggak kamu angkat.,tapi semalam kan aku udah bilang mau ke toko hari ini..."Daniel berkata dengan polosnya.Giliran Bening yang mulai mengarang malah ia yang berkata jujur.


"Oh... maaf kak...hp aku pake mode silence...."Bening mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.Ia tak ingin menjawab perkataan Daniel soal obrolan mereka semalam.


"Selalu saja itu alasan kamu..."Daniel tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Iya,bener... sorry kak tadi nggak cek hp..."Bening melihat Widya hanya diam saja.Otaknya terus mencari ide agar segera menyudahi percakapan mereka.


"Kamu... kebiasaan banget dek.."ujar Daniel.


"Ya, maaf.Terus tadi kakak bilang mau ngajak ke hotel, ngapain?buat apaan sih,kak?"tanya Bening .Ia sengaja menanyakannya di depan Widya agar temannya itu tidak salah paham.


"Astaga adek... gitu banget ekspresinya... kesannya kayak mau ngapain aja..."Bening berpikir tak salah dengan pertanyaannya.Justru jawaban pemuda itu sekarang yang terlalu mempelintir pertanyaannya sehingga maknanya menjadi negatif.


"Terus harus gimana dong, nanyanya..."sanggah Bening.


"Aku masuk duluan ya.."ucap Widya hendak berlalu dari hadapan keduanya.Bening sekali lagi memberi isyarat kepada kakaknya agar menahannya.


"Tunggu dulu Wid..."Daniel memegang tangan Widya untuk menahannya seperti ya diisyaratkan Bening.


"Aku ke sini karena daddy yang suruh.Besok kami akan merayakan malam tahun baru di hotel.Sekalian sama staffnya papa.Mungkin sekaligus perpisahan karena untuk sementara waktu Daddy harus pergi berobat. Jadi daddy bilang aku harus ke sana untuk bicara sama pak Rikar yang bertanggung jawab untuk acara besok.. Mungkin ada ide atau konsep yang mau dibuat... Makanya aku ajak si adek.. karena yang idein dari awal tuh, dia..."jelas Daniel dengan menunjuk ke arah Bening.


Bening juga baru tahu tujuan pemuda itu ke toko karena semalam ia tidak memberi tahu apa tujuannya.


"Oh... kalau begitu biar kamu ikut aja Wid... daripada di sini nanti sepi nggak ada teman ngobrol,ya walau ada mama sih.Tapi kan pasti kamu akan bosan.."Bening tiba tiba mendapat ide.


"Gimana Wid?Kamu ikut ya..Kan belum pernah ke hotel juga..."pinta Daniel.Gadis itu mulai berpikir.

__ADS_1


"Ayolah Wid...hitung hitung biar kamu juga tahu.Itu kan aset untuk masa depan kalian. "Bening berniat bercanda.


"Amin..."Widya malah dengan semangat mengamini ucapannya sedangkan Daniel malah mengernyitkan dahinya melototi Bening.


"Ya, udah yuk .. lebih baik kalian berangkat sekarang..."sahut Bening.


"Loh,kamu,dek?"tanya Daniel.


"Iya...Ben.. kamu kenapa malah nggak pergi?"tambah Widya.


"Maaf... aku nggak bisa ikut kalian.Aku udah ada janji.Aku mau nemenin kak Bastian kontrol ke rumah sakit.."jelas Bening membuat Daniel langsung meradang mendengar alasannya.


"Kata kamu si tenor itu sudah sembuh,dek...Ke rumah sakit ngapain lagi?"Daniel kembali menyebut nama Bastian dengan sebutan tenor pertanda kalau dirinya tidak suka.


"Namanya Bastian kak .....bukan tenor..."Bening dengan nada yang pelan meralat sebutan itu.


"Terserah... apalah namanya..Manja banget dia.Harus ditemenin.Kamu harus ikut kami,dek.. Besok perayaan yang penting loh buat keluarga kita.. Jadi harus disiapin sedetail mungkin...masa kamu lebih mentingin si tenor itu..."Lagi lagi Daniel mengulangi julukannya tersebut.


"Udah jangan cari cari alasan.Kan tinggal dicancel lagi.Apa susahnya,coba?Dia ada orang tuanya.Atau jangan jangan memang kamu yang melamar diri buat ngantar di check up "kata Daniel tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Bening dituduh seperti itu.


Bening mengambil nafas dalam dalam.Ia harus menyudahi perdebatan itu apalagi di depan Widya.


"Nanti aku nyusul ya..Aku yakin kakak bisa mengatur semuanya.. Apapun ide kakak buat besok aku nurut saja.Pasti yang terbaik.."Daniel langsung menarik tangan Widya dan membawanya ke mobil tanpa meladeni penjelasan adiknya tersebut.


"Nanti aku nyusul, Wid..."Bening mengulang perkataannya untuk temannya Widya.


Yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana caranya agar Widya berpikir bahwa dengan ia lebih memilih pergi bersama Bastian menandakan bahwa apa yang menjadi pilihannya adalah sesuatu yang lebih istimewa untuk dirinya.


Bening hanya menatap kepergian mereka.Sebenarnya ia sangat senang pak Darwin begitu antusias untuk perayaan besok.Ia ingin menyumbangkan beberapa ide acara yang bisa membuat keluarganya lebih dekat lagi terutama orang tuanya Daniel.


Sepanjang perjalanan Daniel lebih banyak diam hingga keduanya tiba di hotel.

__ADS_1


Widya melihat orang yang sangat ia kenal ada di sana.Saat ia yakin bahwa itu adalah ibunya,ia bersembunyi di belakang punggung sang pacar dan terus mengamati gerak-gerik ibunya.


Ia mendongakkan kepalanya agar tetap memantau ibunya diam diam.


"Kamu kenapa,sih?dari tadi celingak-celinguk.."tanya Daniel heran.


"Ssst... jangan berisik kak...itu ada mami..."ucap Widya.


"Yang mana?"tanya Daniel berusaha mencari sosok yang Widya katakan.


"Itu... yang pake gaun hijau..."bisik Widya.


"Masa sih..Tapi kok gandengan tangan?Itu, tante lagi sama siapa Wid?papi kamu bukan?"tanya Daniel membuat Widya semakin penasaran karena laki laki yang bersama ibunya membelakangi mereka.


"Bukan..."Jawab Widya.Ia tak mungkin tidak mengenal postur tubuh ayahnya walaupun sudah berapa bulan tidak bertemu.


Widya ingin sekali menghampiri ibunya untuk menjawab rasa penasarannya terhadap sosok laki laki yang sedang bersamanya.Namun ia sendiri takut ketahuan ibunya, karena yang ibunya tahu ia ke rumah Bening.Jika mereka bertemu di tempat itu entah bagaimana reaksi ibunya.Ia akan dicap pembohong dan akan kesulitan untuk mendapatkan izin lagi karena tak bisa menjaga kepercayaan sang bunda.


Tak berselang lama ibunya berjalan ke pintu keluar dengan tetap berpegangan tangan.


"Mereka keluar kak... Kayaknya mau pergi... kita Susul yuk..."ajak Widya.Ia hendak menyusul keduanya namun ditahan Daniel.


"Sebaiknya jangan sekarang... kalau ketahuan takutnya tante Vitha bakal marah..Kamu tadi sudah minta izin belum?"cegah Daniel.


"Sudah kok..tapi izinnya ke rumah Ben..."jawab Widya sambil terus berusaha memantau dari persembunyiannya.


"Iya, nanti kalau tante tahu kamu malah ke sini? Kamu siap terima resiko?"Daniel berusaha mengingatkan pacarnya agar tidak gegabah.


"Tapi kak..aku harus tahu siapa yang sedang bersama mami..Apa dia pria baik baik atau bukan..kita harus selidiki mereka..."Daniel paham dengan maksud gadis itu.Setiap anak pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk orang tuanya.Tetapi menurutnya waktunya tidaklah tepat.Terlalu dini jika mereka langsung bertindak.


"Sabar ya...kita jangan berpikir negatif dulu.Mungkin itu temannya mami kamu atau rekan bisnisnya..."kata Daniel.

__ADS_1


"Nggak mungkin...masa sama teman pegangan tangan gitu...itu pasti pacarnya mami..."Daniel kaget Widya bisa berpikiran seperti itu.


__ADS_2