
Dengan langkah terburu buru, Bening berjalan di lorong apartemennya.Pagi pagi sekali ia pergi dari rumah neneknya untuk pulang ke apartemennya agar tak terlambat untuk berangkat ke rumah sakit.
"Astaga.... ngagetin aja... Kebiasaan banget..."kata Bening sambil mengelus dadanya dan membuang muka karena tak mau menatap wajah Daniel.
"Selamat pagi dek... sorry..."sapa Daniel sembari meminta maaf.
"Kamu lagi...kamu lagi.. ngapain ke sini lagi...?"tanya Bening kesal.
"Akhirnya kamu pulang juga dek... Kamu darimana? Semalam kenapa nggak pulang?Nginap di mana?Aku telpon nggak diangkat,chat aku juga nggak kamu balas..."Daniel menanyakan beberapa pertanyaan untuk mengobati rasa bersalah dan ketakutannya.
Bening tak menggubris pertanyaan pertanyaan tersebut karena ingin fokus waktu yang tidak terlalu banyak untuknya bersiap siap ke tempatnya bekerja.
"Dek...."Daniel dengan wajah mengiba,meraih lengannya karena ingin gadis itu menjawab pertanyaannya.Bening berusaha melepaskan tangan Daniel yang masih memegang lengannya.Pemikirannya masih tersambung dengan cerita Widya sehingga hal itu membuatnya risih.
"Sorry..."ucap Daniel.
Gadis itu memejamkan matanya,lalu menghela nafas dalam kemudian sekilas menoleh ke arah Daniel.
"Kenapa emangnya?Mau aku pulang atau enggak, nginap di mana,itu urusan aku.Aku akan mengangkat telepon atau membalas chat jika dirasa itu penting..."jawab Bening berusaha menahan kekesalannya.
"Tapi dek...aku khawatir banget..aku takut banget kamu kenapa napa..."ungkap Daniel.
"Heh... drama apalagi ini..."Bening tertawa sinis.
"Kok drama?Aku beneran dek..."bantah Daniel.
__ADS_1
"Kak, please.... jangan ganggu kehidupan aku lagi..Aku mau ngapa-ngapain aja,itu terserah aku.Come on.....,kita udah dewasa dan udah punya kehidupan masing-masing..So, please jangan membuang buang waktu dengan ngelakuin sesuatu yang nggak berguna.."tutur Bening.
"Jadi menurut kamu aku salah jika khawatir sama kamu?Aku salah jika takut terjadi apa-apa sama kamu,iya?gitu maksudnya?"tanya Daniel.
"Iya tapi ngapain?Untuk apa kamu khawatir? kenapa?"Bening bertanya dengan wajah capek.
"Karena aku sayang sama kamu...aku cinta sama kamu dan pengen ngelindungin kamu seperti dulu..."Daniel dengan lembutnya mencoba membujuk Bening dengan mengungkapkan perasaannya.
"Terakhir kali aku merasa dilindungi itu, kapan ya? Sampai lupa, udah lama banget soalnya.Lucu nggak sih,kita tidak pernah bertemu dan nggak saling berkomunikasi selama bertahun-tahun lamanya, setelah apa yang udah kita jalani masing-masing selama ini lalu saat kembali bertemu kita berbicara tentang sayang,cinta???"Bening menyampaikan logikanya.
"Tapi kamu udah tahu dek perasaan aku ke kamu itu sudah sejak sepuluh tahun yang lalu.Aku yakin banget kamu udah baca surat yang kamu kembaliin itu.Kamu juga tahu apa yang udah aku jalanin selama ini... Aku serius.Aku sungguh sungguh sangat mencintai kamu.Aku udah capek nahan perasaan ini sejak lama.."lagi lagi Daniel meraih tangannya dan dengan tubuh sedikit membungkuk untuk menyetarakan diri dengan gadis yang dicintainya.
"Tapi aku,enggak.Aku udah punya pilihan aku sendiri.Aku jatuh cinta sama orang lain.."Bening berkata lirih.
"Coba tatap aku kalau ngomong dek... Dari kemarin kemarin kamu nggak mau natap aku.. Bukankah itu artinya kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku? Aku yakin kamu punya perasaan yang sama kayak aku bahkan mungkin jauh sebelum aku menyadarinya..Iya,kan?"Daniel memegang kedua bahunya.
"Malvin???atau Bastian?"tebak Daniel.
"Bukan urusan kamu...."kali ini ia menatap wajah Daniel dengan berani.Ia kaget saat dengan saksama memperhatikan wajah Daniel.
Benar yang diceritakan oleh bibi dan neneknya tentang tampang Daniel.Wajahnya terlihat memar seperti baru habis bertengkar.Naluri sebagai seorang dokter pun tumbuh,ia ingin tahu apa yang sudah terjadi dan berniat untuk mengobatinya.
"Kenapa?Kamu pasti khawatir kan lihat wajah aku yang kayak gini?"Daniel bangga melihat ekspresi yang ditunjukkan Bening.
"Enggak.. mungkin karena aku dokter kali ya..."Bening berusaha untuk tak terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Kamu nggak berubah dek... masih aja sama kayak dulu... makasih ya..."Daniel tersenyum menggodanya.
"Udah ya,aku udah terlambat... Oh, iya itu wajahnya jangan lupa diobatin...nanti infeksi..."ucap Bening lalu masuk ke dalam apartemennya.
"Makasih dek...I love you..."ucapnya.Bening yang mendengarnya tak menghiraukannya.
Ia melihat mbak Yuyu mengangkat secangkir kopi yang ada di atas meja untuk dibawa ke dapur.
"Pagi non..."mbak Yuyu menyambutnya.
"Pagi mbak...itu punya siapa?"Bening tahu wanita itu tidak minum kopi.
"Itu tadi kopinya mas Daniel,non..."Bening sudah bisa menebaknya.
" Mbak udah sarapan?"Bening tak bertanya lebih lanjut tentang Daniel pada mbak Yuyu walau ia merasa curiga padanya.
"Belum, masih tunggu non pulang..."jawab mbak Yuyu.
"Mbak sarapan aja...aku tadi udah di rumah nenek..."Bening masuk ke kamarnya.
Setelah mandi dan menyiapkan semuanya, Bening pun melangkah keluar.Ia ingin segera bergegas ke rumah sakit.
"Astaga...kamu lagi...kamu lagi..."Bening tak menyangka Daniel masih berdiri di depan apartemennya.
"Maaf, tadi bu dokter menganjurkan aku untuk pergi berobat...biar nggak infeksi... Jadi aku mau ke rumah sakit bu dokter aja.. Mungkin bu dokter mau berangkatnya sama saya? Kan kita punya tujuan yang sama..."kata Daniel.
__ADS_1
"Terima kasih.Tapi aku bawa mobil sendiri..."Bening mendahuluinya.