Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.65


__ADS_3

Bening merasa ragu untuk pergi ke rumah Widya.Ia takut jika harus berkonspirasi lagi dan jika ketahuan image-nya akan menjadi jelek di mata bu Vitha.Rasa bersalah pun akan semakin memuncak.


"Aku takut berbohong lagi kak... kalau ketahuan, gimana?"ujar Bening pada Daniel saat pemuda itu pulang dari sekolahnya.


Ujian akhir telah kelar.Daniel ingin merayakannya bersama Widya.Kebetulan obat obat gadis itu telah habis sehingga hal itu bisa dijadikan alasan agar ia bisa keluar dari rumah.


"Tante Vitha percayanya cuma sama kamu dek... bilang aja nanti obatnya diambil di apoteknya om Cahyo saja biar sekalian saja om Cahyo periksa.."kata Daniel.


"Tapi papa bukan dokternya Widya kak.. Lagian nggak segampang itu kali kak..."sanggah Bening.


"Ya, kalau bisa dibikin gampang kenapa harus ribet?Janji deh ini yang terakhir.Please mau ya..."Melihat wajah Daniel yang memelas ia pun mengangguk.


"Ya, udah kalau begitu.."ujar Bening pada akhirnya.Ia pun membalas pesan Widya bahwa dirinya dalam perjalanan ke rumah gadis itu.


"Aku antar ya?"tawar Daniel.


"Udah... nggak usah...aku naik taksi aja..."Bening segera menuju ke jalanan untuk menahan taksi yang lewat.


Sementara itu suasana rumah Widya menjadi tegang.Bu Vitha yang mendengar kata-kata tak sopan dari putrinya langsung tersulut emosi.


Tanpa bertanya lagi, wanita itu langsung mengangkat tangannya hendak menampar putrinya tapi dengan sigap pak Andre menangkap tangannya sehingga tamparan itu pun berhasil dihindari.


"Tampar aja mi...."teriak Widya sembari menunjukkan pipinya.


"Widya??? Kenapa kamu jadi nggak sopan begini?"kata bu Vitha tak kalah keras.


"Dia yang nggak sopan mi... Pokoknya aku nggak punya ayah tiri kayak dia..."tunjuk Widya.


"Iya, tapi kenapa?Kalau kamu nggak setuju, nggak begitu caranya..."bu Vitha memegang kepalanya yang mulai berdenyut.


"Udah ya,Vit... Jangan terpancing,nanti kamu sakit lagi.Wajar kalau Widya nggak setuju.Itu karena dia nggak kenal siapa saya.. seperti pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang.. Jadi lebih baik kita kasih dia waktu.."pak Andre merangkul pundak kekasihnya.


"Idih...sok bijak lagi.Aku tahu banget, siapa kamu,om.Dan karena aku tahu,makanya aku nggak setuju om nikah sama mama.."tantang Bening.

__ADS_1


"Apa yang kamu tahu?"bu Vitha yang sudah duduk bersandar di sofa mengatur posisi duduknya menjadi tegap.


"Om Andre itu nggak bener bener cinta sama mami."Widya mulai dengan kalimat pembukanya.


"Kamu mengerti apa soal cinta,nak?"pak Andre yang duduk di samping bu Vitha membuka suara.


"Aku memang nggak terlalu ngerti soal cinta,tapi minimal aku bisa tahu cara mencintai yang benar.Kalau dia benar benar cinta sama mami dia pasti akan menjaga mami,menjaga harga diri mami.Tapi apa yang udah dia lakuin?Dia mencium mami di tempat umum dan menjadi tontonan orang orang,apa kalian nggak malu?" Widya menjelma menjadi seperti seorang hakim buat mengadili keduanya.


"Astaga...anak ini..Ya Tuhan,tolong kasih saya kesabaran..."Ibunya merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.Putrinya berubah menjadi sosok yang mengerikan dengan tingkah laku dan kata katanya yang tidak sopan.


"Tapi emang bener kan mi? Bahkan kalian melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk saya tahu dan dengar apalagi kalian belum menikah.Apa itu masih disebut cinta?"Widya tidak sulut mengeluarkan unek-uneknya.


"Widya udah ya...mama benar benar marah sama kamu.Tolong jangan buat emosi mama menjadi tidak bisa dikontrol lagi..."pinta bu Vitha masih dengan nada yang lembut.


"Tapi mami harus tahu yang sebenarnya mi.Mami bilang mami tidak mau menambah penyesalan lagi dalam hidup,kan? Kalau mami mau itu tidak terjadi sebaiknya mami harus mutusin sekarang"kata Widya.


Pak Andre pun sudah memasang wajah marah.Awalnya ia mencoba bersabar dan memaklumi saja anak itu bertingkah tidak sopan.Tetapi sekarang rasanya sudah kelewat batas.Gadis itu, telah melampaui privasinya dan harga dirinya.


"Oke, kalau begitu apa yang kamu tahu tentang saya?"kata pak Andre.


"Om tidak menjenguk mami kamu karena ada alasannya dan itu mami kamu yang minta.."Pak Andre membuat pembenaran.


"Iya, benar.Memang mami yang sudah ngelarang mas Andre untuk jenguk mami di rumah sakit kecuali kalau kamu sudah mau menerimanya.Mami tak mau ribut seperti hari ini..."terang sang bunda.


"Tapi datang ke sini boleh? Udah mi, jangan melakukan pembenaran.Sekarang fokus ke hal yang utama.Tentang kebohongan.Om Andre sebenarnya nggak pernah pulang ke Jakarta.Di hari saat mami bilang om Andre sudah pulang aku melihat ia menemui tante Melia di sebuah restoran.Dan sampai kemarin sore om masih saja menemui tante Melia, membuntutinya dan menggodanya...?"


cerita Widya.


"Melia?"bu Vitha mengernyitkan dahinya.


"Iya, sayang..Aku memang menemuinya.Tapi kan aku pernah cerita siapa Melia dan aku menemuinya karena dia mau curhat tentang pernikahannya yang bermasalah, tentang perceraian mereka.."untung saja pak Andre pernah bercerita tentang mantan kekasihnya,bu Melia meskipun yang ia ceritakan adalah kebalikannya.Tapi emosinya sudah memuncak.Ia sangat marah.


Sesaat Widya tercengang mendengar penuturan pak Andre tentang orang tuanya Daniel.

__ADS_1


"Kamu dengar itu Wid..om Andre pernah cerita ke mami kalau ia memang menemui Melia dan mami tahu siapa itu Melia,jadi please jangan dilanjutkan lagi.Kepala mami rasanya mau pecah"bu Vitha sebenarnya tak sanggup untuk menerima jika apa yang dikatakan putrinya benar adanya, tetapi ia tetap memilih untuk percaya kepada pak Andre.


"Mami segampang itu percaya?Mi,om Andre bohong.Aku ada buktinya.Bukti percakapan mereka.Om Andre yang ngejar ngejar tante Melia,om Andre yang ngerayu tante Melia bahkan terang terangan muji dan bilang masih sangat mencintai tante Melia.Mami mau lihat buktinya?"Widya dengan semangat yang menggebu-gebu mengambil ponselnya dan membukanya.


"Mana buktinya?"tanya bu Vitha saat melihat putrinya terus mengutak atik handphonenya.


"Kok nggak ada,ya?"panik Widya.


"Udah...udah....Saya udah nggak tahan menghadapi anak kamu.Sepertinya memang benar hubungan kita perlu dipertimbangkan lagi.Dia sudah keterlaluan.Kalau dia tidak menyukai saya dan tidak menyetujui pernikahan kita saya tidak apa-apa daripada harga diri saya diinjak injak..."tanpa berpamitan ,pak Andre berjalan keluar.


"Mas tunggu, kita selesaiin semuanya sama-sama"cegah bu Vitha.


Langkah pak Andre terhenti saat melihat sosok gadis yang berdiri di pintu dengan wajah tegang.Rupanya Bening sudah berdiri cukup lama di dekat pintu dan mendengar sebagian percakapan mereka.


Pria itu tersenyum sinis.Menatap wajah Bening membuatnya memikirkan sebuah ide.


Ia menoleh kepada Widya yang masih sibuk mencari sesuatu di ponselnya.


"Kalau kamu belum menemukan apa apa yang bisa dijadikan bukti, lebih baik melihat gadis ini..."Widya menoleh dan melihat pak Andre menunjuk pada sahabatnya.Widya mengernyitkan dahinya tak paham apa maksud pria itu.


"Coba tanyakan ke gadis ini,apa hubungannya dengan pacar kamu Daniel? Beberapa hari yang lalu saya melihat mereka berduaan di sebuah kedai kopi..."pak Andre memulai aksinya.


"Mereka sahabatan dan Daniel menganggap dia seperti adiknya sendiri begitupun sebaliknya.."jawab Widya.


"Oh ya?Tapi kok pegang pegangan tangan dan pacar kamu itu mencium tangannya, loh,memeluknya, sayang sayangan.Apakah itu masih dikatakan sahabat? Bahkan dia minta gadis ini untuk tidak pulang ke Jakarta,karena Daniel mau ujian.Rasanya aku Kalah perlu belajar lagi dek.Kamu adalah jawaban dari semua soal soal ujian itu nanti.Wow...."pak Andre mengulang kembali kata kata Daniel yang sempat ia dengar.


"Kamu mau lihat buktinya?Om ada.Mau lihat?Atau nanti om kirim videonya ke mami kamu saja, gimana?Biar kamu nggak sembarang nuduh karena sebenarnya pacar kamu yang nggak setia.Dia udah bohongin kamu.."pak Andre berusaha membalas ulah gadis itu.


Bening juga tak bisa berkata apa-apa saat namanya dibawa bawa.


Meskipun kesal mendengarnya tapi Widya tidak mau terpancing.


"Nggak usah om.Om nggak perlu capek capek karena aku juga nggak mau lihat.Om pikir aku percaya? Daniel nggak sebejat om."tegas Widya.

__ADS_1


"Widya..."teriak sang bunda.


"Plak....."tamparan itu pun terlaksana juga.Pak Andre tersenyum senang karena sebenarnya ia juga hampir melakukan hal yang sama pada Widya.Menghadiahkannya sebuah tamparan.


__ADS_2