
"Dek...."Daniel hendak memeluk adiknya tetapi Bening malah mundur beberapa langkah menghindarinya.Gadis itu menggelengkan kepalanya pertanda ia tak mau.
"Dek?"Daniel sangat sedih melihat reaksinya.
"Maaf...aku mau ke dalam..."Bening meninggalkannya yang hanya terpaku di tempatnya berdiri.Daniel tak mengikuti langkah gadis itu karena dia tidak mungkin bertemu bu Vitha yang terang terangan tidak menyukainya.
"Ben...., makasih ya..."Widya memeluk sahabatnya itu sedangkan Bu Vitha hanya tersenyum dengan berurai air mata.Tubuhnya masih lemah untuk berbicara apalagi dengan oksigen yang masih terpasang.
"Sama sama,Wid.... saya nggak ngelakuin apa apa juga...Tapi tante dirawat,kan?"tanya Bening.
"Iya,kata dokter begitu.Sebentar lagi pindah ruangan.."ujar Widya.
Setelah diobservasi,bu Vitha pun dipindahkan di ruang rawat.Dokter mengatakan tekanan darah Bu Vitha sangat tinggi yang bisa membuatnya terkena stroke jika tak cepat ditangani.Dokter juga menganjurkan agar dirinya menghindari stress dan tidak boleh capek.
Beruntung Widya dan Bening segera membawanya ke rumah sakit.Jika tidak entah apa yang akan terjadi.Widya sangat ketakutan saat melihat sang bunda tak sadarkan diri.Mendengar penjelasan dari dokter,ia pun merasa bersalah karena bisa jadi dirinya juga telah menjadi penyebab sang bunda mengalami kejadian itu.Ia bertekad dalam hatinya untuk lebih menjaga kesehatan sang bunda.
Mungkin untuk ke depannya, jika ia bertemu lagi dengan pak Andre ia akan bicara padanya untuk lebih menjaga ibunya.Kalau mereka tetap ingin menikah maka gadis itu harus bisa menerimanya, asalkan pak Andre serius dan tidak mempermainkan perasaan ibunya.
Widya juga mempunyai ide, untuk mulai mencari tahu siapa pak Andre sebenarnya dan latar belakangnya sehingga ia bisa merestui keinginan ibunya.
Daniel mendekati pak Abdi yang masih berada di situ menunggu Bening.
"Pak, nungguin si adek ya?"tanya Daniel.
"Iya..."pak Abdi mengangguk.
"Bapak duluan aja, nanti adek saya yang antar.."Daniel menawarkan diri.
"Oh, gitu... tapi tanya non dulu ya, soalnya saya disuruh tunggu tadi.."jawab pak Abdi.
"Nggak apa-apa pak, nanti saya yang ngomong sama adek.."Daniel meyakinkan pria separuh baya tersebut.Tetapi pak Abdi tetap tak beranjak dari situ membuat Daniel kesal.
"Aku pulang dulu ya Wid, udah sore..."kata Bening.
"Oh.. siapa yang anter Ben?aku bilang pak Daud ya..."tawar Widya.
__ADS_1
"Nggak, nggak usah Wid..aku pulang sama pak Abdi kok.."tolak Bening.
"Tan...aku pamit ya...tante istirahat...semoga segera pulih tan..."ujar gadis itu dengan memegangi tangan bu Vitha.
"Amin..."Wanita itu tersenyum walau badannya masih lemah.
Widya mengantar Bening hingga keluar ruangan untuk memastikan siapa yang akan mengantarnya pulang.
"Mau pulang dek?"tanya Daniel.
"Iya,pak Abdi mana ya?"Bening mencari sopirnya.
"Udah pulang dek...biar aku aja yang anterin..."kata Daniel karena itu yang menjadi tujuannya kenapa ia terus merayu dengan segala kata sampai pada akhirnya pak Abdi mengiyakannya.
"Kalau gitu,biar sama-sama aja ya.. aku juga mau ke rumah buat ngambil barang barang aku sama mami..."kata Widya seperti tak rela jika Bening mempunyai waktu untuk berduaan dengan pacarnya.
"Aku naik taxi aja...biar kalian nggak kelamaan nanti.Kasihan tante...yah...?"Bening berlalu.Ia tak mau salah paham lagi.
"Wid,ada bi Santi kan yang nungguin mami kamu.. jadi nggak apa-apa kalau kita anter adek dulu.. kasihan dia pulang sendiri.."Daniel merasa bersalah dan tak rela jika adiknya pulang dengan taxi apalagi ia yang telah membuat sopir gadis itu pulang.
Tak membuang waktu, Daniel menarik tangan pacarnya untuk segera pergi menyusul Bening.
Daniel menghubungi Bening.Ia kesal karena teleponnya tak dijawab.Ia juga kesal karena Widya tak kunjung keluar.Ia ingin memanggil gadis itu jika tak ingat kalau bu Vitha tidak menyukainya.
"Loh,non...kok naik taxi?Mas Daniel nggak anterin? Tadi katanya dia yang akan mengantar non, makanya saya duluan.."pak Abdi heran melihat Bening pulang dengan taxi.
"Iya, pak..Tadi kak Daniel mau nganterin, cuma aku yang nggak mau.. kasihan Widya kalau ditinggal sendirian..."meskipun cerita yang sebenarnya bukanlah seperti demikian tetapi Bening tak ingin sang sopir menyalahkan kakaknya.
🌾🌾❤️🌾🌾
Bu Vitha tengah duduk di taman rumah mereka.Ia sedang melakukan panggilan video dengan pak Darwin.Dari tampilannya sungguh mengiba hati.Pak Darwin masih dipasangi infus dan penutup kepala.
"Hallo dad...."wanita itu melambaikan tangannya dan tak berhenti tersenyum.
"Hallo mom..."pak Darwin tampak senang mendapat panggilan video dari belahan jiwanya.
__ADS_1
"Lagi ngapain?"tanya bu Melia.
"Lagi kangen mommy..."ujarnya.
"Kan tiap hari ngobrol,tadi pagi juga udah?"wanita itu hanya malu karena melihat ada pak Cahyo di ruang rawat mantan suaminya padahal ia sesungguhnya senang pak Darwin selalu berkata demikian jika menelepon
"Masih nyeri nggak dad? masih mual"tanya bu Melia.Ia ingin memastikan kondisinya.Jika masih maka, mereka akan membatasi obrolan mereka.Selama sebulan berada di sana pak Darwin tak banyak mengeluh.
"Udah enggak... mommy mau dibeliin apa,biar nanti aku nitip di Cahyo?"tanya pak Darwin.
"Nggak usah repot-repot.Daddy fokus aja buat operasi.Jangan mikirin yang lainnya.."bu Melia merasa tersanjung dan makin kagum dengan perhatian yang ditunjukkan pak Darwin untuknya.Pria itu masih sempat sempatnya memikirkan oleh oleh oleh untuknya.
"Tapi mikirin mommy jangan dilarang ya,kan mommy support imun aku..."ujarnya membuat Bu Melia tersipu malu.
Matanya terbelalak saat melihat siapa yang datang.
"Aku ke belakang dulu ya dad...aku lupa tadi lagi masak..."bu Melia tak ingin pak Darwin tahu tentang kedatangan pak Andre.
"Oh iya,mom...take care ya..."ucap pak Darwin.
"Daddy juga ya...i love you dad..."bu Melia sengaja dengan suara yang lebih besar agar pria yang kini berjalan menghampirinya mendengar ucapannya.
"Kamu kok bisa ke sini?"bu Melia berdiri.Ia heran dan kaget dengan keberadaan pria itu.
"Sore Mel...aku boleh duduk dulu nggak?"pak Andre malah menawarkan diri.
Bu Melia kelabakan.Ia mengamati sekitarnya, pegawai rumahnya agar ia tak sendirian menghadapi pria itu.
"Silahkan duduk.. tapi jangan di situ ya...itu tempat duduk suami saya soalnya..."bu Melia menunjukkan salah satu kursi yang ada di depannya untuk memperjelas kepada tamunya itu sehingga ia tidak berbicara sembarangan lagi seperti waktu itu.
Pak Andre tersenyum mendengarnya dan menuruti permintaan wanita yang pernah menjadi tunangannya dulu.
"Pak Andre kok bisa ke sini?tahu alamat rumah saya darimana?dari siapa?"tanya bu Melia beruntun.
"Kamu kenapa kayak nggak suka gitu saya ke sini? Terlalu gampang buat saya mencari tahu rumah kamu.Nomor handphone kamu saja saya tahu?kamu kayak nggak tahu saya saja..."ujarnya membuat bu Melia takut.
__ADS_1
Ia pun menelepon putranya agar ia tidak berpikir macam-macam saat nanti dia pulang dan pak Andre masih berada di situ.Karena tak diangkat ia pun mengirimnya pesan.
"Nelpon siapa,Mel?Mantan suami kamu?Bukannya bule itu sedang pulang ke negaranya untuk berobat?Dia sakit kan?"bu Melia menganga mendengar ucapan pria itu.