Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.72


__ADS_3

"Kamu nggak ikut masuk?"tanya bu Melia ketika sudah sampai di rumah sakit.


"Aku mau pergi bentar my,ada urusan penting..."jawab Daniel.


"Pagi-pagi begini?Mau ke mana?"bu Melia tampak mengernyitkan dahinya.


"Iya,my... nanti aku cerita ke mama setelah urusan aku selesai..Aku juga pengen banget ketemu adek.Nanti deh,aku nggak lama kok, entar.."Daniel memberikan senyumnya agar sang bunda tak khawatir.


"Mau ketemu Widya?"rasa penasaran membuat ibunya terus mencari tahu.


"Em... enggak my.. Widya kan,di dalam lagi dirawat juga.."rupanya jawaban Daniel malah membuat bu Melia semakin penasaran.


"Kamu mau ke mana sih sebenarnya,boy?Masa mommy nggak boleh tahu? Subuh begini lagi.. Kamu nggak lagi mau ngelakuin sesuatu yang aneh aneh kan?"bu Melia tetap kekeh ingin mencari tahu.


"Ya,enggaklah ma..Aku mau bertemu dengan calon ayah sambungnya Widya ma..."jawab Daniel.Toh, ibunya tidak tahu siapa pria yang dimaksud Daniel.Sehingga tidaklah apa apa jika ia memberitahnya daripada sang bunda bertanya terus.


"Ngapain?"tanya bu Melia.


"Mau ketemu aja.Widya minta tolong buat mastiin apa dia orangnya baik atau enggak, pilihan mamanya udah tepat atau salah"jelas Daniel membuat ibunya malah tertawa.


"Kok ketawa,ma?"Daniel ingat dengan semua ucapan Widya tentang ibunya juga video video yang sudah ia lihat.


"Ya,lucu aja dengarnya.Boy...boy...kamu itu ya, ngomongnya kayak mau belanja baju di mall aja, kalau kamu suka beli,kalau nggak cari baju yang lain.Ini manusia loh, calon suami,calon ayah sambung.Gimana kamu, caranya menilainya? Aneh aneh aja..."ungkap bu Melia.


"Dari cara bicaranya my,sikapnya.Dia orang Jakarta loh my..Dia tampan, tinggi,duda, tapi belum punya anak.Kata Widya dia ke sini karena mau liburan.Mungkin mommy kenal.."tutur Daniel.


"Ih.. kamu tuh ya?Kamu pikir semua orang Jakarta mommy kenal?Artis aja mommy nggak tahu,biar yang dari Jakarta"Bu Melia tak henti hentinya tertawa


"Siapa tahu aja my.Coba mommy ingat ingat atau ngebayangin dikit..."tak terlintas sedikitpun dalam benak ibunya untuk menebak siapa pria itu dari ciri ciri yang disebut putranya apalagi mengingat tentang pak Andre yang datang dari Jakarta untuk berlibur di Bali.


"Apaan sih?Tapi kalau bayanin orang yang tampan, udah kok setiap saat aku ngebayanginnya"bu Melia tersenyum sendiri.


"Oh ya?Siapa my?"tanya Daniel penasaran.

__ADS_1


"Daddy.."bu Melia tersenyum sumringah menyebutnya.


"Udah ya, mommy masuk dulu.Udah ditungguin om Cahyo..."kata bu Melia.


"Siapa yang antar om Cahyo ke bandara my?"tanya Daniel membuat ibunya tak jadi melangkah.


"Sama pak Abdi mungkin.Kenapa?Kamu mau anterin? Katanya ada urusan?"cerca Ibunya.


"Iya,sih my...Oh iya,my aku mau nitip ini..tolong kasih ke adek.. siapa tahu bisa bantu hilangin nyerinya.. Jangan dibaca tulisannya ya my..."Daniel memberikan sebuah komik petualangan favorit Bening.Semalam saat ke klinik hp,ia menyempatkan diri untuk ke toko buku mencari sebuah buku bacaan untuk adeknya yang konon katanya dengan membaca,bisa membantu mengalihkan nyeri.


"Hmmmm...kamu itu.Tapi mommy pikir adek lebih butuh kamu temani dibanding buku ini..."goda ibunya.


"Iya...my...aku nggak akan lama kok..."kata Daniel lalu bergegas pergi.


Dalam perjalanan ke rumahnya, Daniel terus meyakinkan dirinya bahwa ibunya yang sangat ia cintai dan hormati akan tetap menjadi ibu yang baik,setia dan tak akan mengecewakannya.


Dengan menarik nafas dalam,ia juga yakin bahwa apa yang akan ia lakukan tidak salah.


Dengan bantuan Widya, Daniel berhasil mendapatkan nomor handphone pak Andre.Mereka berjanji untuk bertemu pada pukul 07.00 di sebuah restoran.Daniel sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk video yang sudah direkam oleh Widya.


"Hey,boy... good morning..."sapa seseorang setelah hampir tiga puluh menit lamanya pemuda itu menunggu.Daniel menoleh.Sapaan itu persis seperti yang selalu diucapkan kedua orang tuanya.Hanya mereka yang memanggilnya dengan sebutan boy.Tapi kenapa pak Andre sekarang menyapanya dengan kata, boy?


Baru memulai saja sudah membuatnya merasa janggal.


"Pagi, pak Andre..."jawab Daniel.Ia risih saat pak Andre dengan sok akrab memeluknya.


"Jangan dipanggil pak,dong boy.. panggil om aja biar lebih akrab..."lagi lagi pak Andre mengulangnya membuat Daniel ingin segera ke inti pertemuannya.


"Om kok tahu?"tanya Daniel mengikuti saja anjuran pak Andre untuk memanggilnya om biar ia bisa lebih mudah menggali informasi.


"Maksud kamu?Oh...... karena om manggil kamu boy?"Daniel langsung mengangguk.


"Dari mommy kamu.Apa sih yang enggak dia ceritakan tentang keluarganya?Mommy kamu selalu cerita tentang kamu dari kamu kecil sampai seremaja sekarang.Nama kamu Daniel Warren Scott, Lahir pada tanggal 2 Mei,kamu lebih sering dipanggil boy oleh orang tua kamu.."pak Andre mulai memainkan perannya.Ternyata reaksi Daniel seperti yang ia duga.Daniel menelan ludahnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


"Mommy... cerita sama om?Kok bisa? Mommy kenal om? Gimana ceritanya?"Daniel memborong pertanyaannya.


"Wow... banyak banget pertanyaannya.Satu satu dong, boy? Sabar ya,kita lebih baik sarapan dulu.. santai..."tawar pria itu sementara Daniel menjadi enek dengan panggilannya.


"Sorry om,tapi aku nggak bisa lama-lama.."tolak Daniel.


"Oh,gitu?Tapi om mau sarapan dulu.Nanti nggak bisa konsen ngobrol sama kamu.Om sambil sarapan ya.Kamu itu persis seperti daddy kamu, nggak suka basa basi..."pak Andre ingat bagaimana reaksi ayahnya Daniel saat mereka pertama kali bertemu di malam akhir tahun kemarin.Ia ingat bagaimana pak Darwin sangat protektif terhadap bu Melia dan mempermalukannya.


Jika ia belum bisa membalasnya, rasanya tidak apa-apa jika dilimpahkan ke putranya yang karakternya persis sama.


"Om adalah cinta pertamanya mommy kamu.Kami sempat bertunangan, hanya kami tidak sempat menikah.Saya membatalkannya.Mommy kamu frustasi, stress lalu datang ke sini dan bertemu dengan ayah kamu.Kami menjalani hidup masing-masing.Singkat cerita,kami sama sama tidak bahagia.Saya tidak bahagia dengan pernikahan saya, mommy kamu juga demikian meskipun telah ada kamu.."cerita pak Andre dengan versinya sendiri sambil mengunyah sarapannya.


"Om tahu dari mana, mommy nggak bahagia?"Daniel mulai gerah dan terpancing.


"Dari mommy kamu,lah.Katanya dia hanya mau bertahan untuk kamu.Tapi ya, jika menjalaninya dengan pura pura pasti ada batasnya juga.Terbukti saat tiga tahun yang lalu.Mommy kamu sudah tidak tahan lagi dan mengajukan gugatan cerai di pengadilan.Ayah kamu tidak terima,lalu membujuknya dengan berbagai cara tapi tetap saja ujungnya bertengkar.Ibu kamu stress, lalu menghubungi om untuk datang ke Bali seperti sekarang ini.Kami saling menghibur satu sama lain.Om tidak perlu ceritalah apa yang kami lakukan.Kamu sudah cukup dewasa untuk paham.Mommy kamu telah bulat pada keputusannya dan keputusan itu pun sudah keluar akhir tahun kemarin.Orang tua kamu resmi bercerai dan om juga telah mengakhiri pernikahan om..."Daniel merasa dunianya berhenti berputar.


Kenyataan yang baru saja ia dengar seperti sebuah tamparan untuknya.Badannya bergetar.


"Nggak... nggak mungkin om.. mereka nggak jadi pisah.Mereka nggak cerai."Daniel menggeleng gelengkan kepalanya.


"Mommy kamu hanya bersandiwara karena tak ingin kamu gagal di ujian akhir juga terlebih karena daddy kamu sedang sakit, mungkin sebentar lagi akan pergi"Daniel langsung menggebrak meja.


"Jaga bicaramu,om..."Wajahnya memerah menahan amarah.


"Eits... jangan marah marah dulu dong boy...jaga emosi kamu.Katanya mau tahu kebenarannya.Orangtua kamu tidak pernah cerita kan, kalau mereka sebenarnya sudah cerai? Kalau kamu nggak percaya tanya sama adek kamu itu... Sebening ya, namanya?Dia tahu kok.. Cuma kamu doang yang nggak tahu.Harusnya kamu bersyukur akhirnya kamu tahu juga? Emang kamu mau, dibohongi terus?Mau sampai kapan?"dengan liciknya semua kalimat itu keluar dari mulut pak Andre.


"Apa buktinya,om?"Daniel berusaha mengontrol emosinya.


"Bukti apanya? Perselingkuhan mommy kamu atau surat perceraiannya?"tanya pak Andre.


"Dua-duanya"Pria itu mengambil handphone-nya dan menunjukkan surat cerainya entah bagaimana ia mendapatkannya.Kemudian ia pun menunjukkan foto foto saat bu Melia datang menemuinya di kamar hotel karena ia mengancam akan memberi tahu Daniel tentang perceraiannya jika wanita itu tak mengindahkan permintaannya.Rupanya,ia telah menyiapkan semuanya untuk menjebak bu Melia.Ia memeluk bu Melia saat wanita itu dalam posisi tak siap untuk menghindar.


"Yang begini saja ya, untuk yang lebih dari ini nggak mungkin om tunjukkin.Tidak pantas..."pak Andre tersenyum licik saat melihat wajah Daniel yang seperti terbakar api.

__ADS_1


Padahal sesungguhnya, yang terjadi setelah itu adalah ia digebuk habis habisan oleh bodyguard suruhannya pak Richard karena kedatangan bu Melia atas sepengetahuan pak Richard.


Pak Andre membujuknya untuk membantunya menyukseskan proyek milik pak Darwin yang rencananya akan dikerjakan oleh perusahaan properti tempat ia bekerja.Jika tidak maka ia akan memberitahu Daniel tentang perceraiannya.Karena sikapnya yang kurang ajar dan ancamannya membuat hidungnya berdarah dan tulang tulangnya hampir patah.


__ADS_2