Cinta Saja Tidak Cukup

Cinta Saja Tidak Cukup
Bab.33


__ADS_3

Bu Melia hendak masuk ke kamarnya saat pak Darwin memanggilnya.


"Mom..."panggil pak Darwin lembut.Bu Melia menghentikan langkahnya.Dari tatapannya, sepertinya pak Darwin ingin berbicara hal yang serius padanya.


Tapi tak bisa dipungkiri semenjak perceraiannya,ia selalu salah tingkah jika berdekatan dengan mantan suaminya itu apalagi jika mereka hanya berduaan.


Awalnya ia ingin berpura-pura untuk tidak mendengar panggilan tersebut, tetapi nuraninya berkata lain yang membuatnya pada akhirnya menjawabnya.


Apalagi sekarang, kondisi pak Darwin sedang sakit dan pastinya sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang dari keluarga dan Bu Melia sendiri yang memintanya untuk tinggal di rumah mereka yang sudah mereka tempati bertahun tahun lamanya sebelum ayah dari anaknya tersebut pulang ke kampung halamannya untuk menjalani pengobatan.


Ia ingin berbaik hati merawat, mengasihi meskipun tidak seutuh dulu saat biduk pernikahan itu bahagia.Tetapi sebisa mungkin sekarang ia harus membuat pak Darwin merasa nyaman dengan keberadaannya di rumah itu.Apalagi melihat perubahan sikap putranya yang terlihat lebih ceria dan bersukacita dengan kedua orang tuanya yang tampak akur.


"Ada apa,dad?"tanyanya mendekat.


"Ada yang mau saya ceritakan ke mommy...bisa bicara di dalam?"kata pak Darwin menunjuk kamar tidurnya.


Mendengar permintaan itu,tiba tiba saja aliran darahnya mengalir cepat.


"E ..e... saya takutnya nanti anak kita dengar..."tambah pak Darwin ketika dilihatnya perubahan raut wajah bu Melia yang mungkin ragu dengan ajakannya.


Dengan gugup dan jantung yang berpacu tak karuan,ia pun mengikuti permintaan sosok pria yang belum genap sebulan menjadi mantan suaminya.


Rasanya lumayan aneh ketika kembali masuk ke kamar yang dulu mereka tempati bersama.Setelah kejadian naas itu,di hari dirinya mengetahui perselingkuhan suaminya,ia sangat frustasi.Ditinggalnya kamar yang menjadi saksi bisu segala aktivitas mereka.


Bu Melia memilih pindah ke kamar yang lainnya.Hanya asisten rumah tangganya saja yang sering masuk ke situ untuk membersihkan kamar tersebut, padahal sebelumnya ia selalu membersihkannya sendiri, tak pernah ia membiarkan orang lain masuk kecuali putranya.


Pak Darwin pun hanya kembali pada malam hari dan sering menghabiskan waktu di villa ataupun hotel mereka.


Dengan segala keyakinan dalam hatinya,ia percaya pak Darwin tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa melukai perasaan dan harga dirinya.Dikerahkannya otaknya agar berpikir ekstra positif.


Toh,selama ini ia berdoa agar dipulihkan dari segala trauma.Jadi untuk mengetahui apakah dirinya sudah sembuh atau belum,ia harus menghadapi hal hal yang membuatnya trauma.Salah satunya yang kini ia lakukan.

__ADS_1


Bu Melia langsung duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.


"Obatnya sudah diminum semua dad, untuk hari ini?"tanya Bu Melia masih mencoba menghilangkan kecanggungannya.


"Sudah... sudah..."pak Darwin kini duduk di sampingnya.


"Itu kado dari mas Cahyo kenapa belum dibuka?"bu Melia menunjuk pada bingkisan yang tadi dibawa oleh pak Cahyo dan istrinya.


"Mommy mau buka?"tanya pak Darwin padanya.


"Boleh?"Bu Melia meminta persetujuan.Maklum saja,tiga tahun terakhir sudah tidak lagi ia lakukan hal seperti itu,membuka kado.Padahal itu adalah tugasnya.


"Iya boleh dong mom... with my pleasure..."jawab pak Darwin dengan penuh kesungguhan.


Diambilnya kado tersebut lalu diberikannya kepada sang mantan istri.


"Thank you..."dengan wajah tersipu Bu Melia menerimanya.Bak baru pertama jatuh cinta,ia menjadi semakin tak berkonsentrasi saat mengetahui pria yang duduk di sampingnya terus menatapnya.Ia dapat menangkap hal itu dari ekor matanya.


"Maaf... tapi saya sangat bahagia saat memandang mommy.Beautiful queen... "ungkap pak Darwin.


"Jangan bicara seperti itu lagi dad... walau aku senang mendengarnya, tetapi mungkin lebih baik jika tak mengatakannya"jujur saja bu Melia takut ia akan terbuai dan tak bisa mengontrol perasaannya.


Pak Darwin pun terdiam.Meskipun ia ingin kembali menyampaikan isi hatinya tetapi ia juga takut jika hal tersebut akan memicu suasana yang membuat Bu Melia tidak nyaman.


"I'm sorry..."mendengar kata itu malah membuat Bu Melia merasa bersalah.Ia pun memberanikan dirinya menatap ayahnya Daniel.


"Maafkan aku juga dad..."dengan mata berkaca-kaca ia bertutur.


"Hey.... kenapa malah ikut ikutan bilang maaf..."ujar pak Darwin dengan menepuk tangannya lembut.


Wanita itu pun menepuk nepuk kantong matanya jangan sampai menangis.

__ADS_1


"Maaf aku belum sempat memberi kado... Habisnya aku bingung dad, mau kasih kado apa?"ungkapnya jujur.


"Boleh aku meminta sesuatu?"tanya pak Darwin yang dijawab anggukan dari bu Melia.


"Can you give me a hug?"tanyanya dengan penuh hati hati.


Bu Melia melihat aura ketulusan terpancar di wajahnya.


Sekali tarikan nafas, wanita itu pun merentangkan tangannya dan memeluknya.


Pelukan yang sangat menenangkan hati di hari spesialnya.Pria itu sampai menutup matanya,menghirup aroma segar dari rambut mantan istrinya itu.Sungguh merupakan sebuah pelukan penyejuk jiwa.


"Ini adalah kado yang sangat berharga yang saya terima hari ini.Rasanya seperti saat pertama kali dulu mommy menerima saya.Mungkin kamu tak akan percaya,tapi sepertinya saya sudah sembuh dan tak membutuhkan therapi lagi..."kata kata pak Darwin seperti menggelitik perutnya membuat ia refleks menepuk punggungnya.


"Aku pikir daddy tak bisa menggombal lagi... ternyata aku salah..."ucap Bu Melia.


"Beneran mom... saya bersungguh sungguh.. saya tidak akan mau lagi membuang waktu lagi, tidak mau menunda lagi untuk berbicara yang sesungguhnya dari relung hati yang paling dalam.."ungkapnya membuat bu Melia tertawa dan hendak melepaskan pelukan.


"Please... biarkan seperti ini dulu...biar hanya lima menit.."katanya lagi.


"Tapi kamu harus istirahat dad... ingat kata mas Cahyo, waktu istirahatnya harus terjaga.. nggak boleh tidur larut.."Bu Melia mencoba merayunya dengan berbagai cara.


"Aku tahu mom, kamu bilang begitu sekarang karena kamu takut.Kamu tenang saja, meskipun aku menginginkan kita untuk bisa kembali seperti dulu lagi, meski betapapun besarnya saya menginginkan kamu,tapi saya berjanji tidak akan melakukan apapun yang akan melukai diri kamu dan harga diri kamu.Saya akan berjuang untuk sembuh dan akan berjuang lagi untuk kita.Saya akan membuat kamu jatuh cinta lagi seperti yang sekarang saya rasakan bagaimana pun caranya.Kamu tidak bisa menikahi diri kamu sendiri setelah ini tetapi harus menikah dengan pria ini.Mommy dan Daniel adalah motivasi saya untuk sembuh."ungkap pak Darwin tak peduli lagi bagaimana reaksi sang mantan istri mendengar semua penuturannya.


Ia akan terus dihinggapi perasaan bersalah jika tidak mengatakannya.Di luar dugaannya wanita yang kini tetap berada dalam pelukannya itu malah menangis.Bukannya kesal tapi ia malah merasa terharu.Pria itu pun semakin mengeratkan pelukannya.


Dielusnya punggung ibu dari putranya tersebut.Ia mengusap air mata yang sudah jatuh menggenangi pipi saat Bu Melia melepaskan pelukannya.


"Awalnya aku tidak percaya saat Cahyo memberi tahu saya tentang hasil pemeriksaannya.Saya menyangkal.Saya akui hidup saya sudah tak sesehat dulu.Saya telah banyak kehilangan waktu tidur saya dan jika demikian rokok dan alkohol adalah teman saya.Saya sangat stress dengan semua yang saya alami.Mungkin itulah penyebabnya.Tetapi saya kembali menyadari satu hal.Mungkin Tuhan sengaja memberikannya sebagai hukuman karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu mom..."Bu Melia terus saja menangis.


"Jangan menangis lagi ya... saya akan bersungguh sungguh berdoa kepada Tuhan agar memberi saya kesembuhan demi kamu dan Daniel..."Bu Melia kembali memeluknya haru.

__ADS_1


__ADS_2